
“Nona, mau sampai kapan tidur, ini sudah mau siang bentar lagi ?”
Rin mulai sibuk membangunkan Jen yang masih terlelap.
Perlahan Jen membuka matanya, dan melihat hari sudah terang, para pelayan sudah selesai merapikan paviliun.
“Kok akhir-akhir ini waktu cepat berlalu sich ?” Ucap Jen.
Matanya masih terasa berat, namun ia teringat masih ada yang harus di lakukannya sebelum upacara resmi penerimaan klan Angin.
Setelah Jen sarapan dan selesai merapikan diri ia datang ke lapangan pelatihan pengawal. Disana ia diam-diam mencari kepala pengawal.
Tampak beliau sedang sibuk melatih beberapa pengawal baru.
Jen mendekati nya dan saat ia melihat Jen terlihat wajahnya terkejut dan segera berlutut.
“Suatu kehormatan Putri datang ketempat ini”
Ucapnya sambil menundukan kepalanya.
Jen menyadari kepala pengawal ini cukup setia pada Kerajaan, makanya Jen tidak tega kalau ia sampai dipenggal, ditambah orang ini cukup kuat dan teknik nya lumayan.
“Aku datang kesini karena ingin menyampaikan sesuatu yang penting, bisa kita mencari tempat hanya berdua saja !”
“Baik Putri, saya akan mengikuti anda”
Jen membawa nya ke belakang kamp pelatihan. Disana cukup sepi dan jarang ada yang melewati nya.
“Baik langsung saja ku sampaikan, apa hubungan mu dengan Selir Ika ?”
“A-apa maksud Putri ~?”
Ia terlihat panik dan gugup pada pertanyaan yang di lontarkan Jen.
“Katakan saja yang sebenarnya, aku menemui mu karena aku tau kesetiaan mu pada Kerajaan ini”
Jen melanjutkan perkataannya.
Awalnya pria itu hanya diam, tentu saja karena takut dia dan Selir Ika terbunuh, tetapi Jen mengancam nya kalau tidak memberitahukannya, ia akan mencari tau sendiri dan kalau benar kecurigaan nya, maka hukuman yang mereka terima akan jauh lebih berat.
Pria itu akhirnya menceritakan semua nya pada Jen, tentang hubungan nya dengan Selir Ika, tentang anak yang dikandung nya juga.
“Maafkan hamba Putri, semua salah hamba yang tidak bisa menahan diri”
Pria itu bersujud memohon ampun.
“Jangan pada ku kau memohon ampun, sampaikan itu langsung pada Pangeran !”
“Tapi Putri kalau ku sampaikan hal itu, pastilah Pangeran segera memenggal kepala hamba dan juga Selir Ika”
“Apa kau sangat mencintai nya ?”
“Tentu Putri, Hamba sangat mencintai nya, walau sekarang ia menjadi seorang Selir, hamba tetap mencintainya”
Pria itu ternyata memang sangat mencintai Selir Ika.
Padahal dia pria yang baik dan setia, tapi malah mencintai Selir Ika, yaahh mau gimana, kata orang cinta itu buta, batin Jen.
“Sampaikan hal ini pada Pangeran hari ini, aku akan ada disana dan membujuk Pangeran”
Setelah mengatakan itu, Jen meninggalkan nya seorang diri dan menuju ke paviliun Pangeran.
Sesampai di paviliun segera pengawal yang menjaga pintu menyampaikan pesan, dan segera seorang pelayan datang dan mempersilahkan nya masuk.
“Hormat pada Pangeran semoga selalu diberkati”
Jen menunduk memberi hormat.
“Ada apa kamu datang Dek ?”
Pangeran cukup terkejut, melihat Jen tiba-tiba mengunjungi nya.
“Lagi apa kak ?”
Jen mendekati nya, dan memperhatikan setumpuk pekerjaan.
“Wahh, kakak rajin juga”
“Nama nya sudah tugas, kamu saja yang tak mengerjakan tugas mu”
“Ya mau gimana lagi kan sekarang stempel kerajaan ada ditangan kakak, hehehe..”
Jen menunjuk stempel yang terletak di meja kerja Pangeran.
“Kamu mau stempel ini ?”
Pangeran mengambil stempel tersebut.
“Nggak, kalau aku sih yang penting stempel itu aman di tangan kakak, hati ku juga tenang”
Sambil tersenyum Jen menolak tawaran pangeran.
Mengerjakan tugas sebanyak itu sama saja dengan menyiksa ku, batinnya.
“Kepala Pengawal tiba !”
