KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
52



Keana masuk ke dalam kamar Kennan, tanpa permisi dia naik ke ranjang Kennan dimana ada Keyra yang terlelap masih dengan boneka yang sempat dia mainkan sedangkan sang pemilik kamar tengah serius dengan belajar


"yakin sudah mau kembali ke sekolah?" tanya Keana


"hm" Kennan membuka kembali kunci layar ponselnya untuk melihat tugas yang dikiramkan padanya dari teman temamnya juga dari pak Juan wali kelasnya. Hampir dua minggu di rumah membuat tugasnya menumpuk seperti gunung.


Sepertinya dia salah pilih kelas


Melihat tugas yang dikirimkan pak Juan membuat Kennan makin sakit kepala, wali kelasnya itu benar benar tidak punya perasaan kalau memberi tugas.


Kennan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, dari yang dia dengar pak Juan adalah guru sementara tapi sudah dipercayakan memegang kelas dan menjadi pembimbing salah satu seksi organisasi sekolah. Pak Juan dikabarkan mempunyai pekerjaan lain tapi karena ada beberapa hal dia diminta menjadi guru, yang menjadi pertanyaan Kennan... Apa pekerjaan Pak Juan sebenarnya?


"apa aku tanya Afkar?" Kennan yakin Afkar dan beberapa petinggi Osis tau soal pekerjaan pak Juan tapi apapun itu... Dia pasti disegani mengingat kecerdasannya yang mampu membuat anak IPA IPS 1 dari kelas 11 dan 12 sampai kewalahan dengan soal yang dibuatnya. Kennan menggelengkan kepalanya "bukan urusanku"


Keana memiringkan kepalanya memperhatikan Kennan yang bergumam sendiri, apa saudara kembarnya itu mulai tidak waras? Meski di mata Keana saudaranya itu rada rada... Keana tetap merasa lega karena dia sudah sedikit hidup ketimbang beberapa hari yang lalu. Keana memutar kepalanya ke samping mendapati komputer Kennan terdapat tiga pc lebar yang di sejajarkan dan dua diletakkan diatas meja layaknya profesional.


"pinjam komputer" ucap Keana pada Kennan, dia berjalan mendekati tempat itu namun Kennan lebih dulu sampai


"mau apa?"


Keana mengkerutkan keningnya "internet, apalagi?"


"sebentar" Kennan menyalakan komputernya menutup apa yang dia lakukan sebelumnya, Kennnan mematikan empat layar dan menyisakan satu "jangan sembarangan mengotak atik"


"iya iya" Keana mendorong punggung Kennan menjauh, dia duduk dan mulai membuka sosial medianya. "Nan, kamu punya kamera tidak? Aku mau live"


Kennan mendengus tapi tetap mendekati Keana, dia mengambil kamera yang sempat dia beli tapi belum pernah dia gunakan memberikannya pada Keana. Dia juga membuka lemari mengambil hodie melemparkannya ke saudara kembarnya itu


"apaan sih?"


"bajumu terlalu terbuka" jawab Kennan dia kembali ke meja belajarnya.


"gilaa... Ini kamera mahal" seru Keana membuka plastik pembungkus kamera Kennan.


Kennan memutar kursinya dia melihat saudaranya "ambil saja kalau suka"


"serius? Ini mahal sekali loh" mata Keana berbinar menatap kamera itu bergantian dengan Kennan "beneran?"


"hm"


Keana tersenyum cerah dia berdiri dari tempatnya berlari ke Kennan dan memeluknya


"hahaha.. Thank you" Kennan hanya menepuk nepuk kepala Keana, gadis itu tertawa senang


Kennan melihat Keana melompat lompat senang sebelum melirik ke Keyra tidur dengan boneka yang juga ia belikan.


Yah... Begini lebih baik!


Kennan memutar kembali kursinya untuk melanjutkan belajarnya, dia memutuskan untuk secepatnya kembali ke sekolah.


Ping


Kennan meraih ponselnya melihat pesan dari Hana


Hana


Wahh... Dokter itu cerewet sekali😭


Hari ini gue mengunjungi kliniknya, dia terlalu banyak tanya


^^^Kennan^^^


^^^Dr. Fa'i memang seperti itu^^^


Hana


Pak pres, tugas dari pak Juan... Gue gak ngerti.


Kennan melihat bukunya, dia sudah mencatat jawabannya tapi tidak mau memberi Hana begitu saja.


Dia berdecak sebelum melakukan panggilan video, ini cara paling bagus


"Pak Presiden!" Hana berseru begitu sambungan di terima "tidak biasanya melakukan video, kangen ya?"


Kennan memutar bola mata jengah, di seberang sana Hana menerimanya sambil berbaring. "ambil buku, biar gue jelaskan tugasnya"


"cih tidak asik" jawab Hana tapi Kennan melihat gadis itu tetap bangun sepertinya menuju meja belajar.


