
Lama ayah Meimei terkagum pada batu itu, sebelum akhirnya ia memandang kearah Jen.
“Putri, ini bukankah meteor Api yang sangat langka, ini sungguh luar biasa, saya sendiri saja baru pertama ini melihatnya secara langsung.”
Ayah Meimei masih tidak percaya akhirnya ia bisa melihat batu langka itu, Jen hanya tersenyum.
“Baiklah saya akan mencoba menempahnya.” Ucap Tuan Sian menyanggupi.
Jen menyuruh Anes mengeluarkan meteor lainnya dari ruang penyimpanannya.
Dan kini di depan mereka sudah ada bongkahan besar meteor Api.
Tuan Sian sangat Syok melihat meteor api sebanyak ini, dipikirnya hanya segenggam saja, itu pun sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah pedang yang sangat kuat dan tajam.
“Tolong buatkan pedang, dan tiga baju zirah untuk kami, sisanya bolah paman ambil.”
Jen menjelaskan baju zirah seperti apa yang di inginkannya, dan pedang seperti apa yang sesuai dengan Anes yang tipe penyembuh.
“Baiklah Putri, 20 hari lagi kami akan mengantarkan nya ke istana.” Lanjut tuan Sian.
“Ohh, tidak usah, 20 hari lagi kami saja yang kesini.” Ucap Jen.
“Baiklah Putri, terimakasih untuk kesempatan ini”, ucap ayah Meimei.
Karena bagi ahli tempah, jika berhasil menempah senjata dari bahan langka itu akan sekaligus meningkatkan level keahliannya sampai beberapa tingkat.
“Kalau begitu kami pamit dulu.”
Mereka keluar dari kediaman itu, ditemani Meimei hingga mereka naik ke kereta kuda dan kembali ke istana.
Perjalanan cukup cepat, segera mereka tiba di pusat kota, Jen mengamat-ngamati kegiatan penduduk disana, Istana juga sudah dekat.
Lalu tak sengaja Jen melihat seseorang mengendap-ngendap, tubuh nya ditutupi jubah hitam, ia seperti nya akan masuk ke Istana, tapi dari suatu jalan rahasia.
“Kalian pergilah diluan, aku ada urusan yang lain.” Ucap nya pada Rin dan Anes.
Mereka hanya menurut saja, mereka percaya nona mereka akan baik-baik saja.
Jen turun dari kereta kuda, dan mengikuti orang mencurigakan itu dengan hati-hati. Orang itu memasuki celah diantara pagar rumput yang ditanami di sepanjang tembok Istana.
Ntah sejak kapan ada lubang di tembok itu, tapi tidak kelihatan karena tertutupi semak rumput.
Jen terus mengikuti nya, dan kini ia tiba di sebuah taman di belakang paviliun Selir.
Seseorang telah menunggu disana, dan Jen melihat orang itu adalah Selir Shan, tampak orang berjubah hitam itu menyerahkan sesuatu.
Jen berkonsentrasi dan mengaktifkan Skill telinga Double Rabbit nya.
“Nyonya, saya sudah mendapatkan berkas penjualan budak itu, dan disini ada tercantum nama Putri, Nyonya harus segera membakarnya.” Ucap orang misterius itu.
“Saya mengerti saya akan segera membakarnya, jangan sampai bukti ini ditemukan orang lain.”
Selir Shan segera menyimpan berkas itu di balik gaunnya.
Hanya sebentar saja pertemuan rahasia mereka, orang misterius itu kembali ke jalan yang dilalui nya tadi saat masuk, dan Selir Shan juga bergegas meninggalkan tempat itu.
Jen masih bersembunyi dan diam-diam mengikuti orang misterius itu hingga ia keluar istana.
Orang itu menuju ke sebuah rumah kecil tertutup, Jen mengintip dari jendelanya, orang itu membuka jubahnya dan tampak lah seorang wanita muda.
Jen tidak mengenali orang itu, tak lama setelah orang itu membuka jubahnya, Jen masuk melewati jendela dan pisau angin telah menempel di di leher wanita itu.
Ia mengeluarkan aura membunuh yang kuat, hingga wanita itu tak berkutik, keringat dingin bercucuran di wajahnya, dan tampak wajahnya sangat syok melihat Jen.
