
Keana menatap punggung Kennan yang memilih berdiri di balkon, pemuda itu sejak kepulangan bocah bocah itu memilih menjaga jarak dengannya.
Keana menghela nafas, sebenarnya dia juga enggan bertemu dengan Kennan. tapi, di perlakukan seperti ini membuatnya lumayan kesal.
Kennan berjengit kaget mendengar sesuatu yang pecah, dengan terburu dia masuk dan benar saja dia mendapati Keana berdiri di depan gelas pecah, dapat dia lihat gadis itu kebingungan sendiri untuk mengatasi apa yang dia perbuat.
" Minggir "
Dengan pelan Kennan mendorong gadis itu menjauh setelah dia mengambil sapu dan sendok sampah.
Dengan cekatan dia membersihkan kekacauan itu. Dia lumayan cakap dalam hal bersih bersih mengingat sebelumnya dia yang selalu membereskan kekacauan yang dibuat Keyra adik bungsunya.
" sampai kapan lo akan berdiri di situ? " tanya Kennan, Keana hanya membuang muka.
Kennan kembali melangkah, dia tidak perlu memukirkan gadis itu.
Karena kesal di cueki, Keana mendekati Kennan yang sudah tenggelam dengan buku pelajaran miliknya. Keana mengambil buku di tangan Kennan
" Keana Ajeng " kesalnya
" apa? "
Kennan mengacak rambutnya frustasi, dia berusaha mengalihkan pikirannya tapi gadis di depannya itu terus muncul.
" sampai kapan lo ngurung gue di tempat sempit ini? " marah Keana, Kennan tidak mengubris dia merebut kembali bukunya.
" KENNAN RAJENDRA ATMAJA " pekik Keana.
Gadis itu tertegun menatap tatapan hampa Kennan yang menatapnya, gadis itu menelan air liurnya merasa sedikit terganggu
" A.. apa yang salah? dari dulu itu nama lo kan? " ucap Keana " atau jalang itu menghap- "
" diam " lirih Kennan
" kenapa? yang gue bilang itu benarkan? jalang itu sud- "
" DIAM KEANA " Bentak Kennan, Keana kaget, lama tidak bertemu Kennan berubah sangat banyak " jangan memancing Keana, gue punya pengendalian emosi yang jelek " ucap Kennan.
Keana tertegun kemudian membuka suara, baru akan berbicara Kennan kembali memotongnya
" jangan bertanya apapun tentang apa yang ada di kepala lo " Kennan berucap dia mengunpulkan buku bukunya dan berjalan ke kamar
Kennan masuk ke kamar mandi mengguyur dirinya dengan air dingin, dia berharap bisa meredakan amarahnya.
Kennan mengusap wajahnya gusar, sampai kapan dia akan begini? Keana tidak tau apapun.. tapi melihatnya membuat apa yang ia ingin lupakan kembali bermunculan ke permukaan
Setelah merasa lumayan tenang, Kennan kembali keluar dari kamar. Kakinya terhenti mendapati Keana yang tertidur.
Kennan berdiri menatap gadis itu, tangannya terulur menyampirkan helaian rambut gadis itu. Dia masuk ke kamar mengambil selimut dan menyelimutinya.
" Jangan benci dia Na. jalang sebenarnya adalah dia yang ada di sampingmu " lirih Kennan menatap wajah pulas Keana. " maaf "
Kennan kembali ke balkon menatap ke luar, dari samping dia mendengar suara berisik Hanin dan Afkar membuatnya tersenyum miris.
iri? tidak dia tidak iri, dia hanya... entahlah.. dia hanya ingin semuanya baik baik saja. walau dia sadar dan mengakui kalau yang membuat semuanya terasa sulit adalah dia sendiri.
Kennan menghela nafas panjang, rasanya menyesakkan begitu dia mengingatnya lagi, betapa tidak bergunanya dia.... entahlah dia hanya merasa menjadi anak yang gagal melindungi sesuatu yang berarti untuknya.
Kennan mengacak rambut basahnya frustasi sebelum dia menghela nafas panjang, dia ingin menjelaskan semuanya tapi saat mengingat kembali hal tragis itu membuatnya sesak.
Kennan melangkah ke arah pintu begitu mendengar suara bel.
Kenzo berdiri di ambang pintunya sambil menyengir, tanpa berkata apa apa Kennan membuka lebar pintunya.
" bangunkan dia dan bawa pulang " perintah Kennan.
Kenzo menghela nafas, dia melihat Kennan bergantian dengan Keana, sampai kapan keadaan ini akan berlanjut?
