
"hari ini main apa?" Kennan menyampirkan tas yang cukup besar untuk tubuhnya yang kecil di pundaknya. " ayo main ke rumahku" Arvan yang baru memasukkan bukunya secara acak mengangguk
"jemput Ajeng dulu!" Arvan menyengir begitu Kennan meliriknya "makanya punya pacar" ucap Arvan seenak udel
"masih kecil, aku laporin ke Vani nanti biar tau rasa" Kennan mendengus dan berjalan lebih dulu "kamu mau ke rumahku tidak?"
"maulah" Arvan dengan cepat menyusul Kennan, tapi mereka lebih dulu berjalan ke kelas Keana yang berada di kelas sebelah
"Ajeng... Di jemput Jendra!!" salah satu teman sekelas mereka memanggil "sama Arvan, cieee..."
"apa sih" Dari tempatnya Keana mendengus tapi dia memasang wajah malu malu kucing, dia berlari ke arah Kennan dan Arvan "hai!"
"ayo pulang" ajak Arvan, Keana memasang muka cemberut dan sedikit memelas, Kennan yang melihat itu memukul pelan kepala adiknya "woi.." Arvan memukul tangan Kennan
"ihh.. Sakit" keluh Keana dan Kennan meledeknya dengan mengikuti ucapan Keana "kalian duluan saja, aku mau pergi kerja kelompok"
"sama siapa?" Kennan bertanya "papa pulang hari ini"
"sama Tina, Liana ada Kenzo juga" beritau Keana dia memasang wajah cemberut "aku pulang cepat kok"
"yahh.." Arvan menghela nafas dia masih ingin bicara tapi tasnya sudah ditarik oleh Kennan yang berjalan meninggalkan Kelas Keana. "aku masih mau bicara sama pacarku"
"gak ada. Aku mau lapor Papa ntar kamu pacaran sama kembaranku" omel Kennan, Arvan mendengus dan berusaha lepas dari Kennan "masih kecil juga"
"memang kenapa? Semua orang pacaran kok, lihat saja di tv"
"tapi kita masih kecil, masih SD" kekeh Kennan dia memang tidak setuju dengan hubungan anak anak
"kalau suka gimana dong, jangan kuno"
"ya sudahlah." Kennan mengalah toh dia juga tidak mau Keana menangis karena merepotkan "mau main gundu nanti?"
"oke"
Mereka berdua berjalan pulang sambil bercerita ala anak anak, begitu sampai di rumah Kennan langsung ke kamarnya melempar tasnya sembarangan dan berjalan ke dapur mencari minum.
"Mama?" panggilnya saat dia mendengar suara berderak dari kamar, awalnya dia takut tapi tidak lama dia sangat antusias karena pada akhirnya dia akan bertemu dengan hantu.
"Jendra cepat" panggil Arvan, Kennan menempatkan telunjuknya di atas bibir menyiratkan agar Arvan tenang dia juga memberi isyarat untuk Arvan mendekat. "apa?"
"kayaknya bakal ada hantu di dalam" Kennan menunjuk kamar orang tuanya "ayo tangkap!"
"tidak, takuutt.." ucap Arvan, Kennan menatapnya sambil mengacungkan jempol ke arah bawah pada Arvan.
Mereka berdua mengendap endap masuk kamar orang tua Kennan, mereka menyusuri kamar itu tapi tidak ada yang mereka temukan
"tidak ada" ucap Arvan lega tapi berbanding terbalik dengan Kennan yang kecewa, merasakan ada yang janggal Kennan berjalan ke arah kamar mandi
"Papa?" serunya melihat sang Ayah tengah berdiri di depan bathub, pria itu menoleh padanya dengan tatapan yang rumit di pahami "papa ngapain? Kalau mau mandi pintu di kunci." beritahu Kennan yang hendak berjalan kembali keluar
"Jendra!" Kennan menghentikan langkahnya dia menoleh karena cara panggilan ayahnya kali ini beda, jauh lebih tegas tapi lembut.
"ya?"
"kamu tahu semuakan?" Jantung Kennan tiba tiba terpacu dia tidak mau membahas dan pura pura tidak mengerti apa apa. "tentang Papa sama tante Lili"
Kennan membuang mukanya, kenapa dibahas sekarang? Dia tidak mau mengerti urusan orang dewasa
"Jendra tidak tau" Dia menyengir tapi cengirannya menghilang saat Papanya masuk ke dalam bathub tanpa melepas pakaiannya padahal bathub terisi air "papa mau ngapain?"
"tidak ada, Jendra mendekat kesini" Kennan yang tidak mengerti hanya mendekat dan kaget saat wajahnya di elus sayang "Papa tau kamu anak yang pintar, kamu bisakan jaga Ajeng sama adek bayi di perut Mama?" Papanya juga melihat ke arah Arvan yang berdiam diri di pintu "Avan berteman terus ya sama Jendra dan Ajeng"
"Jendra" Kennan menggeleng terlebih namanya selalu di panggil tanpa embel embel Mas "Jendra dengarkan Papa"
"gak mau, papa aneh" seru Kennan dia hendak pergi tapi tetap di tahan oleh Ayahnya "Papa lepas!"
