
"boleh saya lihat Kennan?" tanya Hana setelah Kinara menceritakan keadaan Kennan kepada mereka, Kinara melihat Hana dan tersenyum mengangguk
"kalian juga mau ikut?" Arvan dan Kenzo menggelengkan kepalanya
"dia pasti tidak mau bertemu dengan kami sekarang" jawab Kenzo.
Kinara mengangguk mengerti dia melihat Arvan "Tante bisa bicara denganmu kan soal hari itu?" Arvan melihatnya "kalau bisa"
"maaf tante, tapi... Sebenarnya saya tidak mengingat apapun tentang hari itu, Ayah membawa saya ketempat kenalannya untuk membantu saya agar melupakan kejadiannya" Arvan menggaruk tengkuknya merasa tidak enak karena tidak bisa membantu.
"sepertinya tante harus bicara dengan Ayahmu" ucap Kinara, dia tidak tahan melihat kondisi Kennan yang seperti mayat hidup sekarang.
Sepeninggal Mamanya Keana langsung meninggalkan tempat itu juga, dia benar benar dalam suasana hati yang buruk sekarang. Tanpa dia tahu Arvan mengikutinya dari belakang
"jadi ceritanya gue ditinggalin nih?" gumam Kenzo menatap kepergian mereka, dia mencomot kue dan menyesap tehnya "tau ah, mending makan." ucapnya yang sepertinya lupa kalau dia harus kembali ke sekolah.
Kinara membuka pintu kamar Kennan yang selalu gelap dia hendak menyalakan lampu tapi suara Kennan mengintrupsi agar tidak dinyalakan.
"ada yang mau ketemu" ucap Kinara dia mengusap lengan anaknya yang berbaring memunggunginya "Kak?"
Seperti biasa tidak ada suara dari Kennan, Kinara melihat kearah Hana yang berdiri diambang pintu, dia memberi isyarat agar gadis itu mendekat.
Kinara meraih tangan gadis itu "dia tidak apa apa" ucapnya pada Hana
"hm" gumam Hana
Kennan yang dari tadi hanya diam langsung menoleh saat mendengar suara lain dikamarnya tapi tidak asing. Berlahan dia duduk mengerjab ngerjabkan matanya agar objek yang ingin dia lihat tidak buram.
"Hana?"
Hana yang namanya disebut langsung terduduk, kali ini dia benar benar menangis tidak peduli Mamanya Kennan masih ada di sana, dia benar benar takut. Kinara hendak meraihnya tapi Kennan mencegahnya dia membiarkan Hana menangis dulu.
"Mama keluar saja dulu" suruh Kennan, Kinara melihat mereka berdua sebentar lalu keluar
Kinara menyalakan lampu karena kamar itu benar benar gelap "pintunya Mama tidak tutup rapat" Kennan hanya mengangguk tapi tatapannya masih terarah pada Hana.
Sepeninggal Mamanya Kennan turun dari tempat tidur mendekati Hana, meraih tangan gadis itu agar berdiri. Hana menepisnya "kenapa tidak kasih kabar hah? Lo tau betapa takutnya gue? Gue sudah berfikir yang tidak tidak, gue takut Kennan!!"
Kennan masih diam dan berusaha menarik tubuh gemetar Hana yang menolak berdiri "disitu dingin"
"biar saja" Hana mengusap air matanya berdiri sendiri tanpa bantuan Kennan, dia berjalan ke meja Kennan mencari benda tajam yang kemungkinan bisa dipakai Kennan untuk melukai dirinya.
Hana mengambil cutter, silet, pulpen dan gunting milik Kennan memasukkannya ke dalam tasnya, Kennan hanya membiarkannya dia paham kalau kondisi Hana jadi tidak stabil. Hana masih mencari tentunya dengan mata yang berair, mengambil semua barang yang menurutnya berbahaya.
Kennan menghentikan Hana yang masih mengelilingi kamarnya sambil terisak dia menarik tangan gadis itu "gue tidak ada niat bunuh diri" ucapnya "tenanglah"
Hana mengusap air matanya dan berucap "maaf, gue tidak bermaksud" dia sadar kalau dia bersikap implusif sekarang
"gue paham"
Kennan duduk kembali di tepi kasurnya memegang pangkal hidungnya karena kepalanya pusing, tubuhnya juga lemas karena kurang tidur. Hana berdiri di depannya memperhatikan wajah kuyuhnya.
"lo gak bisa tidur lagi?" tanya Hana, Kennan mengangguk "mimpi buruk ya" dia menyusul Kennan duduk disampingnya.
Kennan menumpukan kepalanya di bahu Hana, dia ingin tidur tapi takut untuk tidur. Dia mendongak saat Hana tiba tiba berdiri berlari ke kamar mandi
Saat Hana keluar dia mendapati Kennan duduk disofa memainkan gantungan kunci ditas Hana. Gadis itu buru buru meraih tasnya memeriksa isinya takut Kennan mengambil barang yang dia sita, merasa lengkap dia menghela nafas lega.
"gue tidak akan bunuh diri" ucap Kennan lagi
"siapa yang tau" Hana membuka jendela dibelakang Kennan agar ada udara yang masuk setelahnya duduk disamping Kennan.
