KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
16



" Pak Pres! "


Kennan mendongak saat Satrio dengan seenaknya duduk di atas meja miliknya padahal Kennan tengah mencatat pelajaran yang tertinggal, Satrio mengambil salah satu buku catatan Kennan yang tertutup dan memainkannya


" sampai tulisanku bengkok, gue bakal nyuruh Radi patahin kaki lo " ucap Kennan tanpa mengalihkan pandangannya dari catatannya


" sadis " Satrio menatap kearah buku yang dicatat Kennan karena tidak mendapat respon " serius Hana mau balik Jepang? Sabrina yang ngasih tau gue "


" hm " jawab Kennan dengan gumaman " kenapa lo tanya tanya? "


" ya enggak " Satrio mengedarkan pandangannya, Hana tidak masuk hari ini " Kera, lo tidak merasa aneh dengan Hana? Gue rasa ada yang aneh sama anak itu "


Kennan meletakkan pulpennya dan bersandar di kursinya menatap Satrio


" apa? " tanya Satrio


" bukannya mata lo memang selalu melihat orang aneh? " ucap Kennan membuat Satrio diam, Satrio berdiri dari bangkunya dan berjalan pergi " buku gue jangan lo bawa, Anjirr! "


Satrio melihat ke arah tangannya dan ya, dia masih memegang buku Kennan. Dia berjalan kembali ke bangku Kennan meletakkan buku itu sambil cengir.


" hehe sorry, Pak! " Kennan hanya bisa menggelengkan kepalanya


" Pak Presiden, gue mau lapor " Sean berlari dari luar kelas " gue mau nuntut Fian, dia makan tapi tidak mau bayar! " adunya


" lo bilang gratis, Biba! "


" gue tidak pernah bilang! "


" Woahh... Njirr banget nih anak, lo bil-"


" BERISIK WOI " seru Alisa dari bangkunya, dua orang itu langsung senyap " gue gak bisa konsentrasi nih " sungutnya


" lo juga, ngapain coba mekap di kelas " ucap Akmal melewati bangku Alice


" suka hati gue lah, gue kan pincess " dengus Alisa


" Cess, sini gue bikinin alis lo " Irina berdiri dari bangkunya berjalan ke arah Alisa " gue jago kalau cuman mau gambar Alis "


" Pak Presiden! " giliran Radi yang muncul entah dari mana, Kennan mengkerutkan keningnya " lapor Pak! "


" kenapa lo? "


" semua ketua kelas dan wakil ketua kelas dipanggil ke ruang osis, ada rapat dadakan. Laporan selesai! " Radi memberitau ala ajudan upacara


" lo tidak bisa kesana sendiri? Nanti hasil rapat kasih tau ke gue? " tanya Kennan


" oh tidak bisa! " Radi menggoyangkan telunjuknya " Kenzo mau semua ketua kelas dari kelas sepuluh sampai dua belas. "


Kennan menghela nafas, dia dalam mood yang buruk akhir akhir ini, ikut rapat hanya akan membuatnya semakin pusing.


" Pak, buruan "


Kennan berdecak, menutup buku yang dicatatnya menyimpannya di laci, dia juga memakai almamater yang biasanya hanya dia taro didalam tas, merapikan seragamnya dan berjalan menyusul Radi.


" Presiden! " Kennan menoleh ke arah Alisa yang memanggilnya " jangan tidur saat rapat ya! "


" jangan matiin mic " Sean berseru terbahak


" jangan ketuk palu tengah malam! " Akmal juga menimpali, seketika kelas heboh


Radi menjulurkan kepalanya dari pintu " Parah lu semua. Mau ditekdown ya? " Kennan menggelengkan kepalanya, dia menarik kerah Almamater Radi pergi meninggalkan kelas yang heboh.


Kennan masuk ke ruang osis melewati pintu belakang, dia tidak mau mengambil resiko berpapasan entah dengan siapapun itu.


" hampir telat lo " kata Afkar saat Kennan menarik kursi kosong disampingnya


" tugas gue numpuk "


" seperti yang diharapkan dari kelas IPA unggulan! " ledek Afkar, Kennan hanya mencibirnya


Mereka semua menoleh ke pintu yang terbuka, dimana Ketua Osis dan antek anteknya baru masuk, Kenzo langsung duduk dikursi pimpinan.


" soal apa ini? " tanya Kennan sambil berbisik


" kasus kakak kelas kemarin " jawab Afkar, Kennan memperhatikan tampang Afkar yang berubah dingin membuatnya bergidik sendiri.


Beberapa hari yang lalu, ada salah satu kakak kelas mereka yang kedapatan membawa minuman keras ke sekolah dan berencana mengajak yang lainnya untuk pesta miras sepulang sekolah di gudang, beruntungnya langsung dicegah oleh tim kedisiplinan dan keamanan sekolah.


Tak lama pintu kembali terbuka, Pak Juan masuk dengan wajah yang menyeramkan, wajar saja dia adalah guru BK dan yang bertanggung jawab dan membimbing tim keamanan sekolah.


***


Kennan menghela nafas lega, ruangan itu sudah kosong karena semuanya kembali ke kelas masing masing. Kennan menyandarkan tubuhnya dikursi melonggarkan dasi dan melepas kancing paling atas seragamnya, kepalanya berdenyuk karena terlalu banyak berfikir


Dia menoleh ke samping saat sebuah kaleng minuman ringan diletakkan di depannya. Kenzo berdiri di sana dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya, lengan almamaternya di gulung sampai batas bawa siku, kacamata yang tadi dia pakai sudah di lepasnya. Kenzo mengangkat sebelah alisnya mendengar Kennan menghela nafas panjang, sebenarnya Kennan ingin beranjak tapi dia sangat lelah, well fisik dan psikisnya beda dari remaja yang lain.


