KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
31



Kennan menopang dagunya menatap lurus ke depan, sikunya bersandar di pembatas balkon. Kemarin dia langsung izin pulang setelah mengantar anak SHS pergi.


Pertemuannya dengan Arvan membuat perasaannya kembali ke hari itu, dia bahkan di kamar mandi hampir dua jam kalau saja Kenzo tidak menjemputnya mungkin dia akan berada di sana sampai entah kapan.


Langit sudah berubah jadi jingga sedangkan dia di sana sejak siang hari. Di balkon sebelah ada Satrio yang baru selesai mandi keluar untuk melihat sunset mengkerut karena Kennan sudah berada di sana selama berjam jam. Siapapun dekat dengan Kennan pasti merasakan kalau dia aneh, Satrio bisa melihat dari reaksi orang yang memukul Kennan kemarin. Sejak saat kemarin juga Kennan tidak banyak bicara meskipun memang dia pendiam tapi diamnya beda.


Kennan yang menghadiri kelas tadi lebih muram dan kehilangan fokus dia kebanyakan melamun, entah sadar atau tidak Satrio memperhatikan Kennan terus memainkan cutter menatap cutter dengan pandangan aneh.


Teman sekelasnya juga jadi waspada dan memilih memperhatikan Kennan diam diam, Kennan juga tidak pernah ditinggalkan sendiri karena mereka berfikir Kennan berperilaku janggal. Kennan akan duduk dibangku pojok melamun.


"kesambet baru tau rasa lo" Satrio melangkah ke arah Kennan, Kennan tidak menyaut dia hanya menatap lurus "WOI!"


Kennan tersentak dan menoleh karena kaget, Satrio menunjuk ke bawah dengan dagunya dan berkata dengan malas "mau lompat?"


"hah?" Kennan bertanya bingung


Satrio menghela nafas dia melihat Kennan yang matanya hilang fokus lagi, dia benar benar penasaran dengan kondisi Kennan


"lo kalau mau lompat, tunggu sampai gue masuk"


Kennan "gue tidak bakal lompat kok"


Satrio meliriknya dan melihat ke depan lagi "muka lo kayak mau lompat"


Kennan "..."


"ngomong ngomong, Hana baliknya kapan, lo tau?"  Kennan mengedikkan bahunya karena Hana tidak menghubunginya sejak kemarin "PR lo sudah? Gue contek!"


Kennan mendelik dia berjalan masuk meninggalkan Satrio yang tertawa keras, Satrio juga juara kelas jadi tidak mungkin meminta jawaban tugasnya kecuali dia malas berfikir


Di kelasnya tidak ada yang benar benar bodoh dalam pelajaran, Kennan sudah menguji mereka. Satu satunya hal yang menghambat mereka mengumpul tugas adalah kemalasan mereaka. Sekolah itu memiliki ujian masuk yang sulit serta seleksi penempatan kelas yang tidak dilakukan secara acak dan pak Juan sebagai wali kelas sangat menyeramkan.


Pak Juan memang dikenal dengan guru Killer karena dia bagian kesiswaan, tapi bukan itu yang membuat anak perwaliannya takut padanya, pak Juan suka menyiksa mereka dengan ulangan harian beliau memberi pertanyaan sesuai kelemahan setiap murid, dia tidak akan segan segan membuat soal sendiri dan menyiksa mereka.


Kennan, Satrio dan Alisa adalah bulan bulanannya, pak Juan suka membuat ujian jauh lebih banyan ketimbang yang lain karena mereka adalah unggulan kelas.


Kennan melangkah ke kamar mengambil laptopnya membawanya ke ruang tengah dia duduk di sofa menonton film komedi, Kennan terus menatapi layar tanpa ekspresi padahal yang dia tonton sangat lucu.


Kennan memeluk lututnya sendiri, di samping laptop banyak camilan yang terbuka, minuman ringan dan sofa juga ada bahkan ada nasi beserta lauk yang dia siapkan tapi tidak ada yang tersentuh.


Ponsel yang sedari tadi berdering dia abaikan bahkan menutupinya dengan bantal sofa, membuang kulit kacang dilantai.


*****


Kennan membuka matanya saat merasakan dingin sudah menusuk hingga ke tulang, dia berbaring di sofa karena kembali ke kamar juga tidak akan membuatnya tidur.


