
Kennan memasuki ruang inap Keyra, gadis kecil itu duduk sendirian membuat Kennan mengkerutkan keningnya. Melihat kedatangan kakaknya Keyra langsung tersenyum cerah
" kakak! "
Kennan mendekatinya, mata Keyra berbinar saat radar penglihatannya tertuju ke kotak yang dibawa Kennan.
" Mama mana? " Kennan menarik kursi duduk disamping brankar Keyra
" cali makan sama Papa " jawabnya tapi matanya tidak lepas dari kotak di tangan Kennan " kakak itu apa? "
Kennan mengangkatnya menyimpan di depan Keyra, mulut gadis itu terbuka lebar begitu Kennan memperlihatkan hadiahnya. Dia berseru senang dan langsung memeluk Kennan
" awas tangannya " dia menahan tangan Keyra yang terpasang infus, anak itu terkekeh kesenangan. Kennan mengusap kepala Keyra " suka? "
Keyra mengangguk antusias, lengannya masih melingkar di leher Kennan.
" terimah kasih, Kak! " ucapnya dia mencium pipi Kennan, dia sangat senang mendapat hadiah dari Kennan. Sebenarnya Keyra sudah sangat senang dengan kedatangan Kennan terlebih Kennan sudah jarang pulang ke rumah dia jadi kesepian.
Dia juga iri dengan Asla karena tempat tinggalnya dekat dengan Kennan sedangkan dia? Tidak jarang Dia merasa kalau kakaknya sudah direbut anak anak kompleks rumah Asla.
Kennan menyentuh perban di kepala adiknya, dia tidak mau membayangkan bagaimana sakitnya saat adiknya jatuh " Sakit? "
" hanya sedikit "
Mereka berdua menoleh bersamaan saat pintu kamar di buka, Risa muncul dengan Dina.
" baru pulang, dek? " Risa bertanya karena melihat celana sekolah yang dipakai Kennan. Cowok itu hanya mengangguk kecil.
Risa meletakkan rantang yang dia bawa di atas meja mempersilahkan Dina. Dia mendekati Keyra mencium puncak kepalanya " masih sakit? " anak itu menggelengkan kepalanya.
" Keyra sakit manja banget nih sama kakaknya " dia mengusap pipi Keyra, anak itu membaringkan kepalanya di pundak Kennan " pengen banget punya anak cewek, gimana sih Ris, biar dapet anak cewek? "
" banyak banyak do'a " Risa mengambil gelas dan membuat teh untuk Dina. " Mama mana dek? "
" cari makan katanya, tadi sudah tidak ada waktu aku datang " dia mengusap rambut Keyra yang dipotong pendek ada bagian yang botak agar memudahka dokter memeriksanya.
" Asla sama Aluna mana kak? "
" Aluna sama neneknya, Asla sama Papanya di kantor " dia membuka rantang makan siang, dia baru saja mengirim pesan ke Mamanya menanyakan di mana dan mendapat jawaban kalau cari Keyra minta jajanan jadi beliau mencarinya " Kamu sudah makan, dek? "
" hanya di sekolah tadi. " jawab Kennan dia meletakkan Keyra ke kasur karena sudah lelap, menarik selimut untuk adiknya dia juga mengangkat pelan tangan Keyra yang ada infusnya. Memindahkan mainan Keyra, dia menyimpannya di samping kasur.
Tidak lama Mamanya kembali dengan tangan penuh jajanan. Dia menyapa Dina, berbincang dengan banyak hal tentang anak anak.
" Hah? Kennan kembar, Ma? " kaget Risa, dia memang tidak tau soal itu Kennan dan Reynand tidak pernah menceritakannya. " jadi dimana dia? Cewek? "
" iya " Kennan mengangkat tatapannya melihat wanita yang melahirkannya. Tatapannya penuh kerinduan saat berbicara tentang Keana. Menghela nafas, Kennan berjalan keluar ruang inap adiknya, dia mau cari udara segar di sekitar rumah sakit.
Dia berjalan ke arah taman dan karena sudah sore jadi tempat itu sudah sejuk. Memandangi anak anak dan beberapa orang dewasa serta pasien yang sedang jalan jalan.
