
Kennan duduk di bawah pohon depan apartemen seorang diri, karena Keana ada di rumah jadi dia susah menenangkan dirinya
Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan, besok adalah harinya dan haruskah dia kesana? Dia sudah memberitahu ibunya kalau dia akan membawa Keyra jalan jalan lagi, ibunya tidak perlu tahu kalau mereka akan ke tempat itu.
Kennan sudah gelisah sejak pulang tadi, dia bahkan kali ini benar benar hilang fokus kalau Keana tidak ada mungkin dia akan menimbulkan kebakaran.
"melamun lagi?" Hana duduk di samping Kennan sambil memakan ice cream lagi. Hana memiringkan kepalanya menatap Kennan yang bahkan tidak mengubrisnya, gadis itu menepuk bahunya membuatnya tersentak. "lo terlihat kayak orang gila lagi"
"mungkin besok akan lebih berat lagi" kata Kennan dia menatap langit malam mengambil ice cream Hana yang masih dalam plastik.
"PUNYA GUE!" serunya tidak terima dan menyembunyikan yang lain di belakang tubuhnya, Kennan mendengus sambil memasukkan ice cream yang sudah di buka ke dalam mulutnya.
Mereka diam sampai Ice cream di dalam plastik Hana habis. Hana memasukkan semua sampah bungkus ice cream ke plastik dan membuangnya ke tempat sampah yang tidak jauh dari mereka duduk. Setelahnya dia berdiri di depan Kennan menepuk bahunya
" gue tidak tau apa yang pengen lo lakukan besok, tapi tolong jangan berlebihan."
Kennan menatapnya "hm"
"lo bisa ngehubungin gue kalau lo sudah gila" kata Hana lagi dia kembali duduk di samping Kennan sambil menatap langit. "lo yakin mau ngehadapinnya secepat ini? Gue rasa mental lo belum siap"
"gue harus" jawab Kennan "berat, tapi gue harus" dia menutup wajahnya dengan tangan. Hana kembali berdiri di depannya mengusap kepala Kennan yang tertunduk
Kennan mendongak saat mendengar ada isak kecil, dia memandangi Hana yang mengusap air matanya
" jangan lihat gue" Hana berucap sambil terus terisak
Kennan menolehkan kepalanya sambil berusaha menahan tawanya yang tiba tiba ingin keluar.
"kenapa jadi lo yang nangis?" tanya Kennan saat Hana sudah berhenti, gadis itu menggeleng karena dia juga tidak tahu kenapa dia menangis.
Kennan tertawa begitu Hana menatapnya dengan mata sembab dan hidung merah. Karena kesal dia menendang kaki Kennan dan memukul lengan Kennan yang masih tertawa.
"baka!"
"gue pinter tuh dari lo" kata Kennan, Hana menghentakkan kakinya dan berjalan pergi.
Sepeninggal Hana tawa di wajahnya langsung hilang dia kembali muram. Dia lelah tapi tidak ingin terus berlari dan menurutnya masih ada yang tidak beres.
Mengingat bagaimana Mamanya dulu saat awal awal diusir pergi dan mengingat bagaimana dia menyembunyikan Kennan dari jangkauan orang orang membuatnya curiga, setelah dua tahun berdiam diri dia tahu kalau sebenarnya dia dan ibunya jadi incaran.
Dia sangat bersyukur mereka di bantu oleh orang tua Risa dan Reynand tanpa mereka Kennan tidak tau apa yang akan terjadi pada mereka.
Dan.... Membawa Keyra apa sudah benar? Bagaimana kalau dia malah membahayakan adiknya itu?
"tau ah" Kennan mengacak rambutnya dia bersandar dia sandaran sambil menatap ke arah langit yang bahkan bintang enggan menampakkan dirinya.
Dia baru kembali ke apartemennya setelah berjam jam duduk di sana, saat masuk dia mendapati Keana yang masih menonton tv
Ah.. Dia sudah membeli tv setelah sepulang dari jalan jalan siang tadi.
"darimana?"
"cari angin!" jawabnya dan berjalan ke kamarnya, Keana menatap punggung saudaranya sampai Kennan menghentikan langkahnya di depan kamar, di berbicara tanpa melihat Keana "besok kamu pergi sendiri"
"kamu tidak datang lagi? Ini sudah tahun ke-6 dan kamu tidak pernah datang." Keana berkata dengan suara sedih.
