
Afkar menatap cowok di depannya yang melihat ke arah lain, Afkar menyeringai sambil mengambil buku di tangan salah satu anggotanya
"setelah sekian lama... Akhirnya nama lo tercatatat juga di buku dosa" sambil menyeringai tangan Afkar bergerak menulis "KENNAN RAJENDRA kesalahan terlambat." Afkar menutup catatannya "setelah sekian minggu lo baru masuk kenapa terlambat?"
"mau bagaimana lagi" Kennan hanya mengedikkan bahunya dengan wajah datarnya.
"karena kondisi lo, gue maklumi tapi hanya untuk kali ini." Dia menunjuk gerbang untuk masuk, dia juga mengangguk kearah Arman yang hari ini khusus mengantar Kennan sedangkan Keana sudah lebih dulu berangkat. "untuk tiga nona cantik yang berjalan ke gerbang belakang, jangan pikir gue gak liat. Kemari"
Kennan juga melirik ke arah yang dimaksud Afkar mendapati Ciara, Hanin dan.... Hana? Kennan menghentikan langkahnya membiarkan Papa tirinya masuk lebih dulu.
"ya elah... Pura pura gak lihat kek" gerutu Hanin yang mau tidak mau mendekat "lagian kami tidak terlambat"
Kennan maupun Afkar menatap malas kearah mereka, siapapun tau mereka terlambat belum pernah masuk ke sekolah.
"lagian lo berangkat sama gue, kemana lo keliaran tidak langsung masuk sekolah?"
Hana dengan entengnya mengangkat kresek berisi camilan "kami bertemu di depan gerbang, jadi kami keluar sebentar"
Afkar dan Kennan menepuk keningnya, mereka paling tau kalau mereka paling mudah digoyahkan oleh camilan
"Kennan" Kennan menoleh ke Arman yang juga berhenti memperhatikannya, Kennan melihat ke arah Hana sebentar sebelum menyusul Arman.
"dia teman yang mengantarmu ke rumah sakitkan?" Tanya Arman
"Ya"
Arman kembali melihat ke belakang dimana Afkar mengomeli tiga gadis di depannya. "Kalau dia tetap dengan sifatnya saat ini, dia cocok jadi pimpinan!"
Mereka berjalan ke arah kantor kepala sekolah karena Arman memang ada urusan "Pak Arman" kepala sekolah menghampiri mereka begitu melihat Arman "lama tidak ketemu."
Arman menerima uluran tangan kepala sekolah "saya kebetulan mengantar putra saya, sekalian berkunjung"
"hm? Clarissa punya adik? Saya pikir dia yang terakhir."
"dia punya tiga adik" Arman menoleh ke arah Kennan yang berdiri dibelakangnya menatap ke arah gedung kelas sebelas, Kepala sekolah itu kaget
"Kennan adik dari Clarissa? Saya baru tahu" ucapnya kaget
"Pak apa saya bisa ke kelas?" tanya Kennan, dia malas berurusan dengan bapak bapak. Kepala sekolah itu mengangguk dan mempersilahkannya.
***
Kennan hampir terjungkal kebelakang karena Radi yang muncul dipintu tiba tiba
"PAK PRESIDENN!" serunya
Teman teman yang mendengar seruan Radi langsung melihat ke pintu dan berseru
"PAK PRESIDENNNNNN... "
"akhirnya lo datang juga" Satrio mendekat memukul bahu Kennan "kami kesusahan gak ada lo"
"huaaa... Pak presidennn... Gue pikir lo sudah mati" Alisa mendekat merangkul leher Kennan "gue tidak sanggup disiksa pak Juan..."
"tuhann.. Terimah kasih mengirim dia kembali" Radi berseru lebay "gue bisa santai lagi"
"gue sudah buat catatan biar lo mudah baca" seru Juwita "akhirnya gudang kunci jawaban gue kembali"
"woi... Jangan dikerumunin woi" Sean berseru melerai teman temannya dia menarik Kennan yang hanya pasrah saja, dia mengantar Kennan ke bangkunya, dia juga meletakkan dagangannya di depan Kennan "sarapan pak, gue traktir lo deh hari ini"
"gue juga mau" Emi hendak mengambil tapi ditepis Sean "traktir gue juga An"
"gak, cuman buat pak Presiden."
Radi memukul punggung Sean "apa lo mukul mukul tangan cewek gue"
"Ayanggg" Emi mendekat dan menjulurkan lidahnya ke arah Sean
"ah... Syu syu... Pasangan tidak tau tempat menjauh" kata Sean menutup dagangannya "gue alergi"
Radi mendorong bahunya "iri bilang" Sean tertawa
"lo gak papa?"
