KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
47



Kennan setelah dari klinik Fa'i dia langsung diantar ke rumah orang tuanya, soal Keana meski canggung dan belum terbiasa dia tetap pulang dengan ibunya karena Kennan dengan kekeh menolak untuk di temani. Dia melihat Keana yang duduk di teras seperti menunggunya


Enam tahun tanpa ibunya membuat Keana tidak tahu harus berbuat apa karena sudab terbiasa tanpanya, dia merindukan kasih sayang langsung ibunya tapi bukan berarti sangat mudah terbiasa saat bertemu terlebih mereka terpisah dalam keaadaan yang sangat buruk.


Kennan berjalan menghampiri saudara kembarnya itu dan duduk disampingnya, Kennan belum merasa lebih baik tapi dia masih punya tanggung jawab terhadap Keana yang pasti merasa sendiri di tempat asing yang baru pertama kali di datanginya.


"apa kamu menolak ke tempat nenek karena kamu tinggal di rumah sebesar ini?" Keana menggoyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang dengan pelan, dia akui rumah keluarga baru ibunya sangat besar.


"opini bodoh macam itu?" Kennan berkata membuat Keana tertegun, Keana juga sadar pertanyaannya bodoh dan tidak rasional tapi saat ini dia hanya ingin membuat pembenaran untuk menutupi keputusan bodohnya beberapa tahun lalu "masuk, aku mau istirahat!"


Keana mendengus tapi tak ayal dia mengikuti Kennan masuk, tadi dia tidak sempat memperhatikan rumah itu. Dekorasi rumah itu terbilang mewah dengan gaya barat. Kaki Keana berhenti di depan sebuah foto besar, foto pernikahan.


Meski jelas itu foto lama tapi masih sangat terawat, mempelai wanita yang cantik sangat anggun.


"itu Mamanya kak Reynand" Keana kaget karena Kennan tiba tiba berdiri dibelakangnya


"cantik" gumam Keana tanpa sadar, Kennan mengangguk setuju "dimana dia sekarang?"


"beliau meninggal satu tahun lalu" jawab Kennan "biar aku antar ke kamarmu, aku mau tidur"


Keana mengikutinya tapi beberapa kali dia melihat ke arah foto itu sebelum mengedarkan pandangannya ke arah lain, Kennan meliriknya dan berkata


"kalau kamu cari foto Mama, itu tidak ada karena Mama tidak mau mengambil foto"


"kenapa?" Kennan mengedikkan bahunya


Kennan berhenti di depan kamar yang sempat tadi ditanyakan pada asisten rumah tangga di sana, Keana melihatnya sedikit kaget karena ini memang kali pertama dia masuk ke kamar itu.


"aku tidak tau kamu suka apa, jadi aku tanya sama Mama warna kesukaanmu saja" si kembar langsung menoleh dan melihat Reynand disana "senang melihat kalian bersama, twins"


Kamar itu berwarna hijau dengan corak feminim, Reynand menyiapkan kamar itu dengan sedikit kurang yakin karena dia tidak tau selera Keana.


"terimah kasih" Kennan yang mewakili Keana, Reynand tersenyum sambil mengedikkan dagunya memberi isyarat agar Keana masuk "Kennan kamu istirahat dulu, makan siang baru kalian turun" Reynand berbalik sambil melambai ke arah mereka, dia hanya pulang mengambil berkas yang tertinggal.


Kennan menatap punggung kakak laki lakinya itu, Reynand adalah orang yang paling mengerti dirinya, orang yang selalu mengurusnya layaknya kakak laki laki padahal mereka tidak ada ikatan darah sama sekali, pria yang selalu berdiri teguh dalam keluarga. Kennan juga yakin dalam diri Reynand pasti ada rasa sakit atas perpisahan orang tuanya. Bagi Kennan pria kuat sesungguhny adalah Reynand karenanya orang yang paling dia hormati dan dengarkan adalah Reynand.


Tanpa berkata apa apa Kennan berbalik dan berjalan ke kamarnya yang tidak jauh dari kamar Keana hanya terpisah satu ruangan yang menjadi kamar Keyra.


****


Kennan kembali ke apartemennya di temani salah satu asisten rumah tangga keluarganya atas perintah Reynand, dia hanya ingin mengemas beberapa barang untuk dia bawah kembali ke rumah orang tuanya pun dengan Keana.


Adapun Keana saat ini sedang pergi mengurus surat kepindahan sekolah dari sekolah lamanya di temani langsung oleh Reynand dan ibu mereka.


Barang barangnya sudah dia rapikan tapi dia sedikit enggan meninggalkan apartemenya walau hanya sementara.


"Den, apa ini sudah semua" tanya ART yang menemaninya


"iya, terimah kasih" ucapnya, dia berjalan ke arah balkon tempat paling dia sukai dari semua area apartemen.


"oOHHHH!! PAK PRESIDEEEEEEENNNN!" Kennan melihat ke arah bawah dimana Hana melambai ke arahnya dibelakangnya ada Satrio dan Sabrina. Dia melihat jam di ponselnya,.. Memang sudah jam pulang sekolah.


Kennan hanya memperhatikan mereka dan melihat Hana yang berlari masuk ke dalam gedung. Kennan menopang dagunya dia lagi lagi hanya menatap kosong tanpa arah.


