
Jam istirahat, Kennan lebih dulu berjalan ke gedung kelas sepuluh tapi kaget karena mendapati Angga di sana.
"loh Nan, tumben lo ke gedung kelas 10" ucap Angga
"gue disuruh pak Juan ketemu sama anak kelas 10 yang nanti mau ikut OSN" jawab Kennan, gadis yang berdiri di samping Angga mendongak dan bertanya
"Kakak, Kak Kennan Rajendra?" gadis itu menatap Kennan "a..anu, saya yang ikut OSN Lilyana"
"ah, iya hai" sapa Kennan "yang satu lagi, Rosa kan?" Lily menganggukkan kepalanya "kapan kira kira kalian bisa mulai bimbingannya?"
"eh? I..itu, kakak saja yang tentuin"
Kennan memasukkan tangannya ke saku mencoba berfikir "Jum'at-Sabtu di aula jam istirahat, tidak masalahkan?"
"iya kak tidak masalah"
Kennan menganggukkan kepalanya "sudah dealkan?" Lily menganggukkan kepalanya "Kak, gue duluan" Kennan pamit pada Angga yang tadi hanya bersandar di pilar mendengar percakapan mereka berdua.
Kennan melihat jam ditangannya masih ada beberapa menit lagi, dia dengan cepat melangkah ke kantin.
Sesampainya di sana dia menyusuri kantin dengan pandangannya sampai pada Keana yang berkumpul dengan teman barunya. Ah... Ngomong ngomong Keana tidak sekelas dengannya, kembarannya berada di kelas IPA 4. Kennan melangkah mendekatinya
"baru mau makan?" tanya Keana yang melihat Kennan berjalan ke arahnya
"hm" jawab Kennan dengan gumaman, dia menyusuri kantin lagi "kamu baru makan? Kenapa?"
Keana cemberut "sendirinya tidak lihat diri"
"aku ada urusan" jawab Kennan dia melirik teman teman Keana, dia merasa tidak nyaman dipandangi terus
"beuh pak, pacaran mulu" seru Fian yang masuk kantin
"pacar?" beo Keana pelan, Kennan mengedikkan bahunya "ah tadi Kenzo kasih ini"
Kennan mengambil amplop coklat dari tangan Keana, amplop yang berstempel logo sekolah, Keana bertopang dagu dan melihat wajah kesal Kennan
"Kenzo bilang, mau tidak mau lo harus mau, keadaan kepepet" ucap Keana "memang itu apa?"
"surat penerimaan masuk Osis" jawab Kennan dia menghela nafas, mereka sudah mau penaikan kelas dan kenapa harus memberinya surat itu? Ketua osis juga akan segera digantikan? Terlebih kelas tiga mereka harus fokus pada pembelajaran bukannya dengan organisasi sekolah yang merepotkan.
"dia juga bilang bakal siapkan sarana apapun yang kamu butuhkan" ucap Keana.
Kennan berdecak menepuk kepala Keana dengan amplop dan berjalan menjauh, dia sudah tidak tahan dengan tatapan teman Keana.
Kennan berjala ke arah pojok dimana beberapa teman sekelasnya berkumpul, Kennan menggeser Satrio dan duduk diantara Satrio dan Hana.
"hm? Surat osis?" tanya Satrio melihat logo diamplop, Kennan mengangguk tangannya mencomot kerupuk udang yang dimakan Hana "lo masuk osis? Ini sudah mau kenaikan kelas"
"jangan tanya gue" Kennan kembali mencomot kerupuk Hana gadis itu langsung memukul tangannya
"beli sendiri, lo kan banyak duit" Hana menjauhkan camilannya agar tidak terus dicomot tapi saat ia mengarahkan ke kanan malah Arumi yang mencomotnya "Rumii "
Arumi hanya menyengir dia melanjutkan makan baksonya.
Kennan keluar dari tempat dia duduk dan berjalan untuk memesan makanan, setelah selesai dia kembali dengan semangkuk mie rebus dan dua bungkus kerupuk, menggantikan kerupuk Hana.
"woi IPA 1 gabung dong!" Afkar berjalan ke arah mereka dibelakangnya ada anggota kelasnya.
"bangkunya ngak cukup" jawab Putra.
