INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 41: RENCANA MENJEBAK JEN



Setiba mereka di Istana, pengawal yang menjaga pintu istana segera memberi hormat.


“Kakak melanjukan pekerjaan dulu ya, lusa pertandingannya akan dimulai kembali, jangan lupa persiapkan diri kalian”


Setelah mengucapkan itu. Pangeran segera berpisah dari mereka.


Begitupun Jen dan rekannya, menuju ke paviliun Putri.


Saat Jen di halaman Paviliun nya, ia melihat Lian anak Selir Asyia yang telah dihukum mati beberapa waktu yang lalu, mondar-mandir di halaman paviliun Putri.


Melihat dia, Jen menjadi penasaran.


“Pergilah kalian dulu masuk ke paviliun bersama anak ini”


Jen memerintah mereka untuk langsung ke paviliun.


“Apa yang nona ingin lakukan sekarang?” Ucap Anes.


“Aku melihat Lian tadi mondar-mandir di halaman ini, jadi aku penasaran saja”


Jen menjawab pertanyaan Anes dan setelah itu menyelinap, ia menyembunyikan aura keberadaannya agar tak ada orang yang mengetahui nya.


Tampak Lian bersama beberapa pelayannya sedang membicakan sesuatu, Jen segera mengaktifkan telinga double rabbit nya.


“Rencana ini harus berhasil, aku akan mempermalukan sih j*lang itu, jadi nanti sore saat pangeran Herald datang, kamu harus berhasil mencampur bubuk asmara ini ke minuman nya lalu kita jalankan sesuai rencana”


“Nona, tapi bukannya nona juga mencintai pangeran Herald?”


Pelayan itu tampak bingung melihat nona nya yang sanggup menyerahkan pria pujaannya untuk menjalankan rencana ini.


“Jangan kuatir, sebelum mereka benar-benar melakukannya, aku akan menemui mereka.”


Oh, mau menjebak ku ya?, Batin Jen.


“Pertemuannya sudah kamu atur kan ditaman ini !”


Lian sepertinya memastikan sesuatu pada pelayannya agar rencana tidak gagal.


“Sudah nona, nanti saya tinggal memanggil Putri kesini”


“Baiklah, ayo kita kembali sebelum ada yang melihat kita kesini.”


Lian dan pelayan nya akhirnya meninggalkan taman itu dan kembali ke paviliun mereka.


Setelah mereka pergi, Jen keluar dari persembunyiannya.


“Nona”


Anes mendekati nya, Ia tampak panik.


“Ada apa, kenapa kamu terlihat panik begitu ?”


“Nona, anak Elf itu terlihat sangat ketakutan sejak ia tiba di Istana”


“Ha, kenapa dengannya ?, ya sudah ayo kita kesana”


Jen dan Anes menuju ke paviliun, terlihat wajah anak itu pucat ketakutan, ia bersembunyi di sudut ruangan.


“Kenapa dengan mu, apa yang kamu takutkan ?”


Perlahan Jen mendekati anak itu.


“Kak, aura disini sangat dingin terlebih disana.”


Anak itu menunjuk kearah Hutan yang ada di belakang istana.


“Aura dingin apa ?, aku tak merasakan apapun, apa kalian juga merasakannya ?”


Jen terlihat bingung, begitupun Anes dan Rin yang ternyata juga bingung.


Hem.. bangsa Elf sangat peka akan aura. Mungkin memang ada sesuatu disana, mungkin maksud anak ini adalah area tengah Hutan yang sangat misterius, batin Jen.


Jen berkonsentrasi, dari tubuhnya terpancar aura pelangi, kemudian aura itu mengalir ke tubuh anak Elf tersebut. Tampak anak itu mulai tenang kembali.


“Nona aura pelangi apa itu tadi ?”


Rin tampak bingung, ia belum perna melihat aura pelangi seindah itu sebelumnya.


“Tadi aku mentransfer sedikit aura ku, agar dia tidak terlalu peka untuk sementara ini” Ucap Jen.


“Selain itu, aku yakin Lian sedang merencanakan sesuatu pada ku ?”


Jen menceritakan apa yang di dengar nya tadi di taman nya.


“Sih Lian ini tidak ada berubahnya, malah ingin mencelakan Nona, biar aku datang kesana memberi nya pelajaran !”


Rin terlihat kesal dengan sifat Lian yang sama buruk nya dengan ibu nya.


“Karena kita sudah tau rencana nya, jadi kita tidak perlu melabraknya, biarkan dia menjalankan rencananya, tapi kita akan ubah beberapa adegan”


Jen menceritakan rencananya untuk membatalkan rencana jahat Lian.


