KENNAN RAJENDRA

KENNAN RAJENDRA
60



"HAH?"


"APA?"


Berbagai macam ekspresi yang dikeluarkan teman temannya saat Hana memberitahu kalau dia akan kembali pindah ke Jepang.


Kelas IPA 1 berkumpul di halaman belakang karena Kennan yang meminta sedangkan anak IPS entah berhamburan kemana.


"Na, lo serius mau pindah?" Juwita memegang tangan Hana, gadis setengah jepang itu mengangguk


"harus banget?" tanya Alisa


"hn. Ayahku yang mau gue balik ke sana" 


"lo kan langganan gue, kalo lo gak ada dagangan gue bagaimana?" tanya Sean dia menggaruk kepalanya, Hana hanya terkekeh


"Na, lo gak bakal lupa sama kita kan Na?" Irina dan Emi mendekat memeluk Hana jadinya para cewek saling berpelukan. Sean yang hendak mendekat di tarik Radi


"gak usah ambil kesempatan." omelnya, dia melirik Kennan yang bersandar di tembok bersampingan dan Satrio, mereka berdua hanya diam  yang ditebak Radi kalau mereka sudah tahu lebih dulu


"terimah kasih untuk satu tahunnya" ucap Hana dia mengerjab ngerjabkan matanya agar air mata yang dia tahan tidak jatuh "gue benar benar bersenang senang."


"kami juga" ucap Emi


Arumi yang dari tadi hanya diam, dialah yang pertama kali menjatuhkan air matanya. Dengan sesenggukan dia ikut bergabung dengan yang lainnya.


"jangan pergi... Kita masih ada satu tahun" ucapnya dengan nada sumbang


"gue juga maunya gitu" Hana akhirnya menangis juga "tapi Ayah gak ngizinin" 


"woi pak pres!" Fian mendongak menatap Kennan yang memang ada di belakangnya karena dia duduk di depan Kennan "terus lo gimana?"


"gue kenapa?"


"Hana mau balik ke Jepang, kalian gak niat putus git-au" Dia tersungkur ke depan karena Kennan mendorong punggungnya dengan lutut "canda Pak!"


"LDR, Pak?" Giliran Putra yang bertanya


"Mau gimana lagi?" Satrio yang menjawab "semoga langgeng saja"


"ciaaa... Yang kayaknya korban LDR" Satrio langsung mendelik ke Putra yang dengan cepat melesat agar tidak mendapat pukulan dari Satrio


"tidak semua hubungan LDR kandas tengah jalan" Fian berdiri sambil mengusap bekas rumput di lututnya "kakakku LDR Indonesia-Rusia selama enam tahun, sekarang sudah ada anak 2"


Fian menatap Kennan yang menghela nafas, dia menepuk pundak Kennan dan berkata "hanya saja putus nyambung mereka gak kehitung. Yakin gak mau putus dul-aduh...Pak Pres kenapa lo doyan sekali nendang kaki orang sih?" Fian mengusap kakinya yang baru saja kena tendangan Kennan


"dari pada kepala lo yang dia tendang" Satrio berkata, dia kembali bersandar sambil bersedekap dada


Radi berjalan ke arah mereka dia melihat Kennan "pantas saja, sejak dua hari lalu kalian tidak pernah jauhan." ledeknya


"untung gak pernah gandengan kek nenek nenek mau nyebrang di gang" Putra kembali datang dia langsung menggeser Fian agar menggantikannya duduk di tempatnya tadi " kira kira anak kelas bakal di acak gak sih?"


"gak, IPA IPS 1 masih sama soalnya kita semua tetap ada di rangking 50 besar. " Radi memberitahu "oh ya, Lily adek kelas yang bakal ONS itu... Dia single kan? Dika katanya mau nitip salam"


"pacarnya kak Angga kayaknya" Kennan hanya mengedikkan bahunya


"bukan Adek!" Satrio dan Fian bertanya barengan


"bukan!"


"Nih cowok cowok ngegosipin apa sih? Temanny Mau pindah malah...hiks.. Sibuk sendiri" Juwita berkata sambil sesenggukan.