" wah! " Kennan menoleh ada Aryan yang kaget melihatnya " kayaknya lo sama gue sering banget ketemu belakangan ini, jangan jangan kita jodoh "
Kennan langsung memasang wajah jijik, Aryan terkekeh dia mengambil posisi duduk di samping Kennan
" cewek lo sakit? " tanya Aryan
" adek gue "
Aryan hanya beroh saja, dia juga ikut memandangi pengunjung taman itu. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
" cekik " Kennan menjawab acuh tak acuh, Aryan meneguk ludahnya dia kaget
" subhanallah, lo psycho " Kennan hanya mendengus asal, Aryan menghela nafas menyandarkan punggungnya dan menatap dia mendongak menatap langit yang berlahan menguning " ketua osis ngamuk tadi di ruang osis. Osis sekolah mereka nantang cerdas cermat sekolah kita "
" Kenzo takut? " tanya Kennan dia mengeluarkan ponselnya membuka aplikasi kamera, dia membidik gerombolan anak anak yang berpakaian pasien tengah duduk tertawa tawa
" bukan, dia ngamuk karena tidak diikut sertakan kemaren " dia melihat gambar yang diambil Kennan " anak anak penderita kanker kayaknya "
" hm " gumam Kennan " kapan? "
" apanya? "
" cerdas cermat "
" oh, besok. " dia juga mencoba memotret tapi gambar yang dia ambil tidak sebagus Kennan " lo kayaknya percaya diri banget "
" karena cuma otak encer yang gue punya " Aryan mencibir mendengar jawaban Kennan giliran Kennan yang tertawa pelan. " yang ikut siapa? "
" lo, gue sama emak gue "
" Hanin? " Aryan menganggukkan kepalanya " kalau begitu tidak ada yang perlu di khawatirin "
Kennan mengakui kemampuan dua orang itu, Hanin dan Aryan sebelum Kennan masuk sekolah formal mereka berdua menduduki tempat 1 dan 2 dari seluruh siswa di sekolah mengalahkan senior yang juga mantan ketua osis yang memang di kenal sangat pintar. Kennan tidak akan pernah keberatan kalau di suruh adu kecerdasan dengan Hanin dan Aryan yang kemungkinan besar bisa bersaing dengannya. Karena itu Kennan paling menunggu ujian sekolah saat dimana dia bisa benar benar serius belajar untuk bersaing dengan dua orang itu meski mereka beda jurusan.
" SHS juga tidak bisa dianggap remeh " Aryan berujar " mereka sekolah yang benar benar melihat nilai, tapi heran gue banyak berandal songong di sana "
" sekolah kita sama " Kennan berucap, dia mengingat bagaimana Kenzo dan Afkar marah marah saat mereka membahas masalah sekolah di rumahnya hari itu, membahas anak anak bermasalah dari kelas sepuluh sampai dua belas.
Dia juga tidak buta untuk melihat apa yang anak anak di sekolahnya lakukan, beberapa kali dia juga di hentikan oleh senior hanya untuk di palak dan tentunya dia kasih karena tidak mau cari perkara, selama tidak parah dia akan biasa saja.
" lo benar, kalo bukan karena Afkar gue jabanin tuh pantolan kelas 12 "
Kennan tidak menanggapi walau jarang komunikasi Kennan tidak payah dalam menganalisis orang, Aryan sebenarnya orang yang selalu menahan diri dan akan sukit ditenangkan kalau ada yang memyulutnya.
" oh, kalian kenal? " Dia remaja itu menoleh ke arah dokter bule yang berjalan ke arah mereka
" Dokter Fattah " sapa Aryan
" Kak Libra " Kennan juga menyapa, Libra tersenyum
" bagaimana Keyra? Aku belum sempat menjenguknya karena sibuk " Libra mengusap tengkuknya yang terasa pegal, dia baru keluar dari ruangan operasi.
" sudah baik baik saja, mungkin besok pulang " Libra mengangguk dia melihat Aryan yang diam saja " kamu terlihat bersemangat hari ini. "
" ya. Hari ini cukup menyenangkan soalnya "
Libra mengangguk dia meraih hapenya yang berdering, setelah menjawabnya dia langsung menghela nafas panjang " baru juga istirahat " ucapnya sambil langsung berlari ke dalam rumah sakit.
" sepertinya gue terburu buru milih jurusan " gumam Aryan dia menatap punggung Libra " lo tidak ada niat jadi dokter? "
" tidak " Kennan menjawab langsung, dia punya phobia pada darah jadi mustahil dia mau jadi dokter. Kennan melihat jam yang melingkar di tangannya " gue duluan "
" sip "
******
Tbc