
Hana berdiri dengan kening yang mengkerut saat empat orang di depannya menatapnya dengan serius, saat kedatangan keluarga Kennan tadi dia tiba tiba di seret Hanin dan Sabrina.
Hana menautkan tangannya di belakang punggungnya, matanya melihat ke arah lain berusaha tidak menatap mereka
"jadi?" Sabrina bersandar disandaran kursi sambil bersedekap
"Apa?" Hana masih melihat ke samping tidak ingin menatap mereka.
"lo tau sesuatukan? Tentang sakitnya Kennan!" Hanin bertanya
Hana akhirnya menatap mereka menganggukkan kepalanya dan berkata "tapi ini privasi Kennan, gue tidak bisa bilang" Hanin menyipitkan matanya
Afkar menjitak pelan kepala Hanin "dia bilang privasi, gak usah di tanya lagi"
Hanin menoleh ke arahnya dengan muka cemberut, Afkar tidak mengubris dia beralih ke Hana "tapi tidak parahkan?"
"tentu saja kalau dibiarkan akan parah, tapi dia selalu ditangani" Hana menjawab sambil tersenyum
Mereka menghela nafas, Sabrina berdiri merangkul Hana "lo sama Kennan pacaran ya?"
"hah?"
"gak usah bohong" Sabrina mencubit gemas pipi Hana "sekarang lo main rahasiaan ya sama kakak ipar"
"dihh.. Emang kakak gue mau sama lo" Hana menyeringai yang langsung mendapat tabokan Sabrina "aduhh..."
"lah... Terus kalau Hana sama Kennan, bukannya dia sama Keana?" tanya Satrio
"Hanya orang bodoh yang bakal percaya kalau mereka pacaran!" Afkar dan Sabrina berseru bersamaan, Hana mengangguk angguk.
"woi.. Gue tidak bodoh!" Hanin tiba tiba berseru dan memukul lengan Afkar yang tertawa
"aduh... Aduh.. Woi sakit Nin" Dia berusaha menahan tangan Hanin, Satrio menatap Sabrina dengan wajah penasaran
"dilihat dari segimanapun, mereka kakak adek" jawab Sabrina
"Mereka saudara Kembar" Hana menyeletuk
"HAH??" mereka berseru bersamaan, ya Sabrina dan Afkar menebak kalau mereka kakak adik tapi kalau kembar.... Mereka tidak memikirkannya "Gimana Han? gimana?" tanya Hanin
"Kembar?" Sabrina bertanya
"iya, Kembar. Gue juga baru tahu beberapa hari lalu" jawab Hana sambil cengir, dia tidak akan menceritakan kalau dia juga sempat salah paham soal hubungan Keana Kennan.
"Kembar yaa... " Hanin bergumam, dia menoleh ke arah Afkar yang tiba tiba mengusap kepalanya, dia menepis tangan Afkar pelan "ntar gue nangis kalo lo gituin" lirih Hanin yang cuma bisa di dengar Afkar.
"woi... Kalau mau mesraan balik sana" tegur Satrio melihat Afkar yang sibuk meneol pipi Hanin yang cemberut.
Afkar memeluk Hanin dari samping sambil menyeringai ke Satrio "makanya nikah"
"au ahhh... " Satrio, Sabrina dan Hana bersamaan bergegas meninggalkan Hanin Afkar.
***
"aku tidak tau akan mengatakan apa padamu" Fa'i yang bersandar di dinding mendengar cerita Kennan "antara nekat atau bodoh"
"apa kau benar benar dokter?" Reynand bertanya dengan sedikit kesal mendengar pertanyaan Fa'i, Fa'i hanya mengedikkan bahunya.
Kennan menghela nafas dia melirik Keana yang sejak tadi menggenggam tangannya, semenjak kakak tiri dan Ayah tirinya masuk.
"untuk sementara, kalian pulang ke rumah." Arman yang dari tadi hanya diam sambil menemani Keyra bermain akhirnya bersuara.
"baik" jawab Kennan.
Giliran Kennan yang ditatap, mereka sangat jarang melihat dua orang itu berinteraksi tapi Reynand tau sejak dulu bahkan saat Kennan menolak untuk bicara dia memang selalu mendengarkan ucapan Arman.
Kennan menghormati pria itu karena membantu mereka dulu dan juga Ayah tirinya itu tidak terlalu ikut campur urusannya dan diam diam mensuport apapun yang Kennan inginkan.
