INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 43: MENEMUKAN RED



Mereka kembali ke dalam hutan untuk berlatih, disana ternyata pangeran Amos sudah berlatih sejak tadi.


Jen melepaskan anak Elf itu di dekat Anes dan Rin, ia membiarkannya bermain disana.


“Kenapa baru sekarang kamu datang Jen ?”


“Hem, tadi aku agak sibuk kak”


Pangeran tak melanjutkan pertanyaan nya, dan mereka mulai focus.


Saat Jen tengah berkonsentrasi, ia teringat benda bulat lonjong yang ditemukannya di goa waktu itu.


“Oiya, kemarin aku menemukan ini Nes, menurut mu apa ini telur salah satu rekan kalian ?”


Jen mengeluarkan benda itu dari ruang penyimpanannya. Pangeran yang penasaran dengan benda itu menghentikan pelatihannya.


“Benda apa itu ?”


Pangeran tampak serius memperhatikan mereka.


“Iya benar, itu telur salah satu rekan kami”


Anes mengambil benda itu.


“Warna merah ini mungkin benar dia”


Katanya pada Rin, dan Rin tampak menyetujui tebakan Anes.


“Nona lakukan lah lagi seperti yang waktu itu”


Anes meletakkan telur itu di atas sebuah batu berukuran sedang.


Tampak Jen menusukkan jarinya dan meneteskannya diatas telur tersebut.


Telur itu bersinar kemerahan, dan retak. Dari dalam nya keluar asap merah yang semakin lama semakin pekat dan memadat yang kemudian membentuk suatu sosok.


Perlahan sosok itu terlihat semakin jelas, seorang anak kecil pria dengan rambut dan mata merah.


“Apa salah satu rekan kalian adalah anak kecil ini ?”


Tampak Jen tidak percaya anak sekecil ini bisa menjadi Pendekar Hitam.


Awal nya pandangan nya kosong, lalu perlahan mulai menunjukkan reaksi.


“Kak Anes dan Kak Rin ?”


Katanya setengah bingung.


“Akhirnya kami menemukan mu juga”


Anes dan Rin tampak senang menemukan seorang lagi rekan mereka.


“Dia lah yang menyelamatkan mu”


Anes memperkenalkan Jen pada anak itu.


Anak itu melihat Jen dan melihat lambang matahari di kening Jen. Maka taulah ia bahwa jen adalah Sang Legenda.


“Kakak cantik terimakasih telah menyelamatkan ku, jadilah kekasih ku”


Anak itu tiba-tiba mengatakan yang mengejutkan mereka yang ada disitu.


Plakk..


Anes memukul pundak anak itu.


“Auu, kak Nes kenapa kau memukul ku ?”


“Perkenalkan dirimu pada mereka dulu !”


“Oh, baiklah.. perkenalkan aku Red, salah satu Pendekar Hitam”


Klik.. Jen melihat papan nameboard nya.


RED (Pengembara)


LEVEL: 3


KEMAMPUAN: Pukulan Bumi


Dengan kemampuan itu, Red adalah yang terkuat dari yang pernah ada, dengan pukulannya itu ia dapat menghancurkan satu gunung.


Hemm, kemampuan nya langsung sama dengan level Anes dan Rin, begitu ternyata, Jen mengetahui rahasia kekuatan mereka.


“Jadi, apa sekarang kalian bisa menjelaskan semua ini pada ku ?”


Kami melupakan kehadiran Pangeran karena terlalu focus pada Red.


“Maaf kak, aku belum menceritakan pada kakak, perkenalkan lah diri kalian pada pangeran Emus"


Jen mempersilahkan mereka kembali memperkenalkan diri mereka sebenarnya.


“Maafkan kami yang Mulia karena tidak mengatakan nya terus terang pada mu”


Anes mewakili mereka menundukkan kepala memohon ampun.


“Aku mengerti sekarang, ini bukan salah kalian karena aku juga tidak pernah bertanya asal usul kalian”


Pangeran terlihat terkejut sekaligus lega mengetahui identitas mereka.


“Benar Yang Mulia, itulah mengapa kami mengikuti Putri Jen”


“Jen berarti kau akan kembali berpergian dengan mereka ya setelah pertandingan selesai ?”


Pangeran tampak berat membiarkan ku pergi lagi dari Istana.


“Kak, ini adalah misi ku, aku juga akan berjuang agar lulus masuk Klan Angin, dengan begitu aku bisa lebih banyak mendapat informasi nantinya”


Jen menjelaskan tujuannya dan alasan dia mengikuti pertandingan itu.


“Kakak tidak akan mencegah mu lagi, kamu sudah dewasa, kakak percaya pada mu”


Pangeran tersenyum hangat, walau berat berpisah tapi itu adalah jalan yang dipilihnya.


