
“Siapa gadis itu, luarbiasa sekali bakat nya”, kembali terdengar bisik-bisik peserta.
“Jen kakak sungguh Bangga pada mu”, ucap pangeran Emus yang masih tak percaya ternyata adiknya memiliki bakat yang luarbiasa.
“Nona sangat hebat dan berbakat, kami beruntung menjadi pengikut nona”, sambung Anes dan Rin.
Lalu giliran peserta lain pun terus berlanjut. Setelah semua peserta yang lolos selesai mengecek bakat, Pembawa acara kembali berdiri di tengah-tengah panggung,
“Hari sudah sore, hari ini memang di khususkan untuk mengetahui bakat masing-masing dari kalian, tahap kedua akan kita lanjutkan satu bulan dari sekarang, dan itu adalah pertandingan di Arena, jadi siapkan diri kalian dan kembangkan bakat masing-masing, sekian dan selamat berjumpa 30 hari kedepan”, ucap sih pembawa acara dengan penuh semangat, dan mempersilahkan peserta bubar.
Babak kedua ini diluar rencana, harusnya akan dilaksakan besok nya, tetapi dari pihak kerajaan mengubah jadwalnya menjadi bulan depan.
“Jen, ayo kita kembali ke Istana, ayah pasti sangat merindukan mu”, ucap pangeran Emus.
Ayah yang selama ini tidak peduli pada ku, mustahil dia merindukan ku, pikir Jen.
“Baiklah kak ayo..”, balas Jen. Kereta kuda pangeran Emus telah disiapkan dan Jen ikut di dalam kereta kuda itu.
“Kak dimana Selir Ika”.
“Dia sudah kakak suruh pulang diluan”, pangeran terus memperhatikan Jen.
“Kak, jangan lupa janji kakak waktu itu ya”, ucap Jen bergaya manja.
“Iya, kakak ingat kok, nanti sesampai di istana, akan segera kakak umumkan”, sambung pangeran Emus.
Heheheee, terukir senyum diwajah cantik Jen, yang tak sabar menanti saat itu.
Perjalanan menuju ke istana memakan waktu setengah hari dari kota terluar kerajaan Qua. Jen mulai mengantuk, dan tertidur bersandar di bahu pangeran Emus. Anes dan Rin berada di kereta kuda yang lain, yang juga telah disiapkan. Ntah sudah berapa Jen tertidur, hingga mendengar seseorang memanggil-manggil nya.
“Jen..Jen..”, terdengar suara pangeran Emus yang berusaha membangunkan nya.
“Hemmm… kenapa kak?”, balas Jen yang akhirnya terbangun juga.
“Kita sudah sampai,ayo kita turun”, jawab Pangeran Emus.
Jen dan Pangeran Emus pun keluar dari kereta kuda, di depan Istana para dayang dan juga ketiga selir pangeran sudah berbaris rapi menyambut kedatangan mereka. Pangeran Emus belum memilih permaisurinya jadi hanya selir-selir nya saja yang ada disana. Pihak Istana sendiri juga sudah mengetahui kedatangan Jen bersama pangeran.
“Selamat datang Yang Mulia Pengeran Emus, selamat datang juga putri Jen”, sapa ketiga selir dan para dayang. Selesai menyambut mereka, Selir Ika mendekati pangeran.
“Yang mulia, saya merindukan mu, mampirlah ketempat saya nanti”, ucap selir Ika tanpa memperdulikan Jen.
“Yang Mulia, saya juga sudah menyiapkan jubah baru untuk anda”, lanjut selir kedua, yang juga segera mendekati pangeran. Sedangkan selir ketiga hanya mengucapkan “Saya senang yang mulia kembali dengan sehat”.
Jen sendiri juga tidak memperdulikan keberadaan mereka. Dan berpamitan menuju paviliunnya.
Hem, seingatku untuk ke paviliun putri, melewati jalan-jalan ini, tapi kok bisa tiba di paviliun angker ini, pikir Jen keheranan, melihat bangunan rusak di depannya yang tidak terawat, ia tak menyangka paviliun seorang putri terlihat kotor, perabotannya penuh debu padahal tidak banyak perabotan yang ada disana. Sprei Tempat tidur nya juga kusam, dan pakaiannya sangat sedikit dan sederhana, begitupun bahan nya kasar, seperti bahan untuk pakaian pelayan, perhiasan yang ada di kotak perhiasannya sangat sedikit. Hanya sebuah jepit rambut dan beberapa pasang pita.
Bagus sekali mereka memperlakukan putri ini begini, batin nya kesal.
