KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
59



Hana tersenyum mendatangi Kennan yang menunggu di pos yang tidak jauh dari rumah kakek Arumi.


Alasan mereka tidak keluar bersamaan, mereka malas jadi bahan ledekan teman teman mereka.


"oh ikemen(tampan)" seru Hana melihat penampilan Kennan, padahal Kennan hanya memakai baju sedikit oversize warna hitam juga jins hitam. Hana mengeluarkan gelang hitam dan memakaikannya di tangan Kennan "bagus"


"ayo" Kennan berjalan lebih dulu meninggalkan Hana yang cemberut.


"pacarnya di gandeng kek" misuh Hana, dia mengangguk ke arah warga yang menyapa


"kemana neng?"


"jalan jalan aja, mari bu" Hana tersenyum ramah sambil berjalan dan kaget begitu menabrak punggung Kennan "aduh, kenapa berhenti tiba tiba sih?"


Kennan diam dan hanya mengulurkan tangannya meraih tangan Hana dan menggandengnya, senyum Hana langsung mengembang bahkan matanya tak terlihat sangking lebarnya senyumnya.


Kennan melihat kearah lain sambil menggosok tengkuknya, dia juga sesekali mengangguk saat berpapasan dengan warga setempat kecuali gadis gadis yang sengaja ingin menggodanya


"susah banget punya cowok ganteng, banyak cewek yang ngelirik" Hana mendumel dengan mulut kecilnya, Kennan tidak menyaut "mau minum, panas"


"di depan warung" kata Kennan, Hana mendongak.


"memang jauh tempatnya?"


"tidak" jawab Kennan, mereka berbelok dan berhenti di sebuah kios kecil. "minum apa?" tanya Kennan membuka lemari pendingin yang dipenuhi beberapa mereka minuman


"yang penting seger"


Kennan mengambil beberapa botol minuman dingin dengan rasa jeruk "ini tidak masalah" Hana mengangguk " camilan"


"yang itu biar gue yang pilih" Hana berdiri di satu rak yang berisi snack mengambilnya beberapa


Hana menunggu Kennan di luar kios, cowok itu sedang membayar jajanan mereka.


"suit suit, cantik noleh dong, sombong banget" Hana yang di catcall merasa risih karena sejujurnya ini pertama kalinya terlebih saat di jepang, tidak ada yang seperti "ya ampun sombong banget sih"


Hana makin risih karena setelah berkata seperti itu mereka kembali tertawa, dia melangkah mundur saat ada yang menghampirinya


"boleh kenalan gak?" cowok itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya tapi kaget karena orang lain yang menyambutnya


"Kennan" ucap Kennan, dia melihat Hana yang memandangnya kaget, Kennan melepaskan tangannya


"sudah?" tanya Hana, Kennan hanya menganggukkan kepalanya.


Kennan merangkul pundak Hana mengangguk ke arah cowok cowok itu dan berjalan dari tempat itu.


"lo tidak apa?"


"orang indonesia begitu ya? Digituin mengganggu sekali" Kennan diam, memang sangat mengganggu saat seseorang di catcall.


"orang Indonesia" gumam Kennan merasa kurang nyaman, karena kelakuan tak sopan beberapa orang yang punya kebiasaan buruk seperti itu malah Negara yang dicap. Beberapa orang diluar sana masih tidak menyadari kalau kelakuan mereka kadang berdampak pada orang lain. "tidak semua"


"ah gom-Maaf gue tidak maksud bilang semua."


Kennan menepuk kepala Hana "gue tau"


Kennan berjalan sambil mendengar ocehan Hana sesekali dia akan menyaut. Tak lama mereka sampai di tempat yang dimaksud Kennan.


Mata Hana berbinar, pedesaan memang tempat terbaik untuk liburan selalin udara yang masih sangat fresh juga pemandangannya sangat indah. Kennan membawa Hana ke tempat dimana mereka bisa melihat desa, sawah sawah yang sebenarnya lebih mendominasi.


Hana duduk sesekali menghirup udara segar meski sudah siang, seandainya perkotaan seperti itu pasti akan lebih baik.


"suatu hari ayo kita pergi ke tempat seperti ini lagi" ucap Hana begitu Kennan duduk di sampingnya, pemuda itu hanya bergumam. " Nan!"


"manggil doang" Hana nyengir


Kennan menatapnya karena tahu Hana masih gelisah dengan dia yang ditelfon ayahnya untuk kembali ke Jepang.


