
Suasana IPA 1 yang biasanya ramai hari ini senyap hanya suara dari kelas sebelah yang terdengar, suara Kelas 12 IPA 1.
Kalau saat kelas sebelas kelas mereka sama sama berada di ujung, kelas 12 ini mereka sengaja di dampingkan agar mereka lebih muda di tegur oleh guru yang mengajar di kelas masing masing.
Mereka saling pandang sebelum melihat ke arah bangku belakang dimana Kennan duduk bertopang dagu sambil melihat keluar jendela.
Bukan hanya Kennan yang merasa kehilangan tapi mereka juga, Hana adalah teman yang baik meski awalnya agak kaku tapi dia berusaha sangat keras agar bisa berbaur dengan mereka, padahal hanya setahun bersama.
Satrio mengetuk meja Kennan membuat si empu melihatnya, Satrio duduk di depannya
"lo gak nganterin Hana?" Kennan menggelengkan kepalanya, toh sekarang sudah jam sepuluh pesawat Hana sudah terbang.
Dia kembali bersandar di sandaran bangku menatap keluar jendela melihat siswa siswa yang lain berlarian, karena ini hari pertama jadi belum belajar.
Menghela nafas panjang Kennan berdiri dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya
"kemana?" tanya Satrio
"Osis"
Kennan berjalan dengan santai karena memang tidak ada yang penting yang ingin dia lakukan.
Kakinya berhenti di depan papan pengumuman di mana ada Keana di sana yang berdiri melihat ke arah papan pengumuman. Dia ikut berdiri di samping saudara kembarnya.
"waktu SD kamu pura pura bodoh ya?" Keana mendongak menatap saudara kembarnya, dia sebenarnya dari tadi melihat poin Kennan yang berada di posisi paling atas lagi. "kamu pura pura bodohkan?"
"aku tidak punya alasan untuk menjadi pintar waktu itu" ucap Kennan, Keana diam sambil mengkerutkan keningnya bingung
"maksud?"
"aku punya keluarga yang utuh dan harmonis, bagiku cukup, mereka juga tidak pernah menuntut!" mata Kennan menyendu perasaannya tidak karuan membahas hal seperti ini
Keana kembali melihat kembali ke nama Kennan "sekarang sudah punya alasan?"
"kalau aku sukses... Tidak ada yang bakal ngerendahin Mama" jawab Kennan dia juga menatap nilainya mereka sama sama terdiam.
"Lulus nanti aku akan keluar negri untuk kuliah" ucap Kennan tiba tiba
"hah?"
Kennan mengangkat tangannya mengacak rambut saudara kembarnya dan berlalu
"woi..ini susah di rapihin tau" kesal Keana, Kennan hanya berbalik dan menyeringai ke arahnya, Keana mendengus dan bergumam yang hanya dia yang dengar "kali ini gue maafin karena lo lagi galau ditinggal cewek lo"
Kennan memasuki ruang osis dimana Kenzo tengah memberi arahan pada anggota osis lainnya. Kennan hanya menarik kursi memperhatikannya.
Beruntung dia disana hanya bertugas memeriksa cctv sekolah jadi tidak perlu repot dengan pekerjaan lainnya.
Setelah selesai Kenzo duduk di samping Kennan sambil membaca beberapa berkas tentang siswa baru tahun ini, juga memeriksa kas osis
"di rumah nenek lagi kacau" Kenzo memberi informasi tapi Kennan tidak peduli memilih melihat keluar jendela "beberapa rahasia perusahaan bokap lo bocor, investor juga menarik investasi mereka"
"memang siapa yang mau rugi!" ucap Kennan, Kenzo meliriknya melihat tidak ada perubahan dari wajah datar sepupunya itu.
Kennan memang tidak mau peduli lagi, Keana sudah ada di sisi mereka adapun soal perusahaan Ayahnya kalaupun dia mau membantu percuma karena pada akhirnya dia tidak punya keuntungan apapun. Orang orang yang berperan penting di dalamnya semua berpihak pada wanita itu.
Kennan berdiri berjalan ke ruangan cctv hanya untuk mengecek apa semuanya berfungsi dengan baik. Dia menarik kursinya dan mulai mengotak atik komputer di depannya, baginya itu tidak sesulit itu.
"cewek lo balik ya?" Kenzo bersandar di pintu "Afkar yang bilang"
"hn"
"lo gak galau?" Kennan menghentikan pergerakan tangannya dia memutar kursinya melihat ke arah Kenzo yang mengangkat sebelah alisnya "what?"
"kenapa lo ngak nyuruh keamanan ke gedung ke kelas sepuluh saja?" Kennan menunjuk layar dimana ada beberapa siswa tengah mengerubungi dua siswa
"oh ****" Kenzo mengumpat dan berjalan cepat keluar.
*
Bel pulang akhirnya bunyi Kennan dengan ogah ogahan mengambil tasnya dan keluar kelas dia terkejut karena Keana sudah di sana menunggunya.
