
Langkah Hana terhenti melihat gadis cantik berdiri di depan apartemen Kennan, dia terlihat sangat cantik dengan badan idealnya baju yang di kenakan terlihat sangat cocok. Hana menatapnya sebentar sebelum ke dirinya sendiri, Hana selalu kurang percaya diri soal tinggi badannya sedangkan gadis yang berdir di depan pintu Kennan... Dia bahkan lebih tinggi dari Hanin yang tergolong tinggi untuk perempuan.
"kenapa bengong disitu?" Kennan yang baru naik karena tadi sempat bicara dengan Reynand, Hana tidak menjawab dia hanya terus menatap gadis di depan pintu Kennan.
Mungkin merasa diperhatikan gadis itu menoleh ke arah mereka, dia memasang wajah tidak senang "kenapa lama sekali?" dia bertanya sedikit marah.
Hana mendongak menatap Kennan yang menatap gadis itu datar
Apa Kennan selalu setinggi itu?
Tinggi Hana hanya sekitar sebahu Kennan, dia makin cemberut dan berfikir akan ke minimarket untuk membeli susu agar dia bisa tinggi juga.
Kennan melirik koper di samping gadis itu "kau melarikan diri lagi?" dia berjalan melewati Hana membuka kunci pintunya "aku tidak menerima orang kabur"
"apa peduliku? Aku akan tinggal disini?" Keana menerobos masuk diikuti Kennan dari belakang.
Hana menatap mereka berdua entah kenapa perasaannya gelisah, dia tidak pernah melihat gadis itu dan Kennan terlihat dekat dengannya. Mereka cantik dan ganteng sangat serasi.
"kenapa melamun dijalan?" Hana menoleh dan mendapati wanita cantik lainnya membuatnya makin ingin menangis "Hana?"
"huaa... Aku juga mau tinggi!!" Akira mengkerutkan alisnya, dia mendekati Hana menepuk kepalanya Hana makin merasa sedih
"kamu tidak akan bertambah tinggi kalau kerjaanmu baring terus!" Farhan muncul dari belakang Akira, Hana menghentakkan kakinya dan meninggalkan mereka dengan hati kesal "kenapa lagi anak itu, kenapa tiba tiba mau tinggi" Farhan bergumam
"itu hal biasa untuk anak perempuan seumurnya, harusnya kamu mendukungnya bukan bicara seperti tadi" Akira meliriknya mendengus dan meninggalkan Farhan sendirian, dia menggaruk kepalanya dan menyusul Hana.
"dimana aku tidur?" Keana menatap Kennan yang duduk di sofa, dia menunjuk ruangan yang tidak terpakai di samping kamarnya
"tapi kasurnya tidak ada" ucap Kennan, dia memang jarang berada di ruangan itu karena punya kamar dimana dia melakukan semuanya dikamar. Kalau Reynand menginap dia akan menumpang di kamar Kennan tapi karena Keana perempuan mereka tidak bisa tidur di kamar yang sama.
Keana tidak masalah dia langsung masuk dan ruangan itu benar benar kosong hanya ruangan putih yang dipijari lampu. Kennan berdiri diambang pintu memperhatikan Keana yang berdiri di tengah tengah ruangan "berapa hari mau disini?"
"tidak tau" Kennan menatap saudara kembarnya itu, dia tau kalau Keana sedang gelisah dan kebingungan saat ini
Tapi, Kennan juga tidak mau Keana melihatnya drop nanti. Keana menatapnya diam, gadis itu menunduk dan bersuara lemah "kalau tidak suka aku disini, aku akan pindah"
" aku pergi ke pengurus dulu" Kennan kembali ke kamarnya mengganti pakaian sekolahnya.
Kalau Keana disini.. Bagaimana dengan sekolahnya?
Kennan kembali ke kamar Keana berbicara diambang pintu "bagaimana dengan sekolahmu?"
"untuk apa sekolah kalau bisa nikah dengan orang kaya" Keana yang membuka koper menjawab asal, Kennan mengambil gabus kecil yang entah sejak kapan ada di lemari depan kamar Keana melemparkannya ke gadis itu. "akh..sakit bodoh"
"kamu yang otak dangkal" Kennan mendengus ke arahnya dan berjalan ke pintu.
Dia kaget saat membuka pintu ada Hana disana dengan wajah lemas, dia menatap Kennan
"Jendra, aku lapar apa tidak ada makanan?" Keana menongolkan kepalanya, dia mengkerutkan keningnya melihat Hana diambang pintu
"masak sendiri, kamu perempuankan!"
