
Keana masuk ke dalam kamar Kennan, dia sudah lengkap dengan seragam sekolahnya karena semenjak seminggu yang lalu dia resmi menjadi siswa di sekolah Kennan.
Keadaan kamar Kennan sama seperti minggu lalu, gelap dan suram dia tidak mau lampu dinyalakan. Keana melihat lurus ke depan dimana Kennan memeluk dirinya sendiri di ujung kasur. Selama kejadian minggu lalu Kennan diam dan bicara saat dia mau, Kennan mengurung dirinya sendiri dikamar. Keana menghampirinya duduk di pinggir kasur, dia melihat Kennan "aku mau ke sekolah, kamu mau nitip sesuatu?"
Seperti biasa Kennan tidak menjawab dan malah mengalihkan wajahnya ke arah lain
"Hana nanyain kamu, aku jawab apa?" Keana berkata ingin melihat reaksi Kennan tapi saudara kembarnya sama sekali tidak bereaksi apa apa. "kamu sebaiknya tidur"
Kennan yang mendengar kata tidur langsung mendelik, selama hampir seminggu dia sama sekali jarang tidur, saat matanya tertutup mimpi itu terus datang, Fa'i juga sudah memeriksanya dan memberinya obat tapi tetap saja. Fa'i menyarankan ke rumah sakit dan dengan tegas ditolak Kennan yang setengah sadar.
"oke, aku ke sekolah dulu."
Keana berjalan keluar kamar, sekali lagi dia melirik Kennan yang sama sekali tidak bergerak lalu menutup pintu
"bagaimana?" Kinara bertanya khawatir, Keana menggelengkan kepalanya.
Keana ke sekolah dengan perasaan gundah dan dia bahkan tidak bisa fokus karena memikirkan keadaan Kennan di rumah.
"Ajeng!" Kenzo menarik tangannya karena dia hampir saja menabrak tembok "kamu kenapa?"
Keana menggelengkan kepalanya melepaskan tangannya yang masih digenggam Kenzo, Kenzo tidak bodoh dia tahu pasti terjadi sesuatu dengan hanya melihat wajah kusut Keana.
"semua okey kan?" Keana mengangguk "Jendra bagaimana? Kalian tidak bertengkarkan?" Keana sekali lagi mengangguk, Kenzo menghela nafas panjang dia menarik tangan Keana agak ke pinggir agar tidak menghalangi jalan "jangan bohong, ada apa?"
"ngak kenapa, sudah bel aku mau masuk" Keana menepis tangan Kenzo dan berjalan cepat meninggalkan kakak sepupunya
Semenjak melihat bagaimana Kennan minggu lalu, Keana bisa merasakan bagaimana perasaan Kennan saat bertemu dengan keluarga Ayahnya dimasa lalu.
"Haaahhh" Keana menghela nafas panjang dia buru buru ke kelas.
*****
Hana menghalangi Keana yang berjalan keluar, sekolah sudah selesai.
Sejak mereka resmi jadian Hana tidak bisa menghubungi Kennan terlebih Kennan tidak masuk sekolah, dia tau Kennan tidak menghindarinya tapi percaya kalau sesuatu pasti terjadi padanya.
"gue tidak bisa menghubungi Kennan, bisa kasih tau alamat kalian?" tanya Hana, Keana menatapnya sejenak dan berlalu "apa dia drop lagi?"
Langkah Keana terhenti dia melihat kearah Hana yang menunduk
"dia tidak melakukan hal aneh anehkan? Tolong jauhkan benda tajam darinya" Keana mengkerutkan keningnya dia bisa melihat kegelisahan dari wajah Hana, ada ketakutan di sana "tolong, jangan biarkan dia sendiri, jauhkan benda taj-"
"HEI!" Keana mengguncang lengan Hana yang seperti bicara ngawur, dia menepuk pipinya, mata Hana berkaca kaca "kakakku belum mati"
"ada apa ini?" Arvan muncul dibelakang Keana, dia mengkerutkan keningnya melihat wajah Hana yang banjir air mata "Aoki-san? Kamu baik baik saja?"