“Pelayaaann!!”, ucap nya dari dalam ruangan. Tapi tak ada satupun yang masuk. Jen melihat keluar dan ternyata masih tak ada satupun pelayan di paviliun tersebut.
“Rin, panggilkan kepala pelayan yang bertanggung jawab atas paviliun ini”, ucap Jen dengan menahan amarahnya.
Dari ingatannya, kepala pelayan tidak menghormatinya, dan semua uang bulanan Jen di ambil oleh nya. Begitupun stempel kerajaan yang seharusnya ada di tangannya kini jatuh ke tangan selir Shan, Selir pertama Ayahnya yang juga karena rencananya hingga Jen sampai di culik dan dijual. Jen juga curiga kematian ibunya ada hubungannya dengan Selir Shan dan mungkin beberapa selir ayahnya yang lain.
Tak lama setelah Rin memanggil, seorang pelayan yang menjabat sebagai kepala pelayan pun tiba.
“Ada apa nona memanggil, saya sangat sibuk menyiapkan makan malam”, ucap kepala pelayan itu jengkel dan tanpa menundukkan kepalanya.
Jen berjalan mendekatinya, dan kemudian.. PLAAAKKK, sebuah tamparan mendarat di pipi kiri pelayan itu.
Ia kaget luar biasa mendapatkan perlakuan tidak biasa dari putri Jen yang terkenal bodoh karena kebaikkan hatinya. “Apa maksud anda menampar saya!”, bentak nya yang mengira Jen akan takut.
“Maksud saya, kenapa kamu tidak hormat pada seorang putri dan membiarkan tempat tinggalnya seperti ini, bahkan sepertinya paviliun para pelayan masih lebih baik daripada paviliun ini !”, ucap Jen dingin. Sorot matanya memancarkan aura membunuh yang luar biasa. Pelayan itu bahkan sampai gemetar ketakutan, ia tak menyangka gadis itu bisa memancarkan aura seperti ini.
“Nona, ka..kamu jangan kurang ajar, saya adalah kepala pelayan di tempat ini, saya bisa mengadukan kamu pada para selir kalau saya telat menyiapkan makanan untuk mereka”, balas nya mencoba mengancam Jen. Kepala Pelayan ini, bertanggung jawab mengurus para selir dari pangeran Emus, dan anak-anak dari Selir Ayah nya.
“Lalu…… saya adalah putri kerajaan di istana ini”, ucap Jen lagi dengan dinginnya.
“Anes, cambuk pelayan kurang ajar ini 20x, dan suruh berlutut semalaman di depan paviliun ini”, perintah Jen.
Anes menyeret pelayan itu ke depan paviliun dan mencambuknya 20x, lalu pelayan itu berlutut di depan paviliun putri semalaman.
“Para selir, dan anak-anak selir ayahnya juga selalu membully putri ini dulu, kita lihat siapa yang pertama datang nanti’, ucap Jen dengan senyum sinisnya.
“Rin, tolong kamu panggilkan beberapa pelayan untuk menyiapkan peralatan mandi, aku ingin segera berendam”, Rin pun segera pergi dan kembali dengan beberapa pelayan.
Sesampai di depan paviliun, Pelayan itu kaget melihat kepala pelayan berdarah dan berlutut di depan paviliun putri. Mereka tak berani bersuara dan segera menyiapkan air mandian beserta peralatan mandi untuk putri Jen. Dalam benak mereka, putri ini kenapa tiba-tiba berubah?.
Sambil menanti kedatangan para selir, Jen membersihkan dirinya dibantu oleh Rin.
“Aahh, segarnya”, gumam Jen senang. Sudah lama ia tidak mandi seperti ini. Air hangat dicampur kelopak mawar, dan susu lulur, kemudian sampo nya dari ekstrak gingseng yang dicampur sari bunga mawar. Setelah selesai mandi kulit nya dibalur minyak zaitun, dan pelembab wajahnya ekstrak buah berry.
Sedangkan para pelayan tadi menunggu diluar untuk kemudian membereskan segala nya setelah sang putri selesai. Sudah dua jam berlalu, akhirnya Jen selesai membersihkan dirinya, begitupun dengan Rin dan Anes diruang terpisah telah selesai membersihkan diri. Para pelayan yang sejak tadi menunggu segera membereskan bekas mandian mereka.
Baru saja Jen ingin merebahkan dirinya, Selir Ika datang dengan kesalnya ditemani beberapa pelayannya. Melihat kepala Pelayan berlutut, Selir Ika semakin kesal. Dan menerobos masuk ke paviliun Jen.