INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 31: TERKUMPULNYA BUKTI



Pagi menjelang, Jen terbangun dari tidurnya, yang ntah sejak kapan tertidur, terpaan sinar mentari menyilaukan matanya.


“Nona sudah bangun”, Tanya seorang pelayan yang sedang bersih-bersih.


Jen hanya diam, sedangkan pelayan itu melanjutkan bersih-bersihnya.


“Putri, airnya sudah siap, waktunya membersihkan diri”, ucap seorang pelayan yang lain.


Jen pun segera membersihkan dirinya, dan menghias diri, kakinya melangkah ke taman di depan paviliunnya, ada sebuah gazebo di tengah taman itu, ia tampak menikmati pagi itu dengan santainya. Baru beberapa menit ia menikmati pagi seorang pelayan datang.


“Putri, nona Lauren datang menemui anda”, pelayan itu datang menyampaikan pesan.


Oiya, hari ini ia memang berjanji datang, Jen teringat kata kata Lauren kemarin.


“Panggilah dia kemari”, ucap Jen. Pelayan itu segera kembali dan menyampaikan pesan tersebut pada Lauren. Tak berapa lama terlihat Lauren bersama seorang pelayan pribadinya mendekat kearah Jen.


“Salam kepada Putri”, Sapa Lauren menundukan kepalanya.


“Duduklah, aku sudah menyiapkan teh untuk kita nikmati pagi ini”, ucap Jen lembut.


Lauren kemudian duduk, saat itu dalam kecanggungan, mereka hanya diam seribu bahasa, Jen ingin memecah keheningan ini.


“Ren, rajutan saputangan mu kemarin, bagus sekali”, akhirnya Jen mengatakan sesuatu.


“ Terimakasih Putri, Teh buatan putri kemarin juga sangat enak”, balas Lauren canggung.“


“Ren, kamu bisa memanggil ku dengan sebutan Jen saja”, Jen berharap mereka bisa lebih akrab lagi kedepannya.


“Baiklah Put, ehh… Jen”, ucap Lauren terbatah sebab sudah biasa memanggil Jen dengan sebutan Putri. Jen membalasnya dengan senyuman.


Tak berapa lama seorang pelayan datang membawa teko dan gelas, lalu menuangkan nya untuk mereka. Segera aroma bunga jasmine menggoda penciuman mereka.


“Teh ini harum sekali, baru pertama saya mencium aroma seenak ini di dalam seduhan teh”, ucap Lauren tertarik. Mereka pun meminum teh itu.


Nikmat sekali rasanya setelah mandi, minum teh di pagi hari, dan sambil menikmati pemandangan taman yang penuh bunga. Mereka berdua sangat menikmati pagi itu.


“Ren, maafkan aku ya, sebelum nya aku sangat bodoh dan tidak memperdulikan mu”, ucap Jen perlahan.


Lauren kaget, ternyata Jen selama ini selalu memikirkannya.


“ Jangan begitu Jen, aku yang terlalu gegabah hingga menyebabkan salah paham”, balas nya.


“Tidak, yang kamu lakukan sudah benar, aku senang kamu terus mengingatkan ku agar berhati-hati pada mereka”, ucap Jen sambil meneguk segelas teh.


Tampak airmata menetes di wajah Lauren, Jen malah kaget. Dari wajahnya tergambar kalau ia kini mengkuatirkan Lauren yang tiba-tiba menangis.


“Hiks.. maaf Jen, aku senang sekali akhirnya bisa kembali dekat dengan mu”, ucap Lauren sambil menyeka airmatanya, dan menghentikan tangis bahagianya.


Selesai sesi maaf-maafan, kini mereka terlihat tertawa bersama, hingga tak terasa hari sudah mulai siang dan Lauren izin pamitan.


“Aku kembali dulu ya ke paviliun, lain kali aku datang lagi untuk minum teh bersama mu”, ucap Lauren senang.


Kini tinggalah Jen sendiri, ia kemudian memanggil Rin yang sebenarnya sudah sejak tadi menunggu di balik bayangan, Ia sengaja tak langsung menampakan diri melihat keakraban nona nya dengan Lauren. Padahal kemarin saat Jen berduaan saja dengan Pangeran Vei, ia selalu tiba-tiba saja muncul ntah darimana.


“Keluarlah Rin”, Ia pun keluar dari tempat persembunyian dengan membawa beberapa dokumen, dan contoh sample serbuk bunga Floral. Jen memperhatikan semua itu, dan tersenyum lah dia. Akhirnya terkumpul juga, gumam nya pelan.


