KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
35



Kennan ke sekolah diantar Reynand karena kakaknya itu semalam menginap di tempatnya, Reynand melarangnya ke sekolah tapi dia bersih keras tetap ingin sekolah.


Alasan dia selalu ingin ke sekolah karena absensinya sudah sangat banyak padahal dia belum setahun sekolah.


Sampai di kelas dia langsung di sambut Hana dengan tatapan cemas, Kennan menjitak keningnya kemudian melewatinya. Baru akan duduk ketua osis masuk dan berjalan ke arahnya


"Jendra!" serunya, Kennan mendongak dengan ekspresi jengkel, dia belum duduk


"apa?"


"Ajeng bilang lo kesana!" Kenzo bertanya khawatir "lo ngapain sih kesana?"


"ngambil mainan lama" Dia meletakkan tasnya dan duduk, mengeluarkan buku catatan juwita untuk dia kembalikan "Ajeng?"


"dia baik, kemarin dia diantar Arvan pulang." jawab Kenzo, dia menatap Kennan yang wajahnya memang masih kurang darah "kalian tidak bertengkar lagi kan?"


"tidak"


Hana yang mengikuti dari tadi menarik kursi di depan Kennan, dia melihat cowok itu dengan perasaan sedikit kesal.


"siapa Ajeng?" dia bertanya tanpa sadar nadanya menggerutu, Kennan melihatnya dengan alis terangkat tidak lama dia tersenyum misterius ke Hana.


Gadis itu mendengus dia berdiri meninggalkan tempat itu, Kenzo mengangkat sebelah alisnya melihat tingkah Hana yang tiba tiba pergi, dia menoleh ke Kennan yang tersenyum geli "dia.. Cewek lo?"


Kennan mengedikkan bahunya, dia memanggil Juwita dan memberikan bukunya "PRnya sudah gue salinin. "


Juwita berseru yes melemparkan ciuman jauh "thank you pak Presiden! Periode selanjutnya bakal gue dukung lagi. "


"tidak usah, terimah kasih!" Kennan sama sekali tidak berniat untuk menjadi ketua kelas lagi, dia hanya ingin jadi murid biasa tanpa beban apapun di sekolah.


"Ajeng bilang dia mau ketemu Keyra!" Kennan menatap Kenzo, Kenzo mengeluarkan kertas yang berisi nomor hp "ini nomornya, lo bisa hubungi dia kapan waktunya."


"hn" Kennan memasukkan kertas itu di sakunya dia memijit keningnya efek kepala pusing.


Mempertemukan mereka berdua Kennan berharap bisa mengurangi bebannya juga tinggal dua hari lagi hari peringatan, dia berharap dia akan baik baik saja.


Dia tidak akan memberitahu ibunya soal ini dia tidak ingun membuatnya terus mengkhawatirkannya. Dia juga bisa meminta bantuan Arvan menemaninya.


Kennan akan membersihkan nama ibunya.


Setelah mempertemukan kedua saudaranya, Kennan sangat berharap  Keana mau menemui ibu mereka. Meski tidak pernah mengatakan apa apa Kennan tau ibunya berharap bisa memeluk Keana lagi.


Karena bel masuk, Kenzo meninggalkan kelas itu dan kembali ke kelasnya. Kennan melihat ke bangku Hana karena merasakan tatapan gadis itu tapi saat mata mereka bertemu Hana langsung membuang muka.


"konyol"


******


Kennan berjalan sambil memasukkan tangannya di saku celana, matanya menyusuri jalan berharap Reynand cepat datang karena dia berkata akan menjemputnya.


Dia melirik dengan ekor matanya, Hana berjalan melewatinya tanpa berniat menyapa. Kennan menghela nafas tangannya yang panjang menarik gantungan tas Hana sampai gadis itu hampir jatuh


"apasih Pak? Kalau gue jatuh terus geger otak bagaimana?" Kennan mengangkat sebelah alisnya. Hana tidak bicara padanya semenjak kedatangan Kenzo tadi, sebenarnya dia tidak apa apa hanya merasa aneh saja kalau di diamkan.


"lo marah karena apa?"


"siapa yang marah" Hana memperbaiki letak bahu tasnya mengibaskan rambut kebelakang. "gue mau pulang!"


"lo diemin gue" Kennan menahan gantungan tasnya lagi


"gak tuh, akhh.. Lepaskan!" Hana memukul tangan Kennan "Kennan Rajendra!"


"kenapa? Soal Ajeng?"


