KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
18



Kennan dan Hana keluar dengan ekspresi yang berbeda, Hana dengan senyum lebarnya dan Kennan dengan wajah cemberutnya.


Hana sangat pandai memanfaatkannya, dia memborong banyak makanan ringan dan tentunya gratis karena Kennan yang membayar semuanya.


" hei pak Pres! Senyum senyum... " Hana menyengir, Kennan mendengus " mentraktir orang miskin itu pahalanya banyak loh.. "


Kennan hanya berdecih dan memimpin jalan, tangannya juga membawa tas yang berisi belanjaan Hana, karena gadis itu sibuk dengan ice creamnya.


" pak Pres, coklat itu buat siapa? " tanya Hana menunjuk kresek belanjaan Kennan


" Asla "


" hmm... " Hana mangguk mangguk dengan sendok kayu ice cream dimulutnya " enak pasti punya ponakan yang bisa di unyel unyel " gumam Hana, dia menghela nafas kesal karena kakaknya tidak terlihat akan menikah dalam waktu dekat ini


" lo bisa gemesin Momo " kata Kennan


" hm, Momo juga imut. " Hana tersenyum tapi tidak lama hilang " tapi gue harus rebutan dengan Hanin dan Sabrina. "


Kennan meliriknya dan memilih tidak mengubrisnya dan Hana tampaknya tidak peduli karena sibuk dengan Ice cream yang hampir mencair. Kennan menatap lurus ke depan, dia sadar kalau dia banyak bicara setiap berhadapan dengan Hana sejak gadis itu pertama kali muncul di depan pintunya dengan wajah frustasi yang tampak dia coba tutupi dengan cengiran anehnya.


" Pak Pres! " Kennan menoleh kebelakang, Hana memasang wajah cemberutnya " ice cream gue jatuh "


Kennan melihat ke arah Kaki Hana dimana ice cream itu tumpah, dia kembali menatap wajah Hana dengan mata berkaca kaca


Apa dia anak kecil?


Sekali lagi Kennan menghela nafas, membawa Hana keluar tidak jauh beda dengan Asla. Dia mendekat dan menyerahkan Ice Cream yang memang masih ada, sebenarnya untuknya tapi Kennan tidak terlalu suka Ice Cream.


" ck " Kennan berdecak meraih sapu tangan yang ada di saku belakang celananya, dia punya kebiasaan membawa sapu tangan karena keseringan membawa anak kecil, dulu Keyra dan Asla, sekarang sepertinya dia juga mengurus bayi besar.


Mungkin karena kebiasaan Kennan langsung mengelap sudut mulut Hana yang kena ice cream


" hehe... Daddy! " Kennan menghentikan tangannya, dia memperbaiki posisi berdirinya dan dengan tidak berperasaan menyentil kening Hana. " akhh... Sakit! "


Kennan menyerahkan sapu tangan itu " bersihkan "


Dia berbalik meninggalkan Hana yang masih mengusap keningnya yang memerah karena sentilan Kennan, benar benar tidak berperasaan!


Dia mengikuti Kennan sambil berusaha membuka plastik ice cream, cuaca panas benar benar membakar.


" Jendra! "


Puk


Hana mengusap keningnya begitu dia menabrak punggung Kennan yang tiba tiba berhenti, beruntungnya ice creamnya tidak jatuh.


" apaansih Pak, kalau berhenti ngom-" Hana berhenti bicara dia mendongak karena Kennan tidak bersuara, tatapan Hana mengarah ke depan dimana ada beberapa remaja berdiri di depan mereka


" wahh... Beneran Jendra! " seseorang dari mereka berseru mendekati mereka, dia menyeringai


" lo kenal mereka? " Hana bertanya, Kennan meliriknya


" tidak, pulang "


Kennan memegang plastik di satu tangan sedangkan tangan yang lain meraih tangan Hana.


" wih sombong banget lo, kita kan teman SD " pria jangkung menghalangi Kennan, matanya melihat Hana " cewek lo cantik juga. "


Dia mendekati Hana tapi Kennan menghalanginya, dia makin menekan Hana agar tetap dibelakangnya


Kennan sangat jelas mengingat orang orang di depannya, mereka adalah orang yang selalu mencari masalah dan pembully saat dia masih kecil. Kennan benar benar merasa sial bertemu mereka.


Hana mendongak menatap punggung Kennan, tangan Kennan gemetar sekarang.


Cowok itu menatap Kennan, perasaannya makin kesal saat melihat perubahan Kennan yang benar benar tidak main main, tubuh Kennan bertambah tinggi, kuli putih bulu mata, alis tebal dan terbentuk alami, hidung mancung serta mata sayu.


