
Pada akhirnya Arvan menemani Kennan ke rumah lamanya, Kennan kembali terdiam saat tiba di depan gerbang perasaan de javu menghampirinya.
Dia sudah menjelaskan pada Ibu Arvan kalau ini kali pertama dia kembali ke rumah itu, Kennan juga sangat berterimah kasih dalam hatinya karena tidak berbicara tentang kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu.
Kennan menghela nafas dan memberanikan diri membuka gerbang, keningnya mengkerut karena tidak terkunci, apa ada yang datang?
Saat memasuki halaman rumah dia lumayan terkejut, dalam benaknya halaman itu bakal terbengkalai tapi yang dia lihat halaman sangat rapi dan bersih. Dia menatap sekeliling rumahnya bayangan saat dia masih kecil yang berlarian di halaman bersama Keana seolah dia bisa melihat
"Mas, mbak... Ayo masuk mandi dulu" Kennan menoleh ke arah pintu rumah bayangan ibunya yang berkecak pinggang sambil memegang handuk terngiang di pikirannya
"ah.. Mandi teruss... Nanti aja, Mas mau main iya kan dek?" Kennan beralih ke tempat dimana dulu ada bak pasir, dia melihat Kennan kecil yang cemberut sedangkan Keana kecil selalu mangguk mangguk
" iya"
"gak, papa sebentar lagi pulang, ayo mandi" dua bocah kembar beda kelamin itu dengan terpaksa meninggalkan mainannya "ambil mainannya"
Kreekk...
" Papa!!!"
Kennan langsung melihat ke gerbang, dua bocah itu berlari menghambur kepelukan seorang pria yang menyambut mereka dengan hangat
Kennan mengepalkan tangannya erat, nafasnya sudah sedikit tidak beraturan. Arvan hanya diam memperhatikan reaksi Kennan yang beberapa kali mengubah posisinya seolah melihat sesuatu. Melihat gelagat aneh Kennan dia dengan cepat menghampiri menepuk bahunya dan bertanya "lo gak papa?"
Kennan menggelengkan kepalanya tapi Arvan bisa melihat bulir keringat di pelipis Kennan mulai bermunculan.
Kennan menenangkan dirinya menarik nafas dalam dan melangkah masuk mengikuti langkah dirinya saat masih kecil. Kennan menepi saat ada tiga bocah laki laki yang berlarian di ruang tamu Kennan, Kenzo dan Arvan.
Kennan menutup matanya mengabaikan kenangan masa kecilnya, dia melangkah ke pintu kamar yang berwarna biru warna favoritnya dulu berlahan membukanya, tidak yang berubah, kasur kecil itu terlihat sangat rapi seolah ada yang menempati ruangan itu. Kennan duduk di kasur tatapannya tertuju ke pintu, dia melihat dirinya yang dulu berjongkok disana mengintip di lubang kecil membekap mulutnya sendiri.
Kennan mencengkram pakaian yang melapisi dadanya, kepalanya tiba tiba di penuhi adegan yang dia lihat dari celah pintu kecil itu, tanpa sadar dia menarik kakinya meringkuk menutup mata dan telinga rapat rapat.
"Jendra... Oi jendra" Arvan mendekatinya mencoba menyadarkan Kennan yang membuat pertahanan diri dengan meringkuk " Jendra!"
Kennan melepaskan tangannya saat sedikit lebih tenang, dengan gemetar dia keluar ke area ruang tengah melewati kamar yang tidak ingin dia lihat. Masuk ke kolong lemari televisi mencari apa yang sempat dia sembunyikan di sana berharap tidak ada yang menemukannya.
Setelah satu menit mencari akhirnya di temukan juga, Arvan mengkerutkan keningnya.
Kamera kecil?
Untuk apa menyimpan kamera pengawas kecil di sana? Dia melihat Kennan menatap kamera kecil itu dengan tatapan kosong menyimpannya ke dalam tas sekolahnya.
Saat masih kecil, Kennan suka hal hal mistis karenanya dia ingin melihatnya dengan menyimpan kamera pengawas di sana, dia menyimpan hasil rekamannya di komputer yang datanya sudah dia pindahkan ke penyimpanan data tapi sampai sekarang dia tidak berani membukanya lagi, hanya dia yang tahu apa hasil tangkapan kamera itu.
Kennan dan Arvan saling pandang begitu mendengar suara isak, rumah meski tetap rapi dan bersih tapi rumah itu sudah tidak berpenghuni selama enam tahun bukan tidak mungkin kan?
