
Kakek Arumi terbahak melihat para remaja yang terkapar di aula, bahkan Afkar yang mempunyai tenaga yang lebih dari beberapa remaja lainnya juga terkapar bersama yang lainnya.
Hanin yang lewat di belakang kakek Arumi terkekeh pelan terlebih melihat si biang rusuh yang paling tepar
"hahaha... Pertama kalinya IPA IPS tenang" ucapnya
Ini hari pertama mereka membantu di sawah, awal pergi mereka sangat antusias tapi siapa yang menyangka pekerjaan di sawah sangat melelahkan.
Kakek melirik Baim satu satunya yang tidak tepar bahkan terkesan segar wajahnya bahkan terlihat lebih hidup dari sebelumnya.
Dia mengangkat sebelah alisnya dan bertanya "kamu terlihat baik baik saja?"
"saya sudah biasa, Kek. Abi saya punya sawah juga soalnya" jawab Baim.
Tapi melihat kulit putih Baim yang tidak jauh beda dari teman temannya orang orang tidak akan mudah percaya.
"kalian istirahat biar kakek siapkan makan malam"
"tidak usah Kek, terimah kasih." seru Alisa "masih ada kami yang bisa masak"
Alga yang ikut ke sawah berusaha duduk untuk pergi membantu mereka
"udah lo istirahat, gue bisa handle." Ciara menepuk pundaknya
Alga menatapnya dengan kening diangkat, kemarin Ciara mengeluh hanya bisa memotong sayur saja dan tidak mengerjakan hal yang lain
"dia bisa" ucap Hanin "dia hanya terkadang terlalu memanjakan dirinya"
"Maaa..." rengek Ciara tidak terima.
"akhhh... besok besok gue ngak bakal nyisahin nasi" seru Aryan sambil memegang pundaknya, dia kebanyakan memanggul karung yang berisi padi.
Kennan menghela nafas panjang, dia juga belum pernah kerja berat sebelumnya jadi tubuhnya serasa remuk semua, tapi dalam kondisi lelah dia berharap bisa tidur lelap nantinya.
"teman teman!" Arumi muncul dari luar "nih gue bawain minyak sama koyo" dia meletakkannya di atas meja.
"Rum, pijitin gue dong Rum!" Sean memegang punggungnya tapi gadis itu hanya mendengus dan berbalik dan bersiap merecok di dapur. "pulang nanti gue kasih Risol gratis deh, seminggu"
Langkah gadis itu terhenti dan menatap ke Sean yang memang terlihat paling nelangsa bersampingan dengan Zain yang sudah tertidur pulas bahkan suara dengkurannya cukup keras.
Kennan berdiri dan mengambil sebungkus koyo dan berjalan keluar di halaman belakang. Sebenarnya dia sudah tidak bertenaga bahkan untuk mengangkat tangannya tapi dia tetap berusaha menempelkan koyo di punggung setelah bajunya dia lepaskan.
"butuh bantuan?"
Kennan menoleh dan mendapati Hana berjalan ke arahnya, saat dia berdiri di samping Kennan dia mengulurkan tangannya meminta koyo.
"kenapa lo disini?" tanya Kennan, Hana membuka koyo dan mulai dia tempelkan di punggung Kennan
"di dapur sudah ramai sekali, selain yang masak yang lainnya di usir keluar" cemberut Hana, Kennan mengangguk paham "sudah, sekarang pakai baju lo. Badan kurus gak enak dilihatin"
Kennan hanya mencibir tapi langsung memakai bajunya juga.
"lo kalo ngantuk tidur saja kali" ucap Hana saat Kennan menguap "nanti pas mau makan dibangunin"
Kennan menundukkan kepalanya "gue gak bisa tidur"
"mau pundak gue gak?" Hana terkekeh saat Kennan meliriknya dengan tatapan aneh "apa mumpung gue baik hati."
"sebentar saja" Kennan berkata sebelum merebahkan kepalanya di bahu Hana.
