
Jen melanjutkan langkahnya ke paviliun, Sesampai disana Jen kaget melihat begitu banyak bingkisan hadiah.
“Darimana ini semua?”
Tanya Jen pada Rin dan Anes yang sejak tadi menunggu nya di paviliun.
“Dari pangeran Emus, dan Selir Hely, juga Selir Saunya, ada juga dari beberapa bangsawan."
Ternyata tentang bakatnya itu, beberapa bangsawan telah mengetahuinya, dan bermaksud mendekati Jen.
“Hoo… bantu aku membuka semua bingkisan ini Rin”
Sambung Jen yang mulai sibuk membuka satu bingkisan. Begitupun Rin dan Anes mulai ikutan sibuk membuka bingkisan itu satu persatu.
Gaun-gaun mewah, Kain sutra, benang emas, berbagai hiasan rambut, berbagai jenis permata, beberapa giok ruby, tanaman obat level 10.
Wouuu, ini seperti mendapat harta karun setelah membunuh raja monster level 50 keatas, batin Jen senang.
“Nona, mau ditaruh dimana semua hadiah ini nanti?”
Tampak Rin mulai kebingungan mencari tempat yang cukup.
“Kalau ruangan ini tidak cukup, kita buat saja ruangan yang lain, agar bisa kita simpan semua ini disana.”
Ucap Jen sambil memikirkan lokasi terbaik untuk menyimpan harta karun nya ini.
“Oiya, diruang bawah tanah saja, kita buat ruangan yang baru di bawah paviliun ini.”
Akhirnya muncul ide di kepala Jen.
“Tapi,, ruangan itu rahasia, jadi hanya kita bertiga saja yang tau.”
Lanjut nya menceritakan ide yang tidak biasa itu.
“Apa kita akan membuat ruang rahasia nya disini juga ?”, Tanya Anes yang masih tampak syok.
“Ya, bukankah keren kita punya ruang rahasia” Balas Jen semangat.
Rin dan Anes hanya berpandangan tak mengerti dimana letak keren nya ruang rahasia itu, padahal mereka punya ruang penyimpanan mereka masing-masing yang bisa dibawa kemanapun.
Jen dan Rin melanjutkan membuka hadiah tersebut.
Anes memulai menggali di area belakang ruangan paviliun, yang tadinya adalah ruang baca Jen.
Diantara bingkisan hadiah itu, Jen melihat ada beberapa gulungan jurus. Ia lalu mengambil gulungan itu.
“Apa kamu tau ini diberikan siapa Rin?”.
“Hem… kalau nggak salah, itu diberikan oleh pangeran Emus tadi secara langsung melalui Anes."
Ada 3 gulungan Jurus tingkat tinggi disana, Jen membuka nya satu persatu.
Jurus Bayangan Level 10, Jurus Teleportasi Level 30, dan Jurus Mata Elang Level 10.
Ini adalah Jurus-Jurus yang pernah ku kuasi dulu, seharusnya sekarang pun aku bisa menguasainya, batin Jen.
"Tapi kenapa Pangeran Emus memberikan jurus-jurus ini pada ku ?"
Harusnya dia tau nya aku di level 5 saat ini, dan sangat sulit mempelajari jurus-jurus ini, apalagi ada yang level 30.
"Apa mungkin Pangeran salah kasih gulungan?"
Rin mencoba menerka kemungkinan nya.
Jen tampak berpikir sejenak.
Masa iya, pangeran salah kasih jurus?, batin Jen.
“Rin, tolong lanjutkan ya, aku mau menemui pengeran Emus.”
Jen berdiri dan merapikan diri seadanya, lalu segera meninggalkan paviliun nya menuju paviliun Sang Pangeran.
Tak lupa diikuti 3 orang pelayan di belakangnya yang mengikuti nya dengan terburu-buru.
Setiba di paviliun Pangeran seperti biasa pengawal menyampaikan pesan, “Putri Jen tiba.”
Tak lama kemudian seorang pelayan keluar dan mempersilahkan Jen masuk.
Jen mendekati Pangeran dan menundukkan kepala.
“Kemarilah, kenapa kamu terlihat bingung ?” Ucap pangeran.
Jen semakin mendekat dan duduk di sebelah Pangeran.
“Kakak, apa ketiga jurus itu kakak yang berikan ?" Tanya Jen.
