
Dari awal sebenarnya Jen sudah melihat papan nameboard mereka, level 5 (perampok)
“Ok lah Rin biarkan mereka merasakan tubuh mu terlebih dahulu”, Ucap Jen akhirnya dengan sedikit cuek.
"Baik Nona !"
Rin segera mendekati para parampok itu, dan dengan senyum menghanyutkan ia mulai beraksi.
“Lalu Anes kelompok yang disana, silahkan jadikan mainan mu dahulu.”
Jen menunjuk ke beberapa kelompok dari mereka.
"Siap nona !"
Anes walau seorang penyembuh tapi untuk bertarung saat ini ia setara dengan level 7, sedangkan kemampuan penyembuhnya setara dengan level 10.
Jen masih santai di bangku penonton dengan peta di tangannya, sedangkan Rin menyiksa mereka sedemikian rupa dengan mengambil alih pikiran mereka yang memang merupakan keahliannya.
Tampak para perampok itu kini ketakutan seperti orang gila. Ntah imajinasi mengerikan apa yang diberikan Rin pada mereka, hingga mereka sampai gemetar, ada yang pingsan, yang keringat dingin, yang celana nya tampak basah, yang teriak-teriak.
Jen memperhatikan dengan kagum para perampok yang ditangani Rin.
Begitupun dengan Anes membereskan kelompok perampok yang lainnya dengan cepat, dan malah jadi perampok itu yang di rampok oleh mereka bertiga.
Mereka berhasil mendapatkan satu Kereta kuda, 100 koin emas, dan 620 koin perak, juga beberapa bahan obat level rendah hingga sedang.
“Bagus sekali, kali ini kita untung besar?!, Ucap Jen senang.
“Rin, imajinasi seperti apa tadi kamu berikan pada mereka ?”, Tanya Jen heran.
Ia tak habis pikir hal apa yang membuat sekelompok pria kekar itu ketakutan seperti tadi.
“Yang pasti sejak saat ini, mereka akan trauma setiap melihat para gadis termasuk istri-istri mereka” Jawab Rin cuek.
Haha, pendekar hitam memang mengerikan kalau mengamuk, batin Jen.
Mereka melanjutkan perjalanan, dan tiba lah mereka di kota terluar negeri Lue. Kota ini tergolong sepi penduduk.
Mereka bertiga mengamati kondisi sekitar, ada beberapa toko penjual makanan, senjata dan pakaian, lalu tiba-tiba ada kereta kuda menerobos kearah mereka.
“MINGGIIRRR..!!”
Teriak sang kusir, ia mencoba menghentikan kereta kuda nya yang barlari terlalu kencang. Mereka bertiga langsung dengan sigap menyingkir, tetapi kuda nya terpeleset, dan..
GUBRRAAAK !!
Kereta kuda tersebut terbalik.
Dari dalam kereta keluar seorang gadis cantik, tampak nya putri dari keluarga bangsawan, dengan nada kesal ia teriak dan memaki.
Dilihatnya mereka bertiga dan menunjuk mereka sambil memaki.
“KALIAN BERTIGA BERANI SEKALI MENGHALANGI JALAN SAYA DAN MERUSAK KERETA KUDA SAYA, KALIAN PANTAS MATI!, TANGKAP MEREKA PENGAWAL!!” Perintah gadis itu.
Penduduk yang menyaksikan peristiwa itu, saling berbisik, "kasian sekali, mereka akan mati di tangan putri itu".
Di kota ini ia emang dikenal dengan gadis sombong yang kejam, bahkan nenek tua atau kakek tua pun tak sungkan di maki dan ditendang olehnya.
Anes dan Rin segera bertarung melawan para pengawal itu, dan dalam sekejap 5 pengawal tumbang.
“Nona, wajah mu memang cantiik, tapi kelakuan mu buruk sekali, sudah jelas-jelas kalian yang salah, tetapi malah menyalahkan kami !”
Dalam sekejap Jen sudah ada di belakangnya, dan membisikannya ke telinga gadis sombong itu dengan nada mengancam.
“Kamu.. berani sekali, saya tidak akan melepaskan kalian, ingat itu..!!” Balas gadis itu.
Tampak ia pergi meninggalkan mereka dengan wajah merah menahan amarah.
Melihat kepergian gadis itu, seorang pemuda mendekati mereka.
“Kalian berhati-hati lah dengan gadis itu, dia anak walikota, dan sangat di manja, dia akan mengadu dan kakak kedua nya akan datang menghabisi kalian, sebaiknya kalian pergi dari kota ini saja” Jelas pemuda itu.
“Terimakasih paman, kami baik-baik saja, kami akan segera pergi setelah membeli beberapa kebutuhan kami ”, Balas Jen sopan.
Merekapun menyelusuri jalanan kota itu, dan mampir kebeberapa kedai, Jen tertarik dengan satu kedai penjual hewan peliharaan.
"Itu toko penjual hewan, kita lihat yok, mungkin ada yang cocok untuk kita"
Jen mengajak kedua rekannya masuk ke toko itu.
Mereka memasuki kedai itu dan melihat beberapa hewan, dari mulai yang lucu, buas hingga langka, lengkap ditempat itu.
“Selamat datang tuan dan nona, sedang mencari hewan peliharaan seperti apa?”, Sapa seorang pelayan.
“Disini lumayan banyak jenis hewan ya ?!”, Ucap Jen kagum.
“Tentu saja, karna ini kota terluar negeri Lue, kita dekat dengan Hutan liar, bahkan yang langka pun kita punya beberapa jenis.”
Sambungnya sambil menunjuk beberapa hewan jenis langka.
Jen asik menelusuri kedai itu, dan melihat memang banyak jenis hewan, dan matanya tertuju pada satu hewan kecil. Dalam suatu kandang dengan beberapa anak singa putih
“Nobel”, gumam nya.
Salah satu hewan kecil itu menoleh ke arah Jen, sorot matanya sungguh dalam, ekornya berputar-putar tanda senang.
Jen sampai kaget, mengira hewan itu benaran kenal sama nya. Tapi itu kan tidak mungkin, batin Jen.