
Kennan berjalan sambil menghitung anak kelasnya, keningnya mengkerut saat jumblah mereka kurang satu
"Hana mana?" tanyanya masih dengan kening mengkerut
"ciee... Pak Pres.. Sekarang mah nanyain bu presiden mulu nie" ledek Putra yang melewatinya sambil makan pisang goreng "cie...kan ciee..."
"gue serius"
"tadi dia keluar habis telefonan" jawab Arumi "entah dia dengan siapa soalnya pake bahasa jepang, tapi mukanya tidak enak dilihat"
"cari Hana?" tanya Sabrina yang dari luar, Kennan mengangguk "ditaman belakang, suruh masuk entar kesurupan lagi dia melamun di sana"
Kennan hanya mengangguk membalikkan badannya menuju halaman belakang.
Benar saja, dia mendapati Hana di sana duduk di dekat kolam ikan milik kakek Arumi, Kennan menghela nafas berjalan menghampirinya.
"hai" Hana mendongak begitu Kennan menyapa, Hana tidak menyaut. Kennan mengambil berjongkok disamping Hana memperhatikan Ikan hias yang berenang "ada masalah?"
Hana menggelengkan kepalanya "tidak"
"yakin" Kennan mengulurkan tangannya masuk ke dalam air "tapi muka lo bilang kebalikannya tuh"
Hana tidak mengatakan apa apa dan Kennan tidak mau memaksa, mereka hanya duduk diam.
"gue disuruh balik ke jepang" kata Hana memecahkan keheningan "di suruh pindah lagi, secepatnya"
"kenapa?"
"oto--Ayahku bilang... Kangen. Kami hanya dua bersaudara dan semuanya disini" jawab Hana dia memainkan kukunya "tapi gue belum siap"
"lo harus nurut orang tua lo" Kennan mendudukkan dirinya di atas rumput karena kram kalau harus terus jongkok "mumpung mereka masih lengkap dan harmonis" lirihnya
Hana menoleh menatap Kennan, memperhatikan raut wajahnya yang tanpa ekspresi. Hana menghela nafas sebelum menepuk punggung Kennan, cowok itu mendelik membuat Hana menyengir kuda
"gue yang mau pindah kenapa lo yang stress? Oh.. Gue lupa, kita kan LDR nanti"
Kennan mendengus mengacak rambut Hana asal, gadis itu menjerit tidak suka ingin membalas Kennan tapi cowok itu langsung berdiri, Hana hanya mencak mencak karena tubuh Kennan yang tinggi sekali.
"curang ihh... " kesalnya, Kennan menyeringai mencubit pipi Hana gemas
"pendek!"
"gue gak pendek, hanya kurang tinggi saja" Hana mendengus dia langsung duduk lagi, Kennan menarik lengannya berdiri "apa sih?"
"masuk, sudah malam"
"tidak mau, masih mau disini" Hana menahan tubuhnya agar tidak berdiri
Kennan menghela nafas panjang dan mengikuti Hana duduk disana, perasaan Hana sekarang lagi tidak bagus jadi memaksanya percuma saja.
" Nan!"
"hm?"
Hana melipat tangannya memeluk lututnya sendiri "Gue takut LDR-an, tapi tidak mau putus juga" lirih Hana " kalau gue pindah, gue juga tidak tau kapan balik lagi ke sini"
"lulus nanti, gue juga tidak di Indonesia" ucap Kennan "tepatnya dimana gue tidak tahu"
"kenapa?"
"cari suasana baru" jawab Kennan dia mendongak menatap langit malam, dia sebenarnya sekali lagi ingin melarikan diri ke negara Asing karena menetap di sini hanya akan membuatnya terus kepikiran terlebih kalau bertemu wajah wajah yang tidak asing dengan masa lalunya.
Amarah dalam dirinya masih terus berkobar belum padam sama sekali, tapi dia tidak tahu harus marah pada siapa lagi.
" haa..a, gue bakal kangen dimasakin lo" kekeh Hana dia menyandarkan kepalanya di lengan Kennan. "gak bakal ada yang bantuin gue belajar"
Kennan yang tadi menatap langit turun menatap puncak kepala Hana yang bersender di lengannya.
