
"Jendra!" lirih Keana
Semua yang ada di ruangan itu menatap tidak percaya ke arah Kennan yang duduk dengan santai. Setelah lima tahun absen hari ini dia benar benar datang.
Bukan hanya Kennan yang jadi fokus mereka tapi juga anak kecil yang dibawah Kennan. Gadis kecil itu benar benar fotocupyan Kennan.
Merasa tidak nyaman karena terus dipandangi Keyra menggeser duduknya mendekati Kennan. Tadi dia langsung dijemput Kennan membawanya ke toko baju dan mendandani Keyra. Keyra pikir kalau dia akan dibawah ke pesta ulang tahun atau acara meriah lainnya.
"Dia... "ayah Kenzo menatap Keyra haru, dia sangat bersyukur keponakannya tumbuh dengan baik
Kennan tidak menjawab matanya menatap lurus ke sang nenek yang masih tidak percaya dengan kehadirannya. Kennan menerima amplop coklat dari pengawal di belakangnya
Amplop yang mempunyai logo rumah sakit swasta yang ternama dan terkenal, Kennan melempar amplop itu di atas meja.
Tak lama dia membantu Keyra turun dari sofa dan menggandengnya ke arah halaman belakang.
Kennan menarik nafas panjang tangannya yang ada dalam saku tergenggam erat menahan perasaan pusing dikepalanya.
Langkahnya terus terarah ke sebuah nisan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Makam keluarga memang selalu diletakkan tidak jauh dari kediaman rumah kakeknya.
Kennan berdiri di depan sebuah kuburan dengan ekpresi datar, dia memegang pundak Keyra yang masih bingung mengapa Kennan membawanya ke sana.
"darah tidak akan berbohong!" ucap Kennan "seharusnya anda berlutut dan meminta maaf ke ibuku." nada suara Kennan rendah bahkan ada nada kesedihan di dalamnya
"Kak, ini kuburan siapa?" Keyra mendongak menatap Kennan. Pemuda itu mengusap kepala adiknya dan berkata dengan lirih
"pengecut yang melarikan diri"
Keyra mengkerutkan keningnya, dia sama sekali tidak mengerti apa maksud Kennan. Kennan hanya tersenyum ke arahnya sebelum berjongkok di samping makam, menaburkan bunga yang dia bawa sebelum menundukkan kepalanya.
Keyra ikut berjongkok di samping Kennan menatap kakaknya yang sepertinya berdo'a untuk entah siapa pemilik makam itu. Dia selalu diajarkan setiap kali kemakam agar membacakan do'a. Mengingat hal itu Keyra mengadahkan tangannya dan membaca alfatiha yang sudah dihafalnya.
Kennan mengacak rambut adik perempuannya setelah gadis kecil itu selesai.
"Key, kamu sama om itu dulu" Keyra mengangguk dia berjalan ke arah pengawal yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Kennan menundukkan kepalanya mencoba mengatur nafasnya, amarah yang dipendamnya bergejolak ingin keluar.
"menuduh ibuku berkhianat dan melarikan diri begitu saja? Anda benar benar hebat" nada suara Kennan mengejek "aishh.."
Kennan berdiri membalikkan badannya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi di sana.
Baru tiga langkah dia berhenti berkata dengan nada penuh sesal "tenang saja aku tidak akan membenci anda karena agama melarang" Kennan menjeda "tapi memaafkan anda... Kupikir akan sulit setelah apa yang anda lakukan."
Keyra berlari menghampiri Kennan memeluknya karena melihat wajah Kennna yang menampilkan ekapresi yang tidak seperti biasanya dia pasang.
Mereka kembali masuk dan orang orang masih berdiri kaku, dia melirik amplop yang terbuka dan kertas sudah ada pada neneknya. Keyra merapatkan dirinya dengan Kennan karena masih jadi pusat perhatian.
Tatapan Kennan berhenti pada Adit yang melihat ke arahnya juga, tanpa sadar Kennan mendengus.
Jadi sudah selama itu?
"hahahahaha..."
Tawa Kennan tiba tiba meledak, beruntung ada kacamata yang menutupi matanya yang memerah. Kekecewaan yang sempat menipis kembali terbuka lebar.
"kenapa kalian membiarkan pria breng.sek itu menikahi ibuku?" tanya Kennan menatap neneknya "kenapa anda merestuinya sementara anda punya pilihan anda sendiri? KENAPA?"
Keyra yang berdiri disamping Kennnan kaget, dia tidak pernah melihat Kennan marah.
"kakak!"
"kakak!" Keyra menggenggam tangan kakaknya, dia tidak ingin meninggalkan Kennan yang sepertinya sedang marah kepalanya menggeleng.
"tadi Mama bilang gak boleh lama kan? Papa sama kak Reynand kan mau ajak ke taman bermain bareng adek Asla." Dia memberi tanda agar mereka membawa Keyra "hati hati" ucapnya saat pengawalnya mengambil Keyra kegendongannya.