Sudah sejak kemarin dia tidak tidur bahkan saat dia meminum obatnya, Kennan bangkit dari baringannya dan berlari ke arah kamar mandi memuntahkan isi perutnya saat pandangan yang dia lihat saat itu terlintas di kepalanya


Setelah memuntahkan isi perutnya dia bersandar begitu saja karena nafasnya kembali tidak teratur, tubuhnya juga sedikit gemetar


Hoekh


Kennan membalikkan badannya dan muntah kembali di kloset.


Dia memukul dadanya yang sesak ditambah dia merasakan kesedihan yang sudah tidak asing lagi baginya. Perasaan sedih Keana.


Kennan kembali keluar ke sofa menahan sesak di dadanya dan desakan yang ingin keluar dari matanya


"hahh.... Harusnya temui dia" Kennan bergumam dia menyandarkan tubuhnya di sofa menutup matanya dengan lengan.


Tangannya terulur mengambil ponselnya mencari kontak yang bisa dia hubungi.


"Halo Mas" suara lembut terdengar dari seberang, Kennan terdiam "Kakak?"


"Ma" lirih Kennan tanpa sadar air matanya jatuh


"sayang, kamu tidak apa apakan? Ada yang sakit? Mama kesana ya?"


"tidak apa apa" Suara Kennan kembali tenang "Keyra bagaimana?"


"kamu yakin tidak apa?" Kennan hanya bergumam "adek kamu baik baik saja, besok kembali sekolah"


"Ma"


"hm?"


"Aku ketemu Ajeng, dia baik baik saja" Selama ini Kennan selalu menyembunyikan kalau dia bertemu Keana, Kinara menghela nafas lega "Mama tidak perlu ke sekolahnya lagi"


"ba-bagaimana kamu tau?" Kinara bertanya panik, Kennan terkekeh pelan "Nak?"


"dia tidak ke sekolah lagi, orang tua itu memberinya homeschooling" beritau Kennan, terdengar senyap dari seberang. "aku akan bawa dia pulang "


"jangan memaksakan diri, Mama tidak mau kamu kenapa kenapa." Kennan menunduk mendengar perkataan ibunya.


Dia tau sikapnya yang mendiami orang tuanya lima tahun sangat kekanakan, padahal ibunya sangat mengkhawatirkan dirinya. Selama bertahun tahun wanita itu pasti menyalahkan dirinya sendiri padahal dia tidak sama sekali, ibunya adalah korban.


"iya" dia melirih "Ma!"


"hm?"


"Mama masih punya kunci rumah itu?" Kennan berbaring menatap langit langit kamarnya, dia menutup wajahnya dengan lengannya yang lain


"nak?"


"aku meninggalkan sesuatu disana, aku akan mengambilnya." Kennan berkata cepat karena mendengar nada cemas ibunya "hanya sebentar"


"baiklah, kamu besok datang mengambilnya sendiri."


"iya!"


Setelah menutup telfon, Kennan langsung bangkit mengambil susu kotak dikulkas dan berjalan ke balkon menatap lurus ke depan. Dia melihat ponselnya yang tidak ada notifikasi dia menyimpannya kembali ke saku.


Kennan menundukkan kepalanya sambil menghela nafas panjang "Haaaaaaahh"


Semoga dia baik baik saja.


Kennan yang lagi lagi tidak tidur semalaman bergegas ke arah pintu yang di ketuk.


Dia melirik jam di hpnya, masih jam 05.56 siapa yang bertamu pagi pagi sekali.


Begitu dia membuka pintu cengiran serta papperbag langsung menjadi pemandangan pertama yang menyambutnya.


"Ohayou!" sapa Hana


Kennan diam menatap gadis yang tidak tau waktu untuk bertamu, tapi dia membiarkan malah memperhatikan sampai gadis itu menyelonong ke dalam


Hana meletakkan paperbag diatas meja "gue tidak tau lo suka apa, jadi gue bawakan miniatur, tidak ap-"


Kalimat Hana terhenti merasakan pelukan tiba tiba dari belakang. Kennan menundukkan kepalanya menyandarkan keningnya di belakang Hana yang tingginya tidak seberapa itu.


Hana yang semenjak kemarin menahan air mata akhirnya tidak bisa menahan lagi dan mulai menangis.


Dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain tapi kenapa setiap kali bersama Kennan dia pasti akan menangis saat sesak di dadanya tidak bisa di tahan lagi.


"kamu sudah bertahan, kamu pasti baik baik saja" lirih Kennan, Hana menganggukkan kepalanya


******


Tbc