KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
40



Kennan keluar dari kamarnya setelah berhasil menidurkan Keyra yang menangis, Kennan akui adik bungsunya itu sedikit manja karena selama hidupnya dia selalu dimanja oleh keluarganya. Tapi belakangan setelah dia bertemu Asla sifat manjanya berkurang karena dia ingin terlihat seperti seorang kakak di depan Asla dan anak anak yang umurnya berada di bawah umurnya.


Dia berjalan mendekati sofa yang dimana Keana duduk dengan mata lembab menatap ke arah monitor laptop Kennan. Kennan memperlihatkan apa yang dia ketahui tapi menghindar saat Keana melihatnya dia tidak sanggup


Kennan menutup laptopnya kemudian duduk di samping Keana yang duduk sambil memeluk lututnya sendiri.


"kenapa kamu menyimpannya sendiri?" Keana bertanya dengan suara sangat pelan, Kennan meliriknya memberinya tisue tapi gadis itu tidak mengambilnya "aku merasa seperti orang bodoh"


"maaf!" setelah sekian lama akhirnya Kennan mengucapkan kata itu "kamu selalu menolak saat aku akan memberitahumu."


Keana diam tapi makin terisak, dia ingat bagaimana Kennan selalu berusaha mengajaknya bicara kala itu tapi dengan sombongnya dia menolak dan mengatakan kalau dia benci pada Kennan sampai pada saat kelulusan dia benar benar tidak melihat Kennan lagi juga Arvan orang yang sangat dekat dengan Kennan saat itu juga pergi keluar negeri.


Kennan menatap dinding kosong tapi tangannya mengusap rambut Keana agar gadis itu tenang.


Dia berdiri setelah Keana cukup tenang, mengambil air di dapur dan memberinya ke Keana.


"sudah enakan?" Keana menganggukkan kepalanya. Kennan menghela nafas meletakkan gelas di meja dan kembali duduk menatap dinding


Sepertinya dia harus membeli tv.


"wanita itu... Tau soal ini?" tanya Keana


Wanit itu? Kennan menghela nafas mendengar kata itu tapi dia harus memberi ruang pada Keana untuk menerima kenyataan yang baru dia ketahui. Seperti Kennan yang belum sanggup menyebut pria itu Papa lagi maka itu berlaku pada Keana juga.


"hm"


Keana diam lagi, dia melirik kamar Kennan dimana ada Keyra yang terlelap di dalamnya. Tadi dia terkejut saat Keyra menangis karena Keana membentak Kennan.


"dia tidak apa apa, hanya saja selama ini dia tidak pernah mendengar orang bicara dengan nada tinggi. "jelas Kennan.


ya memang selama ini di keluarganya tidak ada yang bernada tinggi saat bicara, Ibunya sejak dulu di kenal lembut sedangkan ayah tirinya jarang bicara kalau bicarapun itu pelan sedangkan Reyand juga sama seperti almarhum ibunya yang bicara dengan nada lembut pada keluarganya.


Kennan memang beberapa kali bertemu dengan istri pertama ayah tirinya dan beliau memang lembut dan penyayang wajar kalau beliau sangat dicintai


Kennan menggelengkan kepalanya, dia mengambil laptopnya dia berkata pada keana yang masih termenung "tidur, sudah larut"


"tidak mengantuk!"


"terserah!" dia mengacak rambut Keana sebelum berjalan ke kamarnya.


Begitu masuk dia menghela nafas panjang melihat posisi tidur Keyra yang menguasai kasur, bahkan kakinya sudah masuk ke dalam bantal sedangkan wajanhnya yang ada di balik selimut.


Dia meletakkan laptopnya dulu, mendekati kasur berlahan memperbaiki posisi Keyra menarik selimutnya agar gadis kecil itu tidak kedinginan. Kennan mengambil bantal dan selimut lain meletakkannya di lantai karena dia akan tidur disana, satu kasur dengan Keyra membayangkannya saja sudah ngeri sendiri karena bisa bisa dia kena tendangan atau tamparan gratis Keyra yang silat dalam tidurnya.


"ahh.. Capek"


*****


Kennan membuka pintu rumahnya dan penampakan yang ada di depannya membuatnya tanpa sadar memutar bola mata jengah, Kenzo dan Arvan dengan bersamaan mengangkat tangannya menyapa.


"yo!"