Kennan membuang muka saat melewati kamar orang tuanya dia belum yakin kalau dia akan baik baik saja kalau masuk kamar itu, mereka menuju ke halaman samping dimana ada taman kecil tempat ayunan dan perosotan milik Kennan dan Keana saat masih kecil.
Di atas ayunan gadis dengan rambut sepunggung tengah duduk di ayunan bahunya bergetar suara isak tertahan berasal darinya
Arvan menepuk pundak Kennan kemudian berbisik "bukan kunti, ada kakinya mijak di tanah"
Sejak kapan gadis itu disana? Apa dia yang membuka pintu gerbang? Kennan merasakan kesedihan yang mendalam yang berasal dari gadis itu.
Punggung itu mengingatkannya pada saat masih kecil, setiap kali kembarannya bersedih atau merajuk dia akan menangis diam diam di ayunan, sama sekali tidak berubah.
Kennan melangkah mendekati gadis itu berjongkok di depannya gadis itu belum menyadari keberadaannya sampai dia mencoba tenang dan
"ahhhh...." Keana menjerit kaget, Kennan menutup sebelah kupingnya dan menatap Keana sedikit kesal "ngapain kamu disini?"
Seperti biasa Kennan tidak menjawab dia hanya berdiri dan menatap kesamping sebentar sebelum menatap Keana yang sesenggukan, dia mengambil tisue dari tasnya dan memberikan pada Keana.
Keana menatapnya sebentar sebelum menarik tisue itu, menghapus air matanya dan mengeluarkan ingus, dia memberikannya pada Kennan lagi
"buang sendiri, dasar jorok" ketus Kennan
Keana mendengus dia mendongak dan mendapati wajah pucat Kennan tapi wajahnya terlihat tenang, melihat wajah Kennan lama lama membuat air matanya berlahan jatuh.
Menghela nafas Kennan meraih kepala Keana memeluknya, diantara semuanya mereka berdualah yang mendapat dampak buruknya. Tangis Keana makin keras membuat dada Kennan sesak
"jangan kotori seragamku!" meski berkata dengan ketus, tangan Kennan tetap mengelus rambut Keana yang sepertinya akan menangis lebih lama.
Arvan tidak berniat mendekati mereka berdua dia memilih menonton dari belakang, semenjak kejadian itu Kennan dan Keana hubunga mereka renggang terlebih Kennan memilih tinggal dengan mamanya.
Keana melepaskan tangannya dari pinggang Kennan menatap kembarannya itu dan berkata dengan nada sesenggukan "kasih tau aku apa yang kamu tahu, aku tidak mau bodoh sendirian"
"tidak sekarang"
"Jend-" ucapan Keana terhenti saat mendapati tatapan tidak berdaya Kennan "kapan?"
"sampai..." Kennan menatap kesamping lagi, dia tidak tahu mau berkata apa, tapi dia bertekad mau melepas semuanya. Dia menatap Keana yang berharap padanya, selama ini Kennan seolah meninggalkan Keana dengan pertanyaan tanpa kunci jawaban. "setelah kamu bertemu Keyra"
"Keyra?" tubuh Keana meneganng, dia tau siapa Keyra tapi apa dia siap?
Kennan menepuk kepala kembarannya "kasih tau aku kalau kamu sudah siap ketemu Key, Kenzo punya nomorku" dia meletakkan coklat di tangan Keana menepuk pundaknya, dia akan pulang dia sudah tidak tahan lagi tempat itu membuatnya tidak nyaman.
Dia berjalan lewat samping karena tidak mau masuk ke rumah itu lagi, tapi belum beberapa langkah dia menoleh ke Keana "Mama selalu khawatirin kamu. "
Setelahnya dia melanjutkan langkahnya berhenti di depan Arvan menepuk bahunya seolah meminta cowok itu menjaga Keana yang sekarang kembali menangis sendiri di ayunan.
Kennan tiba di apartemennya tidak lama, tangannya sudah gemetar kepalanya sudah pusing dan perasaan mual kembali muncul.
"Pak Pres?" Hana yang entah dari mana dengan kostum entah apa mendekati Kennan
Matanya membulat melihat wajah pucat Kennan dengan cepat dia mendekatinya menyentuh lengannya "Kennan!"
Kennan menatapnya sebentar sebelum menyandarkan keningnya di pundak Hana, badannya sudah lemas bahkan hanya sekedar membuka kunci apartemannya.
*****
Tbc