
Keana berjalan memasuki rumah yang sudah dia tempati semenjak Mamanya dan Kennan pergi dan semenjak ayahnya meninggal. Ada perasaan asing yang tiba tiba dia rasakan tidak seperti sebelumnya.
Rumah hari ini cukup ramai karena banyak keluarga yang datang karena memperingati hari kematian ayahnya, mereka akan ke makam hari ini. Dia berjalan sedikit lemas.
"kamu sudah datang?" Kenzo berjalan ke arahnya, dia meraih tangan Keana "Jendra?" tanyanya dengan suara pelan
Keana menggelengkan kepalanya, dia tidak mau membujuk Kennan lagi setelah apa yang di perlihatkan Kennan padanya. Kenzo menatap adik sepupunya itu mengusap kepalanya
"masuk ganti baju dulu. Kamu sudah sarapan?" Keana menggeleng karena memang dia tidak sempat sarapan "mau aku ambilkan?"
"tidak usah" ucap Keana dia melihat neneknya yang bicara dengan cowok seusia mereka yang tidak pernah dilihatnya. "siapa dia?"
Kenzo menghela nafas panjang, dia baru tahu hari ini tapi enggan memberitahunya ke Keana.
"tidak tau."
"aku ke kamar dulu" ucapnya berbalik
Kenzo menatap punggung kecil itu sebelum berbalik pergi, setiap tahunnya atau setiap hari hari seperti ini Kenzo paling malas berbaur dengan keluarga, dia malas mendengar bagaimana mereka membanggakan diri dengan menjatuhkan yang lainnya, ini juga alasan mengapa tidak ada yang tahu dia ketua osis di sekolah.
Kenzo berdiri di depan kolam renang menatap pantulan dirinya di air dia menoleh saat Ayah dan kakaknya berdiri di sampingnya, well bukan hanya dia yang tidak suka tapi kedua pria yang berdiri di sampingnya juga sama.
"dia tidak datang?" Kenzi membuka lolipop dan memakannya
"Ajeng bilang tidak" Kenzo menghela nafas panjang dia melirik ke atas dimana kamar Keana "dia kelihatan beda hari ini"
"Padahal hari ini penting untuk mereka berdua." lirih Ayah Kenzo, dua pemuda itu melihat ke arahnya dengan pandangan heran. Melihat tatapan dua putranya pria itu menghela nafas "umur Ajeng dan Jendra sudah tujuh belas tahun. Menurut kalian kenapa hari ini begitu banyak orang?"
"itulah kenapa DIA datang?" kesal Kenzo "Jendra bisa ngamuk kalau tau".
"HEI KALIAN TIGA PRIA PENGGOSIP DI SANA!" mereka bertiga menoleh dan mendapati wajah gahar wanita yang berkecak pinggang "kenapa meninggalkan wanita cantik ini sendirian di dalam?"
Kenzo tertawa dan mendekati mamanya mengajak bergabung, jadinya satu keluarga berdiri di depan kolam, seperti orang bodoh.
"ah ngomong ngomong..." mereka melihat ke arah Kenzo yang bicara "Aku ketua osis loh"
"Apa?"
"hah?"
"gak usah halu"
Kenzo memutar bola mata jengah mendengar respon keluarganya, alasan kenapa dia juga malas memberitahu keluarga intinya adalah ini mereka tidak akan percaya.
*****
"sini sayang!" Lili, wanita yang selalu hadir dan juga sekretaris ayahnya dulu memanggilnya dan memberi isyarat agar Keana duduk di sampingnya.
Keana diam sebentar sebelum melangkah mendekat duduk di tempat yang dimaksud, dia mengangkat kaki kiri ke atas kaki kanannya bersandar sambil bersedekap dada. Lili mengelus rambut panjang Keana dia merasa ada yang aneh.
Keana memang sedikit tidak sopan dan angkuh tapi dia tidak pernah bertingkah di depannya.
"ah iya, kenalin ini anak tante" Keana menoleh ke cowok yang sepertinya seumuran dengannya "Namnya Adit, dia baru datang dari cina. Dia empat bulan lebih muda darimu."
Keana menatap pemuda yang bernama Adit dari atas sampai bawah dan kembali lagi ke wajahnya, cowok itu mengangguk dan tersenyum ke arahnya tapi Keana sama sekali tidak tersenyum.