"jauhkan benda tajam dari Kennan, dia tidak boleh sendiri. " Hana menggigit kukunya karena perasaan takut tiba tiba muncul "Mirai-chan.. Mirai-chan"
Arvan mengkerutkan keningnya mendengar nama teman sekelasnya saat SMP yang mengakhiri hidup muncul dibibir Hana. Dia mendongak menatap Keana yang bingung dan juga tiba tiba ingin menangis
"Jendra... Dia baik baik sajakan?" tanya Arvan, mendengar nama Kennan dari mulut Arvan membuat air mata Keana jatuh, dia tidak tau perasaannya sangat kacau sekarang.
"Astagaa... Ada apa dengan kalian?" dia mengacak rambutnya sendiri tidak tau harus melakukan apa, dia bukan cowok yang punya pengalaman membujuk wanita yang menangis. "aku antar kalian pulang. Ajeng kamu tinggal dimana?"
"gue mau ketemu Kennan" Hana berucap masih dengan ekspresi ketakutan dia mengguncang lengan Arvan "aku mau ketemu Kennan"
"ENZOO.." panggilnya melambai.
Kenzo yang awalnya hanya mau keluar mencari makan karena masih akan berlama lama di sekolah beralari menghampiri terlebih saat melihat Keana.
"Hei kenapa?" Tanyanya saat melihat Keana yang menangis, dia menarik tangan adiknya dan melihat ke arah Arvan dan Hana yang juga tampak tidak baik baik saja
"gue tidak tau, tapi mending lo bantuin gue nganter mereka berdua." ucap Arvan dia menarik Keana dari Kenzo "lo tau alamat rumah Jendra kan?"
Kenzo berdecak sebelum mengangguk, dia melirik Keana yang masih berusaha menghapus air matanya.
"okey, antar mereka ke sana" suruh Arvan dia melirik Hana yang bergumam tidak jelas.
*****
Kenzo dan Arvan menatap rumah di depan mereka karena sama sama baru pertama kali datang dan kesan pertama mereka adalah 'rumahnya besar'.
"loh Non Keana? Kok gak masuk?" salah satu ART yang melihat mereka hanya berdiri bertanya "masuk atuh Non"
Para ART tau kalau Keana masih canggung disana dan ayah tirinya mengatakan pada para ART kalau mereka harus memperlakukan Keana sama dengan anak anaknya yang lain.
"loh dek, kenapa diluar?" Kinara yang entah darimana tapi membawa kresek berisi snack di tangannya, dia memperhatikan teman teman yang dibawa Keana
"lama tidak ketemu, tante" ucap Kenzo sambil tersenyum, Kinara memperhatikannya bergantian dengan Arvan "jangan bilang tante lupa sama Ken?"
"Kenzo?" seru Kinara, Kenzo tertawa dan menyalami Kinara yang disambut hangat oleh Kinara "kalau yang ini pasti calon mantu tante kan, Arvan?"
Arvan terkekeh ikut menyalami, Kinara menepuk pelan lengannya memperhatikan Arvan dan bertanya
"kamu baik baik sajakan?" Bukan bagaimana, saat itu Arvan bersama dengan Kennan dia khawatir Arvan terguncang seperti putranyaa.
Arvan menggelengkan kepalanya pelan "dimana Jendra?"
Kinara tertegun dia berkata dengan lirih "untuk sekarang, bisa jangan panggil dia Jendra? Tante tidak tau ada apa, tapi dia tidak ingin mendengarnya"
"Kennan... Dia kenapa?" Kinara menoleh ke arah Hana yang sejak tadi tidak sempat dia sapa, Kinara tertegun melihat penampilan Hana yang tampak sedikit mirip dengan Kennan dan Asla. Dia menghampiri Hana menangkup wajahnya
"jangan khawatir, dia pasti baik baik saja" Kinara tanpa perlu diberitahu dia tahu kalau ada sedikit gangguan pada Hana "jangan cemas."
"jauhkan tali, jauhkan benda tajam." Hana melirih
"tidak ada benda berbahaya dikamar Kennan, kamu tenang ya" Kinara menuntun mereka masuk.
Keana menahan Arvan yang berdiri dengan spekulasi di kepalanya sambil menatap lurus Hana.
"kenapa dia makin aneh?" tanya Keana, Arvan menoleh ke arahnya
"ini hanya pikiranku, tapi sepertinya... Hana masih trauma dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya saat SMP" ucap Arvan "Mirai.. Juga mengakhiri hidupnya dan Hana orang pertama yang menemukan mayatnya" jelas Arvan, Keana tertegun dia juga menatap Hana, sekarang dia mengerti kenapa Kennan sangat peduli pada gadis itu.
*****
Tbc