
Kennan terbangun dengan keringat mengucur di wajah dan di tubuhnya, lagi lagi dia memimpikan kejadian beberapa tahun lalu yang memang selalu menghantuinya setiap malam. Mimpi kali ini benar benar terasa nyata untuknya semua tergambar dengan jelas.
Menutup kedua matanya dengan telapak tangan Kennan menangis dalam diam, dia lelah, dia ingin terbebas dari mimpi mimpi buruk itu. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa.
Setelah mengunjungi rumahnya tadi kenangan kenangan yang sudah hampir dia lupakan semuanya kembali menari nari dalam kepalanya. Rasanya ingin dia membenturkan kepalanya agar ingatannya hilang semua.
"minum dulu!"
Kennan langsung menoleh ke samping, ada Hana, Sabrina, Afkar, Satrio dan Hanin di kamarnya. Dia berusaha duduk kompres jatuh dari keningnya
Kompres?
Kennan memegang kompres itu dan melihat ke arah mereka lagi, Hana menyodorkan air putih ke arahnya
"minum!" dia meraih gelas di tangan Hana dia memang sangat haus.
"terimah kasih"
Hana mengambil gelas itu menyerahkannya ke Hanin yang memang ada di ambang pintu kamarnya. Hana memegang kening Kennan membandingkan suhu badan mereka.
Dia melihat mereka satu persatu bertanya kenapa mereka ada dikamar Kennan, Hana menghela nafas dan menjelaskan
"lo tadi pingsan dan lo demam."
"lo sakit, kenapa tidak pulang cepat hah?" Satrio yang menahan diri akhirnya bersuara, Kennan hanya diam.
Tangannya mengepal kuat pada selimut, Hana yang menyadari itu menepuknya sambil tersenyum. Dia tau kennan pasti bertemu dengan seseorang yang membuat traumanya kembali ke puncak.
Mereka menoleh ke suara grasak grusuk yang berasal dari pintu, seorang wanita berusia sekitar tiga atau empat puluhan masuk dengan wajah cemasnya memegang tangan Kennan, Hana yang duduk di samping Kennan tadi berdiri menjauh memberi tempat untuk wanita yang ia perkirakan ibunya Kennan.
Kennan menatap Mamanya dengan pandangan yang sulit diartikan, Kinara menangis memegang tangan putranya merasa bersalah.
"Ma, aku tidak apa apa!" lirihnya, Kinara menggelengkan kepalanya
" gak, kalau Mama tadi gak ngijinin, kamu gak akan begini kan? Maafin Mama. "
"aku benar benar tidak apa apa" Kennan berucap lagi, Kinara mendongak menatap putranya mengelus pipi Kennan yang terlihat kurus. "Ajeng juga baik baik saja"
"kamu ketemu Ajeng?" Kennan diam tapi mengangguk
"Yo Bung!" Kennan melihat Fa'i yang datang dengan Reynand, Fa'i menopang lengannya di pintu menatap Kennan "bagaimana?"
"tidak masalah" jawab Kennan "seriusan, kalian kenapa heboh sekali?"
"abang lo noh" Fa'i melihat Kennan sebentar sebelum keluar dengan teman teman Kennan.
Kennan menghela nafas panjang saat ibunya masih meminta maaf padanya "Ma, Jendra tidak apa apa" ucapnya yang kesekian kalinya " tadi aku ke rumah tante Lina, beliau nitip salam ke Mama"
Kinara mengangguk mengerti, dia menatap wajah Kennan dengan pandangan penuh penyesalan, Kennan terlihat sangat pucat, matanya terlihat hampa.
"ya sudah, kamu istirahat mama buatkan makan malam" Kinara mengelus pipi Kennan dan berjalan ke dapur.
Kennan berbaring menatap langit langit kamarnya tak lama pintu kamar kembali terbuka Hana masuk dia menyapa Kennan "Hei"
Dia duduk di samping kasur Kennan, cowok itu malas bangun toh hanya Hana juga, gadis itu tau kondisinya. Hana menumpukan dagunya di kasur sedangkan Kennan menutup wajahnya dengan lengan.
