KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
51



Hana mengerjabkan matanya mencoba untuk bangun, bahunya mati rasa. Dia melirik ke samping dan Kennan masih tidur. Hana mencari hpnya untuk melihat jam matanya membulat kaget karena tidak menyangka akan tidur selama satu jam.


"sudah bangun?" Hana menoleh ke asal suara, Fa'i duduk di meja belajar Kennan mempelajari jurnal yang di tulis Kennan "jangan bangunkan dia" larang Fa'i begitu Hana ingin mengguncangkan bahu Kennan.


Hana bergerak ingin memindahkan kepala Kennan agar tidak membebani pundaknya tapi baru mengangkat tangannya Kennan lebih dulu menahannya membuat wajah Hana memerah karena dilihat jail oleh Fa'i


"oh sudah bangun?" Kinara yang masuk dengan nampan berisi camilan tersenyum kearah Hana "maaf ya merepotkan"


"eh? Eng..ngak kok tante" jawab Hana sambil tersenyum, wajahnya masih memerah malu terlebih Kennan tidak ada tanda tanda ingin bangung


"dia tidak tidur beberapa malam ini" lirih Kinara menatap wajah anak sulungnya ada kesedihan dari sorot matanya "terimah kasih sudah membantunya tidur"


Hana tidak mengatakan apa apa dan hanya menundukkan kepalanya, dia menggenggam tangannya sendiri menahan perasaan takut yang masih tersisa. Dia melirik Kennan yang masih bernafas dengan teratur tidak kaku seperti saat dia menemukan sahabat kecilnya.


Fa'i menatap reaksi Hana yang sedikit aneh, tatapan Hana selalu menatap Kennan dengan pandangan kekhawatiran tidak tepatnya ketakutan.


"apa kamu baik baik saja?" tanya Fa'i dia masih menatap Hana "kamu terlihat tidak baik"


Hana kelabakan "ti..ah.. Aku baik baik saja" matanya melirik Kennan lagi, dia kaget telapak tangannya yang gemetar digenggam dan suara Kennan terdengar


"gue belum mati" Kennan berlahan mengangkat kepalanya tatapan mereka bertemu, pandangan Hana masih tidak fokus "tidak ada yang mati"


Hana melepaskan tangannya menutupi wajahnya, bayangan Sahabatnya muncul "maaf" lirihnya


"gangguan panik" Fa'i berdiri dan berjalan kearah mereka berdua dan duduk di tepi kasur memandangi mereka "tarik nafas berlahan dulu"


Hana mengikuti intruksi setelah lebih tenang Fa'i menyerahkan air pada Hana untuk diminum


"apa kamu tidur dengan baik?" tanya Fa'i, Hana menggelengkan kepalanya "sudah ke dokter?"


Hana menggelengkan kepalanya lagi


"kenapa?"


"kakak saya bisa khawatir" cicit Hana, dia tidak berani dan tidak mau membebani kakaknya dengan traumanya, dia sudah cukup membuat kakaknya kewalahan sejak kedatangannya. "jangan kasih tau kakak saya"


"tapi sebelum ini kamu sudah di tangani kan?" Hana menganggukkan kepalanya, Farhan dan orang tuanya sudah membawanya ke psikiater dan memang ada perkembangan.


Kondisi Kennan yang tidak memberi kabar dan juga mungkin masih ada pengaruhnya saat dia kembali ke jepang membuatnya kembali kambuh.


"mental dan emosi bukanlah sesuatu yang mudah di tangani dan disembuhkan tapi bukan berarti tidak bisa" dia melihat Kennan "tergantung bagaimana kalian menanganinya, kami dokter hanya sekedar membantu sedikit dengan pengobatan rutin. Dalam hal ini... Kalian harus lebih bisa mengontrol emosi kalian, ingat kontrol bukan mengekang ataupun memendam karena mereka dua hal berbeda." jelas Fa'i.


Hana menggenggam roknya dengan tangan yang tidak dipegang Kennan, dia berlahan mengangkat kepalanya menatap Fa'i "dokter... Apa dokter tidak keberatan menerima satu pasien lagi?"


