KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
23



Mereka semua menatap Kennan yang muncul menggandeng tangan cewek yang berpenampilan berantakan, mereka bisa melihat dengan jelas wajah Kennan yang marah. Anak IPA 1 pernah melihat ekpresi itu, pertama kali saat Kennan membentak Hana di kelas beberapa bulan lalu.


Bahkan yang hendak menarik tangan cewek yang digandeng Kennan menciut saat Kennan meliriknya tajam.


Kennan tidak bicara apa apa, dia mengambil tasnya mengeluarkan uang seratus ribu menyerahkannya ke Irina, menarik tangan cewek itu lagi dan pergi.


" i..itu selebgram sekolah sebelahkan? " Juwita menarik narik ujung baju Emily " kenalannya Kennan? "


" au, pacarnya mungkin " jawab Emily


" ngawur " Miya berucap, Emily menghela nafas dan melihat Miya


" terus kenapa Kennan harus marah kalo bukan ceweknya? Tapi... Kenapa dia berantakan begitu? "


Mereka semua menoleh ke arah ribut ribut, dua cewek keluar dari mobil sambil meraung raung dan mengumpat mencari Kennan.


Aryan mendorong Alice maju saat mereka mendekat membuat Alisa mendelik dan Aryan hanya nyengir


" yang mulia harus melindungi anak buahnya kan? " ucap Aryan


" minta di tabok ya? " marah Alisa, tapi dia tetap menurut, dia penasaran dengan cewek yang digandeng Kennan.


" Pa, gue nyusul Kennan yak " Aryan mengambil tasnya dan berlari menyusul Kennan.


**


Kennan mendudukkan Keana di sofa, membersihkan sisa sisa makanan yang ditinggalkan teman temannya membuangnya ke tempat sampah.


Meninggalkan gadis itu sendiri di ruang tamu, Kennan masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi, dia sudah tidak bisa tahan.


Huekkhh..


Butiran keringat mengalir di pelipisnya, sebenarnya dia sudah menahan mual dari pertama kali melihat wajah Keana, tangannya masih gemetar menahan marah.


Dia menyeringai menatap dirinya di cermin. Ah... Dia tidak tau kalau ternyata masih ada amarah untuk Keana saat gadis itu diganggu orang lain, dia pikir dia sudah membuangnya atau itu karena sejak dalam kandungan dia dan Keana sudah terhubung.


Merasa lebih tenang dia keluar dari kamar mandi, mengambil kotak obat yang selalu tersedia untuk berjaga jaga meski dia akan selalu berusaha sekuat tenaga agar tidak terluka, dia memilih merasakan sakit yang benar sakit ketimbang terluka.


Dia berjalan keluar tapiĀ  berhenti begitu melihat Aryan yang sudah duduk di sofa agak berjarak dengan Keana. Dia kembali jalan mendekat, meletakkan kotak obat di meja dan berjongkok di depan Keana.


Aryan mengangkat sebelah alisnya melihat bagaimana Kennan memperlakukan Keana begitu lembut, menyampirkan rambut Keana agar tidak menutupi wajahnya, dia berfikir Kennan bukanlah tipe cowok lembut seperti impian semua cewek tapi Aryan tau kalau hubungan Kennan dan Keana itu sesuatu. Memperhatikan bagaimana Kennan membuat Aryan mengingat di saat dia pulang dengan keadaan babak belur akan ada orang yang menunggunya membersihkan lukanya sambil marah marah tidak jelas.


" gue tidak suka cowok, gak usah ngeliatin gue " Kennan mendengus tangannya mengaplikasikan alkohol ke kapas


" iuhh... Naj*s " Aryan bergidik


Kennan kembali menyampirkan rambut Keana yang jatuh menutupi mukanya karena terus menunduk, dia menghela nafas dan mengulurkan tangannya untuk membersihkan bekas darah di sudut bibir Keana, tapi tangannya terhenti di udara dia melempar kapas itu kepangkuan Keana


" bersihkan sendiri "


Keana dan Aryan kaget melihat Kennan yang berjalan ke kamarnya menutup pintu kamarnya.


