
Mereka kembali berkeliling dan sesekali mencoba wahana meski hanya Hana yang bermain dan Kennan hanya akan menunggu dan membayar karcis seperti orang tua.
"pacaran aja teross" Langkah mereka berdua berhenti dan menoleh ke asal suara, di stand penjual minuman cup Irina mengedipkan mata ke arah mereka.
"Irina!" seru Hana berjalan ke arahnya dan Kennan hanya mengikuti
"lo seperti ada di mana mana?" ucap Kennan begitu mereka sudah ada di tempat Irina jualan.
Gadis itu mengibaskan rambutnya ke belakang sambil nyengir "mumpung masih libur sekolah, jualan disini untung besar"
"gue mau pesan rasa coklat deh" kata Hana sambil melihat lihat rasa yang tertera di spanduk "tapi wc dimana?"
"sana!" Irina menunjuk arah yang dimaksud, Hana dengan terbirit menuju tempat yang baru saja di tunjuk Irina "jadi?"
"apa?" tanya Kennan dia yang melihat lihat spanduk melihat ke arah Irina yang mengambil pesanan Hana untuk dia buat
"kapan Hana berangkat?"
"besok"
Irina mendongak melihat punggung Hana yang belum terlalu jauh dari mereka "bener bener pergi di hari pertama masuk sekolah" gumamnya. "lo mau pesan juga?"
Kennan hanya menggelengkan kepalanya, sejak sampai tadi perutnya sudah dia jejalkan dengan makanan dan sepertinya malam ini dia tidak akan makan malam.
Kennan mengambil minuman yang sudah dibuatnya dan membayarnya, Irina menatap ketua kelasnya itu sambil bertopang dagu sebelum berkomentar
"lo tipe orang yang manjain cewek lo banget ya! Gak nyangka"
"hah?" Kennan yang tadi diam sambil membalas pesan Keana yang menerornya martabak asin menoleh ke arah Irina "apa?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya "Pak Pres, pelanggan gue sepi nih... Lo buka topi sama masker lo dong!"
Kennan hanya melihatnya dengan sinis
"ayolah... Pakai apron kami juga"
"berani bayar berapa?" tanya Kennan membuat Irina mencibir dan mendengus
"gue nyuruh lo karena gue kekurangan pelanggan, lo malah minta bayaran" dia kembali bertopang dagu "Pak Presiden bantui- eh mau pesan apa?" Dia menegakkan berdirinya saat beberapa gadis menghampiri tempatnya.
Kennan kembali menunduk membalas pesan Keana untuk membelikannya macam macam setelah tau dia ada di taman bermain.
"Na!"
"bentar Pak!" seru Irina yang sibuk membuat pesanan pelanggan "iya iya sebentar!"
Kennan melihat ke arah pelanggan dia bisa mendengar pekikan tertahan, dan beberapa gadis saling memukul lengan dengan temannya.
"i am back" seru Hana yang tengah berjalan ke arah mereka "wih sudah ramai saja"
"gue punya jimat pemanggil" jawab Irina tapi tangannya tidak diam
Kennan menyerahkan minuman pesanan Hana dan tas yang sempat dititip padanya.
"pegangin lagi dulu" ucap Hana dia berjalan masuk mendekati Irina yang sibuk "gue bantuin deh"
"thank you Bu Presiden!" seru Irina yang kemudian mengeluarkan blender lainnya karena pelanggan makin bertambah. Hana mangguk mangguk mendengar arahan Irina dan mulai melayani pelanggan dan diluar Kennan hanya bisa menghela nafas.
Karena tidak ada yang dia lakukan dia berniat untuk pergi membeli pesanan Keana tapi dua gadis itu malah melotot ke arahnya jadi mau tidak mau dia hanya diam di tempat dia kembali fokus ke hpnya beruntung Irina memberinya kursi dan benar benar membuatnya jadi maskot.
"Ayolah gak usah pelit, cuman no hp doang lo gak bakal kita apa apain kok!" Kennan mendongak melihat ke asal suara
Beberapa cowok berdiri di depan meja pelanggan membuat beberapa orang terganggu tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya tapi tangan cowok yang berniat menyentuh tangan Hana.
Dia menyimpan ponselnya dan berjalan mendekat berdiri di depan cowok itu "woi apa ini?"
"silahkan antri" ucap Kennan, cowok itu mendengus "lo ngeganggu pembeli yang dari tadi sudah antri"
Beberapa pelanggan berseru setuju dengan ucapan Kennan
"mau jadi pahlawan kesiangan lo?" Kennan menahan tangan cowok itu yang hendak menyentuhnya. "wah nantang nih anak. Cowok yang modal muka kayak lo bisa apa?"
Kennan tidak menjawab tapi dia melirik ke arah Hana yang seperti menahan marah, Hana benci modelan cowok preman pembully
"silahkan antri" ucap Kennan lagi dia menunjuk ke arah belakang. "ka-"
Plak
Wajah Kennan terpaling ke samping karena mendapat pukulan mendadak membuat mereka memekik, Kennan mengatur nafasnya yang tiba tiba memburu. Dia berusaha untuk tenang tapi saat mengangkat wajahnya yang dia lihat adalah cowok itu sudah duduk di tanah dengan Hana di depannya
"lo pikir lo siapa hah berani mukul cowok gue?" ucap Hana dia langsung menoleh ke arah Kennan "lo gak apa apa?"