Fa'i mengangkat sebelah alisnya "kamu tidak menyangkal tentang penyakit mental? Biasanya orang tidak mau mengakui"


"saya selalu sadar. Tolong saya" Hana berdiri kemudian membungkuk ke arah Fa'i "tolong saya, kematian teman saya benar benar menyakitkan untuk saya"


Kinara yang tadi sempat keluar tapi tidak benar benar pergi karena dia berdiri di balik pintu bersama Arvan dan Keana, Kinara menutup mulutnya


"Arvan tahu?" tanya Kinara, Arvan menganggukkan kepalanya


"kami teman sekelas waktu SMP, Yama Mirai-san juga mengakhiri hidup karena dirundung. Aoki-san yang pertama melihat mayatnya" lirih Arvan


Dia ingat saat pergi melayat hari itu, Hana terlihat tidak hidup bahkan lebih berduka dari keluarga mendiang. Setelah itu Hana tidak masuk sekolah selama beberapa bulan dan saat masuk Hana tampak aneh dan gampang panik saat melihat perundungan, dia akan berteriak saat melihat orang disamping jendela.


Arvan berjongkok menggaruk kepalanya sambil menghela nafas, apa dia kurang beruntung dalam pertemanan? Kedua sahabatnya sama sama menderita dengan kasus yang sama. Sebenarnya kasus Mirai juga sedikit mengguncangnya karena dia dalam tahap penyembuhan waktu itu.


Hana ditarik duduk oleh Kennan dia menatap Fa'i menunggu jawaban dokter yang memiliki tampang playboy tapi masih melajang diumurnya yang sudah seharusnya menikah.


"tapi saya butuh wali pendamping" Hana menatap Kennan "keluarga bukan pacar" tegas Fa'i, dia menghela nafas dengan cara pikir anak muda jaman sekarang.


Pandangan Hana meredup karena dia benar benar tidak ingin merepotkan Farhan "orang tua saya di Jepang, kakak saya sibuk. Keluarga yang lain tidak ada"


"kamu... Orang jepang?" tanya Fa'i


"setengah jepang" Hana mengoreksi "Ka..Mama saya indonesia, asli sunda. Anak tunggal dari orang tua yang terlahir tunggal juga kakek nenek saya sudah lama meninggal, saya tidak punya wali yang bisa mendampingi." jawab Hana lengkap menjelaskan kondisinya


Fa'i bersandar dia kembali menghela nafas panjang, pasien seperti Hana lah yang susah ditangani karena ingin menyembunyikan kondisinya dari keluarganya


"Begini saja, besok kamu datang ke klinikku. Aku memeriksa kondisimu terlebih dulu." Dia menopang tangannya di samping "kalau ada kondisi serius dengan terpaksa saya akan menghubungi keluargamu, bagaimana?"


Hana terdiam, dia menggingit bibir bawahnya sambil terus berfikir, dia melirik Kennan yang menepuk bahunya


"Biar gue yang bicara sama kak Farhan" ucapnya, Kondisi Hana tidak kalah buruk dengannya dan memang harus mendapat penanganan yang tepat waktu. Pertemuannya dan Farhan sering terjadi dan kalau dia memberitahu keadaan Hana, Farhan bukan orang yang akan membiarkan adik perempuan satu satunya seperti itu.


Fa'i menatap interaksi dua remaja di depannya dengan ujung bibir yang sedikit terangkat, beberapa hari sebelumnya kondisi Kennan sangat buruk tapi melihat dia membujuk Hana membuatnya terlihat normal


Tapi Fa'i tidak heran lagi karena Kennan sangat pintar menyembunyikan apa yang dia rasakan.


"sebenarnya Kennan bisa menjadi walimu" Remaja yang tadi mengobrol seolah lupa keberadaan Fa'i yang masih di sana.


"bagaimana caranya?" Tanya Hana, Fa'i menyeringai penuh kejahilan


"Dia bisa menjadi Walimu... Tapi kalian harus menikah dulu." Ucapnya kemudian tertawa


Kennan dan Hana hanya diam, Mereka sama sekali tidak memiliki pemikiran sejauh itu terlebih masalah keluarga lamanya masih menghantui Kennan, pengalaman orang tuanya yang berpisah masih menyisakan luka yang samgat menganga lebar di hatinya.


Fa'i berdiri dan berjalan keluar dari kamar Kennan setelah memberi sedikit wejangan pada mereka berdua.


"Aku menunggumu di klinik!" Ucap Fa'i melambaikannya tanpa melihat ke arah mereka.


******


Tbc