
" gue bakal ganti uang lo, bye!, " Hana melambai padahal dia hanya ada di unit sebelah.
Hana masuk ke dalam apartemennya dan langsung menyengir melihat Farhan yang berdiri dengan bersedekap dada, matanya menatap belanjaan Hana.
" kenapa kamu sangat tidak patuh? " tanya Farhan dia mendekati Hana merampas plastik di tangan Hana " tidak ada snack dan makanan instan lagi "
" o.. Onii-cha- "
" Hana, kita harus kembali ke jepang " kata Farhan, dia menghentikan rengekan Hana
" Naze? [kenapa?] " Hana menatap Farhan dengan wajah sendu
" kakek sakit "
" itsu? [kapan?] "
Farhan menatap adik perempuannya itu, dia tau adiknya itu berat untuk kembali ke sana. Begitu temannya meninggal dia memutuskan meninggalkan negara kelahirannya itu dan mati matian belajar bahasa indonesia yang merupakan bahasa ibunya.
Hana selalu merasa bersalah atas kepergian temannya. Seandainya dia lebih peka sedikit, seandainya dia bisa melindunginya? Seandainya...
Banyak seandainya di kepala gadis itu, dan Farhan berusaha menghilangkannya. Dibandingkan keluarga temannya.. Hana lah yang paling depresi.
" Lusa " jawab Farhan dia mengusap kepala adiknya dan berlahan di tepis Hana
" Tsukarete nemuritai [aku capek, mau tidur] "
" hm "
Farhan menghela nafas, dia melirik plastik berisi makanan di tangannya.
" harusnya kubiarkan saja tadi " gumamnya sambil berjalan ke dapur untuk menyimpan makanan ringan itu.
*****
Kennan menyiapkan makan siangnya begitu pintu apartemennya di gedor dari luar, dengan sedikit kesal dia berjalan dan membuka pintu
" Arohaaa... " Hana menyengir sambil menyelonong masuk " wih... Apartemen lo bersih banget, ini pertama kalinya gue masuk "
" oi.. Ck " Kennan berdecak karena Hana masuk tanpa permisi. Gadis itu juga sedikit bertingkah aneh. " kenapa kesini? Ada perlu apa? "
" yaelah pak Pres, pelit amat. Memang tidak boleh apa gue dat-akh... Sambel ijo!! " serunya melihat apa yang ada di meja makan Kennan " gue numpang makan ya? "
" ha? "
Hana tidak menghiraukan wajah terganggu Kennan dia menyusuri dapur mencari piring sambil bersenandung kecil.
Kennan menghampiri dan menarik lengan Hana
" rumah gue bukan warung, pulang sana "
" pelit pelit pelit " Hana menghentakkan kakinya, Kennan makin mengkerutkan keningnya
" lo kenapa sih? "
Hana menghela nafas dan menarik satu kursi meja makan sebelum diam menatap nasi dan lauk serta sambal ijo Kennan
" habis makan, lo pulang atau lo bisa gangguin orang lain. Jangan gue " kata Kennan meletakkan piring dan sendok di depan Hana.
Hana tidak menjawab dan memilih mengambil nasi beserta pasukannya dan memakannya dengan lahap. Kennan menatapnya
" kenapa? " Hana mendongak karena merasa Kennan menatapnya
" lo yang kenapa? " Kennan berucap sebelum menunduk memakan makanannya " kayak bukan lo "
Hana tertawa dan itu aneh
" lo butuh ke psikiter, mau gue kasih nomor psikiater yang nanganin gue? " tanya Kennan
" boleh tuh " Hana menyaut " ini lo yang bikin semua? "
" hm "
" enak, lo nikah sama gue aja ya di masa depan? Biar gue tidak mati kelaparan, hihi...." kikik Hana, Kennnan mengangkat kepalanya dengan dengan kening mengkerut bingung, Hana bertingkah aneh. " ngomong ngomong... Gue mau izin duluan ke lo pak pres sebelum ke guru. Lusa gue mau balik jepang "
Kennan mendongak
" Ojii ekhem.. Kakek gue sakit " beritau Hana dia menunduk makan lagi dan Kennan tidak merespon dia juga fokus ke makanannya.
Mereka diam sampai mereka selesai makan bahkan sampai Hana membantu Kennan
" lo tidak kesepian disini? " tanya Hana dia berjalan ke sofa dan duduk menatap dinding " bahkan tidak ada tv "
" seriusan ngusir pak? " sindir Hana, Kennan hanya mengedikkan bahunya.