"besok mau jalan?" ajak Kennan, Hana langsung mendongak menatapnya "di dekat sini ada bukit." beritahunya karena Kennan memang sempat menjelajah saat hari kedua mereka di sana, Kennan juga menatap mata Hana yang masih menatapnya
"hm"
Hana menyengir sebelum memeluk Kennan dari samping sambil berseru, Kennan hanya bisa menggosok telinga karena mendengar suara Hana tepat di telinganya
" pacaran aja terooosss.. " mereka berdua menoleh mendapati Alisa disana bersedekap dada seperti ibu menunggu anak perawannya pulang. "masuk, enak aja pacar pacaran di depan gue yang masih berjuang mendapatkan hati kakak dokter ganteng"
Kennan dan Hana saling melirik sebelum berdiri berjalan masuk ke dalam rumah, tapi dia berhenti di depan Alisa dan berkata
"dia suka cewek berjilbab dan keibuan"
Alisa membulatkan matanya menatap Kennan, Kennan hanya menyeringai seolah berkata 'gue kenal dia daripada lo'
"Presiden Kera sia.lan!"
******
Kennan membuka matanya tiba tiba begitu mimpi itu datang lagi, dia meraba ponselnya untuk melihat jam, masih sangat larut dan di jamin dia tidak akan tidur lagi.
Dia bangun melipat selimutnya karena dia tidak akan tidur juga, setelah membersihkan wajahnya dia mengambil earphone dan ponselnya dan berjalan ke ruang tamu untuk bermain ponsel.
Kennan menghempaskan duduknya di sofa membuka aplikasi streaming untuk menonton kartun anak anak, dia memiliki trauma terhadap darah jadi harus hati hati memilih tontonan untuknya.
Keasikan menonton dia tidak sadar ada Satrio yang berjalan mengikutinya. Satrio tipe orang yang mudah terbangun, telinganya sensitif terhadap suara sekitarnya saat tidur.
Selama beberapa hari di tempat itu dia selalu mendapati Kennan bangun tengah malam atau bahkan tidak tertidur, dia ingin bertanya tapi segan karena Kennan tidak mau memberitahunya.
" Akh!?" kaget Kennan begitu dia melihat Satrio, dia melepas earphonenya dan bertanya dengan nada kecil "lo ngapain disini?"
"gue tau lo kesepian jadi gue temani, baik kan gue?" Satrio mengangkat kakinya disofa mengeluarkan rokok dari sakunya "mau?"
"lo tau gue tidak merokok" Kennan mematikan tontonannya menyimpan hp di atas meja. "lo tidak tidur lagi?"
"lo sendiri?" Satrio menghembuskan asap rokoknya
"gue susah tidur tempat baru" jawab Kennan berbohong, saat keadaan normal Kennan bisa tidur dimana saja.
Mereka berdua diam dengan pikiran masing masing, Kennan memeriksa jam dia melirik Satrio lagi.
"lo... Pernah LDR?" tanya Kennan tiba tiba
"hah?" Satrio langsung melihatnya tapi Kennan membuang muka tempat yang lain "lo mau kemana?"
Kennan menegakkan duduknya dia menoleh ke Satrio tangannya dia masukkan ke saku jaket karena memang dingin
"Hana mau kembali ke jepang" jawab Kennan, Satrio mengamati Kennan yang menunduk, dia menepuk bahunya keras sambil terkekeh. Kennan tidak sesempurna bayangannya.
"sebelum sama Bina, gue LDR-an dengan mantan gue di london. Tapi kandas" Satrio menyandarkan punggungnya "jarak dan durasi pertemuan berpengaruh tapi yang lebih penting.. Komunikasi dan kepercayaan"
Kennan menghela panjang, Satrio menendang kakinya "karakter kalian terlalu mirip bikin khawatir"
"maksud lo?"
"lo sama Hana sama sama tertutup, karakter kalian juga hampir mirip. Lo tau pasangan itu harus saling melengkapi sedangkan lo berdua... Terlalu mirip, gue tidak maksud itu..anu" Satrio kelabakan karena dia memang tidak bermaksud apa apa mengatakan apa apa.
"gue paham" Kennan melihatnya "lulus nanti lo tetap disini?"
"gue balik ke inggris" Satrio meregangkan lehernya "lagian gue disini cuman buat ngawasin anak yang kabur dari rumah"
"terus Sabrina?" Satrio tidak menjawab
Mereka berdua saling melihat sebelum membuang muka ke arah lain, Kennan kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.
****
Tbc