
“Hei Jen, tak menyangka kamu sudah banyak berubah.”
Sapa seorang pria yang tiba-tiba mendekati Jen yang sedang santai di pinggir kolam teratai di depan paviliun itu.
Jen menoleh, ternyata pria itu adalah pangeran pertama kerajaan Anol. Selama ini mereka memang tidak akrab, dan bahkan tidak perna ngobrol.
“Kamu.. Pangeran Vei kan, darimana kamu tau aku sudah banyak berubah, seingat ku kita tidak seakrab itu.” Balas Jen cuek.
“Aku juga tau kamu mengalahkan herald saat babak pertama.” Lanjut pangeran itu.
Aihh, jadi dia stalker, batin Jen menduga.
Tapi walau dia stalker, wajah nya tampan juga.
“Gini-gini aku sudah menjadi murid dalam Klan Angin, tentu saja aku tau.” Ucap nya yang seakan tahu apa yang dipikirkan Jen.
Jen mengecek nameboarnya.
Klikk..
Vei ( Pangeran pertama kerajaan Anol)(murid dalam Klan Angin)
LEVEL : 25
KEMAMPUAN : API NAGA
Level nya lebih tinggi dari ku, dia sangat kuat, tidak heran dia jadi murid dalam klan Angin.
“Selain itu, aku memang sudah mengenal mu sejak dulu, aku harap kamu lulus, aku menunggu mu.”
Bisik nya ke telinga Jen.
DEG.. Jen kaget, Vei jadi begitu dekat ke wajahnya, tiba-tiba jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Jen terdiam sesaat, sedang pangeran Vei berlalu dari hadapannya dengan cepat.
Setalah Vei pergipun, Jen masih hanyut dalam lamunan nya.
Rin yang sejak tadi mencari Jen, akhirnya menemukan nona nya yang diam mematung di pinggir kolam, Rin segera datang menghampirinya.
“Nona..Nona, apa kamu sakit?, wajah mu terlihat merah begitu?”
Rin membuyarkan lamunan nya, hingga ia tersadar dari lamunannya.
"Ohh, aku tidak apa-apa ayo kita kembali ke Paviliun, hari sudah mulai gelap dan dingin.” Balas Jen mengalihkan pembicaraan.
Segera Jen bergegas meninggalkan tempat itu.
Oh tidak, aku tau perasaan apa ini, baru saja aku patah hati sudah bertemu dengan pria lain yang membuat ku berdebar-debar gini, batin Jen.
Menuju ke paviliun Putri. Jen teringat dengan Meimei.
“Rin.. sejak tadi aku tak menemukan Meimei, apa kamu melihatnya?”.
“Nona Meimei sudah kembali, penyakitnya kambuh tadi.”
Rin mengingat saat Meimei terjatuh dan di bawa pulang pengawal nya.
“Aku belum sempat ngobrol lagi tadi, padahal dia sudah memaksakan dirinya untuk datang bertemu dengan ku, Rin besok ikut aku ke tempat nya ya”.
Tak berapa lama mereka tiba di paviliun, disana Anes sudah menunggu sejak tadi, sebab memang Anes tidak betah di acara keramaian jadi dia hanya sebentar saja disana.
Gerah sekali, memang sebaiknya aku segera mandi lalu beristirahat, batin Jen yang sejak tadi merasa hawa malam ini lebih hangat dari biasanya.
Segera ia merendamkan tubuhnya dengan air hangat di bathub, aroma mawar memenuhi ruangan itu,
Pangeran Vei ya, padahal baru pertama bertemu, tapi tak bisa ku tepis bayangannya, batin Jen yang sedari tadi gelisah karena teringat pertemuan tadi.
Cukup lama ia berendam, lalu mengoleskan minyak zaitun ke seluruh tubuhnya, dan memakai gaun tidur.
“Segar sekali, sepertinya aku akan tidur nyenyak malam ini.” Ucap Jen yang bersiap merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Tak terasa pagi menjelang.
Tok..tok, terdengar pintu diketuk.
“Nona sudah waktunya bangun.”
Seorang pelayan berusaha membangunkan nonanya yang masih menikmati tidurnya.
Jen membuka matanya perlahan, lalu mengucek-nguceknya, dilihatnya beberapa pelayan keluar masuk paviliun nya.
Jen pun membersihkan dirinya, beberapa pelayan membantu nya memakaikan gaun dan menata rambutnya.
Jen memperhatikan gaun yang dipilihkan pelayannya bukan lah gaun untuk dipakai sehari-hari, tetapi gaun nya lebih indah dan mewah, begitupun hiasan rambutnya.