" cowok lo gila ya? "


Keana tidak menjawab dia malah memandang Aryan aneh karena fikiran ajaib cowok itu.


Di dalam kamar mandi Kennan berusaha menguarkan isi perutnya karena akan muntah, mengatur nafasnya supaya kembali normal.


Kennan takut darah, bahkan saat hanya luka kecil asal itu mengeluarkan darah dia akan mengeluarkan reaksi yang sama seperti sekarang.


Hueekkhh


Kennan kembali muntah saat bayangan genangan darah yang memenuhi lantai terlintas di kepalanya, tubuhnya gemetar dan nafasnya kembali memburu.


Tiga puluh menit dia baru keluar dengan penampilan segar habis mandi, dia melirik Keana yang tidak seberantakan sebelum dia masuk tadi, sudut bibirnya sudah dipasangi plaster luka, lebamnya juga sudah diaplikasikan saleb.


" lo pikir ini rumah lo? " Kennan bertanya begitu melihat Aryan makan di meja makannya, makan makanan yang dia siapkan untuk makan siang tadi tanpa permisi


" sebodo ini rumah siapa, gue lapar. "


Kennan membuka kulkas mengambil susu kotak yang memang dia taroh banyak sebagai persediaan, mengambil roti dan kue kering dilemari dapur membawanya keluar


Dia melirik Keana kemudian menghela nafas, Keana baru hendak berbicara tapi di potong Kennan


" tidak usah bicara, aku tidak mau bertengkar ". Dia meletakkan camilan di depan Keana.


Dia duduk di samping Keana menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa menutup wajahnya dengan lengannya.


" ak- "


" jangan bicara, moodku betul betul buruk sekarang " kata Kennan


Dia menutup matanya tapi tidak lama dia membukanya duduk tegak dan melihat Keana, dia tidak suka perasaan gelisah yang dialirkan dari Keana. Dia menyadari ini semenjak kecil, kalau dia bisa merasakan perasaan gelisah, marah, sedih dan senang yang dirasakan Keana tapi sebaliknya Keana sama sekali tidak bisa merasakan apa apa dari Kennan.


Lima tahun mereka terpisah sebenarnya perasaan tertekan Kennan juga berasal dari perasaan Keana yang membuatnya susah mengendalikan perasaannya sendiri.


Saat masih anak anak, Kennan akan selalu berusaha membuat Keana bahagia senang dan tertawa dan akan marah saat ada yang menganggunya karena emosi Keana, Kennan juga bisa merasakannya.


" Kenapa kamu bisa ada disana tadi? "


Keana tidak menjawab dan memunggungi Kennan


" Keana Ajeng! " dia masih diam " kamu harusnya di rumah sa-"


" shut up! Ini bukan urusan kamu kan? " Keana menatapnya sengit " aku mati seharusnya kamu tidak usah peduli, KAMU BUKAN APA APANYA AKU "


Di ruang makan, Aryan hampir memuntahkan makanan yang ada di mulutnya begitu mendengar bentakan Keana, dia dengan cepat mencari gelas. Dia meletakkan gelasnya setelah meminum isinya, dia melihat Kennan yang memasang wajah tenang bahkan sangat tenang


" apa mereka putus? " Aryan bergumam dan lanjut makan


Kennan menatap Keana yang masih menatapnya sengit


" kalau bisa, aku akan melakukannya sejak lama. Kamu seharusnya orang yang paling tau kenapa aku tidak bisa melihatmu tergelatak jadi mayat begitu saja. " Kennan berdiri memasukkan tangannya ke saku celana dan berjalan ke kamarnya " aku akan menelfon Kenzo untuk menjemputmu ".


Aryan merasa bersalah datang ke tempat itu, dia sepertinya mendengar hal yang tidak seharusnya dia dengar. Dia melihat ke arah kamar Kennan yang terkunci kemudian beralih menatap punggung kecil Keana, dia memeluk lututnya dan sudah pasti menangis. Aryan bergegas keluar mengambil tasnya dia akan pulang tidak mau melihat drama lebih banyak karena tau itu privasi.


*****


Tbc