
“Kau..! kau.. !” Wanita itu tak sanggup berkata-kata lagi.
“Kali ini aku mengampuni nyawa mu, tapi sekali lagi kau mengganggu ku, kau tau akibat nya !”
Jen mendekati wanita itu lagi, dan membisikkan pada nya, lalu berbalik dan berlalu dari hadapan wanita itu.
Brengs*k kau Jen, lihat saja pembalasan ku nanti !, batin wanita itu kesal.
“Apa kau mau berkeliling dengan ku ?”
Wanita yang tadi memperingatkan ku mendekat.
Klik, ku lihat nameboard nya.
Saysa (Putri kerajaan Lue)
Level: 27
Kemampuan : Seribu Bayangan.
Dengan kemampuan itu, Jen sangat yakin dia ahli nya menyelinap.
“Tentu” Balas ku.
“Aku Saysa, panggil Sasa saja”
Ternyata dia cukup ramah dan kami segera akrab.
“Aku sudah di tingkat 1 sejak 2 tahun yang lalu, rata-rata teman sekelas kita setelah 5 tahun baru mampu naik ke tingkat 2, kakak wanita tadi dalam 3 tahun berhasil naik ke tingkat 2”
“Oh, dia sendiri yang cari masalah, kalau dia mengadu dengan kakak nya aku pun akan menghajar kakak nya” Ucap Jen.
“Aku lihat level mu baru 15, kamu sungguh hebat bisa melewati gerbang masuk, aku saja di level 25 baru bisa melewati gerbang itu” Ucap nya.
Sasa tersenyum kagum pada ku, aku balas dengan senyuman juga.
Saat ini level ku sebenarnya adalah level 45, kelompok pendekar sudah di level 16, di notification harus nya mereka di level 4, tapi karena sudah berkumpul 4 pendekar jadi level itu dikalikan 4 juga, pangeran Emus di level 28, dan Ulala di level 24.
“Oiya, 6 bulan lagi akan ada kompetisi pertengahan tahun, 5 orang teratas akan mendapat 1000 koin emas, dan dapat memilih 1 jurus di lantai 5 perpustakaan.
Perpustakaan klan Angin terdiri dari 6 lantai, di lantai ke enam di simpan beberapa jurus Legenda, hanya orang yang berlevel 50 yang di izinkan naik ke lantai itu. Jadi bisa di bilang bagi yang level nya masih dibawah 50, lantai 5 adalah lantai tertinggi.
“Apa sehebat itu jurus-jurus yang ada di lantai 5 ?” Ucap Jen.
“Tentu saja, disana semua adalah jurus level tinggi, dan kalau kita beruntung kita bisa menemukan jurus langka juga ?!”
Sasa tampak antusias untuk dapat naik ke lantai 5 perpustakaan.
“Selama ini yang berada di tingkat satu hanya bisa naik sampai lantai 2, dan tingkat 2 hanya bisa naik ke lantai 3, begitupun tingkat 3 hanya bisa naik sampai lantai 4.”
Sasa masih terus menjelaskan peraturan di perpustakaan.
“Baiklah aku mengerti, bagaimana kalau kita kesana sekarang ?”
Aku membujuk Sasa menemani ku ke perpustakaan.
Kami pun melangkahkan kaki menuju ke perpustakaan. Dalam perjalanan aku melihat beberapa patung yang menghiasi taman. Aku ingat patung-patung itu bonus-bonus dari kenaikkan level ku dulu, juga ada beberapa patung yang dapat mengumpulkan aura yang ku dapat saat menang melawan bos monster.
Letak perpustakaan ada di tengah-tengah perguruan ini, aku juga ingat perpustakaan di lindungi oleh aura spirit dari monster cahaya yang ku temukan saat aku ada di dunia atas.
Sesampai di depan perpustakaan, aku melihat suatu bangunan besar dan paling tinggi diantara bangunan disekitarnya.
“Inilah kebanggaan perguruan ini, perpustakaan nya yang sangat besar dan tentu saja terlengkap dari semua perguruan yang ada”
Sasa menjelaskannya dengan sangat bangga.
