KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
21



Kennan memutuskan sambungan telfonnya, dia baru saja menghubungi wali kelasnya karena hari ini Kennan memutuskan untuk tidak masuk sekolah.


Pertemuannya kemarin dengan bekas teman sekolahnya membuat moodnya benar benar buruk dan kalau dia memaksa masuk sekolah dia juga hanya akan berakhir di UKS karena sedang malas mendengar ocehan guru menjelaskan pelajaran.


Dia kembali melihat ponselnya, notif WAnya masih ada dan belum dia buka. Dia membukanya dan notif paling atas adalah notif grup yang memang tidak pernah sepi, dibawahnya ada pesan Hana jadi dia membuka pesan Hana


Hana


Pak Pres, kalau lo benar benar berubah pikiran dan mau oleh oleh kasih tau gue ya


Hana


Jangan menjadi gila saat lo sendirian. Oke bye


Kennan mengangkat sebelah keningnya melihat pesan absurd itu, Hana benar benar bermuka tembok.


Dia melihat matahari sangat cerah dia yakin kalau pakaian yang dicucinya semalam akan kering dengan cepat. Kennan menopang tubuhnya di sandaran balkon memandang langit yang tidak berbatas


Kalau bicara tentang apa yang dirasakan Kennan saat ini  adalah hampa. Dia seperti sudah kehilangan rasa sejak lama, senang, sedih dan bahagia... Dia hampir melupakan perasaan seperti itu.


Karena tubuh dan psikisnya sangat lelah ditambah dia meminum obat tidur semalam jadinya dia bangun lumayan siang tubuhnya bahkan lumayan pegal sekarang. Karena tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang jadi dia kembali ke kamarnya.


Kennan duduk di depan meja belajarnya mengambil laptop dan mulai melakukan programing, terakhir kali dia melakukan programing itu saat setahun yang lalu sebelum Reynand memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah formal. Dia menatap layar laptopnya dengan kepala sedikit dimiringkan terakhir kali dia melakukannya dia memasuki situs milik sebuah perusahaan hanya untuk menyapa. Kalau dia tidak berfikir keluarga besarnya masih menanggung Keana mungkin dia akan sedikit bermain main dengan perusahaan keluarga pihak ayahnya


" shh "


Dia memegang kepalanya karena sedikit berdenyut, dia malas memikirkannya. Dia memutuskan mengikuti ibunya yang berarti dia akan membuang apa yang sudah dia tinggalkan, tapi bagaimana dengan Keana? Mengacak rambutnya agar menghilangkan stress


Keana menolak untuk bersama mereka jadi apa pedulinya? Kennan bukanlah orang baik yang mudah bersimpati, semenjak kejadian itu dia seperti kehilangan rasa simpati pada orang lain kecuali untuk orang yang dekat dengannya saat ini.


Kennan menutup laptopnya saat bel berbunyi, dengan ogah ogahan dia keluar kamarnya untuk membuka pintu.


" PAK PRESIDENNNNN " Kennan hampir saja terjungkal ke belakang begitu dia membuka pintu dan mendapat seruan dari teman sekelasnya.


" karena lo tidak masuk jadi kita samperin " Alisa menggeser Kennan dan masuk tanpa izin diikuti anak cewek lainnya


" gilaaa... Rumah lo bersih amat " puji Irina " kamar gue kebalikannya "


Kennan tercengang, apa semua gadis di kelasnya semuanya seenak udel masuk ke rumah Kennan.


" misi pakk " Sean ikut masuk dan langsung menggeser meja depan sofa dan langsung berbaring " ahhh... Nyamannya "


" ya Allah... Woi tuan rumahnya belum ngomong noh " Radi berujar sambil berjalan masuk " pak kita bawain gorengan nih "


" gak ada tv ya? " tanya Alisa


" pak... Mau ngecharge dimana? Bapak gak ada cok-an? " Emi yang memang mondar mandir akhirnya bertanya


Kennan cuman menghela nafas panjang mereka masuk tanpa izin, Satrio mendekatinya lalu menepuk pundaknya


" Ada rapat guru jadi semuanya pulang cepat "