Terdengar pengawal yang menjaga pintu paviliun Pangeran menyampaikan pesan.
“Hormat yang Mulia Pangeran” Katanya sambil berlutut.
“Ada apa kamu tiba-tiba datang kesini ?”
Kepala Pengawal memang sangat jarang memiliki keperluan untuk ke Paviliun Pangeran.
“Ampun Yang Mulia hamba datang kesini, untuk sebuah pengakuan”
Pria itu terlihat masih berlutut lalu kepala nya ditundukkannya sampai menyentuh lantai.
“Katakan lah !”
Tampak Pangeran mengerutkan dahi nya tanda tak mengerti maksud kepala pengawal itu.
“Sebenarnya anak yang dikandung Selir Ika adalah anak dari hasil hubungan kami ~”
Terlihat pria itu gemetar karena takut dan wajah nya pucat membayangkan akhir hidup nya.
Mendengar itu, Pangeran sangat syok, dan sesaat ia terdiam sejenak.
Lalu turun dari kursi nya dan mendekati pria itu.
Braakk !!
Suara kursi patah akibat hantaman tubuh pria itu yang terlempar akibat tendangan dari Pangeran.
Pria itu meringis menahan sakit akibat tendangan Pangeran lalu kembali ke posisi bersujud hingga kepalanya menyentuh lantai.
“Kakak ! tenang lah !” Teriak ku.
Pangeran melihat kearah ku, dan menghembuskan nafas panjang.
“Panggil Selir Ika sekarang juga !!” Bentak Pangeran.
Seorang pelayan segera menuju ke paviliun Selir Ika dan dengan segera Selir itu pun tiba. Melihat Kepala Pengawal dengan tubuh dan wajah memar, Selir Ika sangat terkejut. Kaki nya langsung lemas dan seluruh tubuhnya gemetar.
“Ampun Yang Mulia ~”
Selir Ika langsung bersujud dengan kepala menyentuh lantai.
Ternyata Selir ini cukup cepat menangkap situasi, batin Jen.
“Dasar P*l*cur !!”
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Selir Ika.
“Kalian berdua layak dihukum mati !!”
Pangeran menunjuk mereka, dan memanggil pengawal nya, sementara kedua orang itu terlihat pucat, dan gemetar.
Belum sempat Pangeran memanggil pengawal nya, Jen langsung mencegahnya.
“Kak, aku tau mereka berdua tak pantas hidup, tapi anak dalam kandungan Selir Ika tidak bersalah, biarkan lah mereka hidup bersama, tetapi mereka tidak boleh menginjakkan kaki lagi di Istana ini, dan kakak bisa mengasingkan mereka disuatu tempat.”
Pangeran masih terus memperhatikan Jen, dan berpikir sejenak.
“Baiklah nyawa kalian ku ampuni, dan seperti yang adik ku sampaikan tadi, kalian dilarang menginjakkan kaki lagi di Istana ini, seluruh gelar dan harta akan diambil kembali, dan kalian berdua diasingkan ke kuil tua di atas gunung Kudil. pergi dari hadapan ku sekarang !!”
Pangeran mengusir mereka segera.
"Terimakasih Yang mulia telah mengampuni nyawa kami" ucap pria itu.
Selir Ika tak sanggup berkata-kata lagi, dan mengikuti pria itu untuk pergi bersama dengannya.
“Kakak, aku tau ini berat untuk kakak”
Jen berusaha menenangkan Pangeran Emus, dari wajahnya terpancar kekecawaan.
“Tidak, kamu benar dek, kasihan bayi itu tak tahu apa-apa malah ikut terbunuh”
Jen hanya diam tak ingin menggangu pangeran lagi.
“Aku kembali dulu kak”
Jen permisi kembali ke paviliunnya, agar pangeran bisa menenangkan pikirannya dahulu.
“Nona, darimana saja, dari pagi tiba-tiba sudah menghilang saja ?”
Anes tampak kuatir.
“Tadi ada keperluan dikit” Ucap Jen cuek.
“Keperluan apa hingga sore baru kembali ke paviliun ?”
Rin mendekati Jen dan mulai kepo.
Jen mengalihkan pandangannya melihat Red dan Nath sedang asik bermain di halaman paviliun nya.
“Untunglah Paviliun ini letaknya lumayan jauh dari bangunan utama, dan jarang orang melewati nya”
Jen bersyukur karena dengan begitu ia tidak terlalu mengkuatirkan keadaan Red dan Nath yang sering bermain di halaman.
Anes dan Rin masih terus memandangi Jen dengan pandangan curiga.