Kennan menatap punggung Keyra menjauh dan setelah memastikan adiknya itu tidak terlihat Kennan berbalik meninju dinding memberi tanda agar Kenzo tidak mencegah Kennan
"KALIAN MENUDUH IBUKU INI DAN ITU TANPA BUKTI, TAPI NYATANYA KALIAN MEYIMPAN SAMPAH BRENG.SEK ITU BERSAMA KALIAN!" Kennan sekali lagi memukul apa yang ada di depannya sebelum berbalik menatap Lili "kenapa kalian lakukan itu pada ibuku? Ibuku selalu memperlakukan anda dengan baik, menjamu anda setiap datang ke rumah" Dia mendengus "Apa salah ibuku? AKU TANYA APA SALAH IBUKU!"
Kennan memasukkan tangannya ke dalam saku celana memandang lurus orang orang yang hanya diam seperti orang bodoh
Keana yang sudah tidak tahan dia berbalik memeluk Kenzi yang memang ada disampingnya, menangis di pelukan sepupunya.
"Kalian memisahkan ibuku dengan putrinya, menghasut Ajeng agar membenci ibunya sendiri. SEBENARNYA APA YANG KALIAN INGINKAN? Kalian bahkan beberapa kali mengirim orang untuk mencelakai ibuku."
.
"Jendra, Ibumu selin-"
Bruak
Kennan menendang meja membuat mereka menjerit tidak menyangka.
"IBUKU APA? SELINGKUH?" Kennan berjalan ke arah Adit menarik kerahnya dia menyeretnya ke tengah dan mendorongnya agar mendekati neneknya, menekan kepala Adit agar wajah pemuda itu terarah ke wajah neneknya "bisa kalian jelaskan keberadaannya? jangan buat saya tertawa"
Kennan menghela nafas panjang "kalian tahu apa yang dikatakannya sebelum dia mati? Sebelum dia mengiris tangannya di bathub di depan anaknya yang masih 11 tahun? " Kennan berdiri tegak melepaskan Adit, sebenarnya mengingat kejadian itu membuatnya sulit bernapas "Jendra, ibumu tidak pernah sekalipun selingkuh, tapi ini satu satunya cara untuk memberi identitas untuk Lily dan anaknya."
Kennan mendongak menatap menatap mereka, dari ekspresi wajah mereka Kennan tau kalau mereka mengetahui fakta itu, hanya Kenzo dan keluarga intinya yang terkejut.
"Identitas? Identitas apa yang ingin diberikan padamu? pela.cur?"
"jaga ucapanmu?" Adit yang sedari tadi diam akhirnya bersuara, Kennan kembali menatapnya saat dia dihampiri
"kenapa? Lo gak terima? Kalau bukan pela.cur apa namanya? SEBUTKAN APA NAMANYA? Perempuan yang menggoda suami orang, sampai melahirkam dua anak tidak Ha.ram tanpa status apapun kecuali sekretaris, katakan apa namanya?" Kennan mendekati Adit, tingginya badan yang terlihat mencolok membuat Adit terlihat kepayahan "satu satunya identitas untukmu, Anak Ha.ram!" Dia menekankan kalimat terakhirnya
Kerah kemeja Kennan di tarik, tapi Kennan hanya menyeringai. Dia melepaskan tangan Adit darinya menyapu kerah bajunya dengan tangan seolah debu baru saja menempel
"tidak senang? kalau begitu salahkan ibu dan Ayahmu yang membuatmu lahir jadi anak Ha.ram, karena sampai matipun status lo dan adek lo tidak akan pernah berubah."
"APA YANG LO TAU? MEREKA MENIKAH SIRI?" Adit berseru, Kennan terkekeh seolah menertawakan kebodohannya
"Apa menurutmu dia akan bunuh diri kalau dia bisa menikah sirih dengan pela.curnya? Ibuku tidak bodoh sampai menikah tanpa kontrak pranikah." dia kembali menatap lurus ke neneknya yang masih memegang tes DNA Keyra "mereka sangat mencintai harta, menikahi pela.curnya maka dia otomatis kehilangan semuanya"
Kennan menghela nafas melihat wajah pucat mereka, mendengus dan berkata dingin
"kalian memperlakukan ibuku seperti sampah jadi jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu dengan perusahaan kesayangan kalian"
Dia berjalan mendekati Keana menarik tangan kembarannya agar mengikutinya. Dia tau Keana pasti syok melihat situasi tadi, tapi baru beberapa langkah dia kembali menyerahkan USB ke Kenzo.
"lo bisa lihat po*no disitu"
"hah?" Kenzo menatap benda ditangannya bergantian dengan punggung Kennan yang kembali berjalan keluar. kenzo menoleh ke ayahnya juga orang disana.
"Jendra!" Keana mengernyit karena tangannya digenggam erat oleh Kennan, air matanya sudah jatuh tapi terus mengikuti langkah Kennan yang berjalan terus tanpa berbicara lagi.
******
Tbc