Kennan tanpa sadar menyentuh dadanya, Dia tau Keana sekarang bingung dan merasa sedih.
"terserahlah" Keana berkata kesal karena Kennan tidak merespon dan memilih masuk ke kamarnya.
Keana memeluk dirinya sendiri acara tv sudah tidak menarik perhatiannya lagi, keluarganya kenapa berantakan sekali?
******
Pagi pagi Keana keluar dari kamar dan mendapati Kennan sudah duduk di sofa tentunya dengan susu kotak strowberry di depannya, dia bahkan masih lengkap dan baju kokohnya.
Keana berfikir sejak kapan Kennan jadi rajin beribadah? Tapi mengingat siapa saudara tirinya kemarin Keana jadi tidak heran lagi.
Kennan melihat ke arah Keana dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya kembali masuk ke kamar.
Sambil memasukkan pakaian dalam koper Keana terus berfikir, apakah dia harus kembali?
Tapi tidak kembali di hari ini akan menimbulkan banyak masalah lagi dan dia sudah bosan dengan masalah masalah yang ada.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Keana menarik kopernya keluar dan Kennan masih ada di tempat yang sama.
"jangan terlalu dekat dengan perempuan itu" Kennan berkata saat Keana sudah ada di depan pintu.
"aku tahu" Dia menyeret kopernya keluar meninggalkan Kennan yang masih bersandar di sofa.
Keana menunduk sambil terus mengeret Kopernya, susah mendapatkan taksi kalau masih di area kompleks jadi harus keluar dulu terlebih ini masih pagi dan weekend.
Langkahnya terhenti saat sebuah motor berhenti di depannya, dia mendongak dan mendapati pemuda memakai helm fullface membuatnya tidak tau siapa yang berhenti.
Pemuda itu mengangkat kaca helm memperlihatkan wajahnya memperlihatkan matanya yang tajam dan sedikit kecil.
"Arvan!" pemuda itu mengangkat tangannya membentuk piece, dia menunjuk ke belekangnya menyuruh Keana naik ke motor. Gadis itu memutar bola mata jengah, cowok itu memakai motor besar dan sekarang dia membawa koper bagaimana dia bisa nebeng?
Arvan mengambil koper Keana dan menyimpannya di depannya dengan posisi di baringkan dia bisa menahannya dengan tubuh dan tangannya. Keana menerima helm mau tidak mau dia akan ikut cowok itu
"dari mana lo tau gue mau balik?" tanya Keana
"Jendra menelfonku. Pegangan"
Dengan ragu dia memegang ujung baju Arvan, cowok itu menoleh ke arahnya menarik tangan Keana supaya melingkar di pingganggnya
"lo mau jatuh? Kita sudah kenal lama jadi tidak usah sok gak enakan." Arvan berkata sambil memutar kunci motor menjalankan motor miliknya.
Arvan menghentikan motor di depan sebuah rumah yang cukup besar, dia memegang tangan Keana supaya tidak jatuh saat turun dari motor dia juga menurunkan koper Keana yang cukup berat.
Setelah membuka helm Keana mengembalikannya pada Arvan "terimah kasih"
"hn" Arvan bisa melihat wajah gugup Keana dia beralih menatap rumah itu, sudah lama dia tidak melihatnya. "apa orang orang itu masih sangat menyeramkan?"
"ya! Kecuali keluarga Kenzo." jawab Keana dia menatap rumah sebelum melirik Arvan. "mungkin aku akan pindah ke sekolahnya Kenzo dan Jendra. "
"kenapa?" dia berbalik menatap Keana, gadis itu tersenyum
"karena aku ingin berdamai dengan Jendra! Aku juga capek di buly" Keana melirih di kalimat terakhirnya "kamu harus pergi sebelum nenekku muncul"
Arvan menutup helmnya kembali memutar motornya, menatap Keana sekali lagi "aku pergi"
"hn, terimah kasih sudah mau mengantarku"
Arvan mengangguk mengusap kepala Keana kemudian melajukan motornya menjauh.
"Ajeng semangat!!!"
******
Tbc