Jen jadi penasaran ada acara apa lagi hari ini.
“Putri, tunangan anda Pangeran Herald dari kerajaan Anol akan datang sebentar lagi.” Ucap pelayan itu menjelaskan.
Haa, untuk apa dia datang kesini, merepotkan sekali, batin Jen.
“Nona Lian datang.”
Terdengar pengawal memberikan pesan dari luar paviliun.
Ehh.. sekarang orang yang tak diharapkan malah ikutan datang, batin Jen.
Belum sempat Jen mempersilahkan nya masuk, Lian sudah menerebos masuk.
“Lama tak bertemu dengan mu kakak, aku dengar pangeran Herald akan datang?” Ucap nya, sambil duduk disalah satu kursi.
“Emang kenapa kalau dia datang ?” Balas Jen cuek.
Ia malah lebih memilih untuk tidak bertemu pangeran Herald kalau bisa.
“Mungkin untuk membatalkan pertunangannya dengan mu ?”
Lian mengucapkannya sambil tersenyum mengejek.
Oh, jadi dia datang untuk membatalkan pertunangan, hal itu tentu akan membuat harga diri seorang putrihancur, batin nya.
Tapi Jen hanya diam saja, tanpa membalas perkataan gadis itu.
Melihat Jen yang diam saja, Lian menduga kalau Putri Jen sedang sedih, dan syok berat.
“Aku tak bermaksud merebutnya dari mu kak, tapi pangeran Herald terlanjur mencintai ku.”
Sambung nya lagi dengan maksud mengolok-ngolok Jen.
“Kamu bukan adik ku, tidak pantas anak seorang Selir memanggil putri kerajaan dengan sebutan kakak !” Ucap Jen tegas.
Mendengar itu, Lian menjadi sangat kesal dan marah.
“Kita lihat saja bagaimana nanti orang-orang memandang mu yang seorang putri kerajaan dicampakkan tunangannya !” Balas Lian kesal, dan pergi dari paviliun Jen.
“Huff, akhirnya dia pergi juga.” Ucap Jen lega.
“Nona, apa saya perlu turun tangan untuk menghadang mereka, sehingga mereka tidak jadi datang." Ucap Anes yang tak terima nona nya diperlakukan seperti itu.
"Tidak perlu Anes, aku juga tidak ingin melanjutkan pertunangan itu.” Jawab Jen cuek.
Sepertinya nona kami sudah punya rencana nya sendiri, batin Jen dan Anes bersamaan.
Tak berapa lama seorang pelayan datang dan menyampaikan pesan.
“Putri, anda dipanggil ke paviliun utama”.
Cepat juga datang nya mereka, pikir Jen.
Ia bersama Rin, Anes dan beberapa pelayan menuju ke paviliun utama.
“Putri Jen tiba.” Ucap seorang pengawal yang berjaga di pintu masuk paviliun.
Jen pun masuk, disana ia melihat Pangeran Herald, serta Perwakilan Raja negeri Anol sudah menunggu nya, dan ternyata pangeran Vei juga ada disana duduk di salah satu meja sedang meneguk secangkir teh, ia terlihat tenang.
Jen berusaha tetep tenang, walau sepertinya jantungnya hendak melompat, bukan karna pembatalan pertunangannya, namun karena kehadiran pangeran Vei.
“Hormat saya pada Ayahhanda, juga pada Perwakilan Raja Anol, pangeran Vei dan pangeran Herald.” Ucap Jen sambil menundukkan kepalanya.
Disana juga sudah hadir para Selir Raja, termasuk Lian bersama Ibu nya, dan beberapa bangsawan.
Pertemuan tersebut dirancang seperti pertemuan minum teh.
Jen duduk di tempat yang telah disediakan khusus untuk nya.
Para penari kerajaan mulai memasuki paviliun dan manari dengan indahnya, diiringi musik yang juga sangat merdu.
Para penari itu seperti puluhan bidadari yang turun dari khayangan, batin Jen yang kagum dengan tarian dan musik tersebut.
Setelah selesai pertunjukkan itu, perwakilan kerajaan Anol mulai membicarakan maksud kedatangan mereka.
“Maafkan kami Raja Qua, sebelumnya ada yang ingin dikatakan pangeran Herald saat ini.” Ucap Perwakilan Raja itu.
Pangeran Herald maju, dan berlutut.
“Maaf Yang Mulia Raja, saya bermaksud membatalkan pertunangan saya dengan Putri Jen.” Ucap nya sambil terus berlutut.