
Kini tiba giliran rombongan Jen yang mencoba memasuki gerbang tersebut, dan satu persatu mereka dengan mulus memasuki gerbang itu.
Orang-orang dari murid dalam tampak kagum dan tidak percaya kami yang masih dibawah level 20 berhasil masuk.
Beberapa Tetua dan Guru besar yang melihat kami pun kagum.
Psstt.. “Mereka sangat berpotensi, akan kujadikan murid ku”, “Apa !, kau tak bisa menjadikan mereka berlima menjadi murid mu seorang !”, “Baiklah kita suit, siapa yang menang akan memilih diluan”
Jen mendengar pembicaraan para Tetua dan Guru besar terhadap mereka.
“Selamat menjadi murid dalam klan Langit untuk kalian berlima !”
Sih pembawa acara masih terus melanjutkan pekerjaannya dengan semangat.
“Dan untuk kalian berlima yang menjadi murid luar Klan Langit, selamat juga, kalian memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjadi murid dalam dilain waktu !”
“Baiklah sebelum memulai pelatihan di Klan ini, kita akan kembali dulu ke Kerajaan Qua !”
Kami diarahkan kembali ke portal dan dalam sekejam kami sudah kembali ke Atrium Qua. Disana Raja sudah menanti dan beberapa tetua menyambut kedatangan kami kembali, para undangan juga tampak bersukacita melihat kedatangan kami.
“Selamat untuk kelima peserta yang berhasil menjadi murid dalam klan Langit, dan untuk yang berhasil manjadi murid luar, kalian juga hebat, dan memiliki peluang lebih besar untuk menjadi murid dalam.”
Raja mengucapkan selamat dan kata-kata penutup untuk mengakhiri pertandingan ini.
Para undangan yang hadir ikut perjamuan bersama Raja, dan para peserta yang telah gagal juga diundang untuk perjamuan ini.
Anes, Rin, Red dan Nath asik melahap berbagai hidangan di depan mereka. Pangeran Emus juga dikelilingi oleh para bangsawan. Sebenarnya Jen juga mulai didekati oleh para Nona dan Tuan Bangsawan. Tapi sebelum mereka sempat menyapa, Jen sudah keburu kabur.
“Huff, untunglah keburu, kalau nggak pasti aku bakal susah bernafas di dalam sana”, Ucap Jen lega.
Ia mencari tempat yang sunyi untuk menikmati malam kemenangan ini.
Tampak rakyat kerajaan Qua masih banyak yang melakukan kegiatan padahal hari sudah mulai malam.
“Dipertandingan sebelumnya dari kerajaan Qua hanya 2 orang yang berhasil jadi murid dalam, dan sekarang ada 5 orang, tentu saja Raja membuat pesta yang besar, apalagi 2 diantaranya adalah Pangeran dan Putri.”
Tiba-tiba seseorang membuyarkan lamunan ku, aku menoleh dan Pangeran Vei sudah muncul saja di belakang ku.
“Bisa nggak kamu muncul nya normal saja, jangan tiba-tiba muncul kayak hantu?!”
Di dalam aku kuatir nggak sempat nafas karena ramai nya undangan, tiba disini bahkan sekarang jantung ku tidak normal berdetak nya karena kehadiran nya, batin Jen.
“Aku senang kamu berhasil menjadi murid dalam, jadi aku bisa lebih sering mengunjungi mu.”
Senyum mu menghayutkan ku, toloong.., batin ku yang silau melihat nya.
Pangeran Vei duduk disamping Jen, tangan mereka bersentuhan, malam itu bulan bersinar lebih terang, dan bintang bertaburan di langit.
Sosok pria itu telah membuat Jen jatuh cinta, Jen melirik nya dan ternyata dia juga sedang melirik Jen, lalu segera mereka melemparkan pandangan mereka kearah lain.
Tadi dia melihat ku kan ?, seakan Jen melayang, bukan karena jurus Angin nya.
Deg, deg, deg, Jantung Jen tak berhenti berdebar, seandainya ia masih memiliki skill kemampuan mengatur waktu, saat ini pasti dia akan menghentikan waktu.