Segera kami masuk ke dalam perpustakaan, dan banyak sekali buku berderet di rak-rak yang tertata rapi, beberapa murid tampak duduk serius di ruang baca, ada juga yang sambil berkonsentrasi melatih jurus yang ada di tangannya. Mereka semua tampak antusias.
Aku berjalan pelan diantara rak memperhatikan satu persatu jurus-jurus itu.
Di lantai satu ini tidak ada jurus yang special, mungkin di lantai dua aku bisa menemukan jurus yang lebih bagus, batin Jen.
Aku menaiki tangga perlahan, dan kembali berjalan dengan pelan diantara rak-rak buku. Ada beberapa jurus yang cukup special walaupun masih tingkat dasar, tapi cukup menarik perhatian Jen.
Tangan kanan ku mencoba menggapai rak tertinggi di lantai itu untuk mengambil gulungan jurus tersebut. Tiba-tiba seseorang mengambil gulungan jurus itu.
“Hei, aku yang pertama menemukan nya !”
Aku menoleh ke belakang, dan ternyata pangeran Vei sudah di belakang ku.
“Vei ~”
Dia memberikan gulungan jurus itu.
“Apa misi mu sudah selesai ?”
Jen teringat perkataan Sam yang mengatakan kalau Vei sedang menjalankan misi nya.
“Ya baru saja, maaf tidak bisa menyambut kalian kemarin”
Pangeran Vei meraih tangan ku, dan menggenggam nya erat.
Kami baru saja berpacaran, dan aku masih belum bisa mengontrol debaran jantung ini, rasa rindu juga bahagia karena bertemu dengan nya.
“Aku dengar kau memberi pelajaran pada Sisca tadi ?”
“Sisca ?, oh wanita itu, ya aku tak tahan dengan sifat dan sikap nya !”
“Ya, aku kenal dengannya, dia memang sering membuat masalah di tingkat satu., dan tak ada yang berani membalasnya karena pengaruh kakak nya”
“Apa kakak nya sangat kuat ?”
“Hemm, aku bisa mengalahkan kakak nya, dan aku juga yakin kau pun bisa”
Ntah sejak kapan pangeran Vei memeluk ku dari belakang.
“Tentu saja, aku tidak takut dengan kakak nya itu !” Ucap ku yakin.
Pangeran Vei diam saja, tapi masih terus memeluk erat pinggang ku dari belakang.
“Vei, sampai kapan kau mau memeluk ku begini ?”
Aku mulai kuatir kalau ada yang memperhatikan kami.
“Aku hanya sangat bahagia bertemu dengan mu” Ucap nya pelan.
Aku mulai berpikir jangan-jangan pangeran ini termasuk playboy.
“Jen..!”
Sasa akhirnya menemukan ku.
Aku kaget karena saat itu pangeran Vei masih memeluk ku.
“Ahh, anggap aku tak melihat kalian ~” Ucap nya pelan.
Segera ia berlalu dari hadapan kami, tampak nya ia tak kalah kaget dari ku.
“Jadi dia teman pertama mu ?”
Pangeran Vei melepas pelukannya.
“Aku harus segera menemui nya” Ucap ku.
“Baiklah, kita masih punya banyak kesempatan di lain waktu”
Pangeran mengecup kening ku, lalu mencium bibir ku dengan cepat.
Wajah ku memanas. Jen tahan dirimu !, batin ku.
“Sudah ya aku senang bertemu dengan mu disini”
Aku berlalu dari hadapannya dan menuju ke arah Sasa.
“Sasa !”
Aku memanggil nya sambil berlari pelan kearah nya.
“Jen, aku tak menyangka ternyata kamu pacaran dengan Pangeran Vei ?”
Sasa terlihat benar-benar terkejut.
“Ya kami sudah lama kenal, kenapa emang nya Sa ?”
Aku masih heran melihat betapa terkejutnya dia mengetahui hubungan kami.
“Haa, jangan-jangan kau menyukai nya kah ?”
Spontan aku bertanya pada nya, memastikan perasaan nya terhadap Vei.