"emang cowok, gak punya perasaan" Sean berucap sebelum membuang muka, Satrio melepas sendalnya untuk dilemparkan ke Sean


"bekantan ben.cong" Putra menimpali, Sean bukannya berhenti malah menjadi. Suasana yang tadinya sedih berubah heboh karena ulah Sean.


"ih.. Andalas andalas..."dia menunjuk Satrio dan Putra dengan tangan sengaja digemulaikan " bilang aja kalo andalas.. Iri sama eke.. Hm.. Alemong"


Alisa yang memang ada disampingnya langsung menggesernya "keterusan tau rasa lo"


"ya Allah amit amit" panik Sean, Hana yang memang merasa galau ikut tertawa.


Dia akan merindukan lawakan temannya yang receh.


"WOI IPA 1" Aryan berdiri diambang pintu "makan bakso, ditraktir sama Kakek!" serunya "buruan sebelum anak kelas gue embat semuanya"


Mereka saling pandang sebelum lomba berdiri dan berlari keluar, mereka benar benar teman yang bakal rela ninggalin teman demi makanan gratis.


*****


"sudah semua?" tanya Kennan pada teman temannya yang sudah kumpul di depan bis "tidak ada yang ketinggalan kan? IPS 1?"


"GAK ADA" jawab mereka serempak


Kennan menghampiri Afkar yang sedang pamit pada kakek nenek Arumi, Sebagai ketua kelas dari kelas masing masing Kennan dan Afkar mengucapkan banyak terimah kasih dan permintaan maaf karena ulah teman mereka yang tidak seharipun bisa tenang, ada saja ulah mereka.


"datang lagi ya" Kakek dan Nenek menepuk lengan dua remaja itu, Afkar dan Kennan mengangguk.


Afkar dan Kennan saling menganggukkan kepalanya, Afkar mengeluarkan amplop yang berisi uang hasil patungan mereka. Bukan karena tidak sopan tapi mereka ingin memberi sedikit ucapan terimah kasih mereka karena mengizinkan mereka tinggal dan belajar banyak hal


"jangan ditolak, Kek" Afkar menangkupkan tangan pria senja itu saat menolak amplop dari Afkar "maaf kalau kurang sopan, tapi kami benar benar berterimah kasih"


"ya ampun, Nak! Ini... Kalian masih sekolah dan membutuhkan banyak biaya" pria berusia senja itu masih berusaha menolak, giliran Kennan yang maju


"Kakek, tolong diterimah" ucap Kennan, dia menoleh ke arah teman temannya yang tentunya sudah rusuh memasukkan barang  barang ke bis "kami sangat bersyukur karena mau diterima dan diberi tempat menginap, kami juga belajar banyak hal yang mustahil kami dapat di gedung sekolah. Ini ucapan terimah kasih kami semua, tolong di terima kek, memang tidak seberapa tapi semoga bermanfaat"


Kakek menghela nafas dan menerimanya karena dari yang dia lihat, dua pemuda di depannya tidak akan berhenti membujuknya. Dia melirik amplop di tangannya yang lumayan tebal


Apanya yang sedikit? 


Kennan dan Afkar memanggil teman temannya untuk pamit kepada dua lansia dan beberapa warga yang berdatangan untuk mengantar mereka pulang.


"Indonesia benar benar negara yang ramah" Kennan melirik Satrio yang berucap lirih


"benar" Zain menimpali, dia kembali memasang senyum dan mengangguk ke arah para warga


"gak mau pulang" Hanin berucap dia menyembunyikan kepalanya di lengan Sabrina yang berdiri di sampingnya


Kennan menoleh ke arah Hana yang hanya diam menatap teman temannya yang sepertinya tidak mau pulang.


Tanpa disadari siapapun dia berjalan mendekati Hana berdiri di sampingnya dan bertanya "tidak mau pulang juga?"


Gadis itu mendongak sebelum mengangguk "pulang dari tempat ini berarti hue sudah harus berkemas untuk pulang ke Jepang juga"


Setelah sesi pamitan mereka kemudian naik ke bis untuk pulang, Putra mendekati Caka untuk menggantikannya menyetir dulu.


"eh njirr.. Lo bisa nyetir tapi kenapa pas mau kesini lo gak ada mau tukeran hah?" tanya Caka, Putra menyengir dan mengedikkan bahu


"biar bisa main lah"


******


Tbc