Kennan kembali merebahkan kepalanya di pundak Hana, menutup matanya
"gue bukan bantal" sungut Hana dia mendorong kepala Kennan tapi tangannya ditahan.
Dia tidak mengubris Hana masih tetap memejamkan matanya, dia mengantuk.
****
Arvan duduk disamping Keana yang melamun di halaman belakang rumah, menatap gadis malang yang kebingungan dengan keadaanya. Keana mengusap wajahnya menarik nafas dalam
"wahhh.."kagetnya mendapati Arvan di sampingnya "ngapain lo ngikutin gue?"
Arvan tidak menyaut dia malah sibuk dengan hpnya, tidak lama dia mengarahkan layar hp ke arah Keana yang menampilkan foto gadis itu
"ini bisa lo hapus?" tanya Arvan, Keana mengkerutkan keningnya dan membuang muka "bajumu terbuka sekali" sungut Arvan
"emang lo siapa nyuruh nyuruh gue?"
Arvan menghela nafas menyimpan hpnya kembali ke saku, dia mengubah posisi duduknya menghadap Keana
"entah lo lupa atau bagaimana, tapi lo masih cewek gue"
"what?"
Arvan mengedikkan bahunya "kita belum putus dari SD, soal hubungan lo dengan si bang,sat Teddy... Gue maklumi karena situasi. Tapi sekarang, jangan coba coba"
"ha?" Keana menganga tidak percaya "bagi gue kita sudah putus lagian itu kan hanya suka sukanya anak SD"
"wahh... Jangan remehkan suka sukanya anak SD, meski masih SD gue beneran suka sama lo" Arvan berseru, Keana mendelik dia menendang kaki Arvan kesal dan pergi "Ajeng gue serius"
"nama gue Keana, bukan Ajeng!" Keana berseru balik
Kalau Kennan tidak ingin dipanggil Jendra lagi bukannya tidak adil kalau dia tetap dipanggil Ajeng?
Langkah Keana berhenti dan melihat kearah lantai dua tepatnya kamar Kennan, dia melihat Hana membuka jendela kamar yang beberapa hari dilarang terbuka oleh Kennan, seberapa kuat pengaruh Hana pada Kennan?
"serius mereka tidak pacaran?" Keana kaget lagi karena Arvan sudah dibelakangnya
"katanya tidak"
Arvan diam "tapi gue tidak yakin, dari pertama gue kenal Aoki, dia anaknya pendiam tapi sangat cerewet sekarang"
"Kenapa? Cemburu?" ledek Keana, Arvan menunduk menatapnya sebelum menjitak kening Keana "apasih lo?"
"gak usah ngadi ngadi, gue kan bilang jangan remehin sukanya anak SD" ucap Arvan, keana mendengus "tapi gue tidak tau kalau kondisi Jen-Kennan akan separah itu"
"kata Mama, dia bahkan baru mulai bicara dengan mereka baru beberapa bulan ini, dia menolak bicara" Keana kembali berjalan ke tempat dia duduk tadi tentunya diikuti Arvan tapi cowok itu tidak duduk melainkan berdiri "seharusnya hari itu gue gak usah kerja kelompok"
"itu lebih baik, melihat langsung hal seperti itu adalah mimpi buruk" lirih Arvan "meski sudah lupa kejadiannya gue tidak bisa lupa bagaimana menderitanya gue tiap malam yang tidak bisa tidur karena terbayang bayang"
"tapi Jendra menderita sendirian, kami saudara kembar itu tidak adil" Air mata yang Keana tahan keluar lagi, dia menghapus air matanya "gue bahkan membenci mereka tanpa tau apa apa, gue kayak orang b ego."
Arvan berjongkok di depan Keana meraih tangan gadis itu "itu hanya salah paham, gue yakin Kennan mengerti"
"gue pikir selama ini gue yang paling menderita, gue nyalahin semua ke Mama, ke Jendra merangkul orang orang yang ingin membuat Mama jatuh.... Gue merasa.. Gak guna, gue bahkan selalu mengatakan hal buruk soal Mama hiks.. " Arvan mengulurkan tangannya menghapus air mata yang ada dipipi Keana "gue b ego banget"
"tidak, Kennan tidak ingin kamu sama terlukanya dengan dia." Mereka berdua kaget karena Fa'i tiba tiba berdiri disana "Kennan sudah dewasa sejak anak anak dia terbiasa menyimpannya sendiri, dia percaya dengan kamu membenci mereka.. Kamu tidak akan semenderita dia." Jelas Fa'i
"anda siapa?" tanya Arvan dia berdiri menghadap Fa'i
"saya dokter pribadi Kennan, sebenarnya saya kesini mau memeriksa dia tapi dia tidur pulas" Fa'i melihat ke arah jendela yang terbuka "ah, kamu Arvan kan? Teman yang bersama Kennan hari itu?"
"benar, kalau mau bertanya soal hari itu... Saya tidak bisa bantu karena saya lupa" jawab Arvan
"hm... Berarti kamu mengunci ingatan itu ya?" Fa'i menyentuh dagunya berfikir "seandainya Kennan menurut tapi dia tidak ingin melupakan wajah papanya " ucap Fa'i menghela nafas "ah.. Sebaiknya kamu menutupi bekas darah di tanganmu, Kennan tidak bisa melihat darah"
******
Tbc