Anes tertarik dengan rencana Jen.


“Ya sudah kalian bersiap lah di posisi masing-masing !”


Anes dan Rin segera menghilang dari hadapan nya. Jen sendiri menunggu kabar kedatangan Pangeran Herald. Kira-kira sejam ia menunggu seorang pelayan datang.


“Putri, nona Lian datang”


“Oh, persilahkan dia masuk”


Jen tampak sedang santai sambil membaca beberapa buku.


“Salam pada Putri” Sapa nya sambil menundukkan kepala.


“Ada apa sampai kamu datang mengunjungi ku ?”


Jen meletakkan buku yang dibaca nya tadi.


“Aku ingin meminta maaf soal hubungan ku dengan Pangeran Herald, jadi aku ingin minum teh bersama mu”


Lian mengeluarkan sekantong daun teh untuk diseduh oleh pelayannya.


“Biar pelayan ku saja yang seduh, aku senang kau membawakan teh ini untuk kita minum bersama”


“Putri persiapan minum tehnya sudah saya siapkan di taman paviliun mu, bagaimana kalau kita minum disana saja. Saya lihat bunga-bunga di taman ini sangat indah”


Lian mengajak Jen minum teh bersama di taman tersebut.


“Baiklah, kita nikmati nya disana saja”


Jen dan Lian menuju ke gazebo yang ada di taman itu.


Tempat yang telah direncanakannya.


Disana sudah ada tersedia cangkir teh, dan beberapa menit kemudian pelayan Jen sudah selesai menyeduhnya.


Ia menuangkan teh itu, Jen menghirup aroma teh yang disedukan pelayannya.


Hemm, aroma nya wangi sekali, memang daun teh berkualitas, dan sepertinya tidak ada tanda-tanda mencurigakan.


Mereka meminum teh itu bersama, cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk ngeteh, sampai akhirnya Lian berpamitan untuk kembali ke Paviliunnya.


“Aku kembali dulu ya, terimakasih untuk waktu mu minum teh bersama ku.”


Lian melangkahkan kaki nya menjauh darisana.


Saat Lian sudah tak terlihat lagi di depan Jen, ia memanggil Anes, yang sedang bersembunyi menunggu perintah.


“Anes keluar lah”


“Nona, saya sudah melihat Pangeran Herald tadi, dan sepertinya ia akan segera tiba disini, dan kondisi nya saat ini sedang mabuk’


“Bagus, karena dia mabuk harusnya lebih mudah menjalankan rencana itu, arahkan dia ke paviliun Lian !”


Anes segera menjalankan perintah Jen, dan mengarahkan pangeran itu ke paviliun Lian.


Di Paviliun, Lian terlihat gelisah, keringat membasahi tubuhnya.


“Aissh, panas sekali, ungkk..”


Kemudian Pangeran Herald yang sudah dalam keadaan mabuk, masuk ke kamar Lian dan dilihatnya Lian hanya memakai busana tipis tengah gelisah diatas tempat tidurnya.


Pangeran mendekatinya, Lian yang melihat seorang pria datang mendekat dan langsung memeluknya. Saat itu terjadilah hubungan terlarang.


Di Paviliun Putri, ternyata Jen juga merasakan panas dan gelisah.


Ungkk, ini… harusnya aku sudah berhati-hati tadi, tapi ternyata masih kena juga.


Tapi, sh Lian itu pasti sekarang sedang melakukan hubungan terlarang dengan pangeran.


Jen menyadari ia telah meminum racun asmara, sepertinya racun itu dioles di cangkir nya tadi oleh pelayan Lian.


Jen berkonsentrasi menawar racun yang ada dalam tubuhnya, dan karena darahnya telah kebal racun, dengan cepat akhirnya ia berhasil pulih dari pengaruh racun itu.


“Nona, mereka sudah memulainya.”


Tiba-tiba Rin sudah ada di depannya memberi kabar.


“Baiklah, ayo kita kesana.”


Saat mereka menuju kesana, Selir Ika ternyata sedang berjalan dengan seorang pria menuju ke belakang paviliun.


Jen yang curiga dengan mereka memilih untuk mengikuti mereka dulu.


“Itu Selir Ika aku curiga, aku akan mengikuti mereka dulu, kalian tunggulah disini.”


Jen mengendap-ngendap mengikuti mereka, tak lupa aura nya disembunyikannya dan mengaktifkan telinga double rabbit nya.