
Kennan memutar bola matanya jengah melihat Kenzo berdiri di depan ambang pintu rumahnya, sepertinya dia terlalu membiarkan Kenzo seenaknya
" mau apa lo kesini? " tanya Kennan, percuma mengacuhkannya, Kenzo sudah bebal dari dulu
" begini, urusan gue dengan Afkar. Tapi dia menyuruhku kesini menunggunya disini " jawab Kenzo, belum sempat Kennan melarangnya dia sudah seenaknya masuk ke dalam apartemen Kennan
Diletakkannya berbagai peralatan yang dia bawah, bahkan ada gorengan juga
" kayaknya dia sembunyiin sesuatu, kenapa gue tidak boleh ketempatnya."
Kennan tidak menghiraukan memilih melanjutkan masakannya yang belum matang, tangannya dengan lincah memotong daging yang sempat dia beli kemarin saat ke market, dia melihat Kenzo yang menganalisis tempat tinggalnya.
Kenzo memperhatikan rumah Kennan yang sangat bersih dan rapi seperti yang menempatinya bukan remaja laki-laki, padahal seingatnya saat masih anak-anak, Kennan termaksuda anak yang berantakan, mandipun harus penuh bujukan, tapi lihat anak yang malas mandi itu sekarang? Dia terlihat sangat tampan dan bersih bahkan sangat terlihat cocok didapur.
Kenzo berjalan kepintu yang diketuk, dia berfikir itu Afkar, tapi siapa sangka kalau itu seorang gadis dengan kulit putih bersih bermata sipit dengan gingsul yang sangat menggemaskan, cengirannya hilang karena yang membuka pintu bukan pemilik rumah.
" kaichou? " Kenzo mengangkat sebelah keningnya mendengar gumaman Hana, Hana menutup mulutnya melihat wajah bingung Kenzo " maksudku.. Ketua osis "
" oh "
" Misi... " Hana dengan seenak udel masuk kedalam bahkan Kenzo belum sempat mencegahnya " Pak Pres... Minta Bansos! "
" ck. Mau ngapain lagi, lo? " Kennan berdecak melihat kehadiran Hana, tapi gadis itu menyengir
" numpang makan, apalagi? " Hana mendekati meja makan membuka tudung saji Kennan " ah, Ngapain pak Ketos disini? " Hana bertanya dengan suara pelan
Kennan mengedikkan bahunya, dia membuka kembali kulkasnya menyimpan bahan yang tidak dipakai lagi, Hana berseru saat tiba tiba sebuah pemikiran masuk di otaknya, dia memicingkan matanya ke arah Kennan.
" apa? Buang pemikiran konyol yang ada dikepala cantik lo itu " ucap Kennan membuat Hana mencibir, Kennan mengangkat lauk yang dibuatnya ke meja makan. Tatapannya terarah ke Hana
Merasa di perhatikan gadis itu mendongak " apa? Gue cantik ya? "
" cih "
" hahaha... Makasih, gue emang cantik "
Kennan membalikkan badannya untuk meraih gelas dan piring, dia mengambil tiga piring meletakkannya di meja makan
" kapan lo berangkat? " tanya Kennan, Hana menghela nafas dia mencomot perkedel yang sempat Kennan buat
" nanti malam! " Hana menjawab " Kaichou, mari makan " panggilnya
Kenzo yang dari tadi diabaikan melihat ke arah mereka, dia menatap Kennan yang acuh tak acuh
" tidak usah sungkan! Presiden kami memang rada rada " ucap Hana membuat Kennan mencibir " tapi baik kok "
Kenzo menarik kursi diantara Hana dan Kennan, dia tidak merasakan aura penolakan dari Kennan.
