KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
45



Keana menjerit begitu Kennan tumbang setelah dia membuka pintu, wajah Kennan pucat dan bulir keringat mengucur deras. Dia berlari mengetuk beberapa pintu untuk meminta bantuan.


"Ajeng? Kenapa?" tanya Hana begitu dia membuka pintu mendapati wajah panik Keana


" Jendra... Jend-"


Hana menerobos keluar berlari ke arah tempat Kennan, semalam Kennan tampak banyak pikiran dan mengatakan kalau hari ini akan berat.


Dia berdiri diambang pintu mendapati Kennan yang pingsan di bahkan masih memakai pakaian lengkap.


Dia langsung berlari menggedor pintu Satrio dan Afkar, tidak lama dua cowok itu datang


" lagi? " Satrio menghela nafas panjang dia dan Afkar memapah Kennan ke kamarnya sedangkan cewek cewek mencoba menenangkan Keana yang menangis entah kenapa.


Hana masuk ke dalam kamar Kennan dimana Afkar dan Satrio membantu menyadarkannya.


"badannya panas sekali." Satrio memeriksa suhu badannya "sebaiknya bawa dia ke rumah sakit."


"Nin, ambilkan kunci mobil" perintah Afkar yang langsung di turuti sementara mereka berdua kembali membopong Kennan keluar apartemen "kamu ikut kami ke rumah sakit" ucapnya pada Keana.


Keana hanya mengangguk, Hana juga memaksa ikut begitupun dengan Sabrina dan Hanin.


Setelah di periksa dokter, Kennan dibiarkan tetap istirahat. Hana menyerahkan air minum ke Keana yang terlihat tidak baik baik saja, mereka ada di kursi tunggu depan kamar Kennan.


"sebenarnya Kennan sakit apa?" tanya Satrio, Keana menggelengkan kepalanya karena memang tidak tahu apa apa soal Kennan.


"gue mau lihat Kennan dulu." Hana berdiri dia mendorong pintu dan berjalan masuk


Mereka menatap punggung Hana yang lesu, satu yang mereka tahu.. Hana pasti tahu tentang sakit Kennan.


Hana masuk ke kamarĀ  Kennan, pemuda itu masih tertidur tapi tidak ada ketenangan dalam tidurnya. Keringat terus mengalir di dahinya bahkan ada air mata jatuh dari pelupuk matanya, bibirnya bergetar dan berkata dengan sangat lirih


"jangan pukul Mama... Jangan pukul Mama... Berhenti"


Hana mengambil tisue menghapus air mata pemuda itu juga keringatnya. Dia menggenggam tangan Kennan membawanya ke keningnya


"sebenarnya apa yang lo lihat?"


Hana terus menatap Kennan sampai di tersentak saat merasakan tubuh Kennan yang tiba tiba menegang dan air matanya berjatuhan bahkan kali ini lebih deras. Mata Hana tertuju ke tangan Kennan yang diperban karena terluka seperti menghantam sesuatu.


Hana menegakkan duduknya saat tiba tiba Kennan terbangun, pemuda itu langsung terduduk dengan nafas ngos ngosan seperti habis berlari.


"kamu tidak sendiri" bisik Hana dia mengusap punggung Kennan yang tidak merespon, gadis itu berdiri memeluk Kennan menenangkannya dan berlahan nafas Kennan kembali normal "lebih baik? Mau minum?"


Hana melepaskan pelukannya mengambil air yang sempat dia beli tadi. Dia kembali melihat Kennan yang hanya diam menatap kosong kedepan.


"hei"


Kennan berlahan menoleh ke arahnya, Hana tersenyum meski Kennan tidak memberi respon apapun kecuali melihatnya dengan pandangan kosong.


"minum dulu" dia menyodorkan botol air ke Kennan


Kennan terkekeh "dia mengiris nadinya di bathub terus mati. Lucu kan?"


Hana kaget dia menatap Kennan yang masih terkekeh tapi matanya mengeluarkan air mata.


Di ambang pintu Keana hanya bisa membekap mulutnya agar suaranya tidak terdengar. Dia pikir dia yang paling terluka, dia lupa kalau Kennan adalah anak yang melihat langsung bagaimana ayahnya menghabisi nyawanya sendiri.


"hm lucu" Hana menepuk tangan Kennan " lo gak haus?"


"kenapa tidak tertawa? Padahal lucu" kata Kennan, Hana mengambil tisue menghapus air mata Kennan yang jatuh ke punggung tangannya. "woi tertawa dong"


"lucuan mana sama yang gantung diri?" tanya Hana sambil menghela nafas "sekarang lo minum dulu, kalau mau gila nanti setelah gue pulang. Beberapa hari kemarin gue sudah gila jadi jangan bikin gue ikut gila lagi. "


Diambang pintu mereka saling menatap mendengar pembicaran mereka yang terdengar aneh dan ngeri.