Sambil cemberut Hana tetap memperhatikan penjelasan Kennan meski dengan sesekali cetukan.


"sebentar lagi ujian jangan banyak bermain" ucap Kennan saat Hana mengatakan akan pergi jalan jalan


"memang lo mau tinggal kelas? Atau dipindahkan ke kelas lain?"


Hana cemberut "memang lo yakin bakal masih di IPA 1 kelas 12 nanti?"


"tentu saja" Hana langsung berdecih, melihat itu Kennan tersenyum menyebalkan sambil bersandar "tiga nomor lagi buruan, gue banyak tugas"


"astaga gue baru tau kalau lo cerewet sekali" Hana menarik bukunya lagi "sebentar, kakakku kayaknya pulang." Hana berdiri dan berjalan keluar kamarnya


"kalian pacarankan?" tanya Keana yang sudah berdiri di belakang Kennan, pemuda itu mendongak


"hm"


"sejak kapan?" Keana menarik kursi lain karena penasaran


Kennan menatap saudaranya itu, meski bisa dibilang mereka baru berdamai Keana seperti berusaha untuk dekat dengannya seperti penebusan kesalahan karena membenci mereka, meski canggung dia juga berusaha agar bisa akrab dengan Mama mereka, bukan hanya itu dia terlihat beberapa kali terlibat percakapan dengan Arman ayah tiri mereka dan adapun dengan Keyra... Keana baru berusaha mengambil hati si bungsu.


Keana berusaha keras yang menurut Kennan itu tidak perlu karena kesalahan tidak berasal dari Keana tapi darinya yang tidak berusaha menjelaskan semuanya.


Kennan mengangkat tangannya dan menjitak kening Keana "pergi sana"


"setidaknya kasih tau kapan kalian jadian"


"apa kamu dan Arvan balikan?" Kennan bertanya membuat Keana cemberut


"kan aku duluan yang nanya" sungutnya


"heh... Keana sama Arvan pernah pacaran?" mereka berdua menoleh ke hp Kennan yang terlupakan, Hana menopang dagunya menyeringai "pantasan saja Arvan selalu nolak cewek yang ngajak dia pacaran dulu"


Kennan menatap adiknya dengan kening terangkat membuat wajah Keana memerah "padahal disini ceweknya pacaran sama cowok sampah"


"tau ah" Keana berdiri sambil menghentakkan kakinya "minta satu komputermu, Nan"


Kennan melihatnya "besok beli"


"enak banget yang berduit" Keana dan Hana berucap bersamaan.


Kennan mengedikkan bahunya sebelum meminta Hana mengerjakan tugas kembali. Saat Hana mengerjakan tugasnya sesekali bertanya pada Kennan, cowok itu juga mengerjakan tugas yang lain.


"besok lo masukkan?" tanya Hana sambil menutup bukunya, dia mengambil miniatur di sampingnya kemudian memainkannya "sebagai ketua kelas, lo bukan contoh yang baik"


"senin" jawab Kennan dia meraih buku yang lain, meregangkan otot tangannya karena kebanyakan menulis "gue tidak pernah minta jadi ketua kelas"


"tau kok" Hana menatap Kennan "setelah ujian, pas libur kenaikan kelas.. Anak anak berencana liburan tapi nungguin lo dulu. "


"kenapa gue?"


"hasil votingnya 6:5, kita butuh suara dari lo, kalau ternyata seri mau tidak mau ya ambil lot" jelas Hana


"memangnya rencana kemana?" tanya Kennan dia memainkan pulpen tapi melihat wajah ngeri Hana dia melepaskannya


"pilihannya sih.. Ada yang mau ke Bali kebetulan Alisa punya Villa keluarga disana dan ke desa kebetulan musim panen padi."


"panen Padi bukan ide buruk" ucap Kennan, ya suasana pedesaan semoga bisa membuatnya sedikit tenang.


"yaa... Padahal gue mau ke Bali... Pengen ke pantai" Hana bersungut di tempatnya "Ayolah pak Pres ngalah. Gue belum pernah ke bali" bujuk Hana


Kennan menopang dagunya masih menatap gadis di layar yang memasang wajah memelas.


"gue memilih desa saja" kata Kennan


"Tau ah!" Hana mendengus sambil cemberut sambil saling membenturkan kepala action figurnya.


"Bali tidak buruk, tapi pengalaman ke pedesaan sambil bertani bersama kupikir lebih baik, kelas hanya akan menghamburkan uang dengan sia sia kalau hanya digunakan berlibur" jelas Kennan dengan sabar


"Tapi gue mau ke Bali"


Kennan mengangkat sudut bibirnya melihat wajah kesal Hana yang terlihat...


Ekhem


Kennan memalingkan sebentar wajahnya sebelum berkata dengan tenang


"lain kali gue bakal bawa lo kesana, suatu hari"


******


Tbc