INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 40 : RAS ELF



Hari masih pagi saat kami keluar dari kediaman Meimei.


“Harusnya masih cukup waktu untuk kita sampai ke gerbang perbatasan sebelum para penjual budak kemarin tiba disana.”


Pangeran tampak mempercepat larinya, begitupun Jen dengan jurus anginnya membantu Anes dan Rin untuk bergerak lebih cepat.


“Itu mereka, ternyata mereka sudah hampir tiba di gerbang perbatasan.”


Pangeran menunjuk ke gerobak para budak yang sudah ada di depan mereka.


“Apa itu berarti tadi malam mereka tidak ada istirahat ya?”


Jen mencoba menerka.


“Tentu saja, mana mungkin mereka bisa tiba secepat ini kalau mereka semalam istirahat” Jawab Pangeran.


Jen memperhatikan gerobak-gerobak itu, bukan hanya pria dewasa, tapi wanita dan anak-anak juga banyak.


Jen teringat saat ia bersama budak lainnya dulu, juga sama bahkan lebih banyak anak kecil nya daripada orang dewasa.


Mereka berempat mempercepat gerak mereka dan berhasil menyusul gerobak budak tersebut, kini mereka sudah tiba di pos keamaan gerbang.


Pangeran masuk ke dalam pos tersebut, dan dilihatnya para petugas sedang bersantai, dan beberapa dari mereka sibuk menghitung sekantong koin perak dan juga emas.


“Apa yang kalian lakukan disini sebenarnya !!”


Melihat mereka yang kerja tidak benar membuat Pangeran marah besar.


Para petugas yang melihat kehadiran pangeran sangat syok, tidak menyangka Pangeran bersama Putri datang sidak ke gerbang perbatasan.


“Hormat Yang Mulia Pangeran, dan Yang Mulia Putri.”


Sapa mereka serentak sambil membungkukkan badan.


“Jadi ini yang para petugas lakukan selama ini, dimana kepala team ini saya mau bicara !!”


Para petugas ketakutan, dan kebetulan diluar ruangan itu rombongan budak yang sebelumnya diikuti mereka tiba di gerbang.


Kepala team sedang berbincang disana dengan pedagang budak tersebut. Terlihat seorang pedagang budak mengeluarkan sekantong koin perak dan emas.


Kepala team ini belum mengetahui kedatangan Pangeran, hingga saat ia tersadar ternyata pengeran sudah berdiri di belakang nya.


“Uang untuk apa itu Pak Kepala?!”


Pangeran mengagetkannya, hingga kantongan itu terjatuh dari pegangannya.


“Yang.. Yang Mulia Pangeran ~~”


Terlihat pria gemuk itu terbata-bata dan wajahnya langsung panik.


Situasi saat ini adalah sedang terjadi transaksi gelap, antara pedagang budak illegal dan petugas penjaga gerbang luar.


Pedagang yang menyadari kehadiran pangeran dan terciduk nya transaksi gelap mereka berusaha untuk kabur.


Tapi Rin dan Anes segera menghalanginya.


Pedagang budak itu mencoba melawan, tetapi kekuatan mereka kalah jauh dari Anes dan Rin.


Pangeran menangkap pedagang budak illegal tersebut dan mencopot jabatan kepala team penjaga gerbang luar tersebut serta memberikannya denda dua kali lebih besar dari hasil transaksi gelap yang dilakukannya selama ia menjabat dan para bawahannya yang bekerjasama dengannya juga dihukum potong gaji.


Jen melepaskan para budak yang tertangkap, ternyata banyak diantara mereka yang diculik.


“Melihat banyak nya kasus penculikan di negara kita ini, sebaiknya kita membuat satu team patroli keamanan yang bertugas 24 jam.”


Jen memberikan saran pada Pangeran.


“Benar juga, sudah lama memang diwacanakan tetapi sampai sekarang belum terealisasikan.”


Pangeran tampak berpikir sejenak.


“Pasti ulah para pejabat yang tak ingin aksi mereka ketahuan”


Jen menduga-duga hal tersebut mengingat banyak nya pejabat korup di kerajaan ini.


“Baiklah, sesampai di Istana nanti kakak akan bicara dengan Raja.”