“A..apa maksud mu Putri ~" Ucap nya seolah tak mengerti maksud Jen.
“jangan pikir aku tidak tau tadi kau bertemu dengan selir Shan.”
Jen menusukkan ujung pedang anginnya ke leher orang itu, dan menetes darah segar membasahi lantai.
Orang itu tampak kaget, ternyata pertemuannya diketahui Jen.
“Ampun putri, ampuni nyawa saya, akan saya ceritakan semua yang saya ketahui.” Ucapnya sambil berlutut.
Akhirnya orang itu menceritakan semua yang ia ketahui, dan bersedia menjadi sanksi atas peristiwa itu.
Dari pengakuan orang itu, Jen mengetahui siapa-siapa saja yang bekerja sama dengan selir Shan.
Jen berpikir membuat sebuah jebakan untuk mengungkap perbuatan Selir Shan dan semua yang bekerja sama dengan nya, tapi ia masih belum menemukan cara yang tepat.
Sebelum Jen kembali, tak lupa ia mengoleskan darah ke kening orang itu.
“Ini adalah tanda kesetiaan mu untuk menjadi sanksi kapanpun aku memanggil mu, jika kau berhianat, tanda itu akan merusak otak mu, dan kau akan gila, aku rasa tak perlu ku jelaskan panjang lebar, kau pasti mengerti apa yang terjadi setelah itu.”
Ancam Jen pada nya, lalu meninggalkan tempat itu.
Darah Jen bercampur dengan racun, jika darah itu mengenai tubuh seseorang, orang yang terkena itu akan segera mati atau saraf nya rusak hingga ia menjadi gila.
Jika tak segera diobati maka perlahan bagian yang terkena darah akan melepuh lalu membusuk.
Tapi tetesan darah yang ditorehkan ke kening wanita itu telah disegel Jen hingga racun nya hanya aktif saat Jen membuka segel nya.
Di Paviliun Istana telah menunggu Anes dan Rin, Jen menceritakan kejadian itu pada mereka, tapi mereka pun tak menemukan cara yang tepat.
“Hemm.. mungkin aku harus bertemu Raja dulu, mungkin setelah darisana aku bisa mendapatkan ide.”
Pikir nya mencoba mencari cela yang mungkin akan di dapat nya dari Paviliun Raja.
“Anes, Rin.. aku ingin bertemu Raja, kalian coba lah cari petunjuk lain, semoga ada yang bisa kita jadikan petunjuk berikutnya.”
Jen tampak bersiap-siap untuk menghadap Raja. Beberapa pelayan tampak masuk setelah dipanggil Jen untuk membantunya merapikan diri.
Setelah selesai merapikan diri, Jen bersama beberapa pelayan menuju ke Paviliun Raja.
Ternyata Lauren, putri pertama selir ketiga yaitu Selir Vana juga ingin menemui Raja.
Raja memiliki 3 Selir, Posisi dibawah Permaisuri adalah Selir Pertama yaitu Selir Shan memiliki seorang putri bernama Mega. Posisi Kedua Selir Asyia memiliki 2 putri bernama Leiny dan Lian. Posisi terakhir adalah Selir Vana memiliki 1 putri bernama Lauren dan 1 pangeran berusia 5 tahun bernama Jhoan.
Sedangkan keturunan dengan permaisuri yaitu Pangeran Emus dan Putri Jen.
Lauren melihat kehadiran Jen, dan memberi hormat, ”Salam Tuan Putri”.
Jen mengingat Lauren lah yang selalu mengingatkannya bahwa ia sedang dimanfaatkan. Tapi Putri Jen tak pernah memperdulikannya, bahkan saat Lauren di fitnah oleh anak-anak Selir yang lain yang mengatakan bahwa ia berniat membuat hubungan Jen dan anggota kerajaan semakin jauh, Jen malah terhasut dengan perkataan mereka dan akhirnya Lauren dihukum.
Jen kuatir kini Lauren membencinya karena kejadian itu.
“Silahkan Putri, saya akan menunggu disini.” Ucap Lauren sambil menundukkan kepalanya saat melihat Jen yang juga ingin menemui Raja.
Karena peraturan di istana, jika Putri dan anak Selir ingin bertemu Raja dan kebetulan di waktu yang sama, maka Putri lah yang pertama di izinkan masuk.