"kalau begitu untuk malam ini kamu menginap dulu" ucap Reynand, Dia melihat ke arah Keana sambil tersenyum ramah "kamu butuh istirahat, kenapa tidak ikut kami pulang"
Keana hanya diam dan menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa sendirian di tempat asing. Keana melirik Kennan yang hanya diam tapi terkejut dengan tatapan kosong Kennan.
Fa'i menghela nafas dan keluar dari ruangan itu tapi tidak lama, saat datang dia membawa sebotol kecil obat dan menyeragkannya ke Kennan.
"kamu minum ini dulu" ucap Fa'i, Kennan menggelengkan kepalanya dia sedikit bosan dengan obat "kamu yakin tidak butuh? Kamu harus tidur"
"aku tidak ingin tidur" jawab Kennan, dia menyandarkan dirinya di tembok, dia takut saat tidur dia akan memimpikan kejadian itu lagi di saat seperti ini bahkan obat tidurpun tidak akan mempan, mimpi buruk itu akan tetap datang.
"kamu tidak tidur sudah berapa malam?" tanya Fa'i, Kennan tidak menjawab dia hanya menatap keluar jendela kamar "kamu bisa mati loh"
Dia menolehkan kepalanya menatap Fa'i, Fa'i menyodorkan botol obat ke Kennan dengan tatapan tegasnya. Dia mengambil obat itu
"tenang saja, itu hanya obat tidur" Fa'i berucap mengambil botol air dan menyerahkan ke Kennan "besok kamu bisa menemuiku di klinik"
Mereka menoleh ke arah pintu yang terbuka di mana Afkar dan lainnya masuk.
"eh pacarnya Kennan!" Fa'i berseru sambil mengangkat tangannya ke Hana yang langsung menunduk dengan salah tingkah.
"eh yang mana?" Kinara bertanya menatap tiga gadis yang masuk, Hanin dan Sabrina dengan seenaknya menunjuk Hana
"bu..bukan kok tante" seru Hana dia melirik Kennan meminta bantuan untuk menyangkal tapi cowok itu hanya menatapnya dan menjulurkan lidahnya sedikit sama sekali tidak berniat membantu. Saat mereka semua melihat Ke Kennan, cowok itu sudah lebih dulu menatap keluar jendela acuh tak acuh.
"kusogaki" Hana bergumam pelan tapi masih dapat di dengar beberapa orang, Reynand menahan tawanya
"chikaimasu ka? (apa kamu mengumpat?)" tanya Reynand membuat wajah Hana memerah malu, dia membalikkan tubuhnya untuk bersembunyi diantara Sabrina dan Hanin membuat tawa Reynand meledak.
Pfftt
Mereka menoleh ke arah pria baru baya yang berusaha menahan tawa, merasa di perhatikan Arman berdehem dan mengajak Keyra keluar untuk mencari makan.
"huaaa.. Malunya" gumam Hana dia menyembunyikan wajahnya di bahu Hanin.
"tante, kami sebenarnya mau pamit pulang" Afkar mewakili yang lainnya untuk berpamitan
"kok buru buru?" Kinara bertanya dia menyadari Kennan sudah kembali melihat ke arah mereka
"kami mau mengerjakan tugas sekolah, besok ada ujian" jawab Hanin, Afkar dan Sabrina melihat kearahnya karena lupa.
"kalau begitu, hati hati ya dijalannya." Kinara tersenyum kearah mereka tak lama dia melihat Hana sebelum melihat yang lainnya lagi "jagain calon mantu tante" Kinara ikut menggoda Hana yang mukanya makin memerah karena malu
"siap tante!" Satrio yang menjawab, Hana memukul lengannya "apasih Han?". Hana tidak menjawab tapi memelototinya "Ah, Pre.. Nan, izin lo biar gue yang kasih tau pak Juan."
"thanks" lirih Kennan "besok Pak Yadi tidak datang, kasih tau Radi buat ngambil buku di mejanya kasih ke Juwita" Kennan mengintruksikan karena memang besok dia tidak ke sekolah "suruh juga Irina buat ngirimin gue catatan kas kelas, besok ada rapat sama Osis, lo gantiin gue ya"
"siap pak" jawab Satria dengan nada gurauan, Kennan mendengus karena sebenarnya dia lumayan tidak suka denga. Title yang disematkan temannya.
*****
Tbc