"Aku lupa bawa dompet." ucapnya melihat Kennan yang melihatnya dengan kening mengkerut karena biasanya Keana pulang sendiri
"sudah makan?" tanya Kennan memakai tasnya yang belum dia pakai, Keana hanya mengangguk
"gue bawa 20k tadi."
"miskin sekali"
Plak
Kennan mengusap punggungnya yang dipukul Keana yang kesal.
Dia sudah lumayan ber-uang sekarang karena mendapat kartu dari Ibu, Reynand dan Ayah tirinya juga semenjak tinggal bersama Keana kembali membuat akun Youtube dan sudah punya penggemarnya sendiri terlebih saat tidak sengaja Kennan terambil kamera saat meminjam gunting di kamarnya.
Kennan menatap kesal ke arahnya merasakan aura menakutkan Keana membalikkan badannya untuk melarikan diri dari saudara kembarnya
"aku laporin Mama kamu menindasku di sekolah" Keana mempercepat langkahnya saat Kennan melangkah lebih cepat untuk membalasnya.
"siapa yang menindas disini?" kesal Kennan tidak terima dengan ucapan Keana.
Tapi mereka berhenti setelah melihat siapa di gerbang sekolah mereka, Adit masih dengan seragam sekolahnya menghampiri Kennan menarik kerah bajunya
"INI SEMUA PERBUATAN LO KAN?" teriaknya
"apaan sih ini? " Keana berusaha melepaskan tangan Adit dari Kennan tapi kesulitan "LEPASIN KAKAK GUE!"
Adit mau pun Kennan tidak bergeming.
Kennan menatap Adit dengan pandangan dingin, suasana hatinya sudah sangat buruk karena tidak bisa mengantarkan Hana ke bandara dan sekarang orang yang paling tidak ingin di temuinya berdiri di depannya memegang kerah seragamnya.
"KARENA LO PERUSAHAAN DI AMBANG BANGKRUT. GUE TAU LO BENCI SAMA GUE LO BENCI NYOKAP GUE TAPI ITU HASIL KERJA KERAS BOKAP L-"
Pukh
Kennan membenturkan kepalanya ke kepala Adit membuat cowok itu melepaskan cengkramannya, Kennan mendekatinya menarik kabel kecil dari yang mencuat di saku Adit. Sebuah alat rekam tersambung, untung matanya jeli.
Kennan menginjak alat rekam mengambil ponsel yang juga ada di genggaman Adit membantingnya dan menginjaknya
"trik bod.oh hanya untuk orang bod.oh" Kennan memungut kepingan rusak itu, dia berjalan mendekati Adit berkata "gue bahkan sudah tidak pakai trik bodoh ini sejak usiaku tujuh tahun!"
Kennan melangkah mundur melihat wajah pias Adit yang menatapnya tajam, Kennan menyeringai
"hasil kerja keras bokap?" Kennan mendengus "tanpa ibuku memang tempat itu bisa berdiri? Gue hanya mengambil hak ibuku yang di rebut paksa darinya."
Kennan meraih tangan Keana dan berjalan melalui Adit yang masih mematung
"itu benar benar lo?"
"itu gue" ucap Kennan tanpa berniat menyembunyikannya
"sampai mana lo mau buat kami hancur?" Adit berbalik dia menatap punggung Kennan dan Keana
Keana mendongak menatap Kennan yang terkekeh dengan mata memerah menahan tangis tapi tatapannya dingin, dia tidak mengatakan apa apa dan terus berjalan lurus.
***
Ping
Kennan yang sepulang dari sekolah langsung ke kamar dan tidak keluar keluar menatap hpnya, dia memainkan boneka beruang dengan gaun pengantin di tangannya, boneka kecil milik Hana, Hana memberikannya di hari terakhir di kampung kakek Arumi.
Ck, dia berdecak saat mendapati Satrio menelfonnya masuk dengan ogah ogahan dia mengangkatnya
"gue di depan rumah, Lo"
"Hah?" Kennan menatap hpnya sebentar "ngapain lo di rumah gue?"
"penerbangan Hana diundur jadi malam ini, jam setengah sembilan" Kennan spontan melihat jam.
Sudah hampir jam delapan!
"lima menit" Kennan mematikan sambungan telfon
Dengan terburu buru dia mengambil jaket, hp, dompet dan tas merapikan rembutnya sedikit dan berlari keluar kamar sambil memakai masker
"kemana dek?" Reynand bertanya melihat adiknya terburu buru, keluarganya berkumpul semua bahkan ada kakak ipar dan teman kecilnya yang juga pacar Keana, Arvan.
"Bandara!"
"Ikuttt... " Keana berseru, Kennan hanya berdecak
"buruan!"
Keana naik ke kamarnya dan mengambil tas dan kembali turun karena tau Kennan sedang buru buru.
Satrio yang menunggu di depan pagar melihat Kennan keluar membawa Keana dan Arvan, tapi dia tidak mengatakan apa apa dan hanya mengemudi saat mereka masuk
"mobil Afkar?"
"gue tidak punya mobil soalnya" jawab Satrio "pegangan, gue mau ngebut."
