KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
25



Langit malam semakin gelap, jarum panjang jam juga terus berjalan ke arah angka dua tapi Kennnan sama sekali tidak mengantuk, dan masih menatap lurus keluar jendela ruang inap Keyra.


Semalam dia memaksa untuk menginap juga Keyra menangis melarangnya untuk pulang.


Ruangan Keyra adalah VIP dan ada ranjang kosong disana, jadi Mamanya yang menempatinya sedangkan Ayah tirinya di berbaring di lantai di atas karpet yang dibawa Risa. Reynand tidak bisa ikut menjaga karena urusan pekerjaan yang mendesak, Risa dan Lintang juga harus pulang karena anak mereka menunggu di rumah. Karena trauma Asla jadi saat hendak ke rumah sakit dia dititip di rumah nenek dari pihak Lintang.


Kennan melirik botol obat yang diberikan Fa'i saat berkunjung tadi, dia sama sekali belum meminumnya.


Kennan berdiri meninggalkan sofa, menarik kursi disamping brankar Keyra, dia meraih tangan mungil yang tidak dipasang infus, menggenggamnya erat membawanya ke keningnya.


Keyra adalah pegangannya, meyakinkan dirinya kalau dia memilih pilihan tepat kalau dia tidak salah bersama ibunya. Bukti kalau apa yang dituduhkan pada Ibunya adalah fitnah.


" setelah aku dan kamu lebih baik, ayo temui dia, dan tampar wajah mereka " mengusap wajah lelap Keyra, wajah yang bisa membuktikan identitas dirinya " tidak ada yang akan menyakitimu selama kakak disini "


Yang Kennan tidak tahu ada dua pasang telinga yang jelas mendengar ucapannya, wanita paruh baya yang berbaring di ranjang sebelah Keyra yang memunggungi Kennan itu menahan tangisnya. Dia tau putra sulungnya selalu menanggung semua pikirannya sendiri dan tidak mau membagikannya, membuatnya tertekan dan depresi. Dia sama sekali tidak berniat membiarkan anaknya terbebani dengan masalah dirinya di masalalu tapi Kennan sudah terlanjur tumbuh dengan itu.


Kennan mengambil ponselnya yang berdering di atas meja, dia menekan tombol terima dan berjalan keluar kamar Keyra


" halo "


" Kennan! " suara lembut masuk ketelinga Kennan " hehe.. Lo belum tidur ya? "


" hn " dia duduk di kursi tunggu menyandarkan kepalanya di tembok " kenapa "


" bukan apa apa cuma memastikan kalau lo tidur apa belum " terdengar kekehan Hana, gadis itu menghela nafas " dan ternyata belum "


" lo nelfon mengganggu tidur " Kennan bisa mendengar suara decihan Hana dari seberang, Kennan menatap langit langit koridor, masih ada beberapa suster lalu lalang sesekali.


" suara lo gak enak, gila lo gak kumatkan? " giliran Kennan yang berdecih mendengar pertanyaan Hana yang menyebalkan, dia mengangguk ke arah dokter yang lewat dan kembali berkata


" lo sendiri sudah bercermin? Kayaknya mata lo sembab karena menggila sendirian "


Suara tawa Hana langsung terdengar, Kennan menarik sudut bibirnya ke atas. Dia menghela nafas panjang


" berat ya? " tanya Kennan pada Hana saat mendengar suara isak Hana, gadis di seberang hanya bergumam " lo tidak gila sendiri hari ini "


" berarti hiks.. Hari lo berat juga ya? "


" hn "


Mereka sama sama diam, tidak berniat bicara tapi tidak berniat mematikan sambungan telfon juga. Mereka melewati hari yang berat, Kennan dengan emosional yang menyatu hari ini sedangkan Hana dengan perasaan bersalahnya pada orang orang yang ditemuinya.


