
Mereka berkumpul di aula di mana cerdas cermat akan dilakukan, awalnya mereka akan melakukannya di SHS tapi pihak sana menolak dan memimta agar dilaksanakan di tunas bangsa saja, padahal mereka yang menantang sekolah mereka.
Selaku ketua osis Kenzo menyambut rombongan mereka dengan ramah memperlakukan mereka layaknya tamu. Yang tidak mereka sangka, rombongan SHS lumayan banyak yang datang tidak sesuai yang mereka informasikan.
" ah.. Mereka datang dengan sendirinya karena penasaran " Ketua osis mereka berucap dan dalam hati Kenzo hanya bisa mencibir.
Hanin mendekati Aryan dan Kennan yang mempersiapkan peralatan tempur mereka di belakangnya ada Afkar
" woi Pa, serius nih mau pakai gue sama Mama? Kita Anak IPS loh? " ucap Aryan
Afkar mengangguk dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan berkata " gue tidak tau kalau lo, tapi anak ini- " Afkar mendorong pelan kepala Hanin " diam diam mempelajari materi anak IPA semenjak penaikan kelas kemaren "
Kennan menatap Hanin sekilas dia juga melakukan hal yang sama beberapa tahun ini, semua mata pelajaran dia pelajari dengan serius.
Dia memasukkan peralatan tulisnya ke dalam kotak pensil setelah memastikan kalau benda benda itu layak.
Dengan langkah malas dia berjalan ke arah meja khusus kelompok mereka meletakkan semua yang di butuhkan, dia juga dengan acuh tak acuh memeriksa bel meja memastikan kalau berfungsi dengan baik
" apa ada masalah? " tanya Aryan, Kennan menggelengkan kepalanya dan duduk dengan tenang tanpa perlu repot repot memperhatikan sekitarnya.
Yang Kennan tidak tau diantara banyaknya orang di ruangan itu, ada sepasang mata yang benar benar serius menatap kearahnya memperhatikan perubahan dirinya.
" apa kalian serius menyuruh kami melawan anak kelas 11? Dimana Angga? " Kennan menatap ke arah orang yang mencibir ke arah mereka. " kalian merendahkan sekolah kami "
Kenzo mendengus samar dan berjalan kearahnya dia berkata dengan nada yang dibuat senormal mungkin " karena kami menghormati senior, karenanya kami mengajukan pihak terbaik kami "
Senior itu melirik ke arah mereka lagu, Kennan yang memasang wajah tidak peduli sedangkan Aryan dan Hanin entah berdebat apa tapi pada akhirnya Aryan mendapat pukulan di kepala oleh Hanin.
Setengah jam kemudian juri yang datang untuk menengahi kedua sekolah itu muncul, yang membuat mereka heran... Guru yang mengatakan tidak ingin ikut campur dalam masalah ini semuanya datang pun dari sekolah lawan.
" bukannya para guru bilang mau lepas tangan? " Kennan bertanya pada Kenzo yang sama bingungnya
Baru akan bersuara pintu kembali terbuka, Arsyad, Lintang, Andry dan Zacky masuk membuat Kenzo mendekati mereka menyambut kedatangan yang tidak di harapkan karena mereka berfikir kalau mereka berempat sudah pergi.
Para siswa hanya saling menatap bingung, mereka berfikir ini hanya acara biasa.
Kepala sekolah meminta microfon pada panitia, memberi beberapa patah kata, ucapan terimah kasih dan beberapa kata yang menurut Kennan omong kosong saja, bukan hanya Kennna tapi beberapa dari mereka juga berfikir yang sama.
" sumpah gak sih, pak Arsyad itu ganteng banget " ucap Hanin yang ada diantara Kennan dan Aryan " lo kenalkan Ken? "
" hn " Jawab Kennan dia memainkan kukunya di bawa meja " sudah menikah dia "
" gue cuman bilang ganteng " Hanin berucap sambil cemberut " lagian hati gue cuma buat suami gue "
" iye Ma.. Tau kok Ma.. " Aryan meledek ditimpali kekehan kecil Kennan. Hanin melototi Aryan karena kesal.
Kennan menghela nafas, meski sangat percaya diri tentang kemampuannya Kennan tetap gugup karena baru pertama kali ikut berpartisipasi.