*
Hana memandangi ponselnya, dia ingin memberitahu Kennan kalau ada penundaan sampai malam hari karena ada pekerjaan Farhan yang mendesak yang harus segera ditangani. Dia mengurungkan niatnya dan menatap papan pengumuman keberangkatan.
Setengah jam lagi keberangkatannya, Hana berdiri menarik kopernya untuk masuk toh tidak ada yang akan mengantarkan kepergiannya
"kamu disini dulu, biar kakak yang mengurus bagasi" Farhan menarik kopernya dan milik Hana, dia hanya membiarkan pasport dan tiket pada adiknya. "tunggu disini sebentar"
Hana menganggukkan kepalanya lemas, Farhan mengusap kepala adiknya dia menoleh kebelakang sebentar.
Hana melihat jamnya, sepuluh menit lagi pemanggilan jadi dia memilih untuk masuk saja lebih dulu.
"Hana!" dia tertegun mendengar namanya di panggil, tak lama dia menggelengkan kepalanya berfikir itu hanya imajinasinya.
"Hana!"
"Hana!"
Dia langsung berbalik saat suara itu makin ramai, matanya membulat dia bahkan membekap mulutnya sendiri saat melihat teman sekelasnya dan temannya di apartemen
Sabrina memeluk Hana "kenapa lo gak bilang sih kalau penerbangannya di tunda? Kami kan terlambat!"
Hana tidak mengatakan apa apa dan hanya menangis, dia mendapat pelukan dari teman teman perempuannya dan tos dari teman laki lakinya
"Pak Presiden mana?" tanya Radi karena tidak mendapati Kennan
"Satrio yang jem-oh itu dia" Sabrina menunjuk ke arah yang dimaksud "KENNAN! KENNAN!"
Mereka bisa melihat senyum lega Kennan dari jauh, Hana mematung karena dia tidak menyangka kalau mereka benar benar akan datang.
Kennan makin mempercepat larinya saat mendengar panggilan untuk penumpang
"Ke-" ucapan Hana terputus saat Kennan berdiri di depannya dan memeluknya, tangisan Hana pecah dia benar benar tidak ingin pulang. "gue kan bilang gak usah datang!"
Kennan mengatur nafasnya yang ngos ngosan "jangan gila sendirian di sana" Hana menganggukkan kepalanya "lo taukan kalau gue bakal selalu dengar cerita lo!" Hana mengangguk lagi. "gue bakal nemuin lo kalau sudah waktunya" bisik Kennan
Kennan melepaskan pelukannya saat sekali lagi mendengar pengumuman pemanggilan.
Hana melihat ke arah teman temannnya melambaikan tangannya sebelum mendongak menatap Kennan, cowok itu hanya mengangguk sambil senyum.
"Hana" Farhan muncul memanggilnya "ikou"
Kennan mengusap kepala Hana sebentar sebelum mundur, yang Hana dan Kennan tidak sangka Keana maju memeluknya
"terimah kasih sudah ada buat kembaranku" Keana mengusap air mata Hana dia juga mengeluarkan bingkisan yang sebenarnya sudah dari kemarin dia siapkan tapi tidak jadi. "hati hati"
"Bye" Satrio melambaikan tangannya saat Hana melihatnya
"Aoki-san, Mata ne"
Hana melihat sebentar ke arah teman temannya sebelum membungkukkan badannya sebagai ucapan perpisahan. Sekali lagi dia melihat Kennan sebelum membalikkan badannya untuk pergi.
Kennan juga membalikkan badannya tidak ingin melihat dia menatap kemana saja selain ke arah punggung Hana yang berlahan menghilang.
Dia tau mereka sama sama mengisi satu sama lain dengan trauma yang mereka miliki, kedepannya mereka akan menghadapinya sendiri sendiri.
Ada satu hal yang Kennan sadari, sekuat apapun mereka mencoba.. Trauma tidak akan benar benar menghilang. Trauma akan selalu mendampingi mereka tergantung bagaimana mereka menyikapi, tergantung bagaimana mereka menutup lubang itu sedikit demi sedikit meski tidak sempurna.
Kennan menghela nafas panjang berharap dia mampu menangani Traumanya.
"Kennan!" panggil Keana lirih, Kennan menoleh melihat saudara kembarnya yang memasang wajah khawatir
"aku baik baik saja." kata Kennan, Keana masih melihatnya "Aku akan menjemputnya"
Kennan mengeluarkan boneka beruang pengantin dari sakunya
"Dia membawa suami bonekaku soalnya"
*******
...TAMAT...
Akhirnya setelah sekian lama....
Terimah kasih banyak sudah mendukung saya selama penulisan 'Kennan Rajendra'. Ikut pusing dengan alurnya.
Untuk teka teki yang masih ada soal teman teman yang lainnya mereka mungkin akan muncul di karya saya yang lain yang entah kapan dibuatnya😁😁😁
Juga maaf kalau endingnya kurang memuaskan dan menggantung 😋
Kelanjutannya silahkan mikir sendiri ya... Entah mereka putus atau langgeng terserah imajinasi masing masing, hehehe
see ya di buku selanjutnya...
^^^Love you All^^^
^^^Tutu❤^^^