" orang akan salah paham kalau lo ditempat gue terlalu lama " kata Kennan dia duduk melantai dan membuka bukunya
" lah, Hanin Afkar gak apa apa tuh " Hana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, Kennan diam lebih tepatnya dia malas meladeni, bisa bisa dia juga tambah stress. " KeRa... Oi Saru... "
" Hana gue butuh fokus " kata Kennan, Hana berdecih pelan tapi tidak lama dia menegakkan duduknya
" tapi bukannya PTSD itu sulit fokus ya? " tanya Hana membuat Kennan yang menulis menghentikan gerakan tangannya " m..maaf, gue tidak maksud " cicitnya
" ya... Banyak penderita depresi berat yang tidak bisa fokus " kata Kennan " gue masih berusaha untuk benar benar fokus "
Hana menggigit bibir bawahnya merasa bersalah, dia tidak bermaksud menanyakan itu. Tapi, kalau orang seperti Kennan yang masih berusaha fokus tapi mendapat nilai sempurna, bagaimana kalau dia benar benar fokus?
Dia berdiri sebelum duduk melantai di samping Kennan. Masih menatap ke dinding.
" gue ragu mau kembali ke sana " cerita Hana " lo taukan gue punya teman yang bunuh diri "
Kennan mencengkram tangannya, dia tidak suka mendengar kata 'bunuh diri' itu.
" dia teman sekaligus tetangga gue, kamar kami bahkan berhadapan langsung, gue belum siap "
Kennan menatap Hana, gadis itu tanpa sadar mencengkram kalung yang dipakainya. Matanya mulai berkaca kaca, tapi langsung menyengir saat sadar Kennan melihatnya.
" tapi gue tidak mau terus melarikan diri " cicitnya.
" kalau itu melarikan diri... Lalu aku apa? " gumam Kennan sangat pelan tapi masih sanggup di dengar Hana.
" ngomong ngomong... Lo mau oleh oleh apa nanti? " tanya Hana dia meraih satu buku Kennan mengalihkan pembahasan, buku tentang psikolog.
" tidak usah "
" he? Lo harus punya satu... Gue juga mau ke akibahara jad-"
" berisik " Kennan menatap Hana sedikit kesal karena merasa terganggu.
Hana mendengus, belakangan ini mengganggu Kennan adalah hobinya.
" Ne.. Ne... Kennan-kun... Tsukiatte kudasai [ayo pacaran] " Hana mengerjab ngerjabkan matanya dia bermaksud menjaili Kennan.
Kennan mengambil buku tulisnya dan memukul kepala Hana, tidak keras tapi mampu membuat meringis.
" jangan pakai bahasa alien sama gue " kata Kennan
" tidak asik lo " Hana menunduk menatap buku di pangkuannya sebelum melirik Kennan
Hana kembali menyusuri apartemen Kennan dengan matanya tapi tempat itu benar benar kosong. Hanya ada satu lemari panjang yang memiliki banyak laci, satu set sofa, satu set meja makan, kulkas dan kompor dan lemari dapur selebihnya tidak ada.
Poster ala anak laki laki juga tidak ada yang terpampang apalagi figura foto dan bahkan Hana yakin kalau laci laci itu tidak ada isinya. Untuk ukuran unit seluas itu... Tempat Kennan benar benar kosong.
Kennan mengangkat kepalanya melihat Hana yang memperhatikan tempat tinggalnya yang sepi itu. Hana menoleh ke arahnya
" kenapa lo gak beli tv? "
" gak ada duit " jawab Kennan enteng
" lo bisa sewa apartemen mewah ini dan lo masih bilang gak ada duit? Lo pikir gue percaya "cibir Hana
" terserah lo. " Kennan menyandarkan tubuhnya di sofa " lo belum ada rencana mau ninggalin apartemen gue? "
" belum "
" gila "
" gak jauh beda dari lo " kata Hana dia kembali naik ke sofa " lagian lo gak mau nanya berapa lama gue di jepang? "
" tidak penting " jawab Kennan membuat Hana mencibir " dan lagi kalau lo stress kenapa harus ke tempat gue? "
" karena kita sama sama orang stress yang hanya menunggu waltu dilarikan ke rumah sakit jiwa " Hana tertawa membuat Kennan menatapnya " walau gue tidak separah pak Presiden KeRa sih "
" terserah "
Hana kembali tertawa bahkan kali ini lebih keras, kepalanya sakit, matanya juga terasa berat hidungnya rasanya tersumbat, tidak lama gadis itu menekuk lututnya memeluk dirinya sendiri dan mulai menangis
Kennan diam dan membiarkan Hana menangis di sofa, gadis itu butuh ketenangan dan ya tempat Kennan memang sangat cocok.
*****
Tbc