Astaga masih sekecil ini sudah menjalani nasib seberat ini, Batin Jen.


“Nak siapa nama mu?”


Jen mencoba mendekati nya.


Anak itu terlihat takut ia bersembunyi di balik tumpukan jerami.


Kryyuuukkkk..!


Ohh, anak ini lapar ternyata, pikir Jen. Ia mengeluarkan sepotong roti dari kantong penyimpanannya.


“Ini makanlah, kamu pasti sangat lapar” Ucap Jen ramah.


Anak itu melihat roti tersebut, perlahan keluar dari persembunyiannya, mendekati Jen, dan perlahan mengambil roti tersebut. Kemudian ia memakannya dengan lahap, dan seketika habis lah roti tersebut.


“Kamu masih mau lagi, kakak masih punya banyak, tapi sebelum itu sebutkan nama mu?”


Jen mencoba menanyakan kembali namanya, Tapi anak itu masih diam saja.


“Apa dia tidak mengerti perkataan ku ya?”, Tanya Jen pada Rin.


“Nona perhatikan lah, dia bukan manusia biasa, dia adalah ras Elf, Ras Elf tidak memiliki nama sampai usia mereka menginjak 15 tahun, atau sebelum tuan nya membuat nama untuk nya.”


Penjelasan Rin cukup jelas dan Jen memperhatikan kembali anak itu, ternyata memang telinga nya lebih runcing.


“Ohh, ternyata kamu Elf, apa kamu mau bersama kakak?”


Jen mencoba meyakinkan nya bahwa ia akan baik-baik saja kalau bersama mereka.


Jen ingat bangsa Elf memiliki kelebihan dengan sihir yang mereka miliki yaitu Sihir Alam, dimana dengan sihir itu, mereka dapat mengontrol tanaman, juga mereka lebih peka terhadap batu sihir.


Batu sihir misalnya seperti Bola Kristal yang dapat mendeteksi bakat seseorang.


Anak itu masih kecil dan belum dapat mengontrol kekuatan sihirnya, jadi seseorang menyegel sihir itu agar anak tersebut tidak menjadi ancaman lagi.


“Aku ingin pulang~”


Akhirnya anak itu membuka mulut nya juga untuk bicara.


“Baiklah dimana kamu tinggal, kami akan mengantar mu.”


“Aku tinggal di hutan Rahasia” Jawab nya.


“Hutan Rahasia ?”


Jen berpikir sejenak, mencoba mengingat-ngingat dimana letak hutan Rahasia ini. Seingat nya saat ia masih memainkan game ini, memang pernah membaca petunjuk Hutan Rahasia, tetapi karena tidak ada data apapun, Jen tidak pernah kesana, dan setahu nya juga belum pernah ada pemain yang berpetualang sampai ke daerah sana.


“Nes atau Rin, apa kalian tahu dimana Hutan Rahasia ini ?”


“Kami juga tidak pernah kesana nona” Jawab Rin.


“Sepertinya ini akan sulit.”


Jen memperhatikan anak itu.


“Maaf dek, kakak tidak mengetahui dimana letak hutan itu, kalau memang kamu ingin ikut kami, kakak akan sangat senang lalu kita cari waktu untuk menuju ke Hutan Rahasia itu, bagaimana ?”


Anak itu terus memperhatikan Jen dan kemudian menganggukan kepalanya.


“Kak, aku ingin mengajak anak ini ikut bersama kita”


Jen memperlihatkan anak itu pada Pangeran.


 “Anak ini bangsa Elf, bangsa yang sangat langka, kamu beruntung menemukannya Jen.”


Jen hanya tersenyum senang, benar saja bangsa Elf adalah salah satu harta karun yang sangat berharga, banyak orang mencari bangsa ini dan membunuhnya untuk kemudian berendam darahnya yang sangat bermanfaat untuk memperpanjang usia manusia.


Setelah urusan Pangeran selesai di gerbang luar ini, mereka pun kembali ke Istana bersama anak Elf tersebut.


Anes yang mengendongnya sampai ke Istana. Tetapi sebelum tiba di Istana Jen menyembunyikan telinga nya dengan topi. Ia kuatir nyawa anak itu terancam jika para pejabat istana melihatnya.