"Papa tidak tahu harus apa!" Kennan menatap Papanya yang mengerang frustasi "bahkan kamu pun tau semuanya"
"kalau begitu Papa berhenti ketemu sama tante jelek itu, Mamanya Mas jauh lebih cantik" seru Kennan pada akhirnya "stop pukul Mama juga, Mama tidak pernah selingkuh, PAPA YANG SELINGKUH" Kennan yang awalnya ingin menyembunyikannya akhirnya meledak "PAPA JANGAN SAMA TANTE JELEK LAGI!!! MAMA TIDAK PUNYA SELINGKUH"
"papa tau" Kennan tersentak, Papanya tahu? Lalu apa maksudnya selalu menyebut mamanya selingkuh saat memukulinya "Dedek bayi juga anak papa, papa tahu. Mama kamu bukan perempuan yang tidak setia" Pria itu mengusap air mata putra sulungnya "maafkan papa hm?"
Kennan menggelengkan kepalanya "tidak mau, Papa harus minta maaf sama Mama dulu" ya... Jauh dilubuk hati semenjak dia mengetahui hubungan ayahnya dengan sekretarisnya perasaan Kennan sangat kecewa terlebih saat ayahnya memukuli ibunya
"PAPA!" Kennan kaget saat air di bathub tiba tiba berubah jadi merah "PAPA!"
Kennan berusaha masuk ke dalam bathub berusaha melihat apa yang papanya lakukan, tapi pria itu mendorongnya agar menjauh
"PAPA... PAPA BERDARAH" Kennan kecil kembali berdiri mendekati papanya tapi pria itu menggeleng dan memperlihatkan cutter di tangannya "PAPA BERHENTII... " Dia kembali berjalan kearah papanya
Kennan langsung terduduk melihat pergelangan papanya yang sudah dipenuhi banyak cairan merah bukan hanya dia, Arvan yang di depan pintu juga sama.
Mata Kennan membulat saat tangan penuh darah menyentuh wajahnya, mengusap air mata yang keluar bercucuran dia bahkan tidak mampu mengeluarkan suaranya..
"selain kamu dan adik adikmu, Papa juga punya anak lain" Papanya bersuara lemas air bathub juga sudah tumpah bahkan membahasi pakaian Kennan "dengan begini, Papa bisa memberi mereka status dalam keluarga. Maafkan Papa"
Kennan yang syok tidak bisa apa apa dia bahkan tidak mampu menggerakkan jari tangannya bahkan saat tubuh pria dewasa di depannya terkulai dengan darah masih mengucur, Kennan melirik ke lantai dimana air berwarna merah bahkan menyentuhnya
"Argggghhhhhhhhhhh..."
Kennan langsung membuka matanya, wajahnya penuh air mata. Kali ini mimpinya benar benar terlihat sangat jelas.
"Kennan!" pintu kamarnya terbuka dimana keluarganya masuk.
Kennan tidak merespon malah air matanya makin mengalir deras, sesak tiba tiba menghantamnya membuatnya sulit bernafas
"hah..hah..hah... " Dia memutar posisi baringnya dan duduk mencoba mengatur nafasnya, tangannya juga gemetar.
"Jendra?" Kinara hendak memegangnya tapi di tepis kasar oleh Kennan dia melihat kearah mereka dengan tatapan rumit, dia masih berusaha mengatur nafasnya.
Keana mematung dibelakang melihat Kennan yang bersimbah keringat wajahnya juga penuh air mata.
"Jendr-"
"JENDRA JENDRA JENDRA.... JANGAN SEBUT NAMA ITU" teriak Kennan dia bahkan menutup telinganya " AKU TIDAK MAU DENGAR, JANGAN PANGGIL NAMA ITU"
Mereka semua terhenyak, ini kali pertama mereka melihat Kennan dengan emosi seperti itu. Selama ini Kennan hanya diam.
Kennan memukul dadanya yang tidak mau berhenti sesak, mengacak rambutnya agar bayangan itu hilang dari kepalanya
"ARGHHHH!!!"
Kinara langsung menarik pundak putranya memeluknya erat tidak peduli dengan perlawanan Kennan
"LEPAS...LEPAS.. AKU TIDAK MAU DENGAR!!!" Kennan mendorong ibunya dan menutup telinganya dengan tangan gemetar "aku tidak mau dengar" lirihnya sebelum dia benar benar menangis layaknya anak kecil
"lepaskan... Aku mau nafass.." Kennan berusaha melepaskan diri dari pelukan sang Ibu, mengacak rambutnya frustasi ingin menghilangkan perasaan yang mengganjalnya.
*******
Tbc