INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 7: DIHADANG PERAMPOK



Jen, kembali memperhatikan nameboard nya, ada notification, ia membuka pesan itu ‘level pendekar hitam akan naik 1 tingkat jika level Sang Legenda naik 10 tingkat, sedangkan level kemampuan pendekar hitam akan naik 1 tingkat jika level Sang Legenda naik 2 tingkat, segel iblis yang menyegel kekuatan pendekar hitam dapat dibuka Sang Legenda apabila kelima pendekar telah bersatu’.


Ohh, brarti aku harus menemukan 3 pendekar lainnya dulu, barulah bisa membuka segel mereka, pikir Jen yang akhirnya mulai mengerti.


Kruuyuuukkkk!!, upss.. seperti nya perut ku perlu dikasih makan.


“sekarang lebih baik kita cari makan dulu, lalu ke aliansi pencari untuk mendapatkan uang”, ajak Jen.


Mereka bertiga kembali ke pusat pasar mencari restoran dan memesan makanan seadanya, ya sisa uang yang dimiliki Jen tidak lah banyak, sedangkan uang yang ada pada Anes digunakan untuk membayar penginapan.


Tak lama setelah mereka memesan, akhirnya makanan mereka tiba, merekapun langsung melahapnya, terutama Jen yang sudah kelaparan sejak selesai melatih jurus. Sebentar saja semua hidangan diatas meja telah kandas mereka lahap.


Setelah kenyang, mereka melanjutkan perjalanan ke aliansi Pencari, mereka langsung mencari misi yang cocok, yaa misi level sedang masih mereka pilih. Kali ini mereka bertekat mencari monster level 3.


Semakin tinggi level nya, tentu saja bayarannya lebih mahal, jadi mereka berjalan lebih jauh lagi ke dalam hutan, dan benar saja mereka segera menemukan monster level 2 dan 3. Dengan strategi dan kerjasama mereka akhirnya berhasil membunuh tiga monster level 2, dan satu level 3.


Dalam perjalanan pulang, tak sengaja mereka bertemu monster level 7, yaitu ular hitam, racun ular hitam sangat mematikan. Setetes racun nya bisa membunuh kurang dari 15 menit.


Ini sulit untuk mereka tiga hadapi, Jen berusaha menyerang dari atas dengan jurus angin yang telah ia kuasai, lalu Anes dan Rin menyerang dari sisi kiri dan kanan.


Jurus angin selain untuk meringankan tubuh serta terbang, jika berhasil mengontrol kekuatan, angin tersebut bisa menjadi senjata panghancur.


Karena Jen sudah menguasai jurus itu, ia juga sudah bisa mengontrol kekuatan angin nya dan menjadikan nya senjata mematikan. Dengan kata lain, walau masih level 3, tetapi kekuatan nya sudah mencapai setidaknya level 20.


Dengan sekali tebas, mati lah monster ular itu, dan Jen mengatur kekuatan nya untuk menyerap kekuatan racun nya, kembali keluar kabut asap dari ular menuju ke kening nya, dan bertambahlah skill nya.


Klik, Jen menekan tombol nameboardnya. Ada notification SKILL BARU > RACUN ULAR HITAM.


“Bagus lah, selain monster level 2 dan 3 ini, kita berhasil membunuh monster level 7, ini termasuk misi level tinggi". Ucap Jen.


Mereka bergegas kembali ke kota, dan menukarkan jantung monster tersebut dengan koin. Total nya mereka mendapat 300 koin perak, serta 1 koin emas. Di dunia ini, 100 koin perak dapat ditukar dengan 1 koin emas.


Begitulah kegiatan mereka selama di negeri Lue, bukan hanya menyelesaikan misi level sedang, tapi juga menyelesaikan beberapa misi level tinggi.


Selama mereka berada disana, Jen sudah berhasil mengatasi pendengarannya, dan memdapatkan beberapa skill dari hasil perburuan mereka. Kemampuan Anes dan Rin juga bertambah besar, walau masih level 0, tetapi kekuatan kemampuan mereka sudah seperti level 5, kondisi keuangan mereka juga sudah membaik.


“Sudah tiga minggu kita berada di negeri ini, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan kita”, Ucap Jen.


Mereka pun berkemas dan memulai kembali perjalanan menuju negeri Qua dan juga dalam pencarian ketiga pendekar hitam.


Di gerbang kota itu, seorang bapak gemuk mendekati kami dan menawarkan jasa kereta kuda.


“Ayo sini tuan dan nona saya antarkan ke kota terluar negeri ini”


Mereka bertiga berpandangan, dan akhirnya naik kereta kuda itu menuju ke kota Xuan, kota terluar negeri Lue.


Perjalanan dengan kereta kuda butuh waktu 2 hari, tetapi di tengah jalan, kereta mereka di cegat sekelompok perampok. Ternyata bapak gemuk tersebut sekomplotan dengan perampok itu.


Melihat level mereka bertiga yang masih rendah, sekelompok penjahat pun menjadikan mereka target.


“Nona, tubuh mu bagus juga, pasti cepat laku jika kami menjual nya ke rumah malam” Ucap salah satu dari mereka pada Rin.


Rumah malam adalah tempat bersenang-senang para bangsawan.


“Tapi sebelum itu, biar kami yang merasakannya dulu” Lanjut yang lain.


“Kalau nona muda yang satu ini, pasti cocok dijadikan budak” Sambung bapak gemuk yang tadi sambil menunjuk ke arah Jen.


Apa.. hanya budak, grrr…, batin Jen.


"Aku yang cantik begini masa hanya laku dijadikan budak !"


Jen protes dengan penilaian mereka.


Anes dan Rin hanya menghela nafas mendengar protesan nona mereka itu.


"Benar juga kata mu, baiklah mungkin kau akan laku dijual jadi budak cantik."


Iss, apa aku segitu datar nya kah ?, percuma saja punya wajah secantik ini kalau ternyata body papan, batin Jen yang tidak puas dengan bentuk tubuh nya yang tergolong datar.


"Nona diusia mu yang sekarang body mu sudah cukup bagus kok."


Bisik Rin yang sepertinya menyadari ketidakpuasan Nona nya itu.


"Lihat saja nanti kalau aku sudah 18 tahun, pasti body ku jauh lebih bagus dari mu"


Bisik Jen lagi yang tak ingin kalah dari Rin.


Akhirnya Jen hanya diam saja, tak ingin berdebat lagi dengan mereka.


“Kalau anak muda ini, mungkin bisa dijadikan mainan oleh beberapa putri bangsawan”


Lanjut para perampok itu.