“Iya, karena satu bulan lagi akan dimulai tahap seleksi kedua.”
Pangeran Emus tampak serius membahas soal pertandingan itu.
“Itu adalah pertarungan, kakak kuatir kamu cedera adik ku tersayang~~~”
pangeran Emus memeluk Jen, tampak ia mengkuatirkan adik kecil nya itu.
Heeeeee~~~, sejak kapan Pangeran ini jadi sister complex !!
Jen sampai merinding mengetahui kebenaran yang tak terduga ini.
Memang Jen tak akrab dengan kakaknya ini, tapi juga tidak menyangka sifat Pangeran seperti ini ternyata, batin nya.
“Tapi kak, jurus yang kakak berikan pada ku, adalah level 10 dan 30 ?” Tanya Jen heran.
“Jen, kamu itu sangat berbakat, pasti bisa segera menguasai jurus-jurus itu.”
Pangeran tampak percaya bahwa adik nya ini bisa menguasai jurus level tinggi tersebut.
“Unggkk, baiklah, aku akan mencobanya, tapi kak.. pelukkan mu terlalu erat, aku susah bernafat ~”
Jen mencoba melepas dekapan kakaknya yang bagi nya itu terlalu erat.
“Tapi kak, apa kakak juga sudah menguasai jurus-jurus itu ?” Tanya Jen
Ia telah berhasil lepas dari dekapan erat kakaknya itu.
“Kakak masih menguasai yang jurus bayangan, sedangkan yang dua lagi belum, kalau kamu bisa menguasainya sebelum pertandingan, itu sangat bagus kan” Lanjut pangeran Emus penuh harap.
"Kalau gitu, adik mengucapkan terimakasih banyak untuk kakak, adik undur diri dulu.” Ucap Jen hormat dan berjalan keluar dari paviliun pangeran Emus.
"Jen.. kakak serius mengenai jurus yang kakak berikan itu, ini demi keselamatan mu nanti"
"Tenang saja kak, aku pasti rajin mempelajari jurus-jurus itu"
Jen melanjutkan langkah nya keluar dari paviliun.
Pangeran terlalu kuatir, sebenarnya kalau bisa Pangeran tak ingin Jen mengikuti pertandingan tersebut.
Tapi Pangeran tidak tega mengatakan nya karena melihat Jen yang sangat senang dapat mengikuti pertandingan tersebut.
Dalam perjalanan kembali ke paviliun nya, ia berpapasan dengan Mega, anak dari Selir Shan, Selir pertama ayahnya.
Saat melihat Mega, muncul ingatan-ingatan lampau tentang mereka.
Orang lain melihat Mega seorang yang baik dan ramah, tetapi kenyataannya ia bersama dengan ibu nya itu selalu merampas barang-barang yang seharusnya nya untuk Jen, malah dipakai Mega anaknya.
Pernah suatu kali, Putri Jen kesal dan mengadukan hal itu dengan ayah nya Sang Raja, tapi rupanya Selir Shan lebih licik dari kelihatannya. Dengan kalimat-kalimat ularnya, putri Jen akhirnya dicap sebagai putri egois yang tidak perduli adik nya. Sejak saat itu, Mega dengan leluasa bisa mengambil apapun milik Putri Jen.
Seperti yang saat ini sedang dipakai Mega, adalah gaun sutra hadiah dari permaisuri ibunya.
“Kakak, aku tak nyangka kakak bisa kembali dengan selamat” Bisik Mega saat mereka berpapasan.
Ohh, rupanya sih Mega ini juga mengetahui perbuatan ibu nya dulu, pikir Jen menerka.
“Mega, aku ini putri kerajaan ini, sedangkan kamu hanya anak dari Selir, jadi sejak kapan aku menjadi kakak mu?” Balas Jen dingin.
Mendengar balasan Jen rupanya Mega kaget. Padahal tadinya ia ingin melihat Jen marah dan menangis, tapi sebaliknya malah Mega yang terpancing.
“Aku juga tak lama lagi akan menjadi seorang putri, Karena ibu ku minggu depan akan diangkat menjadi Permaisuri baru pengganti Ibu mu yang malang itu !”
Mega mengucapkan nya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Apa katamu?”
Jen segera menarik bagian depan gaun yang dikenakan Mega, dan melepaskannya kembali, ia tak ingin merusak gaun ibunya walau itu telah direbut Mega.