"ya" jawab Kennan dia menatap teman sekelasnya lagi
"mereka semua ngewatirin lo, kami berencana pergi ke rumah lo tapi tau sendiri kalau anak anak berkumpul, kayak monyet yang lepas dari kandang"
Kennan langsung tertawa, mereka semua menatap Kennan.
Baru kali ini mereka melihat tawa Kennan lepas, selama ini Kennan selalu tertawa tapi tidak lepas mereka hanya melihat Kennan tertawa hanya ikut suasana tapi tidak dari hati.
"Kennan, ini makan" Arumi menyerahkan kripik yang dia makan ke arah Kennan "hari ini gue baik"
"thanks, tapi buat lo saja" ucap Kennan dia sedikit kaget namanya di sebut.
"sudah puas berisiknya?" Mereka semua kaget menatap ke arah pintu dimana pak Juan bersandar di ambang pintu, otomatis mereka langsung berhambur ke tempat duduk masing masing "Sean dilarang menjual di kelas dan Arumi, kemarikan camilanmu."
Arumi dan Sean harus pasrah makanan mereka disita
"Kennan selamat datang kembali saya harap kamu mengumpulkan semua tugas kamu yang tertinggal" ucapnya "hari ini Hana, Fian terlambat jadi kita langsung masuk pelajaran." ucap Juan dia meletakkan buku di meja menatap anak walinya tajam "buka buku halaman 287, kerjakan soalnya. Penjelasannya nanti saja, kalian harus bisa mengerjakannya."
"ya pakk" seru mereka, selang beberapa menit Siswa yang terlambat masuk.
"Dua bulan lagi ujian kenaikan kelas, bapak ingin kalian masuk 100 besar kali ini. " mereka semua menatap pak Juan dengan pandangan ngeri "kenapa? Itu bukan hal yang mustahil selama kalian serius belajar dan saya percaya kalian bisa. Mengerti?"
"Ya pak" Alisa berucap semua menatap kearahnya "Ap. Apa? Gue hanya menjawab. Lagian kali ini gue bakal ngerebut peringkat Satrio"
"coba saja kalau bisa" Satrio menyeringai "gue tidak bakal ngasih kesempatan"
"kalau mau merebut kenapa bukan posisi Kennan?" tanya pak Juan mengangkat keningnya
"KARENA MUSTAHIL" Alisa dan Satrio berucap bersamaan
"saingannya beda level, Hanin, Aryan, Kak Angga, Kak Restu, kak Dwi kak Erza gak deh... Nyerah gue" ucap Alisa "mending saingan sama Satrio saja"
"Alisa semester kemarin nilaimu di atas Restu dan Dwi. Dan Satrio nilaimu hanya beda 3 poin dari Ezra dan 11 poin dari Angga."
Satrio mengibaskan tangannya "tetap saja mustahil pak dan yang saya tau ada anak kelas satu yang sepertinya bisa menyengser kak Dwi, Lili kalau ngak salah."
"eh iya Lili, pas penerimaan siswa baru kemarin dia mendapat nilai rata rata 90 di semua ujian" jawab Alisa "matematikanya 100"
"pak presiden lo harus hati hati" Ucap Satrio menatap Kennan yang hanya mengamati mereka
Kennan mengetukkan jarinya di meja, dia memang mendengar kabar itu membuatnya terpicu ingin lebih serius karena pesaingnya makin bertambah, tanpa sadar dia tersenyum
Ah.. Dia suka sekolah ini
"kali ini gue tidak boleh main main ya" gumam Kennan
"yang minta kalian cerita siapa? Kerjakan tugas kalian" seru pak Juan membuat mereka mendesah panjang "Kennan, ini mungkin sedikit terlambat karena kamu sudah mau penaikan kelas tiga, tapi saya ingin kamu membimbing Lily dan Rosa yang akan ikut OSN setelah ujian nanti. Bisakan?"
"Baik pak." Jawab Kennan.
"Bagus kerjakan apa yang saya kasih!"
Semuanya yang langsung menunduk mengerjakan tugas mereka, saat Pak Juan keluar sebentar dia meninggalkan bangkunya mendekati meja Hana.
"Apa?" Kennan menunjuk buku Hana dengan dagunya "ah... Hehehe"
"Bagian mana tidak mengerti?'' Kennan bertanya tangan kanannya yang dia topangkan di meja
"Memangnya lo sudah selesai?" Hana mendongak dan bertanya dengan suara berbisik, Kennan mengangguk dan Hana hanya melihatnya dengan pandangan iri.
"Saya tidak tahu bisnis apa yang kalian bahas.." Kennan dan Hana mendongak dan mendapati pak Juan sudah kembali "Kennan kembali ke bangkumu"
Kennan hanya menepuk pelan kepala Hana dan berbalik ke tempat duduknya.
*****
Tbc