Dia menoleh ke arah pintu yang di buka oleh ART dia melihat Hana yang berlari kearahnya.


"katanya lo mau pulang, tidak tinggal disini lagi?" tanya Hana dia makin cemberut melihat barang barang Kennan yang di kemas


"iya, hanya untuk sementara waktu" jawab Kennan.


Mereka berdiri berdampingan dibalkon sama sama menatap lurus ke depan, Hana menghela nafas panjang dia menoleh ke arah Kennan "kalau lo pergi gue harus kemana kalau mau nangis?"


Kennan meliriknya sekilas dan kembali menatap lurus "telfon gue"


Hana melipat lututnya menumpukan kepalanya disana dan melihat kearah Kennan yang menutup matanya, tangan Hana terulur menyentuh kantung mata Kennan


"lo butuh masker mata" ucap Hana karena mata Kennan yang sudah seperti panda, dia tau Kennan pasti kesulitan tidur karena mimpi buruk, dia sering mengalaminya juga.


Kennan tanpa membuka matanya menangkap tangan Hana yang menoel noel pipinya, berlahan dia membuka matanya menatap Hana dan berkata acuh tak acuh "gak usah ambil kesempatan"


"ceh, tidak asik lo" cibir Hana, Kennan tidak merespon karena kembali memejamkan matanya.


Hana melihat jam di gawainya sudah satu jam lebih dia duduk disana dan pundaknya juga sudah pegal karena tiba tiba Kennan menumpukan kepalanya disana, tangannya yang ditangkan Kennan juga belum dilepaskan sedari tadi, Hana sempat ingin menarik tangannya dari genggaman Kennan tapi Kennan langsung terkesiap seperti anak yang takut ditinggalkan ibunya dia menarik tangan Hana kembali.


"woi ngapain lo berdua" Hana mendongak ke arah Satrio yang muncul dari balkon rumahnya, Hana langsung memberi isyarat agar Satrio tidak mengeluarkan suara besar yang bisa membangunkan Kennan.


"ssstttt!"


"dia kenapa?" Satrio bertanya dengan suara pelan, dia menopang dagunya di pembatas apartemennya dengan Kennan, Hana melirik Kennan yang nafasnya masih teratur layaknya orang tidur


Hana menggelengkan kepalanya "dia tidak apa apa"


Satrio menatap mereka berdua dan tau kalau memang mereka menyembunyikan sesuatu jadi dia hanya ber-oh santai dan kembali masuk ke apartemennya.


Mata Kennan terbuka saat Satrio masuk ke dalam apartemennya, dia sudah terbangun sejak awal Satrio bertanya. Dia menegakkan duduknya Hana yang menyadari itu langsung menoleh.


"bagus lo bangun, bahuku sudah pegal" keluh Hana dia menggerakkan bahunya yang ditimpa kepala oleh Kennan.


"maaf"


"tidak apa" dia menghela nafas dan mereka terdiam Hana juga sudah menarik kembali tangannya dari genggaman Kennan yang sekarang bersandar di pembatas balkon.


"Pak Pres"


"hn?"


"ayo pacaran" Hana berucap acak, Kennan diam sebentar menghela nafas dia memperbaiki posisinya menghadap Hana "lo nolak gue lagi ya?"


"lo terobsesi punya pacar?" tanya Kennan dia menatap Hana, gadis berfikir dan mengangguk "kenapa sama gue?"


"karena lo ganteng, kayaknya banyak duit juga, bisa masak lagi, kalau sampai jodoh dan menikah... Gue bisa hidup enak sekaligus kalau punya anak, anak gue bisa ganteng atau cantik dan kemungkinannya bisa kembar juga."


"lo yakin bisa hidup enak sama gue?"


Hana memiringkan kepalanya, tangannya dia ketuk ketukkan di dagunya berfikir "gak juga sih. Tapi siapa yang tahu kan?" Kennan diam tidak habis pikir dengan jalan pikiran simple ala Hana "jadi mau tidak?"


"apa keuntungannya gue, kayaknya lo lebih untung"


"hmm... Keuntungannya lo bisa punya cewek imut nan cantik keturunan jepang, gue juga manis dan bisa ngerepotin lo, lo gak perlu pelihara kucing buat lo manjain."


Kata Hana, Kennan menatapnya malas karena sepertinya tidak menarik "ahh... Gue kayaknya bisa jadi obat tidur lo, buktinya tadi lo tidurkan. Juga... Hmm.. Lo gak perlu jaga imej sama gue, soalnya kita sama sama orang gila" diakhir kalimat Hana menyengir lebar bahkan matanya yang sipit tidak terlihat


"okelah" Kennan menjawab dan kembali bersandar di pembatas


"YEEEEYY... AKHIRNYA" Hana berseru sambil tertawa "lo gak boleh narik kata kata lo." dia menunjuk ke arah Kennan


"hm" Kennan menjawab seadanya, dia berdiri meregangkan tubuhnya. "lo pulang, gue juga mau pulang"


"besok lo sekolah?" Kennan mengangguk terlebih Keana juga masuk ke sekolahnya.


Hana berdiri dibantu Kennan, dia membersihkan rok abu abunya "oke"


******


Tbc