“Nona, saat saya mengintai di paviliun Selir, saya juga menemukan ini”, ucap Rin memberikan sebuah bubuk racun hijau. Melihat itu Jen kaget, sebab bubuk racun hijau adalah penyebab kematian Permaisuri. Racun ini tidak berbau tetapi warna nya yang hijau menyebabkan jarang ada yang memakai racun ini, kecuali jika dituang ke air atau makanan berwarna hijau juga.


“Dimana kamu menemukan ini”, Tanya Jen, dari matanya terpancar aura pembunuh yang mungkin kalau pelaku nya ada di depannya saat ini, tebasan anginnya akan segera mengakhiri hidup sih pelaku.


“Saya menemukannya dari halaman belakang paviliun Selir Asyia”, Rin menjelaskan lebih rinci letak bubuk racun hijau itu.


Hem.. Jen berpikir sejenak, Selir Asyia dan Selir Shan selama ini berkomplot, tapi selir Asyia masih terlalu polos dan malah dimanfaatkan Selir Shan. Aku punya ide untuk mengungkapkan kebenaran ini, Batin Jen.


“Rin, aku ingin menemui pangeran dulu, simpan lah semua barang bukti ini di ruang rahasia kita”, ucap Jen sambil menyerahkan kembali semua bukti-bukti itu. Rin pun segera menghilang dari hadapan Jen.


Dalam perjalanan ke paviliun Pangeran, ia berpapasan dengan Selir Ika, sepertinya ia baru selesai menemui pangeran, ia tampak mengelus-ngelus perutnya, Jen jadi penasaran. Kini Selir Ika sudah ada di depannya.


“Tak lama lagi, aku akan kembali menjadi kesayangan pangeran, dan setelah anak ini lahir aku yakin aku akan diangkat jadi permaisuri pangeran”, ucap Selir Ika dengan sombongnya. Ternyata Selir Ika telah hamil anak pangeran. “Ohh, Selamat ya”, balas Jen cuek dan berlalu melewati nya.


Dan saat aku menjadi istri resmi kakak mu, aku akan membalas mu, gumam nya kecil, hampir tak terdengar. Namun jen tetap masih bisa mendengarnya.


Padahal lagi hamil, tapi hati nya tetap busuk, Batin Jen sambil mengeleng-gelengkan kepalanya mengetahui tabiat jahat Selir ini.


Sesampai di pintu masuk paviliun, seperti biasa seorang pengawal menyampaikan pesan. Jen pun segera masuk bersama seorang pelayan.


“Hormat pada kakak pangeran”, salam Jen sambil menundukkan kepalanya.


“Jen kemarilah, sudah lama kamu tidak kesini”, Pangeran mempersilahkan Jen duduk di bangku sebelahnya. Jen mendekat tapi tidak langsung duduk.


“Kak, tadi aku berpapasan dengan Selir Ika, apa benar dia lagi hamil?”, Tanya Jen memastikan informasi yang baru saja di dapatnya sambil tangannya mengatur posisi kursi untuk ia duduki.


“Benar Dik, sebentar lagi kakak akan jadi Ayah”, ucap Pangeran girang.


Aiss,  masalahnya kenapa anak dari Selir Ika sich, batin Jen. Jen hanya diam saja melihat kakaknya yang bahagia.


“Emang sudah berapa bulan kak..??”, tanya Jen.


“Tadi sich katanya nya sudan 3 minggu”, ucap Pangeran mengingat perkataan Selirnya.


“Kakak yakin itu anak dari kakak, kapan terakhir kali kalian tidur bersama?”, ucap Jen memastikan.


“Hem… harus nya terakhir kali kami tidur bersama itu sekitar 2 bulan yang lalu, sebelum kakak berlatih di bukit Alpha untuk mengikuti pertandingan kemarin.


Haa, 2 bulan yang lalu ?, tapi Selir ini baru mengandung 3 minggu, berarti ada kemungkinan itu bukan anak dari pangeran, Batin Jen curiga.


Tapi Jen masih belum mengatakan hal itu pada pangeran, rencana nya ia akan mencari tau dulu kepastiannya, takutnya malah Pangeran mengira Jen memfitnah Selir itu.


“kak, nanti lagi kita bahas soal anak kakak, sekarang ada yang lebih penting yang ingin ku katakan”, Jen menatap serius mata Pangeran.