"hai, aku sudah dengar banyak tentangmu dari Mama" ucapnya mengulurkan tangannya tapi Keana diam
Keana menatap tangan itu kemudian tersenyum menyambut uluran tangannya dan berkata "wajahmu agak mirip denganku ya!"
Kenzo yang kebetulan baru masuk dan mendengarnya berusaha menahan tawa, dia duduk di samping sang nenek dan pura pura meneliti "jangan bercanda, bukannya dia lebih mirip Paman"
Adit melihat kearah Kenzo yang tersenyum juga ke arahnya tapi itu tidak lama sampai senyum itu hilang "tapi Jendra jauh lebih mirip Paman, kan mereka anak dan Ayah. Mana mungkin mirip dengan Adit yang bukan siapa siapa, iya kan Tante!"
"kenzo!"
Kenzo menoleh ke sang nenek sambil nyengir "ampun nek, aku kan cuman bicara. Kan aneh kalau aku bilang mirip, orang bisa salah paham loh!"
Dia melirik Keana yang hanya diam tanpa ekspresi, Kenzo mengambil camilan diatas meja dia bertanya "Jendra... Apa dia sudah memberitahumu?"
"apa?" Keana bertanya balik, Kenzo tidak menjawab tapi tatapannya serius "oh.. Sudah"
" kamu ketemu Jendra?" Sang Nenek bertanya ada nada panik dalam suaranya, Keana memiringkan kepalanya dan mengangguk "dengarkan nenek, apapun yang dikatakan Jendra jangan dengarkan, ingat.. Dia meninggalkanmu"
Kenzo yang di sampingnya memutar bola mata jengah, selama ini Keana selalu dicekoki ucapan hasutan sejenis ini.
"Dia mengikuti wanita itu, wanita pengkhianat yang membuat ayahmu bunuh diri. Wanita tidak tahu malu" sang Nenek berucap kasar bahkan sempat meludah "aku menyesal menjadikannya menantu, anakku mati karena dia, bahkan tanpa tahu malu mengandung anak dari laki laki lain, wanita murahan!"
"sayang, tante ada sama kamu, jangan sedih" Lili memegang tangan Keana erat "Adit juga bisa jadi saudaramu mulai sekarang"
Keana masih diam, dia benar benar merasa sedih saat ini.
" sampai kapan kalian mau melakukan ini?" Kenzo bertanya mulai kesal "jangan terus menje-"
Tangan Kenzo di raih oleh neneknya di tepuknya "nak, nenek tahu kamu dulu dekat dengan wanita itu, tapi pamanmu bunuh diri karena dia" Sang Nenek menghapus air mata yang jatuh begitu saja
"Bu, hentikan!" Ayah Kenzo yang dari tadi hanya diam "Kinara tidak melaku-"
"KAMU! APA YANG PEREMPUAN MURAHAN ITU BERIKAN PADAMU SAMPAI KAMU TERUS MEMBELANYA!" Nenek berdiri berkecak pinggang "ADIKMU MATI KARENA DIA! KARENA ANAK HARAM DALAM PERUTNYA."
"Bu... " Lili berdiri menenangkan wanita tua itu "jangan terlalu emosi, penyakit ibu bisa kambuh"
"oh.. Seandainya kamu wanita yang dinikahi putraku" nenek menutupi wajahnya dengan tangan menangis tersedu sedu... "putraku... Anakku..."
Prok prok prok
Mereka semua menoleh ke asal suara tepukan tangan
Di pintu berdiri pemuda dengan penampilan begitu cerah, jas merah yang digulung sampai siku selaras dengan celananya dia juga memakai kemeja putih sebagai dalaman serta kacamata hitam bertengger di wajahnya sangat tidak pas dengan agenda acara hari ini.
Dia berjalan dengan santai sambil menggandeng gadis kecil dengan warna pakaian yang sama, aura yang dikeluarkan tidak bisa membohongi, Aura tuan muda. Dibelakangnya berjalan beberapa pria dengan pakaian serba hitam dan siapapun pasti tau kalau mereka bodyguard.
Pemuda itu mendudukkan gadis kecil itu di sofa sebelum dia duduk di sampingnya, dia duduk sambil menyilangkan kakinya badannya tersandar di sandaran sofa sambil menopang kepalanya di tangan yang sudah dia tumpukan di tangan sofa, padahal dia belum di persilahkan duduk.
"kenapa berhenti? Aku ingin mendengar bagaimana kalian menghina ibuku!"
"Jendra!" lirih Keana.
******
Tbc