" Ana... ana... " Kenzo menepuk pelan pipi sepupunya itu " Na, Bangun oi "
" eungh... "
" bangun " kata Kenzo lagi, Keana mendengus dia baru saja tidur " pulang "
" gak, bawa gue ke tempat Tedi " ucap Keana " orang tidak tau diri ini menculikku "
" DARI MANA LO TAU DIA GAK BAIK HA? CUMA DIA YANG NGERTIIN GUE " marah Keana " STOP URUSI KEHIDUPAN GUE "
" GUE GINI UNTUK KEBAIKAN LO " Kenzo yang tersulut emosi balas membentak Keana.
" ini apartemen bukan hutan " Kennan mengintrupsi.
" LO SAMA SAJA SIALAN " Keana kembali berteriak " LO DAN JALANG ITU PENYEBABNYA TAU L- "
BRAK
Mereka kaget karena Kennan tiba tiba mendorong sebuah kursi sampai jatuh.
" jangan sulut gue " ucap Kennan
" WHAT? KENAPA? HAH? KALAU BUKAN KARENA JALANG ITU BOKAP GUE GAK BAKAL MENI-"
" DIAM " Kennan membentak " LO GAK TAU APA APA JADI LO DIAM. "
Keana berdiri menantang Kennan " MEMANG APA YANG GUE GAK TAHU HAH? KALAU SAJA JALANG ITU GAK SELINGKUH BOKAP GUE GAK BAKAL MATI DAN LO MASIH SAJA MEMBEL- "
" DIAM KEANA " bentak Kennan " orang yang lo panggil jalang itu masih nyokap lo, dan lo gak tau apa apa, jadi DIAM "
Nafas Kennan terengah engah, Kennan mengacak rambutnya frustasi
sial
Dadanya sesak bahkan tubuhnya bergetar sekarang, dia benar benar tidak ingin mengingatnya
" diam " lirihnya
" Jendra " Kenzo hendak menyentuh pundaknya tapi dengan cepat Kennan menepisnya
Dia benar benar benci membahas ini, dia juga benci orang orang yang mengungkitnya, mereka tidak tau apa apa tapi kenapa seenak jidat memberi lebel.
" Kennan, ini pintu kenapa tidak di kunci, keyra bilang kamu ada teman cewek di- " Kenzo menoleh seorang pria jangkung menatap ke arah mereka " Kennan "
Reynand dengan cepat menghampiri Kennan yang sepertinya tidak stabil, ah.. ini yang dia khawatirkan dari membiarkan remaja itu tinggal sendiri
Reynand kaget saat Kennan bahkan menepis tangannya, bibirnya terus bergumam diam. Reynand melihat ke arah dua remaja lain di depannya kemudian menghela nafas.
Reynand sangat tau siapa mereka karena sudah menyelidiki semuanya. Mata Reynand tertuju pada gadis yang memiliki mata yang sama dengan adik bungsunya juga mata Kennan.
" kamu Keana kan? " Reynand bertanya tapi gadis itu membuang muka, Reynand tersenyum
" maaf tapi Kakak ini siapa? kakak kenal dengan Kennan? " Kenzo bertanya.
" Reynand, saya kakaknya Kennan " jawab Reynand dengan mata yang masih tertuju ke Keana " kakak tiri " lanjutnya " oh ya. senang bertemu denganmu Keana. "
Baru saja akan Keana akan bicara Reynand lebih dulu membawa Kennan ke kamar. tak lama dia keluar dengan sebuah ponsel di tangannya.
" sekarang ke apartemen adek gue " Reynand melirik ke arah dua remaja itu sebelum berlalu " gue tidak mau tau, lo harus datang " Reynand diam " ck... gue cuma pernah belajar kedokteran sialan bukan psikiater...ha?.... hahahaha... gue tunggu lo tiga puluh menit dari sekarang "
Reynand mematikan sambungan telfonnya sebelum melangkah mendekati dua remaja itu.
" Kennan kenapa? " Kenzo bertanya, Reynand hanya tersenyum menepuk bahunya. Pria itu kemudian melihat Keana yang menatapnya tajam.
" aku tau kamu membenciku, tapi inilah kenyataannya "
" Jadi lo anak dari selingkuhan jalang itu? " Reynand tersenyum sebelum mengacak rambut Keana.
" kamu punya ekspresi mengesalkan mirip Kennan tidak heran kalau kalian saudara " Reynand tertawa tapi tak lama dia menatap dengan serius " perempuan yang kau panggil tidak senonoh itu sekarang ibuku juga jadi aku peringatkan, jangan pernah sembarangan menyebutnya adik kecil "
Keana menepis tangannya
" gue bukan saudara lo "
Reynand kembali tertawa kecil makin mengacak rambut Keana
" kamu mirip adik perempuanku " Ucap Reynand sebelum menjauhkan tangannya " kita bicara di lain waktu " ucapnya pada Kenzo.
******
tobecontinued