"lo bikin gue kaget tadi" Hana berucap pelan, Kennan yang tiba tiba jatuh ke lantai membuatnya panik beruntungnya Satrio kebetulan keluar dari apartemen, Satrio memanggil Afkar untuk membantunya memboyong Kennan
" Maaf "
"setelah lo sehat, lo harus masakin gue sebagai kompensasi" gerutu Hana dan Kennan hanya bergumam menyetujui "pasti sudah sangat lelah!"
Kennan terkekeh mendengar gumaman Hana yang tepat sasaran, sekarang dia memang lelah sekali
"gue tidak akan bunuh diri" Kennan menjitak belakang kepala Hana "gue hanya tidak ingin melarikan diri lagi, lo juga"
Hana mengakkan duduknya dia mengusap air matanya dan mengangguk "ehn"
Reynand mendekati Fa'i yang tadi hendak masuk ke kamar Kennan tapi malah berdiri di depan pintu "Fa-"
"sst" Fa'i memberi isyarat agar Reynand tidak bersuara, jadinya mereka berdua hanya bersandar di dekat pintu menguping pembicaraan dua anak remaja dalam kamar.
"bagaimana jepang?" Kennan bertanya Hana menatapnya sebentar sebelum memeluk lututnya sendiri, Kennan selalu melakukannya dia merasa aman saat melakukannya.
"berat" tatapan Hana menjadi sendu "kalau saja aku tidak pernah berteman dengannya dia tid-"
"gue kan sudah bilang bukan karena lo" Kennan langsung membantah ucapannya
"tap-hmp" Kennan membekap mulut Hana dengan tangannya, Hana menepis tangannya " puah... Pak Pres tangan lo bau telon"
Kennan membaui tangannya, memang ada bau telon ditangannya mungkin dibalurkan saat dia pingsan.
Di luar kamar Reynand dan Fa'i hampir menyemburkan tawa mereka, pembicaraan serius mereka tiba tiba terhenti.
"tidak baik berduaan di kamar" Fa'i langsung menyelonong ke masuk, menatap mereka dengan tatapan jail "ngapain kalian?"
Kennan mendengus pelan dia menoleh ke Hana "dia pengguran berkedok dokter, kak Fa'i" Kennan memperkenalkan.
" siapa yang kau sebut pengangguran hah?" Fa'i menjitak kepala Kennan membuat cowok itu meringis, Reynand masuk dan menendang pelan belakang lutur Fa'i "memang pengangguran kan?"
Fa'i tidak menghiraukan dia malah menatap Kennan sambil menghela nafas "kenapa kamu nekat sekali? Kamu sadarkan kalau kondisimu tidak bisa menerobos begitu saja? "
"aku hanya mengambil barang yang tidak sempat terambil" Kennan berusaha bangun dibantu Hana
"tetap saja, kamu datang kesana begitu saja tanpa persiapan mental. Kalau kamu drop disana bagaimana?" Fa'i menghela nafas lagi karena Kennan masih diam "tapi syukurlah kondisimu tidak separah biasanya. "
"Kamu disana sendirian?" Reynand bersedeka dada, Kennan menggelengkan kepalanya
" ada seorang teman. " jawab Kennan "dan adik perempuanku"
Adik perempuan? Keyra? Hana tidak tau kalau Kennan punya saudara lain. Fa'i mengalihkan pandangannya ke Hana memperhatikan gadis itu dan ke Kennan lagi.
"s..saya keluar dulu" ucap Hana tidak enak terus tinggal di sana "Pa-Nan, gue balik ya"
"thanks" Hana tersenyum memperlihatkan lesung pipinya, dia menganggukkan kepalanya pada Reynand dan Fa'i.
Fa'i menepuk pundak Kennan saat Hana benar benar keluar, dia menyeringai "pinter juga nih anak cari cewek. Cakep"
"hanya teman sekelas" Kennan menjawab malas dia mengambil sesuatu di mejanya menyerahkan jurnal harian pada Fa'i.
Fa'i membuka lembar jurnal wajib Kennan yang suruh dia tulis mengangguk paham. Dia meletakkannya dan menatap Kennan dengan tatapan serius
"apa kamu mau terapi hipnotis? Kupikir sekarang sudah tidak ada masalah melakukannya"
"tidak usah" Kennan sudah membulatkan tekadnya "aku baik baik saja sekarang."
"kamu yakin?"
"hn"
*******
Tbc