Mereka hanya duduk tak bersuara, walau begitu waktu terasa lebih cepat berlalu dari biasanya. Jari mereka masih bersentuhan, perlahan Pangeran Vei mendekatkan jemari nya ke jemari Jen dan menggenggam nya.
Mereka masih saling terdiam, Jen tak berani melirik kearah nya lagi. Genggaman tangan Pangeran hangat, walau angin berhembus dingin, tapi sentuhan hangat di tangan Jen menghangatkan seluruh tubuhnya.
Psst..”Auu, jangan injak kaki ku !”, “geser kalian menghalangi ku !”, “Anak ku ternyata kau sudah besar, hiks..”, “Ayah, apa yang kau lakukan disini ?”
Walau Jen tidak mengaktifkan skill double rabbit nya, ia dapat mendengar dengan jelas kalau mereka sedang mengintip nya saat ini.
“Tampak nya keluarga mu sangat memperhatikan mu” Ucap Pangeran pelan.
“Hahahaaa… ternyata pendengaran mu tajam juga Vei”
Jen menoleh kearah mereka, pangeran Vei melepaskan genggamannya dan ikut menoleh.
“Ehh, kita ketahuan ?”, ucap Anes keget.
Gubraakk !
Bersamaan mereka mendarat di lantai saling timpa.
“Boleh aku tau kenapa kalian semua disitu ?”
Sambil tersenyum dingin Jen mendekati mereka dengan jurus angin di tangan kanan nya untuk langsung menerbangkan mereka hingga langsung sampai ke Istana bila perlu.
“Eheeemm, Acara sudah berakhir sejak tadi, tapi nak, kau tiba-tiba menghilang.”
Raja segera menjawab dengan perubahan sikap 180 drajat, dengan wibawa seorang Raja dan seorang Ayah.
Kami sampai terdiam. Dalam hati kami, Hebat sekali suasana hati dan sikap Raja langsung berubah.
“Apa ? sudah selesai ? kenapa cepat sekali ?”
Aku tak percaya harusnya acara berlangsung sepanjang malam.
“Dek, ini sudah subuh”
Pangeran menujuk jam yang tergantung di Atrium.
I-ini tidak mungkin, perasaan aku disini masih sejam?, Aku kaget melihat sekarang sudah hampir pagi.
“Hormat pada Raja dan Pangeran”
Pangeran Vei menyapa dengan hormat.
“Kamu dari Kerajaan Anol kan, kalau tidak salah kamu juga salah satu murid dalam klan Angin?”
Pangeran Emus memastikan ingatannya.
“Benar Pangeran, saya datang untuk menyampaikan pada kalian karena telah berhasil menjadi murid dalam Klan Langit, kalau ada yang ingin ditanyakan, silahkan panggil saya saja”
“Aku mengerti, terimakasih” Balas Pangeran Emus.
“Kalau begitu karena hari sudah mulai pagi, hamba permisi dulu”
Setelah mengucapkan itu, Pangeran Vei segera pergi dari hadapan kami.
Ohh, tidak, waktu indah ku telah berlalu, batin ku sedih.
Kami kembali ke Istana, walau masih sangat pagi, tapi para Selir dan anak-anak mereka tetap menyambut kami.
“Salam pada Raja, salam pada Pangeran, salam pada Putri”
Mereka menyambut kedatangan kami serempak.
Kami terus melangkah masuk, dan mereka mengikuti di belakang kami.
Sesampai di Paviliun mereka masing-masing. Jen segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Anes dan Rin pun sudah beristirahat, Red dan Nath pun demikian di ruang persembunyian yang di bangun Anes dan Rin dulu, kini disulap menjadi kamar tidur rahasia buat Red dan Nath.
Jen tidak langsung terlelap, ia masih memikirkan bagaimana cara membongkar kebohongan Selir Ika.
Apa yang harus ku lakukan, kalau Pangeran tau, anak itu bukan anaknya, pasti Selir Ika langsung dihukum mati, tapi bayi dalam kandungannya kan tidak bersalah, masa ikutan kehilangan nyawa juga ?
Jen masih terus memikirkan cara terbaik, hingga tanpa sadar ia pun terlelap.