Dia menyeringai " oh ya, kabar nyokap lo bagaimana? Sudah berapa bokap lo? "


Kennan menatapnya dengan sangat tenang hanya Hana yang tau bagaimana gemetarnya dia


" lo mau jadi bokap gue juga? "


Cowok jangkung itu tertawa bersama teman temannya tapi berhenti tiba tiba, dia meraih leher baju Kennan


" tidak su-akhhh.. "


" Cewek sia.lan! " Dia menatap Hana marah, tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti itu


Kennan menatap Hana, dia entah kenapa tau apa yang membuat gadis itu marah. Tatapan Hana memancarkan emosi yang siap meledak Kennan mengenal emosi yang dipancarkan Hana


" jangan " Kennan menahan tangan Hana yang kembali ingin menyerang menariknya ke sampimgnya biar bagaimanapun Hana perempuan.


" Banci, lo sekarang ngandalin cewek buat ngelindungin lo? " Cowok ceking bersuara dia mendorong tubuh Kennan " Banci! "


" kalau iya kenapa? " Kennan menyisir rambutnya kebelakang dengan tangan membuat dua gadis yang ada disana menahan nafas, Kennan mempunyai visual yang bisa membuat satu sekolah mengidolakannya. Dia memang tidak bisa berkelahi tapi Kennan punya tatapan tajam yang bisa mengintimidasi. " minggir "


Kennan kembali meraih tangan Hana mendorong bahu pria didepannya. Suasana hatinya memburuk seketika.


" jangan mengganggunya " terdengar suara cowok jangkung yang bernada provokasi " kasian, bokapnya kan bunuh diri "


Kennan menghentikan langkahnya, dia menoleh dan menatap para pembully itu menyeringai.


" oh oh.. Dia marah " mereka tertawa " apa lo sudah cukup berdo'a buat bokap lo? "


Hana mengernyit, cengkraman Kennan makin kuat di tangannya tapi dia menahannya agar tidak meringis.


" hahaha... Liat matanya, uh taku- ukh " pria itu tiba tiba tersungkur ke tanah " Bang.sat, lo pikir siap- "


Omongan cowok itu terhenti melihat pria dewasa yang baru saja menendangnya, tatapan dari pupil Amber itu sangat tajam.


" Mas Lintang " gumam Kennan, cengkramannya ditangan Hana mengendur


" sepertinya kalian sangat menikmati mempermainkan perasaan orang " Lintang bergumam


Dia melihat Kennan yang hanya diam, Lintang kebetulan lewat dan melihat mereka tapi sepertinya Kennan tadi tidak menyadarinya.


" Nan, kamu kenal mereka? "


" tidak, karena mereka hanya kumpulan orang yang tidak pantas disimpan di memori " lirih Kennan " karena sampah "


Lintang menyeringai " Hana kamu baik baik saja "


" i.. Iya kak " jawab Hana dia bersembunyi di belakang Kennan.


Lintang bergerak kesamping saat ada yang hendak menyerangnya diam diam, Lintang meraih tangan ceking itu mencengkramnya dan mengancingnya dibelakang. punggungnya.


" kalian masih terlalu dini untuk jadi pembully " gumam Lintang " setidaknya kalian harus bisa memukul dengan benar "


Lintang memukul punggungnya dengan kertas yang kebetulan dia pegang " belajar dengan benar sana "  Lintang menghela nafas " kalian juga yang cewek, ngapain coba ikutan "


" ah bacot! " cowok yang sudah tersungkur bangkit tapi Lintang lebih dulu menghindar sambil menggulung kertas


Pluk


Kertas itu dikepala si cowok jangkung cukup keras sebelum mendorong punggungnya agar menjauh.


" ada apa ini? " Suara bass terdengar, Kennan dan Hana menelan air liur mereka


" oh, Juan! " seru Lintang " ngedisiplinin anak SMA "


Hana makin menyusut dia memegang baju bagian belakan Kennan


" kenapa pak Juan disini? " bisik Hana, Kennan mengedikkan bahunya, dia menegakkan punggungnya saat Juan menatap mereka.


" Siang Pak " sapa Kennan pada wali kelasnya itu, dia menyalaminya


" kenapa kamu absen tadi " Hana makin ciut dengan tatatapan intimidasi pak Juan.


" A.. anu, anu Pak. Saya ada urusan tadi " cicit Hana " mendesak "


" kenapa tidak izin? Izin kakak kamu baru berlaku besok "


" Ma.. Maaf Pak "


Juan melihat lima murid yang jelas bukan murid sekolahnya itu. Melihat seragam mereka yang belum diganti kemudian meraih ponselnya. Dia akan menghubungi sekolah mereka agar lebih memperhatikan murid murid mereka.


******


Tbc