
Raja kaget mendengar pengakuan tersebut. Para bangsawan yang menghadiri jamuan itu juga kaget.
Psstt.. “Wahh, kasihan sekali dia dicampakan tunangannya sendiri”, “Kalau aku jadi dia, aku akan menceburkan diriku ke sungai”, “mau dimana muka nya ditaruh setelah ini…”
Kembali terdengar bisik-bisik para bangsawan yang heboh dapat hot news.
Jen sendiri hanya diam, sebenarnya dia malah bersyukur pertunangan ini dibatalkan, tapi bukan begini caranya.
Ia risih dengar bisik-bisik tetangga, namun ia terlihat tetap tenang.
Sedangkan Lian terlihat tersenyum penuh kemenangan. Haha.. rasakan kamu Jen, pikir nya puas.
“Kenapa pangeran Herald tiba-tiba ingin membatalkan pertunangan tersebut ?”
Tanya Raja mencoba untuk tetap tenang.
“Maaf Yang Mulia, karena saya dan Lian telah saling jatuh cinta.” Ucap Pangeran Herald.
Ia tiba-tiba menarik tangan Lian dan merangkul pinggangnya.
“Pangeran, walau kita saling mencintai tapi kamu adalah tunangan kakak.” Ucap Lian.
Dengan sandiwara nya ia menolak Pangeran itu. lalu ia memperlihatkan wajah sedihnya, pangeran Herald tetap merangkul pinggangnya.
Para nona bangsawan malah terlihat iba melihat Lian dan Pangeran Herald. Pikir mereka Jen adalah penyebab hubungan mereka tidak dapat diteruskan.
Wouu... aku salut orang-orang di istana ini jago sekali berakting, batin Jen yang enek melihat tingkah mereka berdua.
Kemudian Jen maju menghadap Raja.
“Ayah, aku tidak tau ternyata dibelakang ku, Pangeran Herald berselingkuh dengan Lian, aku sangat sedih, aku tak mengira mereka akan menghianati ku, tapi.. tak apa aku sebagai Putri Kerajaan ini mengalah demi mereka.”
Jen yang juga tak kalah jago berakting, membalas perkataan Lian dengan wajah sedih.
Melihat respon Jen, Lian malah merasa geram. Karena yang ia tau, selama ini Jen cinta mati pada pangeran Herald.
Kenapa dia tidak menangis atau memohon sih, pikirnya.
Pangeran Herald juga kaget, ia pikir Jen akan menolak pertunangan ini dan memohon padanya untuk tetap melanjutkannya.
Ciihh, kalian pikir aku bakal memohon-mohon minta tetap dilanjutkan pertunangan ini, mimpiii..., batin Jen sambil melirik kearah mereka.
Psstttt… “Oh jadi begitu, aku tak menyangka”, “Berani sekali anak selir berebut milik putri kerajaan”, “Licik sekali anak selir ini.”
Terdengar lagi bisik-bisik dari para bangsawan itu.
Pangeran Herald dan Lian jadi malu sendiri di bisik-bisikin seperti itu oleh para bangsawan yang hadir disana.
Ais,, para bangsawan ini benar-benar dech, batin Jen tak habis pikir melihat perubahan yang begitu cepat dari mereka.
“Baiklah, kalau memang itu sudah keputusan mu putri ku…..”
Belum sempat Raja menyelesaikan perkataannya.
Jen mengeluarkan surat pertunangan mereka, dan menyerahkan nya terlebih dahulu pada perwakilan Raja negeri Anol.
“Apa ini?”, Tanya perwakilan raja itu.
“Itu surat pertunangannya, dan juga surat pembatalan saya atas pertunangan ini, sebenarnya sudah lama ingin saya sampaikan, tetapi untung lah anda datang.” Ucap Jen dengan senyum manisnya.
Dengan kata lain, pertunangan ini dibatalkan oleh Jen dan dengan alasan karena pangeran mencintai wanita lain.
Sementara itu Lian ditatap sinis olah bangsawan yang ada di ruangan itu, karena tidak tau diri merebut milik putri raja.
Lian sendiri jadi semakin kesal dan marah pada Jen.
Setelah pembatalan itu, Jen merasa lega sekali, ia menjauh dari keramaian.
Tampak ia sedang duduk merenung, menatap jauh ke langit.
Ayah, ibu.. aku kangen sekali, ntah sampai kapan aku berada di dunia ini, batin Jen.