" Ah, Ketos, apa yang ka- "
" Kenzo! " Kenzo memotong kalimat Hana yang terus memanggilnya Ketos " namaku Kenzo "
" gue tau " jawab Hana sedikit tidak suka, Kenzo mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya
'kalau tau kenapa terus memanggil dengan sebutan aneh'
Hana tidak menghiraukan dan kembali melanjutkan makannya, dia mendongak ke Kennan
" apa ada tugas? "
" semua pelajaran hari ini " jawab Kennan, Hana mengedipkan matanya " kenapa tidak masuk, lo? "
" hanya ada sedikit urusan tadi " jawab Hana
" kalian sekelas? " tanya Kenzo mencoba masuk dalam obrolan mereka, Hana menganggukkan kepalanya.
" kenapa lo disini? " Hana akhirnya bertanya
" ah, gue ada urusan sama Afkar, dia nyuruh tunggu disini " kata Kenzo
" tapi tadi gue lihat, dia keluar dengan Hanin. " Hana mengkerutkan sedikit keningnya karena sebelumnya dia memang berpapasan dengan pasangan itu, Kennan ikut melirik Kenzo
" dia yang bilang suruh tunggu disini! " Kenzo bersungut, Afkar memang memintanya " nganter ceweknya pulang mungkin " Kenzo berspekulasi sendiri
Hana mengkerutkan keningnya " tapi mereka ting-akh.. " Hana memekik karena merasa kakinya di tendang, dia mendongak melihat Kennan
" coba ini " Kennan meletakkan potongan daging ke piring Hana, gadis itu menyengir
" hehehe... Kalau lo baik begini, beneran bakal gue suruh Niichan buat lamar lo untuk gue "
Kennan hanya mendengus saja dan kembali makan.
Saat Kennan membersihkan piring kotor, pintu kembali di ketuk dan kali ini beneran Afkar yang datang dengan banyak barang di tangannya
" sorry telat " ucapnya pada Kenzo " lo sudah disini? " kata Afkar pada Hana yang memakan kripik
" gue malah sudah makan " jawabnya " lo ngapain ngumpul dirumah presiden gue? "
Afkar tidak menjawab dia menaruh telunjuk dibibirnya memberi isyarat agar gadis itu diam.
" lo benar benar tidak tau baca suasana ya? " Kennan mendekati Hana menariknya agar menjauh karena tau Afkar dan Kenzo akan membahas sesuatu yang penting.
" titip " Kennan meletakkan kunci rumahnya ke samping Afkar
" butuh motor? " tanya Afkar yang tau Kennan akan keluar, Kennan menggelengkan kepalanya.
Kennan hanya berencana untuk berkeliling kompleks, dia butuh berjalan.
" pak Pres, pelan sedikit jalannya! " rengek Hana, Kennan tidak menoleh atau menyaut dia hanya langsung memelankan langkahnya.
Kennan melirik Hana yang langsung menyengir saat sadar Kennan melihatnya padahal beberapa detik yang lalu dia memasang wajah yang rumit. Satu hal yang Kennan sadari, saat gadis itu bertingkah aneh berarti dia sedang dalam fase stress.
" kenapa? " Kennan tidak menjawab dia melangkah kembali " Kennan! "
Langkahnya terhenti, Hana tidak biasanya memanggil namanya.
" gue harus bagaimana? Gue tidak tau bagaimana menghadapi keluarganya. " lirih Hana
Kennan tidak menjawab tapi matanya mencari tempat duduk agar lebih nyaman mengobrol. Dia menarik tangan Hana membawanya ke bawah pohon di pinggir jalan.
Kennan duduk bertopang pada lututnya, sedangkan Hana memeluk lututnya sendiri. Gadis itu menghela nafas panjang.