"tarik saja bangku kosongnya" ucap Kennan yang memisahkan daun bawangnya meletakkannya ke mangkuk Hana dan Satrio
"gue juga gak suka daun bawang, Nyet" sungut Satrio dia hendak mengembalikan tapi Hana lebih dulu menyodorkan mangkuknya, dia memang suka daun bawang. "untung ada anak baek" Satrio hendak menepuk punggung tangan Hana tapi Kennan langsung menjauhkan tangan Hana dari Satrio
Satrio menyipitkan matanya ke arah Kennan sambil menyeringai jail, dia hendak bersuara tapi Kennan memasukkan lebih dulu kerupuk di mulutnya
"ngomong aneh aneh lo, gue kasih tau Sabrina kalau lo masih sering minum di apartemen lo" bisik Kennan, Satrio mendelik ke arahnya
"apa nih apa nih" Zain merangkul mereka berdua tapi langsung ditepis Kennan, dia tidak nyaman disentuh oleh sesama jenisnya. "gosipin gue ya?"
"sana jauh jauh" usir Satrio tapi Zain masih betah dia mencomot telur yang menganggur di mangkok Satrio "woi... Kamp.ret" dia berdiri mengejar Zain yang sudah berlari
"Boncell selamatin gue"
Kennan menggelengkan kepalanya dan lanjut makan, dia mendongak saat Afkar mengetuk meja di dekat mangkuknya
"Kalian ada rencana liburan kemana?" tanya Afkar dia mengambil botol minum di tangan Hanin membukanya dan memberikannya lagi dengan masih melihat ke Kennan "kalau bisa, kami mau nebeng"
"ke pedesaan, katanya lagi musim panen Padi" jawab Kennan entah padi siapa yang akan mereka panen. "kalau mau ikut konfirmasi ke Alisa dan Irina, mereka kayaknya belum pesan tiket"
"Hm... Manen ya? Bukan ide buruk" Afkar melirik teman temannya yang mulai rusuh "mereka semua biar tau rasanya kerja berat"
Kennan ikut melirik teman temannya, baru dia sadar kalau teman temannya juga anak IPS 1 tidak ada yang kekurangan ekonomi, mereka sepertinya dari orang berpunya... Terutama... Kennan melirik Zain yang main dasi dengan Sean, Zain tidak bisa menyembunyikan aura 'Tuan Muda' bau uang dari tubuhnya bisa tercium bahkan dari jarak 200 meter. Kennan selalu percaya dengan penilaiannya terhadap orang sekitar tanpa diberitahu asal usulnya.
Dan dari apa yang dia perhatikan... Bukan hanya Afkar-Hanin yang sepertinya sudah menikah tapi ada sepasang lagi di sekolah itu.
Sekolah benar benar sesuatu
"ah... Kenzo benar benar nyeret lo" Kennan mengikuti arah pandang Afkar yang tertuju ke amplopnya "ah.. Kami benar benar kewalahan".
"bukannya sudah mau penaikan kelas? Kenapa masih membutuhkan anggota baru?" tanya Kennan
"ah itu... "Afkar bersandar di bangku "tahun depan Kenzo tetap tidak melepas jabatannya, banyak masalah, dari zaman batu tuh anak memang suka cari penyakit"
"lo kenal Kenzo dari kapan?" tanya Kennan dengan kening mengkerut, Afkar yang asik makan mendongak menunjukkan jari telunjuknya
"satu SD?"
"SMP" Afkar menjawab dia meraih gelas di depannya menyesap isinya sampai tandas tak tersisa. "tapi hanya kenal seling, ngeh kalau itu dia, lo kenal dia dari kapan?"
"dari lahir" jawab Kennan enteng, Afkar menatapnya dan berkata dengan santai
"oh jadi itu lo" gumamnya "woi bisa gak sih lo pada diam? Ini kantin bukan hutan" omel Afkar pada teman temannya, Kennan mengangguk setuju "bayar pesanan kalian terus balik kelas"
Merasa seragamnya di tarik tarik, Kennan menoleh ke arah Hana. Gadis itu memberinya isyarat agar mendekatkan telinganya
"coba lo kayak gitu? Tegas keren"
Kennan menjauhkan sedikit badannya menatap Hana yang masih senyum, Kennan meletakkan sendoknya kemudian menyentil kening Hana
"dia sudah ada pawang" ucap Kennan, Hana cemberut sambil mengusap keningnya "fokus belajar, ulangan sudah di depan mata"
"iya bawel lo" gerutu Hana "nanti mau jalan?" tanya Hana dengan suara pelan
"gue sudah ada janji dengan Keana" jawab Kennan "tapi kalo memang mau, lo bisa ikut"
"Seriusan boleh?" Tanya Hana semangat, Kennan menganggukkan kepalanya "Boleh peluk gak sih?"
Kennan melihatnya "tidak!" Ucapnya tegas.
*****
Tbc