Tidak lama Kennan benar benar tertidur Hana memainkan ponselnya sambil menjawab pesan kakaknya yang menanyakan keadaannya karena ini kali pertama Hana meninggalkan rumah cukup jauh tanpa Farhan.
"lah tidur dia" Hana mendongak menatap Satrio yang sudah berdiri di depan mereka.
Hana hanya memberi isyarat agar Satrio tidak berisik "dia tidur dari kemarin malam"
Satrio mengangkat sebelah alisnya dia menyadari itu, matanya melihat Kennan yang bernafas dengan teratur
"kenapa?" tanya Hana
"anak anak nanyain makanya gue nyariin dia. Biarkan dia tidur dulu"
Hana hanya mengangkat jempolnya ke arah Satrio
Hana yang tadinya melihat ke arah langit langsung menoleh karena merasakan kegelisahan orang di sampingnya
Kening Kennan mengkerut ada bulir keringat di pelipisnya.
Hana langsung menepuk nepuk tangan Kennan sambil membisikkan kalau dia ada di samping Kennan dan dia tidak perlu takut karena semuanya sudah berlalu. Tapi tak lama mata Kennan terbuka memperlihatkan bola matanya yang sangat hitam.
Dia mendongak dan pemandangan yang pertama dia lihat adalah wajah cemas Hana. Kennan langsung menegakkan duduknya mengatur nafas berlahan dan melihat ke arah Hana kembali dengan wajah yang sudah tenang.
Tangannya masih di tepuk tepuk Hana yang khawatir
"i am okey, don't worry" lirih Kennan dia menarik tangannya.
"woi... Berduaan mulu, awas yang ketiga setan" seru Baim dari Ambang pintu
Kennan dan Hana tidak mengatakan apa apa, mereka berdua hanya berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"dari mana sih pak, bu!" tanya Alisa yang kebetulan muncul dari dapur dengan tumpukan piring di tangannya, Hana langsung berjalan dan mengambil alih untuk di taruh di tempat mereka makan. "hati hati!"
"iya"
"lo dari mana sih? Kenapa ngak jawab? Pak lo gak macam macamin ibu pres kan?" Alisa menatap tajam ke arah Kennan.
"jangan ngaco!" cibir Kennan dia berbalik dan berjalan ke arah yang lainnya. Dia menyempilkan dirinya di antara Putra dan Sean yang tertidur juga, betis mereka sudah penuh dengan koyo.
"tau begini gue bakal milih destinasi ke bali" Radi berucap
"ogeb makanya" seru Sean dia memang memilih bali.
Kennan mengangkat kepalanya dia menendang Sean yang ada di sampingnya agar lebih geseran padahal dia yang tiba tiba menyempil tadi.
"ngak usah ngeluh. Dari sini lo harus belajar bersyukur. Setidaknya lo tinggal makan doangkan di rumah" ucap Alga dia sudah bergabung dengan tim masak di dapur.
"ya iya sih... Tapi kan.."
"ngak usah Bac*t..." Hanin muncul dengan dua piring lauk "kalian semua mending bangun. Fa, bangunin tuh anak sultan satu" Hanin menunjuk Zain dengan dagu.
Kennan juga bangun dia memukul betis fian yang sudah terlalu jauh dalam mimpinya.
"akhh"
"bangun!" kata Kennan sekali lagi menyambit betis Fian
"iya iya... Lu lebih nyebelin dari mbak mbak di rumah gue"
"kalian kalau gak mau makan, gue duluan ya!" kata Arumi yang sudah mengambil posisi bahkan piringnya sudah penuh makanan.
Mereka yang biasanya langsung bersemangat sekarang dengan sedikit malas bangun.
"ini seminggu di sini bisa habis tulang gue" keluh Zain
"sebenarnya saraf kalian cuman kaget" Baim berucap dengan jagung di tangannya "dua hari juga bakal biasa saja, nikmati saja kawan"
"cot lo" kesal Aryan.
Kennan mendekat paling akhir setelah menghitung jumlah sekelasnya, takut ada yang tertinggal di sawah karena tidak punya tenaga untuk berjalan pulang.
****
tbc