"gak ya, biasa aja" Hana mendengus ke arahnya, Kennan memasukkan kembali tangannya ke dalam saku


"dia adek gue"


Hana membuang muka, dia heran sendiri kenapa harus marah. Kennan dan dia tidak menjalin hubungan tapi  diakan pernah bilang kalau dia suka sama cowok itu!


Tunggu, apa dia yang kennan bilang? Adik?


"gak nanya" dia berkata dengan suara mencicit, Kennan menahan tawanya tangannya gatal ingin mencubit pipi chubby Hana, Hana melirik Kennan dan bertanya memastikan "seriusan adek?"


Kennan mengangguk "kembaran gue"


"kalau mau pacaran jangan di depan gerbang." Afkar yang keluar menegur padahal dia tengah bergandeng tangan dengan Hanin, Hanin memegang dadanya dramatis


"ukh... Hatiku sakit, kasih pj dong!"


Kennan menatap malas pasangan itu, dia melirik ke jalan lagi berharap mobil Reynand muncul.


"duluan ya" Afkar menarik tangan Hanin karena taksi yang mereka pesan sudah datang.


Hana melambaikan tangannya yang langsung di balas Hanin, dia menghela nafas begitu mobil itu terlihat menjauh "liat mereka jadi pengen nikah juga. Kapan Kageyama Tobio-kun melamarku?"


Kennan hanya menggelengkan kepalanya, dia tau siapa yang dimaksud Hana karena gadis itu sering bercerita tentang karakter karakter favorit yang pernah di nonton.


"kenapa lo kesini?" Kennan bertanya pada Arvan yang menghentikan motornya di depan mereka


"jalan jalan" dia menyeringai matanya menatap Hana terkejut "Aoki-san?"


Hana yang melihat ke arah mobil Hanin melaju langsung menoleh, dia tersentak begitu nama marganya disebut, Hana mengkerutkan keningnya sebelum berseru


"Arvan!"


Hana terkekeh dia bersalaman dengan Arvan, Arvan adalah salah satu orang yang berjasa mengajarkan bahasa indonesia padanya.


"kamu sekolah disini?" Hana mengangguk


"kakakku mendaftarkanku disini, aku pikir kamu masih di jepang"


"ibuku memanggilku pulang" dia turun dari motornya hendak memeluk Hana tapi Kennan lebih dulu menarik Hana kebelakang, Hana langsung melihatnya


"masih di sekolah" Hana menyengir kearahnya dia menarik tangan Arvan


"pak Pres kenalin, Arvan. Dia yang ngajarin gue bahasa indonesia dulu. "


"oh" hanya itu tanggapan Kennan, dia melihat Arvan "lo sekolah di jepang?"


"hn, SMP gue pindah ke sana."


Hana menatap mereka bergantian "kalian saling kenal?"


"menurut lo?" Kennan menjitak pelan kening Hana dia beralih ke Arvan yang diam memperhatikan mereka berdua "terimah kasih, lo sudah mengantar Ajeng"


"lo kayak siapa saja. Mama nyuruh gue nanya alamat tante Kinara"


Kennan mengambil kertas menuliskan alamat dan memberikannya pada Arvan. Dia menoleh ke Hana yang masih setia disana padahal tadi dia ingin bergegas pulang


"lo dijemput siapa?"


"nunggu kang Ojek" Hana menendang nendang pasir di depannya "pak Pres, gue nebeng lo ya."


"mau aku antar?" Arvan menawarkan


"kalian beda arah, orang ini" Kennan menunjuk Hana "tetangga gue"


"aku bareng pak Presiden saja" Arvan mengangguk mengerti


Kennan mendengus dalam hatinya, ingin sekali dia menjitak dengan keras kepala Hana.


Aku-kamu?


Bukannya gadis itu suka padanya? Kenapa bahasanya malah ber-lo-gue?


Kennan memilih bersandar di pagar membiarkan mereka berdua berbicara, dia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bahas karena memakai bahasa jepang.


Apa dia tidak kasat mata?


Kennan merasa lega melihat mobil Reynand muncul, dia langsung pamit pada Arvan menarik Hana masuk ke mobil.


Arvan terbahak begitu mobil itu melaju kencang, dia baru tau kalau Kennan sangat mudah dibaca. Tapi dia tidak menyangka kalau dua orang yang dekat dengannya saling kenal, dunia benar benar kecil.


Dia terkekeh geli pada reaksi Kennan "tidak akan kurebut"


*****


Tbc