"PAK PRESIDEEENNN!" Kennan membuka lebar pintunya membiarkan dua orang itu masuk sedangkan dia masih bersedekap dada di ambang pintu dengan pandangan mengarah ke gadis yang berjalan ke arahnya. "Ohayou"


Kennan hanya bergumam dia memperhatikan Hana yang sudah rapi, merasa di perhatikan gadis itu memutar tubuhnya kemudian berpose memperlihatkan gigi gingsul miliknya "gue sudah cantikkan?"


"tidak" jawab Kennan, Hana langsung menurunkan tangannya yang membentuk peace dan cemberut, Kennan benar benar tidak asik sekali.


Senyum Hana mengembang "terimah kasih!" ucapnya, dia melihat Kennan kemudian membuang muka


"kamu terlihat rapi, apa mau keluar?" tanya Arvan, Hana menggelengkan kepalanya


"kakakku baru membelikannya, jadi aku mau pamer" Hana menjawab sambil menyengir lebar, tak lama dia melambai dan berjalan ke depan pintu Sabrina mengetuknya untuk pamer lagi.


Kennan hanya menggelengkan kepalanya dia menutup pintu kembali dan berjalan masuk.


Dia melangkah mendekati Keyra yang tampak tidak nyaman dengan orang orang yang tidak di kenalnya terlebih kenzo selalu mencoba mengajaknya bicara padahal dia sedang bermain di ponsel Kennan.


Keyra langsung menyembunyikan dirinya di samping Kennan saat cowok itu duduk di sampingnya


"wah... Dia benar benar ada sekarang!" seru Arvan masih menatap Keyra, dia masih ingat bagaimana orang orang berkata kasar pada bayi dalam kandungan itu.


Arvan mencoba mengacak rambutnya tapi Kennan memukul tangannya, bukan apa apa dia tidak ingin usaha mengikat rambut Keyra dirusakkan begitu saja.


"jangan pegang"


"elah... Pelit amat lo" ucap Arvan tapi Kennan tidak peduli, itu adiknya jadi terserah dia.


Keana yang baru selesai mandi keluar dari kamarnya karena mendapati suara berisik dari luar kamar, langkahnya terhenti melihat Kenzo di sana.


"kenapa kesini?" tanyanya jutek


Kenzo tidak menjawab dia menunjuk buku buku yang diminta Kennan di atas meja. Semalam dia ditelfon dan dimintai untuk mengantar semua materi yang diberikan guru privat Keana pada Kennan


"Hai " sapa Arvan, Keana tertegun sebelum hanya menjawab dengan gumaman dan berbalik ke dapur mengambil minum untuk dirinya


"Ajeng, kamu mau tinggal di sini?" Kenzo bertanya dengan suara sedikit keras takut tidak di dengarkan


"iya"


"berapa lama?"


"tidak tau" Keana kembali muncul dengan gelas di tangannya, dia duduk di sisi lain Keyra


"siapa yang merekomendasikan guru privat mu?" Kennan menoleh ke Keana tangannya memegang kertas berisi beberapa nama guru yang menjadi guru privat Keana


Kenzo maupun Keana diam, mereka berdua tau meski Kennan tidak pernah mengatakan tapi Kennan akan sensi kalau nama itu di sebutkan. Kennan yang melihat mereka diam juga langsung mengerti, dia meletakkan kertas itu di meja menatap saudara kembarnya


"kalau kamu mau homeschool aku akan merekomendasikan guru yang pernah mengajariku, mereka hanya sedikit keras dan disiplin. Tapi kalau kamu mau kembali sekolah, saranku.. Pindah saja ke sekolahku." ucap Kennan, Kenzo mengangguk menyetujui karena dengan mereka satu sekolah Keana lebih muda di awasi oleh mereka.


"apa kalian tidak mau ngajak gue juga?" Arvan yang keberadaannya terlupakan bersuara juga


"tidak" Kennan dan Kenzo berseru bersamaan


"kalau lo pindah, yang jadi saingan kita siapa?" tanya Kenzo, Arvan memutar bola mata bosan kakinya menendang Kenzo


"woi.. Disini ada anak kecil, jangan kasih contoh buruk" seru Kenzo saat Arvan kembali mau menyerangnya. Mereka melihat Keyra yang memang melihat ke arah mereka dengan pandangan penasaran.


Mau tidak mau Arvan berhenti dan kembali duduk dengan gelisah, "keluar makan yuk ah, gue lapar. "


*******


Tbc