" bagaimana kabar Tante Kinara? " Kenzo duduk dimeja sambil membuka kaleng di tangannya, Kennan diam tangannya meraih minuman kaleng yang diberikan Kenzo padanya, mubazir kalau dibuang " sampai kapan lo mau diemin gue? Lo tau sendiri gue tidak ada hubungannya sel- "


" jangan dibahas " Kennan memotong kalimat Kenzo membuat mereka sama sama diam.


" ah ngomong-ngomong, karena kejadian kemarin Ajeng Homeshooling. " Kenzo memecah keheningan diantara mereka " Lili juga masih sering menemuinya "


Kenzo melirik Kennan yang memasang wajah dinginnya, tangannya meremas kaleng di tangannya


" bukan urusanku! "


Kenzo hanya bergumam mengerti, dia masih melihat sepupunya itu. Sebelum kejadian itu.. Mereka berdua sangat dekat dan perubahan Kennan membuatnya pangling. Kenzo juga orang kepercayaan Kennan dan Keana saat masih kecil mengingat dia yang lebih tua walau hanya berbeda lima bulan.


" Bang Fariz juga baru nikah minggu lalu " ucap Kenzo


" oh " gumam Kennan menanggapi


Kenzo turun dari meja itu, melempar kaleng ke tong sampah. Dia baru akan kembali bersuara saat menyadari Kennan tertidur cukup pulas


' secepat itu? ' Kenzo tidak pernah bisa tidur begitu cepat. Kenzo kembali memperhatikan Kennan, sepupunya itu terlihat pucat dan berkantung mata tebal terlihat jelas dia kurang tidur


" pasti berat "


Kenzo berjalan ke jendela membuka lebar agar angin bisa masuk, dia menoleh saat pintu terbuka dan menampakkan Afkar disana


" gue nyari lo dari tad- " kalimat Afkar terpotong saat Kenzo memberinya isyarat untuk diam. Afkar melihat ke arah meja rapat disana Kennan tertidur


" habis ngapain lo berdua? " Afkar menyeringai kearahnya, Kenzo berdecih dan memukul punggung Afkar begitu dia mendekat membuat cowok itu meringis.


Afkar melepas kacamatanya, mengacak rambutnya yang sangat rapi, almamaternya sudah tidak digunakan, dia bahkan melepas semua kancing kemeja seragamnya menampilkan kaos hitam polosnya, mengeluarkan kemeja seragam dari dalam celananya, terakhir memasukkan lolipop kemulutnya


" apa lo benar benar ketua kedisiplinan? " cibir Kenzo, Afkar menyeringai " kalo lo keluar begini tidak ada yang akan percaya "


" apa gue peduli? " Afkar berujar santai dia tidak lupa menawarkan permennya


Kenzo mengambilnya " lo serius berhenti ngerokok? "


" hm. Cewek gue tidak suka asap rokok " jawab Afkar " apa? " tanyanya saat Kenzo menatapnya


Dia terkekeh " orang kayak lo tidak akan berhenti kalau cuman karena cewek " cibir Kenzo, Afkar hanya mengedikkan bahunya " lo serius sama Hanin? "


" dia beda dari mantan gue yang lain "


" lo bilang ngak lo punya banyak mantan? " tanya Kenzo


" lo pikir gue gila? Bunuh diri namanya kalau gue ngaku mantan playboy. " Afkar bergidik sendiri membayangkan amukan Hanin " lagian bagi gue mantan gue cuman satu, lainnya kan cuman sekedar lewat "


" Sat emang lo " Afkar hanya tertawa kecil sambil merogoh saku celananya mengambil plastik kecil dan melemparnya ke Kenzo, mata Kenzo membulat


" bagian lo yang nyerahin itu ke pak Juan. " ucap Afkar


Kenzo menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, kakak kelas itu bodoh atau bagaimana? Membawa benda haram ke sekolah


" padahal sudah tahun terakhir " kata Kenzo menatap bungkusan berisi bubuk putih di tangannya " bukti kepemilikan ada di lo kan? "


" hm " Afkar memperlihatkan flashdisk ditangannya " hah... Perasaan gue cuma keamanan sekolah, kenapa juga berurusan dengan barang haram sia lan itu. " umpatnya menggaruk kepalanya frustasi


" resiko punya sekolah Absurd, nyesel gue ngajuin jadi ketua osis. Pantas kak Angga senang sekali setelah selesai menjabat. " Kenzo hanya bisa menghela nafas panjang penuh penyesalan


Mereka menoleh ke arah Kennan yang bangun tiba tiba, Kennan menatap mereka berdua dan berlalu


" Jendra! "


Kennan tidak mengubris dan berjalan cepat ke kamar kecil mencuci wajahnya. Kennan menahan dirinya di wastafel sambil memegangi kepalanya


Mimpi itu lagi!


Kennan benar benar muak dengan mimpi yang datang berulang ulang saat dia tidur tanpa bantuan obat. .


Setelah merasa tenang, Kennan baru kembali ke kelas berdiam diri sambil mencatat pelajarannya.


*****


Tbc