" lo kesana cuma mau memastikan keadaan kakek, lo kan? " tanya Kennan dia menatap lurus ke depan " tidak perlu ke tempatnya "
" apa gue harus terus melarikan diri? " tanya Hana
Kennan diam sebentar " bukan melarikan diri, tunggulah sampai lo benar benar siap "
" bagaimana kalau gue tidak pernah siap? " Hana menatap Kennan meminta jawaban tapi pemuda itu juga diam dengan pandangan yang rumit
" gue tidak tau, karena gue juga masih melarikan diri dan bersembunyi " lirihnya tangannya tanpa sadar menyentuh lehernya sendiri
" Nan, kalau gue boleh tau... Sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Hana, dia tau kondisi Kennan sekarang tapi Hana juga penasaran apa pemicunya.
Kennan tau tentangnya tapi Hana tidak tau apa apa soal Kennan, memang benar dia dan Kennan tidak memiliki hubungan dimana Kennan berkewajiban memberitaunya tapi... Dia hanya berharap Kennan mau berbagi dengannya.
Hana bisa melihat pandangan Kennan meredup, Hana menepuk bahunya
" tidak apa apa, lo tidak perlu cerita "
Dilihatnya Hana yang tersenyum ke arahnya, Kennan diam tidak bereaksi. Mereka berdua sama sama diam dalam waktu yang lama.
" Kennan "
" hm? "
" Ayo pacaran! "
Kennan yang memandang ke jalan langsung melihat ke arah Hana, wajah gadis itu merah menahan malu dan Kennan tau dia tidak bercanda, Kennan bisa menilai mana yang serius dan bercanda.
Hana mengepalkan tangannya menahan malu, bagaimana dia yang perempuan bisa mengajak lebih dulu, ya di negara asalnya itu hal yang sangat biasa tapi ini indonesia dimana wanita yang menunggu pria yang mengatakan perasaannya.
Hana makin gugup saat Kennan hanya diam dan melihatnya, tidak ada ekspresi mengejek, jijik atau menghina di wajah Kennan hanya ekspresi bingung.
" Gue- "
" akh... Sepertinya gue haus " pekik Hana tiba tiba dan langsung berdiri, dia tidak mau mendengar Kennan menjawabnya, Hana bisa menebak dari wajah ragu ragu Kennan.
Hana kembali tertarik kebelakang saat tangannya di tarik Kennan agar duduk kembali
" Pak Pres? "
Kennan menghela nafas dia melihat ke Hana
" lo suka sama gue? " tanya Kennan to the point
Hana menelan salivanya, dia kaget sebenarnya tapi mengangguk pelan
" kenapa? "
" apa itu perlu dijawab? " Hana menggerutu, itu memalukan tentu saja, Kennan mengangguk " karena lo ganteng sama bisa masak, setidaknya kalo lo sama gue pacaran gue tidak kelaparan "
" hanya itu? "
" pintar juga " Hana mangguk mangguk sambil berfikir " dan... Lo gila sama kayak gue "
Kennan diam sebentar " gue ngehargai perasaan lo, tap- "
" oke gue tau " Hana cengir dia kembali berdiri " lo bawa duit gak? "
" bawa " jawab Kennan dia ikut berdiri
" traktir gue " perintah Hana yang berjalan lebih dulu.
Kennan menghela nafas dan berdecak mengikuti di belakangnya, tapi karena langkah Hana kecil Kennan bisa menyusulnya.
" hubungan orang tua gue berantakan " Hana mendongak mendengar suara Kennan " Bokap gue menuduh nyokap gue punya laki laki lain tap- "
" stop it " Hana menyentuh lengan Kennan yang sedikit menegang, Kennan menggeleng
" Maaf, gue hanya belum siap menjalin hubungan " lirih Kennan
" gue paham, santai saja " jawab Hana.
Tidak lama mereka tiba di kios, Hana kembali seperti sebelumnya seolah tidak ada yang terjadi, dia menyeret Kennan memintanya mentrakir ice cream.
Menghela nafas panjang, Kennan tau perasaan Hana bukan benar suka. Tapi, perasaan senasib dan Kennan juga sadar kalau dia memperlakukan Hana sedikit lebih baik dari yang lainnya karena perasaan senasib saja.
******
Tbc