Cerdas cermat sudah dimulai dari beberapa menit dan kelompok Kennan masih unggul, Hanin menyenggol Aryan
" fokus " ucap Aryan dia serius baru akan menghitung Kennan sudah menekan bel dan menjawab " Woi, Nan kasih gue kesempatan napa! "
Kennan menjawab pertanyaan itu lebih dulu sebelum menyeringai ke arah Aryan, Aryan memutar bola mata jengah dan bertekad kalau pertanyaannya harus dia yang menjawab.
" Dan Hanin malah mengambil untung tidak repot berfikir " Afkar mencibir.
Zain yang dari tadi diam [sesuati yang tidak biasa] mengernyit, dia menyenggol Alga dan bertanya " ini kenapa pertanyaanya tidak ada yang kita pelajari "
" karena ini materi kelas 12 " Angga menjawab, dia menghela nafas " tidak salah mereka menduduki tiga besar seantero sekolah "
" sebenarnya asal menguasai dasarnya mereka tidak akan kesulitan, terlebih materi kelas 12 hanya pengulangan materi kelas 10 dan 11 hanya ditambahkan sedikit ulasan saja " Niel menyaut. " kenapa tuh anak dua malah rebutan? "
Mereka kembali melihat ke depan dimana Kennan dan Aryan berebut menjawab pertanyaan padahal mereka setim.
Hanin memukul mereka berdua " kalian kenapa jadi berebut hah? Kita harus kerja sama. "
" Kennan yang mulai " Aryan berujar pelan, dia melihat podium lawan yang menatap tajam mereka, Afkar mengangkat alisnya provokatif.
Kennan menggigit ujung kukunya sebuah kebiasaan saat dia berfikir, Kennan sadar ada sebuah tatapan yang terus terarah padanya tapi saat ini dia benar benar fokus dengan apa yang ada di depannya.
Karena kurang gesit mereka sudah diungguli inilah kenapa Kennan tidak terlalu suka bekerja dalam tim, dia sangat tau kalau sifatnya arogan, ambisius dan egois tapi inilah dia Kennan tidak suka diungguli dalam hal pelajaran.
"Lo bakal kesulitan kalau tidak mau kerja sama" Hanin berujar pelan di sampingnya, dia mendongak menatap Kennan "Ada gue dan Aryan disini, lo juga harus belajar mempercayai orang lain."
"gue tau" Kennan bergumam, dia meraih kertas ditangan Aryan.
Entah apa yang panitia pikirkan sampai memberi materi yang bukan milik anak SMA, pertanyaannya begitu sulit, bukan hanya mereka tapi sekolah lawan juga kesulitan.
"Menurut gue ini pakai cara ini" Aryan menggaruk kepalanya sebentar dan menulis di kertas."
Kennan diam dan terus menatap pertanyaan dikertas itu, jawaban Aryan tidak salah tapi sepertinya masih harus di sederhanakan.
Di sederhanakan?
Kennan menyeringai dan membisikkan apa yang baru saja melintas di kepalanya, Hanin dan Aryan menepuk punggungnya bersamaan dan berkata keras "seperti yang diharapkan dari pemilik poin tertinggi sekolah kita"
Kennan menggelengkan kepalanya dan menekan bel dengan cepat dan menjawab. Mereka berseru pelan saat jawaban Kennan benar.
Di bangku penonton Lintang menyikut Arsyad yang duduk dengan santai menikmati cerdas cermat. Dia adalah orang yang mengganti soal untuk pertanyaan cerdas cermat, berkat bantuan Andry mereka menemukan kalau soal sebelumnya sudah di bocorkan ke sekolah lawan jadi tanpa pikir panjang, Arsyad sendiri yang menulis pertanyaan itu.
"Adek ipar gue lumayan juga" kekeh Lintang, Arsyad menatap Kennan yang tersenyum kecil sambil bertos dengan temannya.
"Dia jauh lebih pintar dibandingkan saat kita masih sekolah" Arsyad menjawab tidak melebih lebihkan "Gadis itu wanitanya Afkar kan?"
"hm!" Andry bergumam
"Dia lumayan cerdas, Afkar pandai cari pasangan."
Aryan dan Hanin baru berhenti menepuk punggung Kennan setelah mereka di tatap tajam oleh Kennan. Mereka berdua cengir sambil tangannya membentuk piece ke arah Kennan yang mengusap punggungnya.
****
Tbc