
Kennan lagi lagi tidak tidur semalam suntuk karena pertemuannya dengan Keana di club. Dan sialnya sekali setelah dari rumah sakit dia membawa gadis itu ke apartemennya karena tidak tega meninggalkannya sendirian. Kennan masuk ke dalam kamarnnya dan memperhatikan gadis itu lekat lekat dari ambang pintu. Lima tahun tidak bertemu gadis itu banyak berubah, terakhir mereka ketemu hanya pada hari terakhir ujian nasional sekolah dasar.
Kennan menghela nafas panjang sebelum berjalan ke kamar mandi, dia harus bersiap ke sekolah. Karena semalaman tidak tidur Kennan memilih tidak mandi dia hanya membersihkan badannya.
Di tatapnya wajahnya di depan kaca kamar mandi, bukan hanya gadis itu yang berubah.
Setelah bersiap Kennan mengambil kertas dan menuliskan pesan singkat di sana, dia juga meletakkan air dan obat yang diberikan dokter semalam, dia juga sudah membuat sarapan sebelum mengunci semua pintu dalam apartemen itu agar Keana tidak lari dan merepotkan dirinya lagi.
" Oha [pagi] " sapa Hana yang entah dari mana karena masih memakai pakaian tidur berbentuk kostum ayam " ini masih setengah tujuh dan lo sudah mau ke sekolah? ck ck anak teladan " Hana menepuk nepuk punggung Kennan.
" pagi? " mereka menoleh dan mendapati Afkar dan Hanin keluar dari apartemennya. " ketemu gue lo kalau terlambat " ucap Afkar, Hama cengir.
cklek cklek
Pintu apartemen Sabrina dan Satrio bersamaan terbuka dan mendapati yang lainnya di depan pintu mereka.
" gosip apa neh pagi pagi? " cetuk Satrio
" ya allah Hana... mandi gak lo! jangan mentang mentang kak Farhan gak ada " ucap Sabrina membuat Hana cemberut " Gio, suruh anak lo diam, rusuh banget pagi pagi " sungut Sabrina
" diamkan saja " ucap Hanin, dia mengambil tasnya yang sempat dia titipkan ke Afkar
" Nan gue nebeng ya " ucap Satrio merangkul Kennan
" gue naik sepeda " ucap Kennan, dia tidak mood hari ini untuk banyak bicara
" Fa, nebeng lo deh " ucap Satrio
" Hanin lo mau taruh dimana? " tanya Afkar, dia membantu Hanin menggulung lengan jaketnya.
" motor lo kenapa dah? " tanya Hanin " sama Sabrina noh "
" gue sama Hana " kata Sabrina " kak Farhan ada dinas di luar kota entah di mana " ucap Sabrina
" Semarang " jawab Kennan, mereka melihat Kennan " kak Farhan asisten dari teman Kakak gue " ucap Kennan menjelaskan.
" tega banget lo pada... ah gue ngambek ah " gerutu Satrio
" dih peduli amat " ucap Hanin membuat Satrio makin menekuk mukanya
" hah.. pake motor gue, ntar gue pake motor Hana " Sabrina melempar kunci motor ke Satrio
" Sabrina... lo penolong gue.. sini gue peluk sini " Satrio melebarkan kedua tangannya, Sabrina memasang wajah jijik
" najis " ucap Sabrina membuat mereka tertawa.
" jangan sampai terlambat, Mam " ucap Afkar " gue gak mau ngehukum anak kelas, bisa malu gue "
" bilangin Alvin kalo soal itu " ucap Sabrina
" gue duluan " pamit Kennan, biar bagaimanapun dia harus berangkat duluan karena hanya mengendarai sepeda saja, dia belum pernah belajar membawa motor apalagi mobil.
******
Keana mencoba membuka pintu apartemen tapi percuma karena terkunci. Ah... sial, dia tidak dia dimana dan siapa yang membawanya ke tempat itu. Mau menelfon Tedi tapi percuma karena tidak ada klu dia ada dimana?
Keana melirik meja makan, makanan di sana dia sudah makan karena memang di tujukan untuknya tapi ini sudah siang dan dia sudah lapar lagi.
Keana benar benar bosan, dia tidak bisa melakukan apapun, bahkan tidak ada tv di sana.