“Hai Jen, sedang apa ?”, Suara sapaan membuyarkan lamunannya.
“Vei..”, ucap Jen kaget.
Pria itu duduk di samping nya. Jantung Jen yang tadi sudah tenang auto berdebar lebih kencang.
“Aku pikir kamu selama ini mencintai pangeran Herald”, ucap Pangeran Vei.
“Tidak, aku tidak tertarik dengan nya, mungkin dulu aku buta.” Balas Jen.
“Waktu kamu hilang dulu, aku sangat kuatir, kamu tidak ada dimanapun, bagaimanapun aku mencari mu, aku tak dapat menemukan mu.” Ucap Pangeran Vei sambil ikutan menatap indahnya langit.
Deg..deg.., apa sih maksud nya, kenapa dia sampai kuatir begitu. Duhh jantung.. tenanglah dikit, batin Jen.
“Nona, ternyata anda disini, bukan nya anda kemarin rencananya mau ke tempat Meimei?”
Tiba-tiba Rin sudah ada di tempat itu.
Ah, benar juga sampai lupa, pikir Jen.
“Pangeran maaf, aku harus pergi.”
Jen berpamitan sambil menundukkan kepala.
Pangeran Vei tersenyum tipis mengangguk kan kepalanya.
Jen lalu berjalan meninggalkan pangeran Vei, diikuti Rin disebelahnya.
Pangeran Vei terus memperhatikan Jen, sampai akhirnya hilang dari pandangannya.
"Jen.. apa kau tau perasaan ku selama ini…” Ucap nya pelan.
Pangeran Vei mengingat kembali pertemuan pertama nya dengan Putri Jen. Saat itu mereka masih kecil, pangeran Vei pertama kali datang ke kerajaan Qua bersama orang tuanya yaitu Raja Negeri Anol.
Ia sangat pendiam, sedangkan Putri Jen sangat lincah dan riang.
Rombongan kerajaan Anol tinggal disana untuk beberapa hari, dan Putri Jen selalu berusaha mendekati nya. Sejak itu, pangeran Vei tidak bisa melupakan senyum ceria putri Jen.
Tapi seperti nya Putri Jen malah melupakan moment itu, dan ntah sejak kapan mencintai pangeran Herald.
Sesampai di paviliun Putri, Jen bersiap-siap untuk menemui Meimei.
Kereta kuda telah disiapkan, bersama Rin, ia meninggalkan Istana.
Sedang Anes ditugaskan Jen untuk pergi diluan ke kediaman Meimei dan melihat kondisi nya.
Dalam perjalanan. “Rin, kita mampir dulu ya nanti ke bukit Alpha, aku ingin meramu obat untuk penyakit Meimei.”
Pesan Jen sambil sibuk mencari bahan-bahan yang diperlukan di kantong penyimpanannya.
Rin hanya menganggukkan kepalanya, dan mereka menuju ke bukit itu.
Sesampai disana, ternyata ada beberapa tuan muda bangsawan yang sedang berlatih jurus.
Saat melihat Jen dan Rin hendak naik ke bukit, pengawal mereka mencegahnya.
“Tempat ini, saat ini tidak terbuka untuk umum, tuan kami sedang berlatih dan selama mereka berlatih tidak ada yang boleh naik ke bukit”.
”Memang nya bukit ini milik tuan mu?”
Jen mengabaikan mereka.
Para pengawal itu bersiap menyerang Jen, saat ia tetap berusaha naik.
Rin segera mencegahnya, dengan membalas serangan mereka, pengawal yang lain ikut menyerang.
Rin dan Jen bekerja sama berusaha mengalahkan para pengawal itu.
Plok..plok..
Terdengar tepuk tangan dari salah seorang mereka. Ternyata tuan nya turun melihat keadaan, karena mendengar suara ribut-ribut di kaki bukit.
“Aku pikir ada apa dibawah sini, ternyata hanya kedatangan putri tak berguna.” Ucap pria itu.
Kliikk.. Jen melihat nameboard pria itu.
Ian (tuan muda dari Panglima Perang)
LEVEL : 15
KEMAMPUAN: Langkah Seribu
Kemampuan pertahanan diri dengan langkah yang sangat cepat, jika dibarengi kekuatan yang kuat, itu akan menjadi senjata yang mematikan.
“Aku tak ada urusan dengan mu, dan ini adalah tempat umum, siapa saja boleh berlatih disini”
Terlihat Jen juga mengabaikan pria itu dan melanjutkan langkahnya.