“Terimakasih kak, aku tau kakak yang paling mengerti aku”


Aku memeluk erat Pangeran Emus, dan kami memulai pelatihan kami lagi,


Tak terasa hari sudah gelap saja, kami kembali ke paviliun kami dan beristirahat karena besok kami akan memulai pertandingan, beristirahat merupakan persiapan juga.


“Nona, sudah  saat nya bangun kita harus ke arena, ujian pertandingannya akan segera dimulai”


Rin menarik selimut ku untuk membangunkan ku. Aku pun membuka mata ku, dalam keadaan setengah sadar ku lihat Rin sudah standby, beberapa pelayan tampak sibuk membersihkan paviliun ku dan menyiapkan segalanya untuk ku.


“Baik lah Rin, aku bersiap-siap sekarang”


Turun aku dari tempat tidur ku dan membersihkan tubuhku. Selesai membersihkan diri, sarapan telah terhidang di meja, dan kami melahap sarapan itu dengan cepat.


“Oiya, dari kemarin kita belum mengetahui nama anak ini ?”


Jen teringat dengan anak Elf yang sarapan bersama mereka.


“Aku belum mempunyai nama, kakak bisa membuat nama untuk ku ?”


Anak Elf itu tampak malu, ia memainkan jari nya di meja.


“Apa kamu yakin ?, kalau begitu nanti kamu akan menjadi milik ku selama nya loh ?”


Jen masih belum yakin kalau dia mengerti maksud dari memberi nama.


“Aku yakin, aku bersedia menjadi pelayan kakak selama nya”


Anak Elf itu berlutut hormat pada Jen.


“Hem baiklah kalau begitu nama mu Nath, ini lah bukti kesetiaan mu pada ku”


Jen menyentuh kening nya, dan muncul lambang bulan bersinar.


“Terimakasih sudah memilihku menjadi pelayan mu”


Selesai memberi nama padanya, mereka pun juga telah menyelesaikan sarapan. Jen menuju ke gerbang istana, dan disana Pangeran Emus telah menunggu. Kulihat Selir-selirnya berbaris rapi disana.


“Yang Mulia, aku harap kamu memenangkan pertandingan ini”


Selir Ika yang sedari tadi berdiri di samping Pangeran mengabaikan kedatangan ku.


Ahh, sebelum aku meninggalkan istana ini nanti, aku harus membongkar rahasia anak yang dikandungnya itu, batin ku.


Aku juga mengabaikan nya, dan dia tampak kesal karena itu, sebab Selir Pangeran Emus yang lain ku sapa, sedangkan dia ku acuhkan.


Anes dan Rin sudah berangkat lebih dulu bersama Red dan Nath. Tetapi Red dan Nath hanya bisa sebagai penonton karena mereka tidak di daftarkan.


Jen dan Pangeran Emus menggunakan kereta kuda menuju ke Arena.


“Jen, jangan sampai kamu kehilangan nyawa mu nanti”


“Tenang saja kak, bahkan aku lebih kuat dari kakak loh”


Jen yang mengerti kecemasan Pangeran, berusaha menenangkannya.


Selama perjalanan mereka banyak bercanda dan tertawa, hingga tak terasa akhirnya mereka sampai juga di Arena.


Di pintu masuknya, Anes dan Rin sudah menunggu mereka, dan mengisi data peserta. Sedangkan Red sudah duduk di bangku penonton.


Mereka melihat nama-nama yang sudah hadir, dan ke 50 peserta sudah hadir ternyata.


Selain para peserta, tempat itu juga telah dipenuhi penonton, mereka menjagokan masing-masing kandidatnya.


Hari semakin siang, matahari telah bersinar dengan teriknya, hal itu malah semakin membakar semangat para peserta dan penonton.


Disisi lain Arena ada stand-stand penjual makanan, menunggu acara dimulai Red dan Nath tampak berjalan-jalan menelusuri semua stand.


Mereka berhenti di satu stand yang mengadakan undian untuk mendukung para pesera.


Banyak penonton yang mengantri disana dan bertaruh sejumlah uang untuk mendukung kandidat mereka.


“Aku bertaruh 100 koin perak untuk dia !”, “Aku 50 koin perak untuk pria itu !”, teriakkan mereka meramaikan suasana stand disana.


Tiba giliran Red, ia memberikan 5 koin emas untuk Anes, 12 koin emas untuk Rin, dan 30 koin emas untuk Jen.


Psst.. “Wahh, anak itu membuang uang sebanyak itu untuk bertaruh dengan orang baru seperti ketiga peserta baru itu”, “Sangat disayangkan”, “Pasti bagi nya itu hanya duit kecil”


Terdengar bisik-bisik para penonton yang berlomba bertaruh.


Red mengabaikan mereka, karena yakin ketiga peserta itu akan memenangkan pertandingan ini dengan mudah.


“Kalian salah telah meremehkan mereka, kalian yang membuang uang kalian percuma”, Ucap nya pelan.