"taekwondo?" tanya Kennan, Hana menggelengkan kepalanya tangannya terulur memeriksa wajah Kennan
Baru saja akan menendangnya lagi Kennan sudah menariknya terlebih dahulu, dia menggelengkan kepalanya melarang Hana.
"tapi Nan?" Kennan menggelengkan kepalanya lagi "orang kayak mereka harus diberi pelajaran. Mentang mentang besar dan bisa berkelahi seenaknya menerobos antrian mukulin orang, dia pik-"
"gue sudah nelfon keamanan" Irina berucap dia mengangkat ponselnya memperlihatkannya pada Hana. "tempat ini lumayan aman loh"
Kennan menatap Irina yang menyeringai dia baru sadar kalau dari tadi dibandingkan yang lain Irina sangat tenang.
"Nona!" Beberapa pria berbaju hitam menghampiri
"itu mereka" Irina menunjuk cowok cowok yang sempat merusuh "jangan izinkan mereka masuk lagi"
Setelah cowok cowok itu di seret pergi Irina menghela nafas dan kembali tersenyum ke arah pembelinya "maaf atas gangguannya, silahkan memesan lagi." ucapnya dia menatap Kennan dan Hana "Na, gue bisa sendiri. Maaf ya ganggu waktu lo berdua, jalan jalan lagi gih. Besok lo harus balikkan?"
"jangan diingetin" ucap Hana cemberut "tapi minuman gue dah gak dingin"
Irina membuka kulkas dan mengeluarkan minuman yang sama dengan pesanan Hana, melihat isi kulkas yang penuh Kennan hanya memutar bola mata jengah
'kenapa harus membuat kalau sudah ada yang siap jual?'
Kennan kadang tidak paham dengan cara berfikir teman temannya.
Dia meraih tangan Hana untuk meninggalkat tempat Irina
"gandengan aja terusss... " seru Irina tapi pasangan itu tidak peduli Hana malah berbalik dan melambai
"Irina bye bye, mata ne! (see you!)"
Setelah puas berkeliling dan membeli semua pesanan Keana mereka memutuskan untuk pulang lebih lebih sudah sore.
Dalam mobil mereka hanya diam sampai di depan pintu gerbang apartemen, Kennan menatap ke atas gedung dimana dia juga sebelumnya tinggal di sana.
Hana menghela nafas panjang kemudian melepas sabuk pengamannya dia mengambil barang barang yang dia beli tadi dari Kursi belakang karena suasana tiba tiba akward untuk mereka.
"oke, bye bye" Hana berucap sambil membuka pintu mobil tapi Kennan menariknya kembali untuk di tutup "Kennan?"
"besok gue gak bisa nganterin lo ke bandara" ucap Kennan, Hana menggelengkan kepalanya
"gue pasti ngak bisa balik tanpa nangis kalau lo nganterin gue. Malahan gue mau bilang itu tadi." Hana masih berusaha tersenyum meski matanya berkaca kaca.
Kennan mengambil kotak dari laci mobilnya dan memberinya ke Hana, itu adalah barang yang dia pesan dari mereka di desa dan baru sampai tadi sebelum Hana tiba di rumahnya.
Setelah pamitan Hana langsung keluar mobil dia meminta Kennan untuk pulang duluan tidak menunggunya masuk
Tapi begitu mobil yang mereka kendarai tidak terlihat air mata yang sejak tadi di tahan Hana jatuh. Dia tidak ingin pulang ke jepang, dia tidak ingin berpisah dari teman temannya terlalu cepat.
Hana mendongak saat kepalanya di usap seseorang, saat melihatnya air matanya makin deras
"KENNAN!" Serunya
Kennan yang tadinya memang berniat langsung pergi menghentikan mobilnya dan berjalan ke arah Hana.
Kennan tidak mengatakan apa apa tangannya hanya terulur menghapus air mata Hana
Tanpa mengucapkan sepatah kata Kennan menggenggam tangan Hana menuntunnya ke apartemen miliknya.
Begitu masuk Kennan mendudukkan Hana di sofa mencari makanan yang sempat dia tinggalkan berharap tidak kadaluarsa.
Saat kembali tangannya memegang berbagai macam camilan meletakkannya di meja, dia juga mengambil duduk di samping Hana menyalakan tv.
"Kenapa lo gak balik?" Tanya Hana menatap Kennan yang fokus ke tv, tapi dia melihat Hana saat mendengar pertanyaan itu.
"ngabisin waktu sama cewek gue"
Giliran Hana yang terdiam, dia meraih camilan di depannya tapi kaget karena lengannya ditarik ke arah Kennan.
"N..Nan?" Hana berlahan menoleh ke belakang dimana Kennan memeluknya, Hana tertegun saat merasakan bajunya di bagian bahu basah dia juga merasakan tubuh Kennan bergetar.
Hana membalikkan badannya saat merasakan pelukan Kennan mengendur. Dia terkekeh gilirannya yang menghapus air mata Kennan dengan lengan bajunya.
Kennan tidak segan menangis di depannya.
Kennan menahan tangan Hana yang masih menghapus sisa air matanya "besok gue izin nganterin lo?"
Hana menggelengkan kepalanya "tidak!"
Mereka berdua diam lagi tidak tahu harus membahas apa. Mereka mengubah posisi duduk, Kennan duduk lurus menghadap tv sedangkan Hana bersandar pada lengannya mereka menonton Anime atas paksaan Hana.
*****
Tbc