"berapa hari lagi?"


"apanya?" Hana bertanya, Kennan menoleh ke arahnya sebelum kembali menatap pemandangan desa


"kamu di Indo!"


Hana menekuk lututnya "kakak sudah mengurus kepindahanku lagi, gue pindah begitu sekolah dimulai"


Kennan diam setelahnya mereka diam, Hana meluruskan kakinya dan menyandarkan kepalanya di lengan Kennan, dia benar benar galau


"padahal lo baru nerima gue jadi pacar lo" gumam Hana "lo gak bakal mutusin gue kan?"


"gue tidak janji" ucap Kennan yang langsung mendapat cubitan dari Hana "gue serius, kedepannya tidak ada yang tahu masalah apa yang akan kita hadapi"


"ya itu benar juga" ucap Hana "apa yang lo ngak bisa toleri?"


"orang ketiga" jawab Kennan tegas, dia punya pengalaman buruk. "gue benar benar tidak bisa tolerir soal itu"


Hana mengangguk angguk dia memahami maksud Kennan "kalau gue apa ya? Selama lo gak ada niat buat bunuh diri, gue tidak masalah." dia menunduk menarik narik rumput di depannya "lo gak bakal marah kan, kalau gue hubungin lo setiap hari?"


"mengganggu!" Hana mendongkan dan memukul pundak Kennan kesal "gue sudah memutuskan"


"apa?"


"gue mau jadi dokter psikolog" Kennan berucap menatap lurus ke arah langit yang sangat cerah, pakaian yang dia cuci sepertinya akan kering dengan baik "berdampingan dengan trauma sangat menyesakkan, gue pengen membantu orang orang yang kayak gue"


Hana menatapnya kemudian tersenyum saat Kennan melihat ke arahnya sambil menggukkan kepalanya, dia juga sangat paham penderitaan yang dimaksud Kennan.


"kyaaa..."Hana memeluk Kennan dari samping "pacar gue ganteng banget sih" serunya sedangkan Kennan hanya menatapnya malas.  " Pak Pres, Ayo kita cari camilan khas di tempat ini, gue mau kasih oleh oleh buat Momo"


Dia langsung berdiri tapI Kennan kembali menariknya duduk, matahari sangat terik sangat melelahkan kalau harus berjalan lagi, kenapa tempat mereka sejuk karena mereka berada diantara pepohonan yang bisa di bilang rindang.


Kennan menyandarkan kepalanya di pundak Hana dan melarang gadis itu bergerak "semalaman gue tidak tidur, jadi diam"


"kayaknya dibandingkan pacar, lo kayaknya lebih nganggap gue bantal" sungut Hana mendengar itu Kennan terkekeh pelan "salah gue juga sih bilang kalau gue bisa jadi sandaran buat lo tidur"


Hana bersandar di pohon membiarkan Kennan terlelap di pundaknya sambil bersedakap dada. Hana mengambil jaket Kennan yang dia simpan di sampingnya untuk menutupi wajah Kennan agar cahaya matahari tidak mengganggu tidurnya.


Sementara Kennan tertidur, Hana sibuk makan camilan dan menonoton anime di ponselnya. Angin sepoi sepoi membuatnya tanpa sadar ikut tertidur juga karena kantuk yang tidak bisa di tahan.


Hana membuka matanya dan pemandangan yang dia lihat adalah langit dan daun pohon, saat matanya melirik ke samping dia melihat Kennan yang sekarang memainkan ponsel.


Kennan mengalihkan pandangannya  saat merasakan pergerakan di pangkuannya, Hana berlahan bangun duduk dia mencari air mineral untuk diminum dan dipakai cuci muka.


"jam berapa?" tanya Hana


"tiga" Kennan menekuk kakinya yang pegal karena di jadikan bantal "mau pulang? Gue belum sholat ashar" Hana hanya mengangguk pelan


"jajan?"


"nanti saja" Kennan mengumpulkan bekas snack memasukkannya ke dalam kresek untuk dibawah pulang dan dibuang di tempat sampah yang sempat mereka lewati tadi.


Dia berdiri lebih dulu dan membantu Hana berdiri, gadis itu sebenarnya paling malas sesaat setelah bangun tidur. Kennna memperhatikan Hana sebentar sebelum tangannya bergerak ke atas kepala Hana untuk membantu gadis itu metapikan poninya.


******


Tbc