" sialan tempat apa ini? " kesal Keana kakinya
Dia menoleh begitu pintu dibuka, matanya membulat menyadari itu siapa yang datang
" Jendra " gumamnya
Kennan melihatnya sebentar sebelum melewati Keana begitu saja
bam
Kennan langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya, bersyukur dia sudah mengunci pintu di luar dia tinggal menunggu Kenzo menjemput Keana.
Kennan menutup telinganya dengan bantal karena pintu kamarnya di gedor Keana tanpa henti.
Kennan menghela nafas dan memilih keluar karena sepertinya gadis itu tidak berniat menghentikan gedorannya.
" heh... lo berniat ngurung gue sampai kapan? apa hak lo? lo bukan siapa siapa gue " ucap Keana tapi Kennan masih memasang wajah dinginnya " woi.. " kesal Keana karena Kennan hanya melewatinya
" Kenzo bakal jemput lo " ucap Kennan karena menyadari Keana mengikutinya
" buka pintu tempat ini, lo gak ada hak larang larang gue. jangan ikut campur di hidup gue karena bagi gue lo dan perempuan sialan tidak tau diri, jalang itu sudah mat- "
puk
Keana kaget karena Kennan meletakkan buah wortel dengan sedikit keras, pemuda itu melihat ke arah Keana dengan tatapan tajamnya membuat Keana tanpa sadar melangkah mundur. Kennan tanpa segan mencengkram dagu Keana.
" lo bisa mengatakan apapun tentang gue, tapi tidak dengan perempuan yang lo sebut jalang tadi " kata Kennan membuat gadis itu meneguk ludahnya " kalau tidak memikirkan perempuan itu.. gue bisa lebih nekat dari ini " Kennan melepaskan cengkaramannya.
" brengsek "
" di tubuh gue mengalir dari pria brengsek, pengecut yang hanya bisa melarikan diri " ucap Kennan " duduk "
Keana menatap marah ke arah Kennan tapi menurut juga, ini kawasan laki laki itu.
Kennan memasak dengan tenang sambil mengatur emosi yang tiba tiba muncul, sebelumnya dia tidak pernah semarah itu. Setelah memasak dia menghidangkannya dan mempersilahkan Keana makan.
Karena kelaparan Keana memakan masakan Kennan sambil memasang wajah permusuhan sedangkan Kennan kembali memasang wajah tenangnya.
" Jen- "
" jangan bicara dan jangan sebut nama itu "
Mereka sama sama menoleh begitu ada yang menggedor pintu, dengan cepat Kennan keluar
" Om Nan " seru Asla yang berdiri di ambang pintu dengan para bocah lainnya.
" apa lo buka penitipan anak? " Satrio menyeringai di belakang anak anak itu
"ok kenapa kalian ke sini? " tanya Kennan membiarkan anak anak itu masuk dan langsung menutup pintu saat Satrio akan masuk
" *** " umpat Satrio dari luar.
Kennan menghentikan langkahnya saat ujung bajunya di tarik dua bocah laki laki yang paling besar diantara anak anak itu.
" Tante Risa dan Om Lintang ke rumah sakit, makanya kami di suruh main kesini " beritau Ferran
" oh " Kennan mengangguk mengerti, jadi Asla sengaja di ungsikan ke apartemennya ya?
Keana yang masih ada di dapur menatap anak anak kecil itu yang berlarian ke dapur, sejak kapan Kennan suka anak anak?
" Kakak, siapa orang itu? " Keyra adik Kennan menunjuk Keana, Kennan menurunkan tangan Keyra
" tidak sopan menunjuk seperti itu, ompong " ucap Kennan, Keyra mendengus dia tidak suka di panggil ompong karena giginya sudah tumbuh. " kalian main sana, jangan rusak apapun "
" Om Kakak, tivi na nda ada? kan Aa' mau noton " Adipta bersuara dia sudah kesana kemari tapi tidak menemukan apa yang dia cari " noton lenjel, belubah... " anak itu berpose aneh menurut Kennan.
" kata na bunda nda boleh ki noton telus " cetuk Rania sambil berkecak pinggang menatap garang si bocah laki laki itu.
" kapan aku bisa tenang " gumam Kennan pasrah
*******
tbc