"sekarang lo gila beneran!" kata Hana


Kennan diam melihat tangannya yang terinfus tapi tiba tiba dia langsung turun menyeret tiang infus ke kamar mandi


Hoek


Hana mengikutinya dari belakang, membantu Kennan yang sibuk mengeluarkan isi perutnya.


"lo hamil?" canda Hana


"suruh dokter keluarin infusan gue" suruhnya, dia kembali mengeluarkan isi perutnya melihat darah yang mengalir keluar di infus "gue gak bisa lihat darah."


Hana langsung menutup mata Kennan membantunya berdiri "tutup mata lo, gue bakal suruh dokter cabut infusnya"


"hehehe... Kalian kayak manten baru" Mereka berdua melihat Hanin dan yang lainnya sudah masuk ke dalam ruangan. Tatapan Kennan terkunci ke Keana yang matanya masih sembab, dia menghela nafas berjalan mendekati saudara kembarnya.


Keana kembali menjatuhkan air matanya melihat Kennan "maaf" lirihnya "maaf maaf"


Kennan menghela nafas meraih adik perempuannya untuk dia peluk, dia menepuk nepuk punggung Keana agar lebih tenang tapi gadis itu malah makin menangis.


"KENNAN!" mereka melihat ke pintu dimana Kinara masuk dengan wajah paniknya. Dia mendapat telfon dari Hana tadi melalui telfon Kennan.


Kinara tertegun melihat pemandangan di depannya, dua anaknya saling berpelukan untuk saling menenangkan.


Afkar dan yang lainnya kembali keluar.


Melihat Kinara masuk, Keana melepaskan dirinya dari Kennan dan bersembunyi di belakang pemuda itu, dia belum siap.


Merasakan penolakan Keana, Kinara merasakan hatinya tercabik meski demikian dia berusaha tenang. Kinara melangkah mendekati mereka menatap Keana yang membuang muka ke arah lain Kinara hanya bisa tersenyum sedih, dia beralih menatap Kennan yang memasang ekspresi kosong, tangannya memegang sisi wajah Kennan.


Kinara melepaskan wajah Kennan tapi tidak benar benar menjauhkan tangannya karena tangan Kinara sudah berpindah memegang kemeja Kennan yang belum di ganti.


"maafkan Mama nak, karena Mama kalian menderita" air mata wanita itu kembali jatuh "Maafkan Mama."


Kennan tidak bergeming karena pikirannya kemana mana, rasa sakit yang ingin dia hilangkan kembali muncul kepermukaan.


"Maafkan Mama... Hiks.. Kalau saja.. Mama lebih te..gas.. Kalian tidak akan menderita.. Maafkan Mama" Kinara menyandarkan kepalanya di dada putranya "kalau saja.. Mama ber..tahan!".


Kennan menyentuh bahunya, mereka memang menderita tapi kalau wanita itu bertahan mungkin rasa sakit yang mereka terima akan lebih parah lagi.


"aku tidak apa apa, tolong jangan menangis" lirih Kennan


Keana yang berdiri di belakang Kennan hanya diam terpaku, selama ini dia terus menyalahkan wanita di depannya, menolak bertemu tanpa tahu apa apa. Kejadian hari ini membuatnya merasa bodoh, sebanyak apa rasa sakit yang di tanggung Kennan juga Mamanya? Apa sepadan dengan yang dia rasakan?


Berlahan dia keluar dari belakang punggung Kennan, dia tidak bisa menahannya lagi.


"Mama!" lirih Keana bersamaan dengan turunnya air matanya yang mengalir deras


Kinara melepaskan Kennan beralih memeluk anak yang sudah hampir enam tahun lepas dari pelukannya.


Kali ini bukan hanya isak kecil yang keluar dari bibir Keana melainkan tangisan seorang anak, Keana seakan mengadukan betapa sakitnya dia beberapa tahun ini.


"Maafkan Mama sayang!" Kinara terus mengusap air mata Keana yang tidak bisa berhenti "maafkan Mama, hm? Ajeng maafkan Mama"


Di luar ruangan, Reynand bersandar di pintu menundukkan kepalanya mendengar reunian ibu dan Anak yang menyedihkan.


Dia tiba tiba merindukan ibu kandungnya yang sudah meninggal. Dia menoleh begitu Fa'i menepuk pundaknya, dia hanya mengedikkan bahu agar tangan Fa'i menjauhinya.


******


Tbc