" kenapa rumah gue? " kesal Kennan, bukan apa apa... Dia ingin tenang saat ini tapi isi kebun binatang malah berkumpul di rumahnya


" dikirain lo sakit " jawab Satrio, dia juga bergabung dengan Anak anak cowok yang makan gorengan " gak usah marah marah... Sini gabung "


" kalau lantai gue kotor, gue usir lo semua " Kennan hanya mendengus dan berjalan ke arah dapur, mengeluarkan stok susu kotak dari kulkasnya, teman sekelasnya tidak seberapa jadi tidak akan bangkrut kalau membiarkan mereka makan makanan dari kulkasnya


" kenapa lo gak sekolah? " Fian masuk mengambil piring saat melewati Kennan dia mencomot minumannya, Kennan hanya mengedikkan bahunya.


" Pak Pres.. " Arumi berjalan ke dapur " kata Hana masakan  bapak enak, mau coba dong, masa cuman Hana yang dimasakin " gadis cubby itu memasang tampang memelas


" selama masakan enak gue percaya " Arumi menyengir sambil tangannya terulur mengambil susu di nampan


" lo tinggal sendiri Nan? " Putra menoleh ke arah Kennan yang baru keluar, Kennan hanya bergumam sebagai jawabannya " pantesan, rumah lo suram kayak tidak ada kehidupan "


Sean yang tadi sempat keluar kembali masuk " woi woi... Kayaknya anak IPS juga ngumpul di sebelah, rame banget oi "


" really? " mereka saling pandang


" gak usah ngerusu, penghuni tempat ini bukan cuman gue sama Afkar " Kennan berucap, dia duduk di sofa mencomot gorengan di depan Akmal


" elah pak... Bentaran doang " rengek Sean " pleaseeee.... "


Kennan dan beberapa temannya menatapnya geli, beda dengan yang lainnya Alisa langsung memukul kepala Sean dengan bantal


" jijik tau gak " ucap Alisa


Mereka tau Alisa tipe cewek kalau tidak suka langsung dia bilang, dia juga terkesan tomboy tapi tidak mau dibilang tomboy dia selalu ingin di puji cantik


" parah lo Lis, kekerasan dalam pertemanan " Radi berujar tapi Alisa malah melongoskan wajahnya tidak peduli " sayang mau dong " Radi menoleh ke Emi yang keasikan makan jajanan yang Arumi bawah.


" ambil sendiri sih Yang " Emi melirik kesal pacarnya tapi mengambil untum Radi juga


" cantiknya pacarku "


" HUEEEEKKK " mereka berseru bersamaan


" apa? Apa? Iri? "


" gak ya, gue ada pacar " Juwita yang dari tadi mencatat entah apa menyaut, dia menutup bukunya " guys... Mumpung lagi pada ngumpul, foto bareng yok " serunya antusias


" Hana tidak ada " Satrio menjawab " woi Mabar yo " dia menendang pelan kaki Akmal dan Fian


" kuilah... Pak lo mau maen juga? "


Kennan menggelengkan kepalanya, dia memang tidak terlalu tertarik dengan game dan hanya sesekali bermain.


Tok tok


Mereka melihat ke arah pintu yang memang terbuka, Afkar bersandar disana sambil menyapa mereka


" baru kali ini tempat lo rame " Afkar menyeringai, memang biasanya hanya rumah Kennan dan Satrio yang selalu sepi diantara yang lainnya. Kennan hanya mengedikkan bahunya " IPA 1, kelas kami mau keluar cari makan, ikut gak? "


" Ikuttttttt.... " Arumi mengambil tasnya dan berjalan ke arah Afkar, dia memang lemah dengan ajakan makan


" gratis kagak? " tanya Fian, Kennan yang kebetulan duduk disofa di belakangnya menendeng pelan Fian


" bayar masing masing lah. Rugi bandar gue " ucap Afkar


" woi... Bendahara mana? Bendaharaaaaaa.... " Sean berseru sebelum memekik karena mendapat lemparan buku dari Irina " apasih Airina? "


" enak aja manggil bendahara, tunggakan lo bayar dulu sana "


" kenapa semua bendahara seram begitu " gumam Afkar bergidik


******


Tbc