"aku tidak pernah masak" Keana keluar kamar berjalan ke dapur
Hana menarik ujung baju Kennan agar cowok itu melihat ke arahnya, Kennan mengangkat sebelah alisnya dengan tingkah Hana. Gadis itu terus menatap Keana dengan tatapan iri, dia juga mau tinggi.
Kennan membalikkan tubuh Hana mendorong bahu Hana agar berjalan sendangkan dia di belakang mengarahkan. Hana mendongak dan bertanya "mau kemana?"
"pengurus apartemen!"
"orang itu mau tinggal sama lo?"
"hn"
Hana menghela nafas, apalah dia yang pendek. Sesampainya di pengurus apartemen Kennan mengajukan izin tinggal untuk Keana.
Pengurus rumah itu menatap kennan "jadi apa hubungan kalian? Kalau pacar maaf saya tidak bisa menyetuju-"
"saudara saya"
Kennan menghela nafas dia malas menjelaskan hubungan keluarganya tapi karena aturan dia harus menjawab "saudara kandung saya, saudara kembar"
"ha? Kamu punya saudara kembar?" Kennan mengangguk
"jadi itu Ajeng?"
"memang siapa lagi?" Kennan menjawab pertanyaan Hana dengan pertanyaan.
Hana memegang dagunya berfikir, semalam dia sudah melihat ibu Kennan juga kakak laki lakinya, Hana juga sudah bertemu Risa saudara perempuan Kennan semuanya cantik dan ganteng.
"Pak Pres "Hana menarik narik lengan Kennan "Adopsi gue jadi adek lo dong!"
"hah?" Dia menatap aneh gadis yang merengek itu "bicara aneh apa lagi lo?"
"soalnya saudara lo cakep cakep, kali aja kalau gue jadi adek lo, gue bisa kecipratan cakepnya"
Pengurus apartemen tertawa mendengar interaksi dua remaja itu, dia menyerahkan surat izin ke Kennan. "kenapa jadi adek kalau bisa jadi istrinya. Lumayan memperbaiki keturunan"
Hana tertawa mengibaskan tangan di depan Pengurus "dia nolak saya, Kek!"
Kakek pengurus menatap Kennan, cowok itu melirik ke arah lain sedangkan Hana terkikik. Kennan menandatangani surat izin dan pamit dengan cepat
"pak pres, matte...[tunggu....] "
Sesampainya di apartemen Kennan mereka mendapati Keana tengah memakan camilan yang sengaja Kennan simpan untuk para bocil kalau datang bermain.
Keana mendongak menatap Kennan yang baru datang, matanya tertuju ke Hana membuatnya curiga. Dia menatap bergantian orang di depannya, Hana juga menatap Keana dan benar saja wajah mereka seperti di fotocopy hanya beberapa fitur yang berbeda.
"uaahh.. Sugoi, nite iru [mirip] " Hana berseru.
Keana tidak lama membuang muka melihat kembali ke hp miliknya, Hana yang diacuhkan mau tidak mau melihat Kennan yang menatapnya sebelum mengedikkan bahunya. Cowok itu melangkah ke kamarnya menyimpan salinan surat izin tinggal Keana.
Dia keluar dan mendapati dua gadis yang sama sama fokus pada hp masing masing.
Hana mendongak sambil cengir, dia memperlihatkan layar hpnya yang menampakkan gambar makanan
"lapar... " ucapnya, Keana juga mendongak melihat Kennan saat mendengar kata lapar dari mulut Hana
Kennan menghela nafas dan berkata dengan nada jengkel "kalian ini perempuankan?"
"ngapain gue masak kalau ada yang masak lebih enak" jawab Hana enteng, Kennan memutar bola mata jengah.
Dia berjalan ke dapur mencari sesuatu untuk memberi makan dua gadis yang sama sekali tidak bisa diandalkan untuk dapur.
Hana menyusul Kennan dan memperhatikan wajah Kennan yang tidak berekspresi. Hana bertumpu di meja kompor membuat Kennan meliriknya dan berkata dengan nada pelan
"you okey?" tanya Hana, Kennan mendengus berbalik membuka kulkas, mengambil isinya meletakkannha di meja.
Dia melihat Hana yang masih menatapnya "tidak seburuk kemarin"
Hana diam tidak lama dia tersenyum memperlihatkan gigi ginsulnya, menepuk pundak Kennan dan berkata dengan ceria
"ayo kita pacaran!"
Kennan mendorong kepalanya "keluar sana."
"cehh... Tidak seru!" ucap Hana sambil berjalan keluar dari dapur.
******
Tbc
Note :
Karena hari ini hari jadi saya yang makin tuir, jadi dengan berbaik hati saya up 3 chap.