" Kennan "


" hm? "


Hana memanggil namanya jadi tidak ada candaan. Kennan meluruskan kaki yang sempat ditekuknya, mencoba rileks sedikit


" dia dibully karena berteman sama gue " suara isak terdengar jelas dari sana " kalau saja gue ngebiarin dia dan tidak memperdulikannya dia gak bakal bunuh dirikan? Kalau gue acuh tak acuh dia akan hidupkan? Mereka bilang, mereka bilang..hikss.. Itu karena gue berteman sama dia "


Suara Hana sangat tertekan, dan Kennan hanya diam mendengar suara Hana yang terus menangis dari seberang. Matanya juga hanya menatap lurus ke arah tembok depannya


" dia selalu sendirian makanya gue deketin, kami tetangga... Tapi..hiks.. Gue salah ya Nan? "


" tidak " Kennan menjawabnya " lo sudah benar. Setidaknya lo berjasa mengurangi kesepiannya. "


" tap.. Tapi " ucapannya terputus putus karena isak tangisnya " karena gue.. Dia- "


" bukan " Kennan berkata tegas.


Mereka mengakhiri panggilan sejam kemudian, Kennan kembali masuk.


" dari mana kak? " Kinara yang sudah bangun mendekati Kennan yang seperti biasa, diam. Kinara menyentuh pipi putranya " kamu semalaman tidak tidur, Mas? "


Kennan tertegun, dia menatap wajah Ibunya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar sebutan itu. Saat masih kecil orang tuanya memanggilnya Mas sedangkan Keana Mbak atau adek. Tapi semenjak dia memilih bungkam pada ibunya, ibunya berlahan memanggilnya dengan nama mengganti sebutannya menjadi Kakak saat Keyra lahir.


Kennan menunduk, kepalanya seakan ingin pecah saat beberapa kenangan melintas di kepalanya. Dia pernah meminta Fa'i untuk melakukan hipnoteraphy agar dia bisa melupakan semuanya tapi Fa'i menolak dengan beberapa alasan medis.


" Mas sholat subuh dulu, setelahnya tidur. Biar Mama yang izin sama wali kelasnya, Mas. "


" kemarin aku sudah izin. Jadi aku akan ke sekolah " Kennan melepas tangan ibunya, dia melangkah mendekati Keyra menatap wajah adiknya itu sebentar, dia menunduk mencium kening Keyra dan berjalan hendak keluar.


" kamu belum tidur, nak "


Kennan meraih gagang pintu memutarnya dan membuka pintu, dia hanya menoleh sebentar berkata


" ini bukan pertama kalinya. "


***


Baru saja akan memasuki pintu kelas, Kennan sudah dihadang sama Radi, di belakangnya ada beberapa temannya dengan muka cengengesan


" Apa ini? " tanyanya melihat tangan Radi yang menengadah ke arahnya


" ck, masa gak paham sih Pak " Kennan mengangkat sebelah alisnya


" PJ PJ PJ " seru Sean dari belakang di angguki yang lain. Kennan menatap tangan Radi dan dengan tidak berperasaan memukul tangan cowok itu keras


" akhh... Gitu amat sih pak! "


Dia hanya menerobos masuk, semalaman dia tidak tidur jadi memutuskan untuk ke sekolah pagi pagi siapa yang tau dia akan dipalakain anak kelasnya.


" Pak Pres... " Juwita berlari ke arahnya, wajahnya sangat cerah. Dia menarik kursi depan Kennan dan menunjukkan buku paketnya " gue nyontek PR dong. "


Dia menatap Juwita sebentar dan mengeluarkan bukunya, Juwita selalu meminjamkan catatan padanya jadi dia tidak akan keberatan membagikan tugasnya.


Udara pagi benar benar menyejukkan membuatnya mengantuk, suara berisik teman sekelasnya juga membuatnya sedikit rileks. Dia menenggelamkan wajahnya dilipatan tangan yang memang letakkan di atas meja, karena bel masih lama jadi tidur lima menit bukan masalah.


" Pak Pre- "


" sstt.. " Juwita memberi isyarat pada Putra untuk tidak berisik


" lah tidur dia, padahal baru mau pinjam PR " Putra menggaruk kepalanya " lo nyontek Wi? "


Gadis itu menyengir sambil memainkan keningnya sombong


" njirrr nih anak "


Dia baru akan menggeser Juwita, gadis itu memberinya isyarat agar tidak banyak gaya


" lagian tidak biasanya dia tidur di kelas, masih pagi pula "


" semalam dia di rumah sakit " Satrio yang baru datang menyaut, dia tau saat semalam bertemu Reynand yang datang ke apartemen Kennan mengambil barang Kennan. Dia meletakkan tas di meja yang kursinya di duduki Juwita, dia kemudian berjalan ke arah Sean yang sudah membuka lapak dagangannnya dikelas untuk membeli sarapan.


*****


Tbc